Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Hak asuh


__ADS_3

Fatma menyuruh pak Harlan menghentikan mobilnya. Ketika melihat mobil sedan putih masuk gerbang.


"Siapa Fat?" tanya Bu Wati sambil celingukan.


"Nggak tahu, baru aku lihat mobil itu." Fatma menggeleng dengan sorot mata tertuju ke sana.


Sedan putih tersebut berhenti dan keluar seorang pria yang berpenampilan rapi. Setelah di lihat-lihat ternyata itu Aldian.


"Mam?" Rania melihat ke arah sang bunda.


Fatma mengangguk. Sambil merangkul bahu Rania dan mengusap-usap dengan lembut.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Aldian mengetuk kaca mobil. "Buka? saya mau menjemput Rania buat jalan?"


"Ada apa nih?" tanya pak Wijaya sambil membuka pintu lalu keluar.


"Saya mau jemput Rania untuk di ajak jalan-jalan." Aldian menatap ke arah pak Wijaya.


Fatma menurunkan kaca jendela. "Kenapa gak ada konfirmasi dulu sebelumnya?"


"Kan semalam saya sudah bilang, mau mengajaknya--"


"Tapi gak bilang kapan! semalam gak bilang kalau hari ini, dia akan diajak jalan." Fatma memotong perkataan Aldian.


"Saya ini bapaknya, saya punya hak tentang dia dong." Aldian terdengar marah.


"Iya, kamu adalah ayah kandungnya. Tetapi hak asuh jatuh pada saya! dan kamu tidak bisa seenaknya begitu dong!" Fatma meninggi nadanya.


"Jangan mentang-mentang hak asuh jatuh ke tangan mu, saya juga punya andil yang besar tentang adanya dia." Sambung Aldian semakin ngotot.


"Iya benar, namun harus di bicarakan dengan baik dong. Bukan tiba-tiba jemput dengan sikap yang seakan ngotot," Fatma kekeh.


"Sudah-sudah. Jangan ribut gini! sebaiknya dibicarakan baik-baik." Pak Wijaya mencoba melerai.


Fatma membuang wajahnya seraya menghela napas panjang. Kemudian menoleh Rania yang terlihat ketakutan, matanya berkaca-kaca lalu menyembunyikan wajahnya di dada sang bunda.


Bu wati mengusap kepala Rania dengan lembut. Lalu kemudian memberi kode pada Fatma dengan menggeleng.


"Sayang, yu. Ikut Papa? kita jalan-jalan kemana saja maunya kamu." Aldian membungkuk dan nongolkan kepala melihat Rania yang terdiam di pelukan mamanya.


"Nggak, Rania mau ikut mama. jalannya lain kali aja." Rania menggeleng.


Semua mata melihat ke arah Rania yang menolak bapaknya itu.


"Sayang, Papa sudah bela-belain lho tuk jemput Rania. Masa lain kali sih?" Aldian kecewa.


"Kau dengar kan? kalau mau mengajak jalan bilang dari awal, bicarakan dulu sebelumnya. Baru jemput, oke saya minta maaf. Kami harus pergi sekarang." Jelas Fatma.


Pak Wijaya pun masuk kembali ke dalam mobil. Lalu pak Harlan segera melajukan mobil nya kembali.

__ADS_1


"Sayang? Rania? sial! bawa anak aja susah." Gerutu Aldian ambil memandangi mobil Fatma yang melesat menjauhi rumah mewahnya.


Aldian mengalihkan pandangan ke arah rumah mewah tersebut. Lalu memasuki kembali mobil sedannya.


Scurity mengangguk hormat pada Aldian yang bersikap datar-datar saja dan melajukan mobilnya pergi dari tempat itu.


Aldian yang sudah mulai melarikan mobilnya, sehingga dalam waktu sekejap sudah tidak nampak lagi.


Hati Fatma yang menjadi tidak baik-baik saja menjadi turun mood nya. Melamun dan tampak gusar.


"Kamu gak kenapa-napa Fat?" tanya Bu Wati setelah melihat perubahan pada Fatma.


Rania mendongak melihat sang mama yang kini banyak melamun dan tampak cemas. "Mama oke?"


Manik Fatma melirik ke arah orang tua nya. "Aku, baik-baik aja, Bu." akunya Fatma, padahal hatinya saat ini kurang baik. Kedatangan Aldian barusan mengganggu pikirannya.


"Oke, sayang." Fatma tersenyum dan sedikit mencubit pipi gembul Rania.


"Jangan dipikirin, kamu tenang saja. Ada Ayah dan Ibu yang akan menjaga Rania selama kalian tidak ada," ucap pak Wijaya menenangkan.


"Iya, Yah. Titip Rania ya?" jangan biarkan Rania di bawa pergi sama Aldian bila tanpa seijin ku." Pinta Fatma pada sang ayah.


"Iya, tentu ... kami akan menjaganya." Timpal Bu Wati.


Dewi yang duduk di depan. Hanya diam dan sesekali melirik ke belakang, melihat yang berada di sana.


"Huuh ..." Fatma hembuskan napas melalui mulutnya.


Selang beberapa lama, akhirnya sampai di bandara dan langsung cek-in dan di sana sudah ada Zayn menunggu.


Kini mereka sedang berada di tempat makan termasuk Zayn. Fatma yang selalu tidak jauh dari Rania menatap lekat.


