
"Kenapa, Pak?" tanya Fatma menatap pak Harlan berharap jawaban.
"Nggak tau nih, Bu. Tiba-tiba mogok." Pak Harlan berusaha menepikan mobil tersebut lalu keluar untuk mengecek keadaan mobil tersebut.
Arya pun ikut turun menyusul pak harlan untuk mengecek ke adaan mobil.
Pak Harlan membuka dipannya mobil mengecek mesin. Arya melihat-lihat saja lalu melihat jam yang berada di tangannya tersebut.
Pria yang berpakaian formal pilot itu, mengerutkan keningnya seakan tengah berpikir. Lalu kembali ke pintu dan mencondongkan tubuhnya.
"Kenapa mogok, Mam? gak di kasih bensin ya?" tanya Rania pada sang bunda.
"Sayang, aku pergi pake taksi saja. Sepertinya aku gak bisa nunggu lagi, aku duluan ya?" ucap Arya pada sang istri.
"Ha? ya udah kita bertiga ikut saja sama, Aa. Biar pak Harlan menyusul nanti." Fatma malah turun dan menarik tangan Rania. "Yu sayang? ikut papa, naik taksi."
Arya langsung menghentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas. Fatma yang menuntun Rania segera memasuki taksi tersebut.
Arya mendekati Pak Harlan yang sedang mengurus mesin mobil. "Pak. Nanti nyusul aja ya? maaf saya tidak bisa nunggu. Takut terlambat," ucap Arya seraya menepuk pundak pria paruh baya itu.
"Oh iya, Den. Nggak pa-pa! iya nanti saya nyusul." Balas pak Harlan sembari mengangguk.
Kemudian Arya bergegas masuk ke dalam taksi dan lantas menyuruh supir taksi untuk melaju cepat ke Bandara.
Taksi meluncur dengan sangat cepat membawa penumpangnya ke sebuah Bandara terkenal di kota ini.
Fatma menoleh ke arah sang suami yang sibuk dengan tabletnya. Rania terdiam bersandar di dada sang bunda.
"Sayang, kayanya besok aku terlambat pulang. Sebab ada urusan lain," ucap Arya tanpa menoleh pada sang istri.
Fatma terdiam sejenak. Menatap dengan lekat, merasa heran. "urusan apa itu? seharusnya kamu bilang sama aku!"
"Yang jelas urusan kerja, sayang." Arya menoleh ke arah sang istri.
"Papa gak macam-macam kan di luar?" celetuk Rania mengundang pandangan fatma dan Arya tertuju padanya.
"Macam-macam apa Nona manis? Papa gak macam-macam ah. Takut dimarahin Rania dan Mama." Netra Arya beralih pada sang istri.
"Tuh, Mam. Papa nggak macam-macam, hanya urusan kerja saja." Rania mendongak pada sang bunda.
"Iya sayang." Fatma mengusap kepala sang putri kecilnya.
"Paling siang. Aa pulang, doa kan saja semoga lancar ya?" menatap anak dan istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Tapi, besok siang kita ada pemotretan." Suara Fatma pelan tampak gusar, menatap sendu.
"Aa, akan usahakan untuk pulang tepat waktu. Jangan khawatir ya?" Mengusap pucuk kepala fatma.
Bagaimanapun Fatma merasa khawatir. Hatinya jadi was-was tidak rela kalau Arya pulang Terlambat, namun harus gimana lagi. Dia hanya bisa berdoa agar suaminya selamat dan dilancarkan segala urusannya.
Setibanya di Bandara, Arya langsung pamitan. "Aa pergi dulu ya?" memeluk tubuh sang istri dan mengecup keningnya beberapa kali.
Fatma tidak menjawab melainkan menikmati pelukan sang suami yang membuatnya nyaman. Menenggelamkan wajah di dadanya.
"Besok siang, Aa pasti pulang tepat waktu kok." Membelai rambutnya lantas turun ke punggung.
"Hati-hati dan cepat pulang?" fatma mendongak memandangi wajah sang suami seakan ingin puas.
__ADS_1
"Iya, Aa pasti akan cepat pulang. Kangen ya?" menjepit hidung Fatma gemas.
