
''Ini pasti Kak Fatma. Calonnya Aa.'' Sapa seorang gadis yang wajahnya ada mirip-mirip wajah Arya.
Fatma mengulas senyuman ke arahnya. Lalu manik matanya bergerak melihat sekitar yang sedang banyak orang tengah berbincang, lalu menoleh kembali. "Kamu siapa?" tuturnya dengan lembut.
"Aku adiknya Aa, Dewi." Balasnya dengan ramah.
"Ooh. Cantik sekali," puji Fatma kembali.
"Kakak juga cantik sekali." Dewi tak kalah memuji kecantikan Fatma.
Suasana di sana begitu ramai dan Fatma merasa kepanasan dan ingin mencari angin sehingga dia memilih duduk di luar, di teras dan ternyata di sana ada Sofi.
"Hi." Fatma tersenyum ke arah Sofi.
"Juga, di dalam panas," balas Sofi sambil mengibaskan tangannya.
"Hem, cuacanya panas. Lihat saja senja yang begitu indah," ucap Fatma sembari melihat senja yang merah dengan bibir yang terus tersenyum.
"Apa benar anda akan menikah dengan arya?" tanya Sofi.
Membuat senyum di bibir Fatma sejenak memudar dan menatap bingung ke arah Sofi yang menatap penasaran.
"Aku ... gak tau, semua tergantung jodoh."Jawab Fatma lalu menunduk.
"Hem, seandainya kalian menikah. Apa akan siap? secara Arya itu jadi pria idaman semua wanita, ngerti dong?" ucap Sofi sembari beranjak pergi.
Mendengar perkataan Sofi, bikin hati Fatma tersentil. Fatma tertegun mencerna omongan Sofi. Ucapan itu sangat mengganggu perasaan.
"Melamun?" suara itu mengagetkan lamunan Fatma yang anteng.
Fatma menoleh dan pada sumber suara yang membuatnya tersentak. "Oh."
"Adzan Maghrib. Masuk? nanti ada yang lewat," ucap Arya sedikit menarik sudut bibirnya.
"Rania bangun apa?" tanya Fatma sambil berdiri.
"Belum, nyenyak dia." Akunya Arya.
"Oya, tadi. Makasih banyak ya?" sambung Fatma sekilas melihat ke arah Arya.
"Sama-sama. Jujur aku sempat shock, tapi Alhamdulillah. Allah masih menjaga kita semua."
"Iya, Aamiin. Oya, boleh aku bertanya?
"Boleh, mau tanya apa?" Arya menatap lekat.
Membuat Fatma serba salah. Menerima tatapan seperti itu. "Sebenarnya di sini mau ada acara apa?"
"Ooh, syukuran rumah ini yang baru selesai di bangun. Dan pernikahan Dewi." Arya menjawab dengan jelas.
"Ooh," Fatma membulatkan bibirnya. Lalu berjalan meninggalkan Arya.
Kini waktunya makan malam, dan semua duduk di lantai bersama-sama menghadapi makan nya masing-masing. Keluarga Fatma berbaur dengan keluarga Arya yang pada ramah dan murah senyum. Semua menikmati makannya dengan sangat lahap.
Menu-menu Sunda pun menghiasi berjejer di lantai termasuk lalapan yang serba ada.
Namun entah kenapa Fatma sedikit melamun, apalagi melihat Arya yang kebetulan duduk di dekat Sofi dan entah sedang membicarakan apa? sehingga tampak tertawa renyah.
Sultan juga sesekali memandangi ke arah arya dan Sofi yang tampak tertawa bersama sambil makan.
Kemudian Sultan melirik ke arah Fatma yang bengong. Kemudian beranjak pindah ke dekat Arya.
"Aku boleh dong duduk di sini?" Sultan duduk di samping Arya.
Arya menoleh. "Boleh."
"Kau tahu, ibu Negara galau melihat kau di sini!" bisik Sultan pada Arya.
Mendengar itu, Arya menggerakkan matanya melirik ke arah Fatma yang langsung menunduk. Lalu Arya berdiri mendekati, namun Fatma langsung beranjak pergi. Membuat Arya tertegun menatap kepergian Fatma.
__ADS_1
Fatma membawa langkahnya ke kamar yang ada Rania nya yang belum makan. Dan kebetulan pas ke sana Rania terbangun memanggil mamanya.
