Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Nggak mau pulang


__ADS_3

Pada sore hari, bunda Tita menemui Renata di kamarnya, dia yang baru datang dari kerja mendapat kabar kalau ada Renata datang membawa koper. Otomatis merasa heran dan penasaran ada apa ini?


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Sayang, kau ada di dalam?" suara bunda Tita dari balik pintu.


Renata yang baru selesai mandi menoleh ke arah pintu. "Masuk, Bun. Gak di kunci kok."


Perlahan bunda Tita mendorong handle pintu, blak! tampak Renata duduk di depan cermin rias. Dan langsung beranjak menyambut kedatangan sang bunda. Keduanya berpelukan melepas rindu.


"Kok, gak bilang-bilang mau ke sini kamu? mana doni?" tanya bunda pada putri semata wayangnya itu.


"Aku kabur, Bun." Renata mendudukkan tubuhnya lesu.


"Kabur, maksudnya?" selidik bunda, ekor matanya mendapati koper yang masih tergeletak di pojokan sana.


"Aku pergi dari rumah Doni, Bun. Aku sudah bosan dan aku ingin pisah." Jawab Renata jelas.


Bunda Tita sangat terkejut mendengarnya, seakan tidak percaya dengan yang diucapkan putrinya, bunda Tita menggeleng.


"Kalian itu baru saja menikah, dan pertengkaran dalam rumah tangga itu biasa, wajar. Tapi jangan di besar-besaran kan pamali. Harus saling menyayangi satu sama lain, kalau satunya panas yang satu harus dingin. Jangan sama egois." Lirih bunda Tita seraya mengusap punggung Renata.


"Aku, yang selalu marah-marah sama dia, Bun. Aku menyesal sudah menduakan Arya." Renata memeluk sang bunda sambil menangis. "Aku juga menyesal sudah menikah dengan si Doni."


"Settt, jangan bilang begitu, kalian sudah mengambil jalan masing-masing dan ini juga pilihan mu. Jangan bilang begitu ah, Doni suami mu. Apalagi kalau dia baik-baik saja, terus apa yang membuatmu marah hem?" ucap bunda Tita tetap dengan kata-kata yang lembut.


Renata menggeleng. "Entahlah, Bun. Aku juga bingung. Rasanya aku marah aja kesal melihat si Doni itu, muak aja." Akunya Renata.


"Kan pasti ada sebabnya? kalau ada masalah itu, di selesaikan dengan baik. Jangan terlalu muda dengan kata-kata berpisah atau semacamnya. Nggak baik. Hadiah istri yang penyabar, apalagi suaminya juga gak berlaku kasar atau tetap baik. Jelas kita gak ada alasan untuk melawannya. Apalagi marah." Bunda dengan tetap lirih serta mengulas senyumnya.


Renata hanya menunduk tak lagi berkata-kata atau menentang perkataan bundanya, walaupun dalam hatinya melawan.


"Putri Bunda yang cantik ini harus berbakti sama suami, melayani dengan baik. Tidak boleh egois ah, Renata boleh menginap di sini tenangkan dirimu, dan bilang baik-baik kalau mau menginap, jangan keras kepala ah. Nggak baik." Mengusap bahu Renata.

__ADS_1


"Satu lagi. Lupakan Arya, dia bukan siapa-siapa kamu lagi. Sekarang yang harus kamu hormati adalah suami mu, Doni." Bunda Tita memegang dagu Renata dengan tatapan penuh kasih sayang.


Renata tetap terdiam, tak merespon apapun.


"Oke, Bunda mau mandi dulu, nanti kita ngobrol lagi." Bunda Tita beranjak dan Renata cuma mengangguk.


Bunda Tita meninggalkan Renata sendiri di kamarnya. Dia membawa langkah kaki yang gontai ke kamar pribadinya.


"Ya Allah ... lindungi rumah tangga putriku yang semata wayang itulah," batin bunda nya Renata dengan cemas. Khawatir putrinya tidak kuat menghadapi masalah rumah tangganya.


...---...


Di kediaman Doni. Doni keluar dari mobilnya brugh! suara pintu mobil yang di tutup. "Sayang ... aku pulang, siapkan air hangat ya?"


Kemudian Doni ke dapur untuk mengambil segelas air putih tuk diminumnya, haus.