Fatma melepas pelukan, lalu menggeleng. "GR. Nggak juga, Aa kali yang kangen?"
"Kalau Aa sih, jelas kangen. Sama istri dan anak, kenapa emang? wajar dong!" mengerutkan keningnya.
"Aku sih. Entahlah," gumamnya Fatma sembari meraih tangan Arya dicium punggungnya.
Rania hanya memandangi orang tua nya yang saling pelukan. Mata beningnya hanya menatap tanpa ekspresi.
"Sayang, Nona manis. Jangan nakal ya? menurut sama mama dan jagain mama takut ada yang culik." Arya berjongkok dan memeluk anak itu erat.
Raut wajah Rania berubah sedih. "Rania akan kangen Papa. Papa cepat pulang?"
"Iya, sayang. Papa pasti cepat pulang." Arya mencium pipi kanan dan kiri lalu keningnya penuh rasa kasih dan sayang sebagai ayah.
Lalu Arya berdiri, menarik koper dan bag nya. Melambaikan tangan ke arah anak dan istri sembari berjalan mundur sesaat, kemudian berbalik dan meninggalkan Fatma dan Rania yang sekalian menunggu Bu Wati dan pak Wijaya dari luar Negeri.
Fatma dan Rania duduk di ruang tunggu. Dengan membaca novel. Sementara Rania menonton YouTube, konten anak-anak kesukaannya.
"Mam, kok lama sih. Oma dan Opa?" gumam Rania sambil celingukan melihat kanan dan kiri namun yang ada cuma orang-orang yang tidak ia kenal.
"Sebentar lagi sayang ... sabar aja," sahut Fatma sambil membaca lagi.
Namun ketika mendongak, netra nya mendapati sosok seseorang yang ia kenal persis. Suci sedang berjalan dengan seorang pria yang berpenampilan formal.
"Suci, sedang apa dia di sini?" gumamnya Fatma dalam hati.
Suci tampak mesra dengan pria tersebut. Bagai pasangan serasi dan berkasih, namun ketika fatma mengawasi Suci.
"Oma? Opa? akhirnya datang juga, Oma di rumah ada umi loh." Rania langsung berhambur dan memeluk kedua orang tersebut bergantian.
Bu Wati dan suami merasa senang di sambut dengan hangat oleh cucu kesayangannya.
"Rania cucu Oma. Oma kangen sama Rania." Bu Wati memeluk erat anak itu yang tampak bahagia.
"Hem, Rania sekarang lebih gemuk, Oma. Wah cucu Opa gemuk sekarang." Opa Wijaya mencubit bahu Rania yang gempal.
"Iya, bener. Rania sekarang lebih gemuk dikasih makan apa sih?" Omanya menjepit kedua pipi Rania yang makin tembem aja.
Fatma hanya tersenyum melihat orang tua dan anak nya itu saling melepas rindu. Kemudian setelah mereka puas satu sama lain barulah Fatma kini yang maju. "Sehat, Bu? Pak?" meraih tangan orang tuanya bergantian.
"Sehat. Kamu gimana?" Bu Wati memeluk anak semata wayangnya sangat erat. Kini fatma terlihat lebih tampak segar dan bahagia.
"Baik, Bu." Jawab Fatma dalam pelukan sang bunda.
"Gimana dengan keluarga kecil mu?" selidik bu Wati sembari melepaskan pelukannya.
"Baiklah, Bu!" tutur Fatma seraya menunjukan senyum bahagianya.
"Ibu, sangat bahagia melihat perubahan dari kalian Ibu sudah bahagia. Itu tandanya Arya membuat kalian bahagia," sambung Bu Wati dengan tutur yang lembut menatap ke arah Fatma.
Fatma hanya menunjukan senyumnya yang penuh arti. Rasanya ia tidak perlu panjang lebar menjelaskan betapa bahagianya kehidupannya sekarang ini bersama Arya.
"Ayah juga percaya kalau Arya membuat kalian berdua bahagia. Dan itu cukup membuat kami juga merasa bahagia," ujar pak Wijaya dengan suara bergetar.
Bu Wati pun menjadi haru ketika mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh suaminya membuat matanya menatap nanar.
