Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Nama Arya


__ADS_3

"Siapa yang akan bertanggung jawab? pada ibu tersebut," tanya dokter yang akan menangani.


"Saya dok, biar saya saja." Sambut Arya.


"Kalau begitu, mari mengisi admistrasi dulu." Ajak suster.


Arya segera mengisi admistrasi sebagai penanggung jawab ibu tersebut yang entah siapa dan dimana keluarganya.


Lanjut Arya duduk di kursi tempat tunggu. Dengan netra yang tertuju pada pintu ruang UGD tersebut.


Sultan datang dengan napas tersengal-sengal. "Gimana, sudah lahiran?"


"Nggak tahu." Arya menggeleng.


"Keluarganya sudah di hubungi?" tanya Sultan kembali.


"Belum." Arya menoleh pada Sultan dan berasa mendapat angin segar. Kemudian manik matanya mengarah pada tas yang diyakini milik si ibu itu, ia buka dan mencari dompetnya.


"Ngapain menggeledah tas orang?" Sultan heran.


"Cari data." Tangan Arya menemukan sebuah tanda pengenal dan ponsel jadul dan dalam keadaan mati, baterai nya habis.


"Ida, Kampung xx,status menikah." Gumamnya Arya. Seraya mengamati kartu tersebut.


"Gimana?" Sultan penasaran.


Arya memperlihatkan kartu itu lalu menghidupkan ponsel jadul milik ibu tersebut namun sia-sia baterainya lobet banget. "Tolong cas sebentar, kalau aku yang pergi takut dokter membutuhkan ku."


"Baiklah," Sultan kembalikan kartu tersebut. Lalu beranjak membawa ponsel mencari colokan listrik.


Dokter wanita keluar dari pintu dengan mata seakan mencari sesuatu.


"Dok, gimana ibu itu?" tanya Arya setelah menghampiri dokter tersebut.


"Anda suaminya?"


"Bu-bukan. Saya yang membawa dia ke sini dari pesawat." Arya menggeleng diiringi dengan gerakan tangan.


"Puji syukur, keduanya selamat, baby nya laki-laki."

__ADS_1


"Alhamdulillah ... lalu begitu. Boleh saya menemuinya dok?" Arya mengucap syukur.


"Tentu, dan pasien akan dipindahkan ke ruang inap. Mari!"


Dokter berlalu meninggalkan tempat tersebut. Arya perlahan membawa langkahnya memasuki ruang tersebut.


Arya berjalan menghampiri ibu itu yang tampak lemah. Suster juga masih mengurus baby yang masih merah itu.


"Kapten, makasih ya? terima kasih banyak?" suara bu Ida.


"Sama-sama, Bu. Baby nya laki-laki ya, anak ke berapa?" tanya Arya.


"Em, anak ke tiga kapten." Manik mata Bu Ida tertuju pada tulisan nama Arya di dada bagian samping Arya.


"Bolehkah? saya memberi Nama putra saya seperti nama kapten, Arya?" Bu Ida meminta ijin.


"Ooh, boleh. Boleh," kepala Arya mengangguk.


"Sudah hidup ponselnya?" tanya Arya setelah Sultan masuk membawa ponsel yang tadi.


"Sudah," sahut Sultan.


"Ooh, tidak apa-apa Bu. Saya ikhlas kok," ucap Arya memotong perkataan Bu Ida.


"Sebenarnya. Saya ... saya habis menyusul suami. Yang katanya kerja proyek tapi--" Bu Ida menggantung ucapannya. Dia tampak sedih sekali. Kemudian menghela napas dalam-dalam.


"Ternyata suami saya menikah lagi." Lalu tangis Bu Ida pun pecah, tak kuasa menahan air matanya sebagai luapan kekecewaannya.


Semua yang ada di sana seakan menahan napasnya. Arya menunduk ternyata banyak lagi pria yang tidak konsisten dengan pernikahannya.


"Saya tidak tahu dengan apa saya membayar persalinan ini. Saya bingung. Hik hik hik." Bu Ida menangis tersedu.


"Bu, Ibu tidak perlu pikirkan itu, semua biaya rumah sakit ini sudah saya lunasi. Tinggal ibu dan baby nya sehat aja dan sekarang hubungi keluarga Ibu. Selain suami," ujar Arya lirih. Memberikan ponselnya yang sekarang dah nyala.


