Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Terigu dan telor


__ADS_3

"Dasar, pemaksa!" gumam Renata dengan mata memicing. Tak kuat dengan rasa kantuk yang menyerangnya.


Senyum Doni mengembang, dengan tangan kekarnya memeluk pinggang Renata sangat erat.


...---...


Di suatu sore, ketika Arya dan Fatma di kamar berduaan. Tiba-tiba Rania masuk dan duduk di antara keduanya.


"Ayo, Mama sama Papa barusan sedang bikin Dede baby ya?" celetuk Rania mendongak pada Arya dan Fatma.


Arya dan Fatma terkesiap mendengarnya. Mereka saling lempar pandangan, terheran-heran lalu melihat ke arah Rania. Wajah polos itu menatap penasaran pada kedua orang tua nya.


"Anak manis, kata siapa begitu?" tanya Arya heran serta menatap lekat ke arah anak itu.


"Rania pengen lihat dong, bikinnya baby gimana?" Rania malah lagi-lagi bertanya.


Lagi-lagi Arya dan Fatma saling bertukar pandangan. Kemudian Fatma merubah posisi duduknya turun berjongkok. Depan Rania.


"Sayang, Rania tau kaya gitu dari siapa sih? siapa yang bilang gitu sama Rania?" tanya Fatma sembari mengusap kepala Rania lembut.


"Em ...dari om Tatan. Emang bikin baby dari apa sih? terus kok di perut Mama belum ada Dede nya ya?" anak itu begitu polos.


"Apa sayang? dari om Tatan? bukannya beberapa hari ini tidak bertemu dia?" tanya Arya sembari mengernyitkan keningnya.


"Iya, waktu ... waktu bermain di pesawat waktu itu. Kata om Tatan. Kalau Mama dan Papa berdua! berarti sedang bikin baby dan Rania gak boleh ganggu." Jawab anak itu dengan polosnya.


Mendengar itu, Arya tertawa lepas. "Ha ha ha ... Sultan ada-ada saja tuh orang. Awas ya?"


"Kata om Tatan, Rania gak boleh ganggu kalau Mama, papa sedang berdua tapi Rania pengen tahu dari apa sih bahannya?" anak itu tampak penasaran.


"Dari terigu sama telor," ucap Arya sekena nya saja.


Fatma menoleh seketika. "Aa ... bicara apa sih? sama aja, tahu gak?" Manik matanya mendelik.

__ADS_1


Ha ha ha ... lagi-lagi Arya tertawa merasa lucu sendiri. Sementara Rania kebingungan dan terheran-heran kok bisa bikin dari terigu.


"Sayang ... nanti kalau Rania sudah besar, pasti akan mengerti dan perut Mama memang belum ada Dede nya, sebab Mama dan Papa jaga dulu, sampai Rania sedikit lebih besar lagi dan lebih dewasa," lirih Fatma dengan senyuman.


"Ooh! begitu ya?" Rania bengong seakan berpikir.


"Iya, Nona manis. Punya dede nya di tunda dulu, sampai Rania besar." Tambah Arya sambil mengusap kepala Rania dengan lembut.


"Yah ... Rania masih lama dong punya adek nya?" ucap Rania lesu.


"Iya, sabar saja ya? sampai nanti Rania lebih dewasa." Tambah Fatma kembali.


"Iya deh. Daripada nanti Rania gak di sayang lagi sama Mama dan Papa. Kan kata teman aku juga kalau sudah punya adek! kasih sayang mama dan papa terbagi. Gak sayang lagi sama kakaknya," sambung Rania.


"Bukan gak sayang, manis. Tapi terbagi, bukan berarti gak sayang! kakaknya kan sudah besar jadi gak lagi harus diperhatikan dengan ekstra. Sementara adek nya yang masih kecil, tentunya akan lebih harus diperhatikan! sama aja sih," ujar Arya sambil merangkul bahu anak itu ke dalam pelukannya.


"Kalau Rania punya adek, tidak boleh manja. Dan harus lebih dewasa juga, tidak boleh iri sama adek nya. Sebab sebelum adek nya lahir juga Rania dulu yang di sayang sama Mama--"


"Tapi tidak sama papa Aldian kan Mam? papa Aldian memang gak sayang Rania, kan Mam?" Manik mata bening anak itu menatap sang bunda, melepaskan diri dari pelukan Arya.