"Rania sayang. Kalau seandainya mau jalan sama papa! bilang sama Mama dulu ya? Mama gak larang kok kalau Rania mau jalan sama papa. Cuman Mama minta, bilang aja." Fatma menggenggam tangan Rania yang juga menatap ke arahnya itu.


"Iya, Mam. Rania pasti dengar kata Mama." Anak itu mengangguk mengerti.


Kemudian makanan yang mereka pesan sudah siap. Mereka pun langsung menyantap makanannya masing-masing.


"Oya, aunty. Kalau seandainya pria itu mengajak jalan dan Rania mau, tolong bilang sama Kakak dulu atau ibu juga ayah," pesan Fatma kepada Dewi.


Zayn cuma mengedarkan pandangan ke arah mereka semua. Menyimak saja omongan yang mulanya tidak ia mengerti.


"Apa Aldian su--"


"Dia datang mau menjemput Rania untuk jalan tadi sebelum ke sini. Sedangkan sebelumnya gak bilang kalau mau ngajak jalan." Fatma langsung menyela kalimat Zayn. Khawatir dia menyebut kalau Aldian keluar dari bui.


"Ooh," Zayn membulatkan mulutnya yang sedang mengunyah itu.


"Ayo, makannya sayang? jangan main-main lho." Fatma berucap lirih pada si gadis kecilnya tersebut.


"Iya, Mam." Rania mengangguk sambil menyendok kan makannya ke mulut.


"Aunty suapi mau?" tawar Dewi sambil mengambil sendok Rania.


Rania menggeleng. "Nggak usah aunty, Rania bisa sendiri kok."

__ADS_1


Fatma menoleh ke arah jam tangan. Lalu menyudahi makannya. "Mama pergi dulu ya? jangan nakal, yang rajin. banyak berdoa, supaya Ranai bisa menyusul Mama ke sana."


"Oke, Mam Rania pasti ingat pesan Mama kok. Rania akan banyak-banyak berdoa! kalau papa dapat waktu senggang dan bisa menyusul Mama deh." Rania menjawab dengan antusias.


"Bu, Ayah. Dewi, aku berangkat dulu ya? mohon doa nya." Fatma berdiri dan meraih tas gucci nya.


"Mama hati-hati ya?" Rania melambaikan tangan.


Semua mengangguk dan sesaat mereka pun berpelukan, kemudian Fatma membawa langkahnya sambil mengangkat kan tangan di udara melambai-lambai.


Hatinya menjadi was-was takut Rania di ambil Aldian. Tanpa ijin dari dirinya. Tapi kalau di pikir-pikir lagi sih, gak mungkin juga Aldian mengambil Rania, mau di urus sama siapa?


Fatma berjalan dengan Zayn yang akan mengantarnya sampai naik pesawat. "Titip mereka ya? kebetulan suami ku sedang tugas juga."


"Iya, siap!" Zayn mengangguk sembari tetap berjalan.


Fatma, dengan penumpang lain menaiki tangga untuk memasuki ke dalam pesawat internasional tersebut.


Zayn melambaikan tangan di bawah yang ia tujukan pada Fatma yang menoleh ke belakang sebentar.


Setelah di dalam. Fatma duduk di dekat jendela, sebelumnya menyimpan barangnya di kabin.


Perlahan, pesawatnya lepas landas alias take-off. Melayang di angkasa, melintasi matahari.


"Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan ini dengan tujuan Jerman Penerbangan ke Jerman akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih ... jam dan … menit, dengan ketinggian jelajah … kaki di atas permukaan air laut." Itu salah satu interuksi pramugari.


Fatma hanya anteng melihat keluar jendela. Bangunan yang di bawah tampak terlihat kecil, lebih lama semakin kecil sekecil semut.


Datang pramugari yang menawarkan makanan atau minuman.


Namun Fatma menolak dengan alasan masih kenyang. Pramugari pun menjauh dari Fatma yang kembali melamun.


Selang beberapa jam. Akhirnya pesawat landing di bandara yang menjadi tujuan.


Fatma sengaja membiarkan yang lain dulu keluar. Biar dia nanti belakangan, dia malas untuk berdesak-desakan.


Setelah para penumpang sudah pada turun. Barulah Fatma beranjak dan mengambil tasnya dari kabin. Berjalan dengan teratur menuju pintu pesawat.


Beriringan dengan para pramugari, sebagian yang keluar dari pesawat tersebut.


Fatma berdiri di puncaknya tangga sambil menghela napas panjangnya. "Alhamdulillah sampai juga."


Langkah Fatma mengayun menuruni anak tangga, dalam otaknya sudah terbayang banyaknya pekerjaan yang menanti.


Setelah berada di bandara, Fatma menunggu koper yang masih belum keluar dari pihak pemeriksaannya tersebut.


Fatma sedang menunggu barangnya yang belum keluar itu.


"Selamat sore, Mbak? apa ada yang bisa saya bantu?" tawar seseorang yang suaranya itu mirip dengan suara pria yang Fatma kenal.


Fatma terkejut dan wajahnya langsung menoleh ka arah pria tersebut. "Aa ..." Fatma melonjak naik.


Ternyata yang menyapanya itu adalah suaminya sendiri, Arya. Meskipun heran kok Arya ada di sana, atau memang dia yang membawa pesawat yang ia tumpangi ....


.

__ADS_1


__ADS_2