Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Gak dikasih


__ADS_3

Seketika Rania membuka kedua kelopak matanya. Kaget mendengar suara Arya, dia pikir kalau om gantengnya itu sudah pulang. Dia spontan membuka matanya yang bulat dan begitu bening.


Melihat ke arah Arya dengan mulut terbuka. Menggosok matanya yang masih mengantuk berat. "Om, masih di sini?"


"Iya, sayang. Om mau pamitan sama Rania dan mama, sekarang Om harus pulang," akunya Arya sambil melirik ke arah Fatma juga.


Wajah Rania mengarah pada Fatma. "Kok, Om ke Bandung Mam?" Rania heran, dia pikir ada acaranya dalam waktu dekat ini.


Yang di tanya malah melihat pada Arya yang juga meliriknya dengan senyuman menawannya. Lalu Fatma mengalihkan pandangan pada Rania.


"Om, mau nganterin Abah dan Umi ke sana. Terus balik lagi, kalau acara itu masih lama sayang, nanti Om kasih kabar."


"Ah ... Rania pengen ikut ke Bandung." Rania merengek.


Lagi-lagi Fatma melirik ke arah Arya. Arya mengerti kegundahan yang dirasakan Fatma untuk memberi penjelasan pada Rania.


"Rania sayang, dengar Om ya? hari ini Om cuma mau nganterin Abah saja. Nanti sore juga Om balik lagi, Rania boleh ikut, tapi nanti lain kali ketika ada acara nikahan. Sekarang Rania sekolah ya, Nanti sore insya Allah Om ke sini lagi."


Degh!


Dada Fatma Berasa sesak, mendengar acara nikahan yang Arya katakan.


"Om, bener ya nanti sore ke sini lagi?" tanya Rania dengan ekspresi wajah yang sedih.


"Iya, insya Allah. Doa kan saja supaya perjalanan Om lancar ya?" Arya berdiri setelah mencium pucuk kepala Rania.


"Om, kok Mama gak dikasih ciuman? seperti papanya teman aku yang suka mencium mamanya." kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Rania menghentikan langkah Arya yang sudah beberapa langkah.


Arya dan Fatma terkesiap mendengarnya. Arya menoleh ke arah Rania dengan senyuman. "Nanti waktunya akan ada yang memberikan ciuman sama mama!"

__ADS_1


Sepasang netra nya Fatma menatap nanar Arya, ia merasa malu kok Rania bisa-bisanya bilang begitu sama Arya yang statusnya bukan siapa-siapa dirinya, kemudian mengalihkan tatapannya pada Rania. "Sayang, jangan bilang begitu gak baik."


"Kok gak baik sih Mam? papa teman Rania suka cium mama teman aku! itukan tandanya rasa sayang. Menunjukan rasa sayang Mama ... apanya yang gak baik?" protes Rania dengan polosnya.


"Tapi, om ganteng ini bukan pa--"


"Kak?" panggil Arya seraya menggeleng. "Rania, sudah siang tuh ... aunty sudah buka semua gorden dan matahari pun masuk. Baunya Rania menyelinap ke hidung Om nih, belum mandi. Mama sudah wangi nih." Arya memotong kalimat Fatma. Hidung Arya pun mendengus.


Mendengar perkataan Arya seperti itu membuat Rania merengek minta mandi. Namun mau mandi sendiri atau sama Mia yang sedang membuka gorden di sana. Biar mama nganterin om saja ke depan katanya Rania.


Sang bunda pun mengindahkan permintaan Rania. Lalu Fatma mengantar Arya sampai ke teras. Abah dan umi berpamitan dan mewanti-wanti kalau suatu saat nanti Fatma dan keluarga harus datang ke Bandung.


Fatma cuma bisa menanggapi dengan anggukan dan senyuman manisnya. Jarinya menyelipkan helaian rambut ke belakang kupingnya. "Hati-hati Umi, Abah."


Umi memeluk Fatma sangat erat dan penuh kasih sayang. "Jangan lupa nanti datang ya? jangan tidak datang ya Neng." Lirihnya.


"Kalau tidak ada halangan. Pasti ke sana Umi." Fatma membalas pelukan dan mengusap punggung umi.