"Sayang, ini Mama. Sayang belum makan lho, mam dulu yu?" tangan Fatma memeluk anak itu yang masih terlihat kantuk.
Kedua netra mata Fatma mengamati ruangan tersebut. Kamar pria yang rapi berhias foto-foto Arya yang masih status pelajar dan ada sebuah foto yang cukup menyita perhatiannya, yaitu Arya yang dikerubungi para gadis.
Fatma menghela napas panjang, memang tidak bisa dipungkiri kalau pesona Arya membuat para wanita tergoda. Mendadak hati Fatma terasa sakit kau membayangkan Arya dengan wanita lain.
Setelah beberapa detik langkah Arya mengikuti Fatma ke kamar pribadinya. Ia berdiri di depan pintu dan mendapati Fatma sedang memeluk Rania di tempat tidur.
"Sayang, belum makan. Makan dulu yu?" ucap Arya seraya duduk di tepi tempat tidur.
"Mamam dulu ya? nanti bobo lagi." Tambah Fatma.
"Em, masih ngantuk." Anak itu beranjak dari pangkuan sang bunda berpindah kepangkuan Arya.
Arya langsung memeluknya tubuh mungil itu takut terjatuh. "Kenapa hem? makan dulu nanti masuk angin."
Fatma bengong melihat Rania yang tak sedikitpun merasa canggung pada Arya. "Em, aku pengen mandi, apa ada kamar kosong?"
"Di sini gak ada kamar kosong," jawab Arya tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Terus, aku dan keluarga ku istirahat dimana?" tanya Fatma kebingungan.
"Di sini--"
"Di sini? ini kamar kamu." Protes Fatma.
"Aku bisa tidur di luar." Sambung Arya kembali.
"Papa bobo nya di sini ya?" Rania mendongak menatap Arya.
"Tidak sayang, Rania sama mama aja di sini. Papa di luar saja," sahut Arya sembari membelai rambut Rania lembut.
"Tapi, Pah--"
"Tapi mama dan papa yang lain suka bobo bareng kok, dulu juga Mama sama papa Rania bobo bareng juga." Celoteh anak itu.
"Sayang, nanti kalau sudah waktunya pasti bobo bareng." Arya melirik ke arah Fatma yang menunduk malu.
Wajah Fatma memerah dan sangat malu, bisa-bisanya Rania bilang gitu. Sehingga wajah Fatma berasa berat untuk di angkat.
Bu Wati beserta suami, Mia dan pak Harlan, kerabat lain juga beristirahat di rumah sebelah, sementara Sultan, Sofi dan Fatma di rumah Arya.
Di teras, Sofi tengah berdiri sendiri termenung. Melamun.
"Melamun, jangan melamun. kemarin ayam tetangga ku mati--"
Suara Arya membuyarkan lamunan Sofi. "Mati karena melamun?"
"Karena penyakitan." Arya tertawa garing.
Bola mata Sofi memutar jengah. "Tidak lucu."
"Siapa juga yang ngelawak? Sof-Sofi," balar Arya.
Helaan napas Sofi terlihat berat. Tatapannya kosong jauh ke depan.
"Mikirin apa sih?" tanya Arya.
Sofi menoleh. "Biasa adik aku."
"Kenapa lagi?"
"Bikin ulah, ikutan geng motor dalam keadaan mabuk."
"Maklumlah, laki-laki. Selalu ingin buat hal baru kali," ucap Arya santai.
"Kalau gak membahayakan sih, id okay. Lah ini bahaya buat dia keluarga juga riweh dibuatnya."
__ADS_1
Tidak terasa lelehan air bening mengalir di pipinya. Sedih, mengingat adik laki-lakinya selalu bikin repot keluarga termasuk dirinya.
"Aku gak tau harus bagaimana lagi menghadapi adik aku yang seperti itu." Akunya Sofi dengan nada sedih.
Arya menghela napas panjang. "Akibat pergaulan dan tidak adanya pendirian yang akhirnya terjerumus pada hal-hal yang kurang baik."
"Aku kasihan sama orang tua ku, mereka sedih, perasaannya hancur." Suara Sofi makin pilu. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Berharap Arya meminjamkan pundaknya untuk menangis.
