Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Buat rania


__ADS_3

"Apa tidak merindukan ku?" gumam Arya yang mampu menghentikan langkah Fatma yang berniat naik ke atas.


"Siapa? gak ada kerjaan banget untuk itu!" balas Fatma mengelak.


"Em ... kali saja memikirkan aku, merindukan aku! makanya disaat aku datang mau disambut mesra dengan pelukan ... atau apa gitu?" ucap Arya sambil mengaitkan tangan di belakang tubuhnya. Bibirnya tersenyum nakal ke arah Fatma.


"Arrgh ... gak ada kerjaan banget memikirkan mu atau merindukan mu, kamu datang itu, kan? buat Rania." Fatma memutar bola matanya jengah.


Lalu bergegas mendekati anak tangga dan dengan cepat pula naik. Meninggalkan Arya yang menatap dengan senyuman yang tak hilang dari wajahnya.


"Siapa bilang? aku datang untuk mu juga, bukan cuma buat Rania saja." Gumamnya Arya sambil menghentikan senyum nakalnya.


Setelah tiba di kamarnya, Fatma merasa malu banget kalau harus mengakui dirinya merindukan Arya. Ia berdiri menempelkan punggungnya di daun pintu tampak dada nya kembang-kempes sebagai bukti napasnya naik turun atau hatinya berdebar-debar tak karuan.


Kemudian berjalan maju mendekati Wardrobe dan mencari outfitnya buat ke pantai. Ia memilih celana longgar berbunga PING kombinasi putih dan atasan tanpa lengan yang berwarna putih juga.


Setelah menunggu beberapa saat. Akhirnya Fatma dan Rania sudah siap dengan outfit nya masing-masih. Mata Arya tak berkedip memandangi bidadari yang turun dari tangga dengan topi putih susu yang menutupi pucuk kepalanya.


"Masya Allah tabarakallah. Cantiknya ciptaan mu ya Allah." Gumam Arya dalam hati dengan tak berhenti melihat ke arah Fatma dan Rania.


"Siapa aja yang mau di ajak?" tanya Fatma yang sudah berdiri di depan Arya.


"Ha? berdua eh bertiga," balasnya Arya sembari menggercapkan matanya. "Em, mau pake motor atau--"


"Mobil aja ya?" sahut Fatma dengan senyuman menggoda, apalagi melihat Arya tampak gugup dan salah tingkah melihat dirinya.


"Ooh. Kalau gitu boleh mengajak yang lain." Menoleh ke arah Bu Wati dan pak Wijaya yang saling melempar pandangan.


"Tidak, kami ada acara keluarga, kalian bertiga saja lah, iya kan Yah?" ucap Bu Wati yang di akhiri dengan melirik sang suami yang langsung mengangguk.


"Om, aunty Mia di ajak gak?" anak itu menatap ke arah Arya yang sesekali memperhatikan sang bunda.


"Ooh, boleh. Yu keburu siang, yakin Ibu dan ayah ga mau ikut?" tanya Arya meyakinkan calon mertua.


"Tidak, kami ada acara lain, selamat bersenang-senang aja kalian." Timpal pak Wijaya sambil tersenyum yakin.


"Iya, kalian saja. Kami juga mau berangkat kok," sambung Bu Wati.

__ADS_1


"Oke, kita pergi sayang?" Fatma menuntun tangan Rania. Tangan Rania yang satu meraih tangan Arya sehingga dirinya diapit dua orang, ibu dan ayah.


Di susul oleh Mia dari belakang. Bu Wati dan suami senyum bahagia melihat mereka yang sangat serasi dan tampak saling menyayangi.


"Ibu sangat bahagia melihat mereka, aduh ... aku belum apa-apa sudah merasa terharu begini, Yah." Bu Wati menyembunyikan wajahnya di bahu sang suami tanya merengkuh pundak sang istri.


"Doa kan saja semoga mereka berjodoh ya? dan semoga mereka menjadi pasangan yang bahagia dari awal sampai akhir."


"Aamiin. Itu yang Ibu inginkan dari Fatma dan Rania agar kita tinggalkan nanti Fatma sudah mempunyai pendamping yang benar-benar tepat," sambung Bu Wati.