"Masya Allah tabarakallah. Makasih banyak kapten, dengan cara apa saya harus membalas kebaikan mu itu," ucap Bu Ida sambil mengelap air matanya.


"Tidak usah, Bu. Tidak usah di balas apapun," sambung Arya.


"Ibu cukup doakan saja dia, Bu." Timpal Sultan.

__ADS_1


Mengingat suami bu Ida tidak ada dan keluarga yang lain pun baru dihubungi, Arya meminta ijin untuk mengadzani baby nya bu Ida. Tentu dengan senang hati bu Ida ijinkan.


Setelah itu, Arya dan Sultan berpamitan untuk pulang, waktu pun sudah menunjukan pukul lima pagi dan Arya, Sultan. Segera mencari mushola terdekat.


Selepas menunaikan subuh, keduanya ke kantor sebab semua barang mereka berada di sana. Arya menarik napas lega, merasa senang sudah bisa menolong orang yang membutuhkan uluran tangannya.


Setelah mengambil barang-barangnya. Arya dan Sultan pulang ke tempat masing-masing. Arya melarikan sepeda motornya ke unit apartemennya.


Setibanya di unit, Arya segera membersihkan dirinya berendam di bathtub. Badan yang terasa lengket dan bau, segar sudah dengan wangi aroma terapi kesukaannya.


Sesudah membersihkan diri, Arya langsung bikin sarapan walaupun yang ada cuma mie rebus saja. Lanjut bersih-bersih unit dan membuka gorden, buka pintu balkon sebentar berdiri di sana. Sampai terasa hangatnya sang mentari pagi.


Menatap langit yang begitu cerah. Namun sayang tak secerah hati Arya saat ini, birunya yang membentang luas. Burung-burung yang menari-nari di angkasa dan sesekali hilang dibalik awan-awan yang putih lalu muncul kembali terbang beriringan. Seakan saling menyapa satu sama lainnya.


Helaan napas Arya begitu berat. "Hua ... Hua ..." mata Arya terasa perih dan mengantuk. Berjalan membawa langkahnya masuk.


Brug!


Pintu tertutup dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. "Hua ... ngantuk."


Namun seketika matanya Arya terbuka teringat kalau hari ini Fatma mau pulang dari rumah sakit. "Astagfirullah ... bukannya hari ini Fatma mau pulang dari Rumah sakit.


Bergegas bangun, menyambar jaket dan mencari kunci motor di laci. Ambil topi warna coklat lanjut tutup kembali gorden dan melebarkan langkahnya keluar unit, rasa kantuk pun sekejap hilang ketika mengingat mau jemput Fatma.


"Ibu Negara." bibirnya bergumam mengingat sebutan Fatma dari Sultan, sahabatnya.


Memakai helm dan menaiki sepeda motor, melaju perlahan ke jalan raya lalu melarikannya dengan cepat menuju Rumah sakit dimana Fatma di rawat.


Namun di perjalanan, Arya malah bertemu dengan mobil bu Tita yang sedang mogok. Arya menepikan motornya lalu menghampiri si pemilik mobil yang mogok itu.


"Mobilnya kenapa Bun?" tanya Arya pada bu Tita yang duduk di dalam mobil sementara supirnya mengganti bannya.


"Eeh! Nak Arya. Ini kempes ban, jadi ganti dulu padahal Bunda lagi buru-buru nih." Keluh bu Tita sembari melihat jam di tangannya.


"Emang bunda mau kemana? aku antar pake motor, itupun kalau bunda mau." Arya menawarkan jasa.


"Bunda mau menjenguk kawan di Rumah sakit, boleh." Bu Tita turun dengan membawa paper bag. Berjalan mendekati motor Arya yang berada di depan mobil miliknya yang terparkir.


Arya kembali mengenakan helm lalu melaju dengan kecepatan sedang setelah bu Tita duduk dibelakang sang memegang bahunya. Setelah beberapa puluh menit berlalu akhirnya sampai juga pada tempat yang Kebetulan Rumah sakit yang di tuju itu sama.

__ADS_1


Namun bedanya kawan Bu Tita. di lantai bawah dan Fatma di lantai atas ....


__ADS_2