"Pasti, kami pasti datang. Jangan khawatir. Kabari saja waktunya," ucapnya bu Wati dan suami yang tampak antusias dengan undangan Abah dan umi.


Taksi pesanan Arya sudah datang terparkir di depan gerbang rumah mewah Fatma.


"Aku pulang dulu kak?" pamit Arya lagi mengangguk hormat.


"Iya, selamat jalan calon suami orang?" Fatma tersenyum simpul.


"Hem, selamat beraktifitas calon istri ku!" balas Arya tanpa sadar.


"Ha? maksudnya?" Fatma terkejut.

__ADS_1


"Ooh, maksud ku ... calon istri siapa pun." Ralat Arya agak gugup.


"Assalamu'alaikum?" ketiganya memasuki taksi dan melambaikan tangannya sebelum taksi tersebut pergi.


Fatma segera kembali naik ke lantai atas untuk mengurus Rania. Bu Wati dan pak Wijaya saling pandang dengan senyuman yang penuh harapan.


...****...


Setelah beberapa hari yang lalu Arya membatalkan pertunangan, Renata mengurung diri di dalam kamar. Tidak mau bertemu siapapun atau bicara sekalipun. Bunda Tita dan suami sudah malas untuk membujuk, mereka yakin kendati demikian Renata tidak akan berbuat yang tidak-tidak.


Cuma keduanya meminta pada Renata agar mendatangkan Doni untuk melamar Renata, biar acara pernikahan yang sudah direncanakan dengan arya tidak digagalkan, cuma mempelai pria saja yang digantikan.


Saat ini Renata sedang duduk di atas tempat tidur memeluk lutut, sesekali matanya memanas kemudian berembun. Sungguh menyesali Arya telah memutuskannya, Nomor Arya tidak dapat dihubungi lagi oleh Renata. Sepertinya di blok sehingga menjadikannya los kontak.


Namun di sisi lain dia merindukan kehadiran Doni yang yang sudah jelas-jelas menjadi candu baginya. Banyak panggilan dari Doni namun selama beberapa hari ini tidak ia tanggapi cuma bilang saja lewat pesan, kalau Renata tak ingin di ganggu dulu. Sampai ia sendiri yang datang.


Renata mulai bangkit. Berjalan maju mendekati cermin dan Menatap dirinya yang pucat Pasih dan tubuhnya tampak kurus. Penampilannya yang lusuh, bau . Kucel, membuat kepalanya menggeleng. Mengibaskan rambutnya yang tidak karuan.


Menggigit bibir bawahnya. terpejam membayangkan ketika Doni menyentuhnya dengan lembut dan penuh kasih. Sejenak terdiam mematung di depan cermin teringat sosok Doni.


Lalu Renata bergegas mengayunkan langkahnya mendekati pintu kamar mandi, sekarang ia ingin bersih-bersih. Membersihkan dirinya yang terasa lengket dan beberapa hari ini tidak diperhatikan.


Sekitar dua puluh menit kemudian Renata selesai membersihkan dirinya. Lalu mengenakan dress Sabrina yang selutut. Renata meluncur ke bawah setelah rapi dan memoleskan bedak tipis di wajahnya. Rambut panjang dan hitam lurus dibiarkan terurai begitu saja.


Mata Renata bergerak mencari sang bunda. Di bawah tampak sepi yang ada cuma bibi, kemudian bergegas keluar dari rumah dengan tujuan kantor Doni. Waktu sudah menunjukan pukul Empat sore dan biasanya Doni masih di kantornya.


Doni itu sosok pria yang termasuk rajin dan ulet kalau bidang pekerjaan. Tidak pernah meliburkan diri kalau cuma buat senang-senang atau sekedar nongkrong. Kecuali sepulang kerja atau memang hari libur saja dia bermalas-malasan.


Renata yang menumpangi sebuah taksi hanya terdiam, rasa kecewa dan dan terluka masih terasa dalam dada, namun Renata harus bangkit sebab hidup harus terus berjalan, walau dalam hati kecil ingin bersanding dengan Arya ....

__ADS_1


****


Yu, beri dukungan aku ya biar tambah semangat lagi dalam berkarya.


__ADS_2