"Sini, menangis lah di bahu ku!" Sultan yang baru datang menawarkan bahunya dan menarik kepala Sofi ke dalam dekapannya.
Dalam hati, Sofi terkesiap dengan kedatangan Sultan yang dengan tiba-tiba menawarkan bahunya tuk menangis.
Sultan yang memperhatikan keduanya, kemudian segera segera menghampiri Sofi. Dia tak ingin membiarkan Sofi berduaan dengan Arya apalagi di dalam ada Fatma. Takut menimbulkan prasangka yang kurang baik.
Arya menganggukkan kepalanya dan tersenyum setuju kalau Sultan datang di antara dia dan Sofi.
Fatma yang sudah berada di kamar Arya mengintip dari jendela melihat Arya dan Sofi ngobrol, ada rasa sesak dan kesal melihatnya. Namun kedua netra nya tak mau berhenti melihat mereka yang tampak serius dan Sofi tampak sedih pula.
Tidak sadar, tangan Fatma meremas gorden yang ada dihadapannya. Rasa kesal semakin menjadi ketika Arya seolah mendekati Sofi. Namun Fatma merasa lega ketika Sutan datang di antara mereka.
Fatma bernapas lega. Sultan datang dan Arya tidak berdua lagi dengan Sofi, namun ketika Fatma mengintip lagi Arya sudah tidak ada di tempatnya lagi. manik mata indah Fatma mencari ke beberapa sudut tapi yang ada cuma Sofi dan Sultan saja.
Kedua netra mata Fatma beralih pada Rania yang sudah terlelap kembali. Anak itu terlihat lelah untung sudah di kasih makan dulu tadi di suapin sama Arya atas permintaan anak tersebut yang bersikap manja pada Arya yang dia panggil papa.
kemudian Fatma membaringkan tubuhnya di samping Rania yang sebelumnya mencium kening dan pipinya. Mencoba memejamkan matanya namun tak lena, terngiang perkataan sofi tadi sore.
...---...
Keesokan harinya, Arya tampak sibuk dengan urusan pernikahan sang adik. Membuat Rania pun merengek menanyakan Arya kemana, Aling terlihat semenit. Ngulang lagi ditemani Sultan.
"Papa mana sih? ngilang mulu. kaya siluman," gerutu Rania sambil celingukan.
"Hehehe, emangnya Non Rania pernah lihat siluman ya? umi saja sampai sekarang belum pernah lihat hantu atau siluman," tutur lembut umi.
"Sudah, sering lihat di televisi. Banyak." Jawabnya polos.
Umi dan Bu Wati saling lempar senyuman. Mia yang masih merasa bersalah menjadi pendiam tak banyak bicara.
"Mama, papa mana sih? Rania mau jalan-jalan sama papa!" rengek Rania.
"Sekarang panggilnya papa," bisik Bu Wati kepada umi yang langsung mesem.
"Sibuk sayang, ngerti dong." Fatma menoleh sang putri kecilnya.
"Dari pagi sampai sore gini? masa sibuk terus ah?" anak itu kesal.
"Tanyakan saja sama umi." Fatma menunjuk ke arah umi.
Manik mata polos Rania menatap ke arah umi. "Umi, benar gitu papa sibuk? kok dari pagi sampai sore sih? sebentar ada, hilang lagi."
"Iya, Neng geulis. Papa sibuk dulu." Jawab umi Santi.
''Papa Rania lagi sibuk cari mama baru boleh?'' goda Sofi menatap Rania.
Degh!
Fatma sontak menoleh ke arah Sofi dan menutup laptopnya yang semula ia tatap dengan serius. "Apa maksudnya bicara seperti itu?" batinnya.
"Tidak, tidak boleh," sahut Rania sambil memainkan bonekanya.
"Kenapa? kan papa Arya mau cari anak baru lagi, yang sama cantiknya sama Rania."
"Nggak mau, itu papa Rania. Jangan di ambil siapa-siapa," ucap Rania menggeleng dan kedua manik matanya berembun lantas merajuk pada sang bunda.
Fatma memeluk dan menenangkan. Kedua netra matanya memandangi Sofi yang malah tersenyum penuh arti ....
****
Jangan lupa like komen dan hadiahnya🙏
__ADS_1