Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Pertengkaran


__ADS_3

Doni dan Renata terdiam dengan pikirannya masing-masing, namun pada akhirnya kedua pasutri muda ini bergerak juga menghampiri meja makan, Dimana bunda Tita sudah berada di sana dengan asisten rumah.


Sengaja Renata duduk jauh dari Doni, bunda Tita menggeleng melihat kelakuan putrinya terhadap suami.


"Rena ... gak boleh gitu ah, marahnya jangan lama-lama pamali." Lirih sang bunda dengan pelan. "Layani dia dengan baik."


"Malas ah, biar saja. Bisa sendiri kok, dia bukan anak kecil yang harus selalu aku layani." Balas Renata dengan ketusnya.


Renata mengambil makan buat sendiri aja tanpa menghiraukan Doni yang bengong. Lantas Renata menyantap makan malamnya dengan lahap.


Bunda Tita cuma bisa menggeleng lalu menoleh ke arah Doni yang perlahan mengambil piring dan beberapa menu yang dia suka.


"Awas ya? tunggu balas dendam ku," gumam Doni dalam hati seraya melihat Renata yang asyik menyantap makannya.


Renata mendongak. Menoleh ke arah Doni yang memandang dingin padanya. Dan tersenyum jahat. "Apa lihat-lihat. Makan-makan aja, gak usah lihat-lihat." Ketus.


"Siapa juga yang lihat-lihat? yey, GR amat jadi orang." Iya Doni sembari menaikan bahunya.


"Helleh, terus lihat apa kalau bukan melihat-lihat ke arah ku?" mata Renata mendelik dengan mulut penuh makanan.


"Aku bisa lihat apa saja, gak harus juga memandangi istriku yang cantik ini." Elak Doni namun bibirnya tersenyum menggoda sang istri.


"Aish, gak lucu!" Renata berusaha menyembunyikan senyumnya.


Acara makan pun selesai. Doni meneguk minumnya sampai tandas lalu mencuci tangannya dan langsung menyusul Renata ke atas.


"Bunda, aku mau naik dulu ya? eh maksud saya mau menyusul Renata ke atas." Pamit Doni pada sang ibu mertua yang masih belum selesai makannya.


"Iya, susul aja, Oya. Baiknya kalian bicarakan masalah kalian dengan kepala dingin, kalian itu belum genap sebulan loh menikah, masa mau musuh-musuhan, kan gak lucu," tutur bunda Tita.


"Iya, Bun. Aku akan berusaha untuk meluluhkan nya," sahut Doni sembari melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


Namun sesampainya di atas, dia termangu, mematung di depan pintu ketika memutar handle pintu terkunci.


"Ck, sial. apa sih maunya wanita ini? bikin gara-gara saja. Nggak di rumah gak disini sama aja." Umpat Doni seraya memukul pintu.


"Sayang, buka pintunya aku mau masuk?" Doni menggedor pintu berkali-kali.


Hening!

__ADS_1


Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Membuat Doni makin geram dan lagi-lagi menggedor pintu. Sampai luka di telapak tangan akibat pecahan gelas makin terasa sakit.


"Uuh, Sial. Sakit juga," mengibaskan tangannya yang terasa perih. "Sayang, buka? kamu itu bukan anak kecil. Kita harus bicara!"


"Pulang sana? aku gak mau bicara denganmu. Aku mau tinggal di sini, jangan pernah temui ku lagi." Pekik Renata dari dalam.


Degh!


"Apa maksud mu ha? kamu istri ku! gak mungkin kita berjauhan." Doni terus menggedor pintu.


Ada apa ini ribut-ribut? malu lho. Nanti kedengaran tetangga." Suara bunda Tita yang baru muncul di tempat tersebut.


Doni menoleh pada sang ibu mertua. "Bun, pintu dikunci dari dalam. Gimana saya bisa masuk bunda?"


"Hem ..." bunda Tita menggeleng. lalu mengetuk pintu tersebut. "Rena ... buka pintunya? jangan begini, pamali! kalau ada masalah bicarakan baik-baik. Buka pintunya? biarkan suami mu masuk."


"Nggak mau! suruh dia pulang saja. Aku gak mau bicara sama dia, kan sudah dijelaskan dari tadi. jangan temui aku lagi!" pekik Renata lagi.