__ADS_1
Bu Wati menimpali kata-kata sang suami. "Kata, Ayah. Benar, kami pun ikut bahagia dengan kebahagiaan kalian berdua, sebab itu yang kami harapkan!"
Fatma kembali memeluk sang bunda. "Iya, Bu. Aku cukup bahagia dan lihat Rania pun tampak lebih happy, dekat sekali dengan Aa."
"Baguslah. Oya apa dia sekarang ini ada tugas?" selidik pak Wijaya.
"Papa tugas, membawa pesawat. Rania pernah di ajak lho naik pesawat. Besar ... sekali." Kata Rania pada opanya.
"Oya, terbang gak?" tanya opanya.
"Nggak. Rania balik lagi. Sebab Rania tidak ada tujuan, papa kan kerja." Timpal Rania.
Bu Wati mengusap netra nya yang basah. Meninggalkan jejak kalau dia menangis dan itu tangis bahagia yang dia rasa untuk putri semata wayangnya tersebut.
"Papa Arya sangat sayang ya sama Rania?" selidik Bu Wati sembari mengulas senyumnya.
Rania mendongak. "Sayang dong. Papa sayang banget sama Rania. Rania juga, sayang ... banget."
"Oya? berarti sekarang Rania gak sayang kita lagi, Opa. Gimana. dong?" goda Bu Wati seraya melirik ke arah suaminya.
Fatma teringat dengan suci. Lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari siapa tahu Suci masih ada di sana. Namun Suci tidak terlihat lagi berada di sana, pria nya pun tidak terlihat lagi.
Kemudian mereka berjalan keluar gedung tersebut. Menuju mobil Fatma yang sudah menunggu di parkiran.
"Tadi di bawa ke bengkel gak, Pak?" tanya Fatma setibanya di dekat mobilnya yang tadi tiba-tiba mogok.
"Nggak, Bu. Saya kotak-katik saja, lagian cuma ada kabel yang terputus." Balas pak Harlan.
"Ooh, gitu. Ya sudah, pulang sekarang, Pak. sudah malam!" Fatma masuk menyusul yang lain.
Setelah semuanya berada di dalam mobil. Barang pun sudah dimasukan ke bagasi, pak Harlan segera menghidupkan mesin dan melaju dengan cepat. Melintasi kendaraan lainnya yang membelah jalanan yang mulai gelap dan berhias lampu-lampu penerangan jalan.
Suasana semakin gelap dan dingin, Rania terus berceloteh dan mengkombinasi suara mesin mobil yang halus. Bercerita tentang bersama papanya.
...---...
Kini Arya sudah berada di dalam pesawat dan mengendalikan nya supaya terbang dengan sempurna. Dan mendarat di tempat tujuan dengan selamat.
Kapten Wisnu yang berada di sampingnya menjadi partner terbaik buat Arya dan begitu sebaliknya. Kedua saling melengkapi satu sama lain.
Saat ini pesawat mulai landing menapakkan roda depannya merayap ke tempat yang lebih tepat. Dan akhirnya pesawat pun mendarat dengan sangat sempurna.
Para penumpang keluar setelah tangga terpasang, terlihat pramugara dan pramugari mengatur para penumpang untuk tertib dan hati-hati serta tidak terburu-buru agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Arya dan kapten Wisnu baru keluar sambil berbincang. "Alhamdulillah kita sampai di tempat ini dengan selamat."
"Iya, gimana kapten Arya, apa sudah ada sinyal mau punya momongan?" tanya Wisnu.
"He he he belum, tadinya mau nunda dulu dengan alasan si sulung agar lebih dewasa dan puas di sayang dulu. Tapi setelah pertimbangan lain, istriku berubah pikiran dan ingin segera diberi momongan," ungkap Arya sembari mengitari tempat sekitar dengan pandangannya.
"Itu bagus. Buat apa ditunda? gimana dikasihnya saja. Bila perlu program kehamilan, akh. Gini saja, yang rajin aja bikinnya. Nanam yang rajin. Nanti juga berbuah ha ha ha ...."
"Itu sih, pasti. Rajin terus kalau soal itu sih jangan diragukan," ucap Arya dengan senyuman percaya dirinya ....
****
Mohon tetap dukungannya ya?
__ADS_1