"Ngomong-ngomong, emang kita mau ke mana? perasaan gak ada cara," pak Wijaya mengernyitkan dahinya.


Plak!


Bu watu menepuk tangan sang suami pelan. "Ayah ini pura-pura gak ngerti aja, biar kita gak ikut. Biar saja mereka menikmati waktu bersama, emangnya kita mau jadi nyamuk mereka?" pekik Bu Wati tertahan.


"Ha ha ha ... Ayah kira kemana? ya udah kita jalan aja," pak Wijaya menarik tangan sang istri.


"Eeh, mau kemana kita?" tanya Bu Wati.


"Mendaki gunung. Lewati lembah, yu ke kamar?" seraya mengedipkan matanya.


"Eeh ... jangan salah, walaupun tua atau muda sama aja butuh itu lho, Bu." bisik nya sambil menarik kembali tangan Bu Wati diajaknya ke kamar.


"Kayanya enak nih jam segini bertukar keringat ha ha ha ..." setelah berada di kamar dan mendudukkan sang istri di tepi tempat tidur.


Bu Wati cuma bisa menggeleng dan tersenyum simpul. Memandangi suaminya yang walau sudah paru baya namun masih gagah perkasa, dan tidak kalah dengan yang masih muda dan terlihat masih tampan.


"Mau gaya apa bu?" tanya pak Wijaya pada sang istri setelah membuka bajunya.


"Hi hi hi ... gaya kodok aja." Malu-malu.


Mendengar jawab seperti itu pak Wijaya tidak buang-buang waktu lagi tuk melancarkan aksinya itu.


...---...


Di sepanjang perjalanan Rania terus saja berceloteh apa aja di tunjuk jajan yang setiap dia lihat pasti mau di beli,

__ADS_1


Sesekali Arya melirik dan tersenyum. "Dimakan lah jajanannya. Nanti sayang kalau gak dimakan, mubazir."


"Ini, juga di makan kok, Om." Jawab Rania sambil mengunyah martabak telor tersebut.


"Mam, Rania seneng ... deh bisa jalan-jalan sama Mama dan Oma ganteng."


"Hem," gumam Fatma yang melirik ke arah pria bertopi coklat tua itu. Sedang fokus menyetir.


"Mama-Mama, Mam. Besok sekolah Rania mau cerita kalau Rania hari ini jalan-jalan sama Mama dan papa!"


Seketika Fatma menoleh sang anak, heran dengan sebutan papa.


"Papa-Papa, boleh kan? panggil Om dengan sebutan Papa?" Bola mata bening itu memandangi wajah Arya menunggu jawaban yang sekiranya memuaskan. Rania penuh harap diijinkan memanggil papa.


Sebelum menjawab, Arya menyunggingkan bibirnya memberikan sebuah senyuman. "Boleh, terserah Rania mau manggil apa juga."


"Beneran?" tanya Rania ingin memastikan.


"Iya ... boleh sayang boleh." Ulang Arya.


"Hore ... Rania punya papa baru, asyik ..." sorak Rania sambil bertepuk tangan.


Fatma melempar pandangan ke arah Arya yang juga meliriknya. Bibirnya tersenyum tanpa beban apapun. Tak keberatan di panggil papa sama Rania, putri dari Fatma.


Selang beberapa jam di perjalanan akhirnya mobil berhenti di tempat yang mereka tuju yaitu pantai Anyer.


Fatma berdiri di tepi pantai, memandangi Rania yang bermain air dengan Mia dan Arya, sungguh tampak sengat happy sekali dia.


Kemudian Arya berjalan mendekati Fatma yang hanya berdiri sendiri dan melihat ke arah sang putri.


Fatma mengalihkan pandangan setelah Arya sudah berada di hadapannya sambil menarik sudut bibirnya. Menunjukan giginya yang putih itu.


"Kenapa gak turun? takut air atau takut panas?" selidik Arya sembari menautkan alisnya.


"Nggak ada minat." Jawabnya Fatma singkat.


"Apa cuma ingin memandangi ku saja?" raut wajah Arya makin menunjukan ingin menggoda Fatma ....

__ADS_1


****


Apa kabar semua reader ku?


__ADS_2