
"Ayo sayang, jalan." Titah Renata sambil menepuk pundak Arya yang bengong.
"Ha? iya." Arya pun segera membawa lari sepeda motornya.
"Ke Mall ya?" pinta Renata seraya memeluk pinggang Arya.
Sepeda motor Arya terus melaju ke tempat yang Renata pinta. Dalam otak Arya masih juga berputar dan merasa was-was membayangkan kalau saja terjadi sesuatu yang tak di inginkan, kepalanya menggeleng pelan.
"Yang, berhenti!"
"Ha?" langsung putar haluan.
"Berhenti! lokasinya sudah terlewat juga. Kenapa sih, melamun terus?" gerutu Renata.
"Sorry-sorry Ren ..." Arya memarkirkan motornya.
Renata pun segera turun. "Melamun terus, makanya tadi hampir nabrak orang." Cemberut.
Arya tak menjawab. Langkahnya mengikuti kemana Renata berjalan saja.
Ketika Arya melintas, banyak wanita yang terkagum melihat pria tampan yang mengenakan kaca mata hitam itu. Mengenakan kaos putih tiga perempat, celana jeans berwarna hitam.
Melihat banyak wanita yang memandangi Arya, Renata langsung menggandeng tangan Arya. Dengan sikap yang agak jutek dan tatapan tidak suka tunangannya jadi bahan pandangan.
"Waw ... ganteng banget. Model dari mana dan siapa ya namanya?" gumam mereka yang terdengar oleh Arya dan Renata.
"Wah, kalau aku jadi cover boy laku kali ya? Berarti wajah ku manis juga," kata Arya sambil mesem-mesem.
"GR amat. Gak boleh, nanti kamu lupa lagi sama aku." Renata mengerucutkan bibirnya.
"Masa lupa? kalau jodoh gak bakal kemana kan? terkecuali--"
"Kecuali apa?" Renata memotong perkataan arya dan hentikan langkahnya.
"Ya ... kecuali tidak berjodoh. Sekuat apapun kita genggam pasti akan lepas juga."
"Kok bilang gitu sih? berarti kamu gak serius dong sama aku!" Renata kesal.
"Ini bukan tentang serius atau tidaknya. Tapi inilah realita kehidupan, bertahun-tahun pacaran. Nikahnya sama orang, ada juga baru kenal, eh ... berjodoh. Inilah Hidup." Lirih Arya.
"Tapi ... kita pasti berjodoh kok, aku yakin itu!" Renata sangat percaya diri.
"Manusia cuma bisa berencana, Allah juga yang maha menentukan, begitupun usaha kita." Timpal Arya.
"Aish ... kamu ini menakuti ku tahu? bikin merinding." Renata menggoyangkan bahunya.
Keduanya melanjutkan jalannya dan mencari teman-teman mereka yang katanya sudah menunggu.
__ADS_1
"Hi ... bro? akhirnya ke sini juga," sapa salah satu kawannya.
"Hi ... juga. Iya nih." Balas Arya sambil melempar senyuman pada semua kawannya.
Di sana ada Indah dan Doni, Indah mengajak Renata tuk bicara sebentar katanya. "Arya, pinjem Renata sebentar ya?"
Arya cuma mengangguk dan mendudukkan dirinya di kursi tuk gabung sama yang lain. Sementara Renata di seret Indah menjauh dari situ.
"Ada apa sih?" Renata menepis tangan Indah dari bahunya.
"Mana obat tidur ku? aku baru ingat sekarang kalau obat itu ada di tangan mu." Menadahkan tangannya pada Renata yang bengong. "Kamu bawa kan?"
"Obat? obat itu sudah dibuang!"
"Apa maksud mu dibuang?" Indah seakan tidak percaya.
Renata mengangguk santai. "Iya, dibuang. Karena itu bukan obat biasa, tapi obat--"
Geph!
Tangan Indah membungkam mulut Renata sesaat. "Itu obat tidur ku, bukan obat apa-apa!"
"Tapi obat itu di temukan oleh Arya. Dia bilang itu bukan obat tidur biasa dan itu obat terlarang yang bisa saja aku terlibat walau cuma menyimpannya. Kamu jahat juga sama aku Dah." Renata menggeleng.
Indah tampak gugup dan matanya bergerak takut ada yang dengar pembicaraannya. "Terus sekarang mana obatnya kembalikan padaku."
"Aku mohon, kembalikan obat itu?" pinta indah sembari memohon.
"Sudah aku bilang, sudah tidak ada. Kalau kamu berani tanyakan sana sama Arya." Renata menoleh ke arah Arya yang duduk bersama yang lain. Dan Renata melenggang pergi.
