
Fatma masih memilih diam dengan segala perasaan yang bercampur aduk, shock. Bahagia dan perasaan trauma. Bagaimanapun Fatma punya background yang kurang mengenakan dalam hal rumah tangga. Ada sekelumit rasa takut yang menghantui jiwanya, penganiayaan itu terkadang masih kerap membayang diingatan nya Fatma. Namun di sisi lain ia percaya kalau Arya ini tidak mungkin melakukan hal yang sama dengan Aldian terhadap dirinya, apalagi. Semua pun sudah pada tahu kalau Arya sosok yang taat pada agamanya. Bertanggung jawab, baik dan perhatian.
Fatma pun tidak meragukan lagi, soalan kasih sayang dan perhatian Arya pada Rania! ia cukup turut merasakan hal itu kalau Arya tulus menyayangi Rania si putri kecilnya tersebut. Jadi sesungguhnya tak ada lagi yang harus ia ragukan. Sejenak Fatma memejamkan mata serta menghela napas yang tampak berat itu.
Terjadinya, Arya menembak Fatma, bikin wanita-wanita yang ada di sana merasa patah hati. Wanita-wanita cantik itu tertegun dan hancur merasa tak punya harapan lagi. Terutama Sofi yang dari sejak lama naksir sosoknya Arya namun sampai detik ini tak terbalaskan yang ada malah Arya menembak Fatma nyata di depan matanya.
Membuat hatinya terpatahkan dengan sekejap, tapi Sofi tetap tersenyum dan berlapang dada kalau Arya bukanlah jodohnya.
Tangan Sultan bergerak mengarah dan menyentuh tangan Fatma. "Saya sih--"
Plak!
Tangan Arya menepuk lengan Sultan, "Jangan gitu kali, ngomong ya ngomong aja. Gak usah pegang-pegang."
"Ha ha ha ... galak amat! cuma pegang tangan doang juga, gimana kalau lebih? bisa digantung gue." Celetuk sultan, dibarengi dengan tawanya uang renyah.
"A-aku tahu, kamu. Masih trauma dengan masa lalu mu itu, jadi ... gak perlu dijawab sekarang. Lain kali saja," ungkap Arya seraya memberikan senyum terbaiknya.
"So sweet ... tapi aku sih yakin, kalau ini akan berakhir dengan memuaskan. Lihat saja dari sorot matanya, gak akan mengecewakan lah." Sultan menoleh pada Fatma yang tampak salah tingkah.
"Ya, semoga aja semuanya berjalan lancar walau pelan-pelan," harapan Wisnu seraya mengakhiri makannya dengan seteguk minuman air juse.
Setelah selesai makan-makan. Semuanya bubar dan pamit pulang. Tidak lupa Arya mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada semuanya atas kejutan ini.
"Jaga ibu Negaranya baik-baik. jangan sampai diambil orang, sebab pasti banyak pria yang menantikan dia. Secara dia wanita yang cantik, smart dan kaya, hati-hati." Wisnu setengah berbisik pada Arya.
Kepala Arya mengangguk. "Terima kasih kapten. Insya Allah aku akan berusaha." Arya mengulas senyumnya.
"Sekali lagi senang bisa mengenal mu." Wisnu mengulurkan tangan pada Fatma setelah berpelukan dengan Arya.
Fatma menyambut ramah tangan Wisnu. "Oke, selamat malam."
"Sudah dong, kapten jangan lama-lama salamannya. Kalian itu senang banget ya melihat orang menderita. Arya menggeleng sambil menarik tangan Wisnu yang nempel dengan tangan Fatma. "Lagian kapten sudah punya yang di rumah."
__ADS_1
"Ha ha ha ... kapten Wisnu dan Sultan tertawa renyah. Mereka merasa puas membuat Arya seperti kebakaran jenggot.
"Ya sudah, aku pulang dulu, sampai jumpa lagi. Assalamu'alaikum," Wisnu berucap salam kemudian berlalu pergi.
Sultan menyuruh Arya mengantar Fatma yang kebetulan tidak membawa mobil.
"Antarkan Fatma pulang, tadi dia sama aku datangnya, apa perlu aku yang mengantarnya lagi?" ucap Sultan setengah berbisik.
"Tentu, aku yang akan mengantar bro. Makasih ya? Atas semuanya?" tangan Arya menepuk bahu Sultan.
