
Sebelum memandikan Rania, Mia membawakan handuk yang masih bersih sang meminjamkannya pada Arya. Tapi beberapa langkah sebelum sampai ke tempat Arya berdiri. Arya sudah mengambil handuk dari tangan Fatma dan langsung menggunakan nya.
Mia termangu dan urungkan niatnya. "Nasib-nasib. Beru pengen deketin yang ganteng. aja ada ... aja halangan nya.'' Lantas melanjutkan niatnya memandikan Rania.
Arya dan Fatma saling tatap dengan tatapan yang penuh arti namun sulit bila diungkapkan dengan kata-kata.
"Makasih? aku mandi dulu ya!" Arya membawa pakaiannya beserta handuk milik Fatma ke kamar mandi.
Fatma mengangguk, lalu membawa langkahnya ke dapur. Melihat meja makan yang sudah tersaji beberapa hidangan yang masih hangat dan mengepul.
Kemudian mendongak ke atas lalu berniat mau melihat Rania namun baru melangkahi dua tiga anak tangga, anak itu sudah muncul dan memanggil Mama.
"Mama ... Rania dah mandi." Sambil menuruni anak tangga.
"Eh-eh, hati-hati turunnya. Nanti jatuh sayang ..." Fatma menatap was-was.
"Mam, Rania habis berenang sama om ganteng, seneng deh ramai," ucap anak itu sambil meraih tangan sang bunda.
"Em, Rania ... apa happy?" tanya Fatma dan mengajak Rania duduk di kursi meja makan.
"Happy, Rania happy sangat. Sekarang Rania capek pengen bobo, tapi lapar. Mau makan dulu." Dengan ekspresi wajah yang lucu, bibir maju ke depan.
"Iya, tuh Oma dan Opa juga mau makan. Panggil dulu om nya gih? di kamar tamu. Kita makan sama-sama." Pinta Fatma pada Rania.
Anak itu turun dan berlari menuju kamar tamu. Setibanya di depan kamar tamu, Rania mendorong pintu perlahan tampaklah Arya sedang duduk bersimpuh dengan kedua tangan menengadah ke langit. Dengan pelan anak itu mendekat dan duduk di samping Arya.
Setengah berbisik. "Om ganteng, di tunggu mama makan ya? Rania mau duluan, laper soalnya. Perut Rania demo terus minta makan." Seraya mengusap perutnya.
Rania mundur mendekati pintu. Kemudian kembali ke meja makan dan sang bunda berada di sana.
Suara langkah kaki Rania yang setengah berlari disambut sang bunda. "Mana Om nya?"
Rania hanya memberi contoh saja kalau Arya sedang berdoa. dia duduk dan minta makan dengan cepat sebab dia sudah ngantuk berat.
Arya selesai salat. tersenyum mengingat Rania barusan, ia menggantungkan handuk di dekat jendela. Kemudian membawa langkahnya keluar meninggalkan kamar tersebut.
Dari sudut ruang keluarga, Mia berdiri dengan bibir mengembang memperhatikan Arya yang berjalan sambil mengenakan topinya. "Aduhhhh! tampan nya ... om ganteng ... Mia jadi tergoda, apalagi membayangkan roti sobeknya hu ... pengen emek-emek elus-elus, habis gak bisa dimakan juga." Monolog Mia.
__ADS_1
"Ayo. Makan siang sama-sama," ajak pak Wijaya setelah Arya berada dekat meja panjang itu.
Arya menarik kursinya lalu duduk sambil mengangguk pada semuanya. Ketika pandangannya berhenti di Rania yang sedang maka dan kebetulan dekat kursinya, Arya tersenyum. "Rania beneran ngantuk nya?"
Fatma yang menyuapi juga senyum tipis. Melihat putrinya itu, mulut terus mengunyah, sementara matanya tinggal dua wat. Antara terbuka dan tertutup, antara sadar dan tidak.
"Mia mana Mia? kasian Rania ngantuk berat," ucap Fatma kepalanya celingukan mencari Mia.
"Mi, Mia? Mia ..." panggil bu Wati.
Tubuh Arya berdiri dan langsung menggendong tubuh gadis kecil itu dibawanya ke kamar Rania di atas.