Indah mengejar dan menangkap tangan Renata. "Kamu serius?" setengah berbisik.
"Serius." Balas Renata sambil meneruskan langkahnya.
Keduanya duduk bergabung lagi. Renata memesan minuman manis dan Indah menyedot minumannya yang sudah ada di meja. Wajahnya tampak cemas.
Netra mata Arya menatap intens pada Indah, sudah di duga Indah pasti mencari obat itu, obat yang Arya hancurkan waktu itu.
Tapi, Indah tak berani untuk menanyakan langsung pada Arya tentang obat itu. Yang ada Indah jadi sering bengong.
****
Sore itu Fatmala pulang ngantor, dengan langkah gontai dan tampak lelah, berjalan melintasi pintu utama. Ia membawa langkahnya menaiki anak tangga sambil melamun.
"Mama ... tadi Rania kena tabrak," ucap Rania sambil turun menyambut sang bunda.
Sontak Fatmala terkejut bukan main. "Apa? kau kena tabrak, di mana? terus gimana keadaan mu sayang?" Fatmala berjongkok mengamati semua bagian tubuh Rania yang katanya kena tabrak.
__ADS_1
"Alhamdulillah Nyonya, Nona selamat. Motornya keburu rem mendadak. Maaf Nyonya ini akibat kelalaian saya?" Mia menunduk dalam mengaku bersalah.
"Kok, bisa begitu? saya bayar kamu untuk menjaga Rania sepenuhnya. Bukan lalai begitu! gimana kalau sampai terjadi kecelakaan itu? apa kamu bisa tanggung jawab." Fatmala menegur Mia dengan nada yang marah.
"Maaf Nyonya, aku mengaku salah?" Mia menunduk semakin dalam tak berani memandang Fatmala.
"Kenapa baru cerita sekarang? kenapa gak kasih tahu dari tadi?" selidik Fatmala.
"Ta-takut mengganggu, lagian Nona Rania selamat kok." Balas Mia menunduk.
Fatmala memejamkan kedua matanya. Kemudian menatap putrinya. "Yakin kamu gak ke napa-napa sayang? kita ke dokter ya. Jangan bikin Mama jantungan sayangnya Mama."
Rania membalas pelukan sang bunda. "Tidak Mam, Rania baik-baik saja. Rania yang salah kok Mam, Rania gak nurut sama aunty yang yang lagi ke toilet. Rania mau nyebrang. Eh ada motor besar melintas dan hampir menabrak Rania. Untungnya om ganteng nya sangat baik deh Mam."
"Baik gimana?" Fatmala heran.
"Om ganteng gak marahin Rania yang jelas-jelas salah. Coba papa Rania sebaik itu." Kenang Rania.
Membuat Fatmala melirik ke arah Mia. Keduanya saling pandang. "Apa yang orang itu lakukan sama Rania?"
"Nggak tahu Nyonya. Yang jelas ketika saya datang, Non sudah dalam gendongan orang itu." Balas Mia.
"Oh, sayang, jangan mudah percaya sama orang, apalagi orang baru, harus hati-hati." Fatmala melihat Mia dan Rania bergantian.
"Om nya, baik kok Mam. Rania ingin bertemu lagi sama om ganteng itu," ungkap Rania.
Sesaat Fatmala tertegun, lalu berdiri sambil menuntun Rania ke kamarnya. "Bawa bonekanya sayang."
Rania memeluk bonekanya. Fatmala lalu menoleh pada Mia. "Rania, saya bawa ke kamar."
Mia mengangguk dengan hormat. Lalu turun ke lantai dasar, sekalian mau membantu menyiapkan untuk makan malam.
Cklek!
"Sayang main di sini, Mama mau mandi dulu, jangan keluar kalau Mama gak ijinkan." Pinta Fatmala.
"Siap, Mama." Jawab Rania sambil naik ke tempat tidur dan bermain di sana boneka-bonekaan.
Fatmala berjalan ke kamar mandi buat bersih-bersih, badan terasa begitu lengket. Ia duduk di bibir bathub sambil menyalakan air keran. Mengisi bathub.
Pikirannya melayang, mengingat cerita Rania tadi katanya yang hampir tertabrak. "Awas kalau saja sampai putri ku ke napa-napa, aku tidak akan memaafkan orang itu." Gumam Fatmala geram.
****
Di sebuah Bar. Aldian seperti biasa sedang bersenang-senang dan di barengi perempuan cantik yang berpakaian seksi yang kalau Rania bilang sih kurang bahan ....
****
__ADS_1
Sudah membaca kan? jangan lupa tinggalkan jejak. Like dan komennya🙏 mohon dukungannya.