
Semua mata tertuju pada sosok Fatma yang tampak sangat cantik. Membuat terpesona yang memandang dan mengagumi.
Selesai membaca doa. Keduanya saling lempar pandangan serta senyuman yang penuh bahagia. Lalu Arya di suruh mencium kening Fatma yang kemudian menunduk.
Dengan ragu-ragu, Arya mendekat dan cuph! kecupan yang pertama kalinya mendarat di kening wanita yang kini sudah halal baginya.
Lantas, pun Fatma mencium punggung tangan Arya setelah diraihnya penuh hormat. Kemudian mereka bergantian menandatangani beberapa lembar kertas dan data yang lainnya biar nanti menyusul.
Sama-sama memegang keranjang yang sudah berisi mahar. Beberapa kali diambil gambarnya dengan menunjukan raut wajah yang amat sangat bahagia.
Kemudian mereka berpindah duduk ke atas pelaminan. Kini semuanya bernapas lega acara akad berlangsung dengan sangat lancar.
Lanjut dengan acara sungkeman pada kedua orang tua. Haru bercampur bahagia, itulah yang dirasakan kedua belah pihak keluarga Arya dan Fatma saat ini. Ternyata perjodohan berjalan mulus dan semoga jodohnya panjang dan tentunya bahagia.
Acara sungkeman sebuah momen yang sangat mengharukan membuat yang berangkutan maupun yang menyaksikan berderai air mata.
Ini memang kali kedua bagi Fatma, namun tetap membawa kesan tersendiri untuknya. Semua serba mendadak dan sebuah pernikahan yang dipersiapkan dengan matang.
Apalagi buat Arya yang untuk pertama kalinya dan semoga untuk yang terakhir pula. Hari ini ia melepas masa lajangnya, perasaan yang masih tak karuan jantung yang terus berdebar kencang. Bahagia dan haru bercampur aduk.
Pak ustadz memberi wejangan tentang arti berumah tangga yang sesungguhnya, yang namanya rumah tangga itu diibaratkan meniti dari tangga paling bawah untuk menuju tangga yang paling atas dan tentunya akan banyak halang dan rintangannya. Tidak semulus jalan yang banyak orang pikirkan.
Apalagi berumah tangga itu menyatukan dua hati yang berbeda dua rasa yang berbeda dan dua kepala yang beda pula isinya. Tidak gampang untuk menjalaninya.
Masalah akan kerap datang untuk menggoyahkan keteguhan dua insan yang berbeda karakter tersebut. Dan masalah itu akan ada sekecil atau sebesar apapun
serta datang dari setiap penjuru, kanan dan kiri. Depan, belakang akan selalu datang menghadang. Maka dari itu banyak rumah tangga yang gagal di tengah jalan.
Kemudian pak ustadz juga menjelaskan kewajiban antara suami dan istri yang harus dipenuhi keduanya. Dari hal kecil sampai yang besar. Dan dari mulai bangun, tidur. Sampai bangun lagi. Suami dan istri harus pandai menjaga perasaan pasangannya masing-masing, dan pengertian dengan yang di inginkan keduanya.
Wejangan pun selesai dan di akhiri dengan membaca doa.
"Maaf ya, maharnya mungkin tidak sesuai, maklum mendadak banget dan mana ada kita membahas mahar," ucap Arya melirik sekilas, tak kuasa memandangi wajah cantiknya Fatma yang semakin keluar auranya.
__ADS_1
"Nggak pa-pa, gak masalah kok. Lagian aku juga maklum, kan semua mendadak." Balas Fatma sembari menunjukkan senyumnya yang manis.
"Makasih sudah pengertian!" Sambung Arya.
"Mama, Papa. Rania mau di sini." Rania datang dan membawa eskrim.
"Boleh dong sayang, sini duduk dekat Mama." Fatma mengangkat tubuh Rania agar duduk di dekatnya.
Namun Rania menggeleng. "Nggak mau di situ. Maunya sama papa saja."
"Sini, mau di tengah? boleh." kini Arya yang mengangkat princess.untuk duduk di tengah-tengah mereka berdua.
Semua tamu mengucapakan selamat pada Arya dan Fatma semua ikut bahagia. Dengan kebahagiaan kedua mempelai.