"I-iya, Nyonya." Mi muncul dari belakang.
"Nggak jadi, sudah kok," kata Fatma seraya melirik ke arah Rania yang dibawa Arya.
"Ooh." Mia mengikuti Arya tuk ke kamar Rania.
Setibanya di depan pintu kamar Rania, Mia membukakan pintu buat Arya. "Silakan Bang?"
"Terima kasih!" balas Arya. Ia berjalan mendekati tempat tidur yang bernuansa kuning tersebut.
Fatma mengambilkan nasi untuk Arya dan menanyakan pengen lauk apa? dan ternyata Fatma pun belum mulai makannya.
"Aku sayuran dan ... telur aja." Arya kebingungan mau pilih apa yang akhirnya memilih sayuran dan telur rebus.
Fatma sendiri memilih ayam goreng dan tumis sawi putih. Kemudian memulai menyantap makannya dengan santai.
"Kami sudah selesai, tinggal kalian saja dan Ayah mau nonton ada acara bagus." Pak Wijaya beserta istri meninggalkan meja makan.
Arya mengangguk mengiringi kepergian pak Wijaya dan Bu Wati. Lalu meneruskan makannya dengan lahap.
Mia berdiri dan membawa piringnya dengan alasan mau makan bareng yang lain di belakang.
"Em ... makan yang banyak. Biar cepat sehat," ucapnya Arya sambil menumpukan kedua sikunya di atas meja.
"Kamu juga, makan yang banyak biar kuat. Mau tahu kuat apa?"
__ADS_1
"Apa?" Arya menatap ke arah Fatma sambil mengunyah.
"Eh ... kuat ... kuat apa ya? lupa." kuat merindukan ku. Ha ha ha." Fatma terkekeh sendiri.
Arya mengulum senyumnya. "Ternyata Kak Fatma bisa bercanda juga ya?"
"Bisa lah, emangnya aku boneka atau batu yang gak butuh hiburan atau tak bisa tertawa gitu? Kalau gak ada yang menghibur ya ... hibur sendiri," ungkap Fatma lalu menghabiskan makannya.
"Memangnya kehadiran ku tidak terhibur gitu?" ucap Arya sambil menaik turunkan alisnya.
"Nggak," ketus Fatma sambil menunduk menyembunyikan senyumnya dan berpura-pura mengambil minum.
"Ya, sudah. Maaf ya? kalau sudah mengganggu. Tapi tenang saja ini yang terakhir kok."
Dengan spontan Fatma mendongak. "Lho, kenapa?"
"He he he ... takut ya?" Arya memicingkan matanya.
"Nggak." Fatma singkat, lalu meneguk minumnya.
Selesai makan siang. Arya berpamitan, kepalanya pusing akibat belum tidur.
"Aduh ... Nak Arya, kalau ngantuk tinggal tidur saja napa? kamar tamu tadi kosong dan juga bersih, tidur saja di sana. Dari pada di jalan ke napa-napa mending bawa istirahat dulu. Iya kan Yah?" ucap Bu Wati pada Arya dan melirik ke arah suaminya.
"Iya, benar kata Ibu barusan dari pada di jalan terjadi sesuatu yang tak di inginkan, lebih baik istirahat dulu di sini."
Arya melihat ke arah Fatma yang juga melihatnya. Sementara mereka saling tatap.
Bu Wati dan sang suami saling melempar pandangan lalu bu Wati berkata. "Fatma ... suruh Nak Arya istirahat dulu. Kasihan kalau harus pulang dalam keadaan ngantuk, gak baik."
Lalu Fatma mengalihkan pandangannya, lantas menarik napasnya dalam-dalam. "Iya. Istirahatlah? di kamar tamu, aku juga mau istirahat. Kepalaku berat."
Arya memandangi punggung Fatma yang berlalu menaiki anak tangga tanpa melihat lagi ke belakang. Namu setelah jauh dan tinggal menapaki satu tangga lagi Fatma hentikan langkahnya dan menoleh ke bawah.
Netra mata mereka bertemu sesaat. Kemudian Fatma melanjutkan langkahnya dan Arya pamit ke pak Wijaya dan istri untuk ikut istirahat di kamar tamu ....
****
__ADS_1
Apa kabar reader ku semua?