Renata yang meringkuk dibawah selimut merasa kesal, dan tidak ingin melihat Doni di hadapannya lagi. "Aku gak mau melihatnya lagi, bunda." Dengan nada tinggi.


Hening!


"Lah, itu tangan mu kenapa berdarah?" suara bunda Tita terdengar cemas dari balik pintu.


"Oh, ini tadi di rumah. Kena pecahan kaca, Bunda." Terdengar jawaban dari Doni, suaranya sedikit meringis.


"Ya ampun ... yu, Bunda obati! Rena? suami mu berdarah." pekik bundanya.


Alah ... paling lebay itu mah di buat-buat agar aku membuka pintu. "Bohong, itu mah akal-akalannya saja, bunda. Aku gak percaya." Timpal Renata dari balik selimut.


"Masya Allah Rena ... kamu ini kenapa sih? lihat dulu kenapa sih?" bunda Tita terdengar mulai jengkel dengan kelakuan anaknya.


"Mau buka nggak ini pintu? kalau nggak! Bunda mau suruh satpam untuk mendobrak." Benar-benar bunda Tita di buat jengkel.


"Maaf kan Renata, Doni. Tapi kenapa Rena jadi ke kanak-kanakan begini sih? bunda jadi gak habis pikir deh.


"Aku juga gak mengerti, Bunda." Doni pun menggeleng.


"Bibi? tolong bawakan kotak obat? cepat." Bunda Tita sedikit berteriak.

__ADS_1


Cklek!


Pintu terbuka sedikit, dan Renata kembali ke tempat tidur dengan wajah yang ditekuk.


Doni dan nantinya bergegas masuk, Doni duduk di sofa yang ada di sana. Tangan di angkat, berasa kesemutan.


"Kamu kenapa sih? lihat tangan suami mu berdarah," tegur bunda Tita menatap tajam ke arah Renata.


Netra mata Renata bergerak ke arah Doni yang sedikit meringis memegang tangannya. Renata menatap datar tanpa bertanya kenapa?


"Ini obatnya." Asisten membawa kotak obat.


"Rena, sana?" bunda Tita memberi kode, supaya tanya mengambil dan mengobati luka Doni.


Dengan malas, Renata beranjak mendekati Doni dan mengambil obatnya. "Mana tangan mu?" dengan nada jutek.


Doni menatap dengan senyuman di bibirnya lalu memberikan telapak tangannya pada Renata.


Kemudian Renata mengobati luka Doni yang yang tidak terllau besar tapi darah yang keluar lumayan menetesnya.


"Kenapa sih bisa seperti ini? mau bunuh diri apa? kenapa gak dilanjutkan?" tanya Renata dengan nada sinis.


"Ini gara-gara kamu main kabur saja, jadinya tangan ku terluka begini--"


"Kenapa gak dilanjutkan? ini mah nanggung." Timpal Renata sambil menyimpan kotak obat ke atas nakas.


"Emangnya mau menjadi janda muda?" tanya Doni menatap tajam.


"Itu lebih baik, biar aku bebas. Lepas dari kamu--"


"Renata? bicara apa sih kamu? pamali! gak boleh bicara gitu. Ada-ada saja." Bentak bunda Renata melotot pada putrinya.


"Aku mau pisah sama dia, Bunda. Aku ingin--" Renata menggantung kalimatnya.


"Ingin apa ha? ingin balikan lagi sama Arya, iya? tidak mungkin. Arya sudah bahagia dengan istrinya juga putrinya, jangan bermimpi." Bentak Doni.


Pertengkaran pun berlangsung sampai beberapa waktu kemudian di hadapan bundanya Renata sampai akhirnya, pertengkaran itu berhenti sebab merasa capek. Namun kendati demikian, tidak menjadikan Doni pulang. Dia malah memilih menginap sekalipun Renata bersikap cuek, dingin dan marah-marah bila didekati.


Bagi Doni sudah mulai terbiasa dengan sikap seperti itu. Doni meringkuk disebelah Renata yang tidur memunggungi, walau sudah Doni tarik beberapa kali agar merapat padanya tetap saja menjauh kembali. Hingga akhirnya, Doni menarik kembali pinggang Renata dan menguncinya sehingga gak bisa bergerak sedikitpun ....

__ADS_1


****


Sedih nih. Kok gak ada yang mau kasih hadiah dengan menonton iklan sih?


__ADS_2