Sultan mendekat dan memeluk Arya. "Selamat ya bro semoga langgeng? sakinah mawadah warahmah. Wah ... belah duren cepat-cepat dong. Ha ha ha ...."
"Ngomong apa sih? terima kasih." Balas Arya dengan menyunggingkan senyumnya.
Kemudian beralih pada Fatma seraya berjabat tangan, Sultan berkata. "Selamat ya? semoga samawa Ibu Negara. Saat ini sudah resmi menjadi Ibu negaranya Arya, oya! titip dia ya? maklum belum dia masih belum pengalaman, ha ha ha," ujar Sultan dibarengi dengan tawa lepas.
Sofi pun tak luput memberi ucapan selamat atas pernikahan Arya. "Selamat ya kapten? semoga samawa." Mereka berjabat tangan.
Lalu Sofi mendekat ke arah Fatma dan mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh tangan Fatma tentunya dengan ramah.
"Selamat ya kini sudah menjadi Nyonya Arya? semoga samawa," ucap Sofi dengan seberkas senyuman yang entah entah ikut bahagia atau ejekan.
"Terima kasih banyak atas doanya." Balas Fatma.
"Semoga saja kuat dengan segala resikonya. Seperti yang kau tau, tunangannya berselingkuh dengan pria lain." Bisik Sofi agar tak terdengar oleh Arya yang sibuk berbincang dengan yang lain.
Fatma terdiam, sementara ingatannya memutar memori kalau tunangan Arya selingkuh dengan anak rekan bisnis Fatma, ya itu Doni.
"Dia selingkuh, bisa aja karena sikap Arya yang dingin atau karena tak ada banyaknya waktu untuk memanjakan wanitanya. Belum lagi dengan wanita?wanita cantik yang selalu mengelilingi nya sehingga pulang ke rumah itu merasa bosan!" suara Sofi pelan dan menatap intens pada Fatma yang terus mengulas senyumnya.
__ADS_1
Degh!
Namun tak menyurutkan senyuman di bibir Fatma berubah atau menghilang. "Aku tahu, dan aku akan berusaha tuk mempertahan nya. Dan satu lagi! terserah di luaran Arya bersama siapa atau wanita-wanita cantik sepertimu sekalipun, yang penting dia masih ingat pulang ke rumah dan ingat istri yang akan selalu menunggu nya."
Semua ucapan Sofi kalah telak dengan Jawaban Fatmala yang dengan jelas dan tegas. Tatapan Sofi yang tanpa ekspresi menyorotkan kekesalan.
"Mama-Mam, Rania lapar! makan dulu yu?" tangan Rania menggoyangkan tangan sang bunda.
Fatma mengalihkan pandangannya pada si putri kecil. "Iya sayang, bentar lagi kita makan."
Sofi pun menggerakkan matanya ke arah Rania dan memberikan senyumnya. "Sama aunty yu? makannya."
"Tidak mau, maunya sama Mama dan papa!" sahut anak itu kekeh.
"Saya akan panggilkan Mia," ucap Sofi sembari meninggalkan tempat tersebut.
"Sama Oma yu? sekalian kita jenguk aunty Dewi, kasihan nangis terus." Ajak Bu Wati.
"A ... yo!" anak itu akhirnya mau juga diajak sama omanya, Bu Wati.
Kepala sedikit mendekat seraya berkata pelan. "Sofi bilang apa sayang?"
"Hem, gak bilang apa-apa! gak penting kok." akunya Fatma sambil melihat ke arah para tamu yang sedang menikmati hidangan prasmanan.
"Bener?" selidik Arya yang juga mengedarkan pandangan mencari seseorang.
Kedua netra mata Fatma menatap sebentar ke arah Arya yang entah melihat kemana. "Sudah ku bilang, gak penting ...."
"Terus kenapa tadi aku dengar, asal ingat pulang dan ingat istri! apa aku akan seperti itu kah?" ucap Arya dengan masih melihat ke arah lain. Namun tangannya menggenggam jemari Fatma dan di remasnya.
Bikin jantung Fatma seakan ingin melompat dari tempatnya. Gugup dan mendadak nervous ....
****
__ADS_1
Like komen dan vote nya ya🙏 agr author remahan ini tetap semangat.