"Yoi! Sorry, sudah buat kau cemburu?" Sultan memeluk Arya dan mengusap punggung Arya.
"Ya, Sorry juga dah berburuk sangka!" Arya membalas pelukan dari Sultan. "Sofi masih di luar, susul sana."
"Baiklah. Yo aku duluan." Pamit Sultan pada sahabat dan Fatma yang masih berdiam diri. Sultan segera membawa langkahnya meninggalkan tempat tersebut.
Kemudian Arya melirik ke arah Fatma. "Nggak pa-pa, kan? pulang pake motor?"
"Nggak pa-pa, emang kenapa?" Fatma balik nanya. Kebetulan Fatma saat ini mengenakan setelan celana panjang.
"Kalau gak ikhlas sih, gak pa-pa! aku bisa pulang sendiri kok. Fatma berdiri sambil meraih tas nya di bibirnya terlukis sebuah senyuman sangat manis.
"Ikhlas dong." Arya lebih dulu membayar bil semua hidangan sudah mereka makan.
Kemudian mereka berjalan berdampingan menuju parkiran.
Arya menghentikan langkahnya. "Aduh bentar ya? pengen ke toilet sebentar! gak papa kan?"
Fatma terdiam sejenak lalu berkata. "Oke, jangan lama-lama ya?"
"Iya, bentar kok. Kebelet nih?" tanpa menunggu lagi jawaban dari Fatma, Arya membalikan badannya berjalan dengan tergesa-gesa.
Fatma menatap punggung Arya, kemudian mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Malas bila harus menunggu di parkiran." Gumamnya Fatma sambil berjalan mencari toilet.
"Bro, lihat ada bidadari yang sedang sendiri. Gimana kalau kita godain dia?" ucap seorang pemuda yang bersama kawan-kawannya.
Lima pemuda yang gayanya metal dan sepertinya agak mabuk, terlihat dari nada bicara dan gerak tubuhnya.
Fatma bingung, harus gimana nih? kebetulan bodyguard nya sedang di libur dulu. "Gimana nih?" gumam Fatma dalam hati.
"Hi, gadis cantik. boleh kenalan gak? boleh dong! masa nggak. gak mungkin," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Namun Fatma tidak serta Merta menerimanya. "Maaf. jangan menghalangi ku, aku mau lewat."
"Ya lewat saja, jalan masih terbuka lebar cantik. Cantik sekali wajahmu." Tangan itu mau menyentuh pipi Fatma, Fatma mundur segera dan dengan cepat pula sebuah tangan menangkap tangan pemuda tersebut.
"Harap jangan kurang ajar ya?" Arya menghentakkan tangan tersebut.
"Eh, siapa kamu? jangan sok ngatur. Hak aku dong mau megang kek mau cium kek. terserah gue lah." Teriak pemuda itu dengan nada tinggi dan dibarengi mata yang melotot ke arah Arya.
Tangan Arya mencengkram kerah baju pemuda tersebut. Matanya melotot penuh amarah, tidak terima kalau Fatma di godain orang lain. "Dia calon gue jadi jangan kurang ajar sama dia."
Pemuda tersebut pun tidak terima dengan perlakuan Arya padanya. "Kau yang kurang ajar." tangan pemuda itu melayang berniat memukul pelipis Arya yang langsung Arya tepis.
Yang lain juga tidak tinggal diam dan mereka ikut menyerang Arya yang siap siaga untuk menangkis serangan mereka.
Fatma panik dan berusaha melerai perkelahian mereka. "Sudah, sudah. Arya sudah, mereka pasti sedang mabuk. jangan dilayani." Teriak Fatma.
Mendengar suara Fatma, Arya mundur namun tanpa diduga ada serangan dari salah satu seorang pemuda yang mengenai batang hidungnya Arya. Membuat hidung Arya berdarah, datang serangan lagi namun dengan cepat Arya menangkis serangan yang semakin bertubi-tubi itu.
Melihat perkelahian makin berlangsung, Fatma menjerit meminta tolong. "Tolong ...."
Setelah Fatma berteriak meminta tolong akhirnya beberapa scurity berlarian mendatangi dan menangkap lima pemuda tersebut ....
****
__ADS_1
Terima kasih pada reader ku semua yang sampai detik ini masih mengikuti setiap karya ku🙏