"Sayang, aku pulang?" ulang Doni.


Asisten muncul dari arah belakang Doni. "Nona gak ada Den. Dia pergi membawa kopernya."


Sontak Doni kaget. Menoleh ke belakang. "Apa? pergi membawa koper, kapan?"


"Apa sih wanita itu ha?" pekik Doni tertahan namun tangan yang mengepal sedikit memukul meja dengan gelas berada dalam genggaman. Sehingga pecah seketika dalam genggaman.


Asisten kaget mendengar bunyi kreuk. Dari tangan Doni dan melepas pecahan gelas dari genggaman. "Aden? ta-tangannya terluka?"


"Apa sih mau mu ha? aku berusaha merubah segalanya buat kamu, ya buat kamu." Doni teriak-teriak. Merasa frustasi perubahan yang signifikan yang dia buat seolah sia-sia di mata Renata.


Doni tidak perduli dengan tangannya yang berdarah. Dia memasuki kamar dan mengecek isi lemari pakaian Renata yang memang sudah kosong, yang tertinggal di sana hanya baju piyama dan lingerie abu yang menggantung di sana.


"Argh! apa sih mau mu itu?" pekik Doni lagi, meraih lingerie ia remas dan membawanya ke tempat tidur di peluknya.


"Kau selalu membuatku marah, gimana caranya aku meluluhkan hatimu lagi?" Doni bermonolog sendiri.


Kemudian beranjak mengganti pakaian formalnya. Dengan baju biasa, meraih jaketnya lalu pergi meninggalkan kamarnya.


Derung!

__ADS_1


Derung!


Derung!


Doni menghidupkan kembali mesinnya. Jius ... mobil Doni melesat ke suatu tempat.


Pikirannya Doni sangat kacau dan tidak mengerti dengan sikap Renata akhir-akhir ini.


Setibanya di depan sebuah bar, tempat biasa dia nongkrong ketika masih bujang. Mobil mewah berwarna biru tua tersebut berhenti, kedua netra nya Doni menatap ke arah tempat tersebut.


Ingin rasanya masuk dan bersenang-senang di sana walau sekedar minum. Membuang rasa pusing dari masalah kecil yang ia hadapi sekarang.


Hendak turun, namun ragu. Antara turun? nggak, akhirnya Doni melajukan kembali mobilnya menjauh dari tempat tersebut.


Doni terus melajukan mobilnya menuju jalan xx dimana rumah orang tua Renata berada. Doni yakin kalau Renata pulang ke rumah tersebut.


Tidak selang lama di jalan. Akhirnya Doni tiba di depan rumah bunda Tita. Dan langsung disambut oleh bunda nya Renata dengan ramah.


"Malam, Bunda?" sapa Doni setelah menutup pintu mobilnya. Bersalaman dengan sang ibu mertua.


"Apa kabar Doni?" tanya bundanya Renata dan mengajaknya masuk.


"Baik, Renata nya ada, kan? Bunda?" Doni balik bertanya sembari berjalan memasuki rumah tersebut.


"Ada di dalam, apa Renata meminta ijin untuk menginap barang beberapa hari di sini?" sahut bunda Tita yang di akhirinya dengan menyelidik.


"Em, nggak, Bunda. Aku mau jemput nya pulang." Kata Doni.


"Nggak, aku gak mau pulang!" suara Renata yang sudah berada di anak tangga paling bawah.


Doni menoleh dan menghampiri. "Aku sendiri dong di rumah sayang, masa sayang di sini? itukan rumah kita." Bujuk Doni.


"Pokonya aku gak mau pulang. di sana ada asisten dan kamu bisa mencari orang untuk menemanimu dalam segala hal termasuk hal ranjang," jelas lagi Renata.


"Sayang, aku cuma bercanda! jangan gitu ah. Pulang ya?" bujuk Doni terus mendekat. Namun Renata malah menghindar.


"Ehem, kita makan malam dulu yu? sudah siap nih, nanti saja ngobrolnya kalian lanjutkan lagi." Bunda Tita menjeda obrolan Doni dan Renata yang tampak tegang tersebut .....

__ADS_1


****


Hanya dukungan kalian yang bikin aku senang dan semangat. Makasih reader ku🙏


__ADS_2