Arya menghela napas sebelum berkata. "Sesungguhnya, papa Aldian itu sayang sama Rania. cuman penyampaian nya mungkin berbeda, sebab ada orang yang memang sikap kesehatannya cuek, dingin. Jadi menyampaikan rasa sayang nya pun berbeda. Setiap orang itu berbeda-beda dalam menunjukan rasa sayang pada anaknya."


"Begitu kah?" tanya Rania memandangi wajah papanya tersebut.


"Iya, sayang ... semua orang gak bakalan sama dalam menunjukan rasa sayangnya." Arya meyakinkan anak tersebut.


Fatma menghela napas berat dan lalu menyunggingkan senyuman tipisnya. Ada rasa haru setiap ketika Rania menyebut nama papanya. Aldian.


Arya memeluk erat tubuh mungil Rania yang juga memeluk erat. Fatma cuma melihat ke arah arya dan Rania. Dengan tatapan nanar.


"Gimana kalau kita jalan-jalan ke mall yu? siapa yang mau ikut?" ucapnya Arya seraya mengarahkan tangan mengusap sudut pipi Fatma yang digenangi buliran air bening, dengan telunjuknya.


Rania langsung melepas pelukannya yang erat. Lalu mendongak pada Arya. "Rania mau ikut, Papa Rania mau ikut?"

__ADS_1


"Oke, Mama mau ikut gak? atau kita berdua saja ya?" gumam Arya sembari tersenyum menatap ke arah Fatma.


Fatma pun mengukir senyuman di bibirnya tambah merekah. Tak mampu berkata-kata hanya tatapan mata yang berbinar bahagia melihat suami dan putrinya yang begitu dekat. Seperti anak dan ayah kandung saja.


"Mama, mau ikut gak ke Mall? masa kita berdua saja! gak seru ah, pokonya Mama harus ikut." Harap Rania.


Fatma mengangguk. Tanda setuju dan mau ikut ke mall bersama Rania si putri kecil dan suaminya tersayang.


"Hore, mau jalan-jalan, mau jalan-jalan," sorak Rania sambil bertepuk tangan. "Beli eskrim ya , Mam? boleh kan Pah?" netra mata Rania melihat ke arah orang tua nya bergantian.


"Boleh," Fatma mengangguk. Tangannya mencubit pipi gembul Rania dengan gemesnya.


"Iya, boleh. siap-siap sana. Mau mandi dulu gak?" ucap Arya sembari berdiri.


"Rania udah mandi kok. Tinggal bersiap-siap aja ya Mam?" melirik sang bunda.


"Iya, mau mandi dulu boleh. Mau nggak juga gak pa-pa, gimana Rania aja." Fatma memberi kebebasan pada Rania untuk gimana maunya aja.


Kemudian Rania pergi keluar dari kamar sang bunda. Fatma mendekat pada Arya yang tengah berdiri di dekat jendela memandangi sunset di sore ini.


Fatma mendekat dan memeluk dari belakang, menempelkan pipinya di punggung sang suami yang tengah menikmati sunset.


"Kenapa hem?" tanya Arya tangannya bergerak memegang tangan Fatma yang merangkul.


"Nggak, emang gak boleh ya bila ingin memeluk suami?" Fatma malah balik nanya.


"Boleh, boleh dong sayang ... siapa sih yang melarang istriku yang cantik ini memeluk ku? gak ada." Telapak tangannya mengusap tangan Fatma yang melingkar di perutnya.


"Sebentar lagi resepsi pernikahan kita, kapan dari Bandung akan datang ke sini?" tanya Fatma dalam posisi masih betah memeluk Arya.


"Jemput aja ke sana, kapanpun akan ngikut juga." Jelas Arya mencium punggung tangan sang istri.


"Ya, udah suruh aja pak Dudin jemput ke sana ya? tapi yang sudah ke sana, kan pak Harlan." Fatma melepas pelukannya dan berdiri di depan Arya ....

__ADS_1


****


Jangan lupa like komen vote dan tonton iklannya 🙏


__ADS_2