Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Olahraga siang


__ADS_3

Arya dan Fatma begitu menikmati pertemuan dua jiwa dan dua rasa yang sama-sama haus akan belaian.


Selama kurang lebih dua jam olahraga siang berlangsung. Memeras keringat sampai bercucuran, akhirnya keinginan yang mendadak untuk menengok dan memberi nutrisi pada calon baby selesai, terlealisasi kan juga.


"Hah ..." Arya membuang napas dengan lega sembari melirik sang istri yang berada di sampingnya itu. Lalu mengecupnya dengan lembut.


Fatma pun tersenyum bahagia yang di arahkan pada sang suami. Fatma meringsut ke dalam pelukan Arya secara berkata. "Aku sengaja ulang, gak bilang-bilang sama siapapun kecuali Zayn. Hanya dia yang tahu kepulangan ku."


"Katanya kemarin masih sibuk, masih banyak kerjaan!" ucap Arya sambil mengelus bahu sang istri yang terbuka.


"Iya, emang sih. Dikit tapi, dan bisa aku selesaikan juga." Fatma mendongak lalu mengecup bibir Arya yang terasa sangat sejuk, lembab. Memberikan rasa segar di saat cuaca panas begini.


Sesaat kemudian Fatma melepaskan pagutan nya dan beralih dengan tatapan mesra.


"Bentar lagi kita pulang ya? sudah kangen sama Rania." Fatma mengusap rahang Arya yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu.


"Iya, Rania pasti senang melihat mamanya pulang, Dia pasti berpikir, mamanya masih lama pulangnya." Suara Arya mulai timbul tenggelam.


"Pasti. Dia senang yang ... juga ketemu apanya pulang dari tugas ini, kan?" sambung Fatma dan tidak ada respon lagi dari Arya, membuat Fatma mendongak.


"Cielah ... bobo! gimana mau pulang cepat, Aa ..." Fatma menggelengkan kepalanya. Lalu mengecup dada Arya yang sudah tidur tersebut.


"Met bobo dayang!" Fatma bangun menjepit selimut di bawah ketiaknya. Celingukan mencari pakaiannya.


Lanjut membawa langkahnya ke kamar mandi, setelah mengenakan sebagian pakaian di tubuhnya.


Berendam sejenak di bathub dengan air aroma terapi yang mengenakan. Kepala mendongak dengan kedua mata terpejam menikmati segarnya air aroma terapi, merelaksasi kan tubuhnya yang teramat penat, di tambah barusan habis olahraga siang yang menyita tenaga pula.


"Hem ... nikmatnya. Berendam." Gumamnya Fatma dengan masih memejamkan matanya.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Fatma beranjak dan mengguyur tubuhnya dengan air shower. Lalu berjalan setelah meraih kimono nya yang masih menggantung di dekat dinding.


Tidak jauh dari tempat peraduan Arya. Fatma berdiri menatap ke arah Arya yang masih terlelap.


Fatma menghela napas panjang sambil tersenyum tipis. Lalu mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan tersebut bingung mau ngapain.

__ADS_1


"Aa, sebenarnya ke sini itu, mau ngapain ya? malah tidur." Fatma Mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur. Menoleh ke belakang, dimana sang suami dengan nyenyak tidur, seakan lupa akan niatnya ke sini mau ngapain.


Wanita itu mencondongkan tubuhnya. Mendekatkan wajah ke wajah Arya yang tak bergeming. Fatma tatap dengan sangat dekat dan napas pun menyapu kulit wajahnya.


Perlahan wajah Fatma semakin mendekat dan menyatukan bibirnya dengan bibir Arya, me-lu-mat bibir yang terasa sejuk itu hingga menjadi berubah hangat.


Barulah ada pergerakan dari anggota tubuh Arya, tangan nya merangkul tubuh sang istri sambil bergumam. "Hem ..."


Fatma beranjak. Dan menjauh dari sang suami, dengan senyuman yang mengembang. "Bangun? katanya mau beres-beres, eh ... malah bobo."


"Em ... ngantuk sayang, capek." Arya masih memejamkan kedua matanya yang terasa sepet banget.


"Tapi aku bingung. Mau ngerjain apa? katanya mau beres-beres, tapi apa yang mau di bereskan?" kata Fatma sambil mengikat rambutnya di atas.


Arya memicingkan matanya yang sulit untuk di buka. "Huam ... semua barang-barang mau di bereskan. Cuma ... sekarang ini, yang mau aku bereskan pakaian dulu lah. Masukan koper. Ehem." Suara Arya begitu parau.


"Ooh, ya sudah. Kalau begitu aku keluarkan baju dari lemari, semua kan?" Fatma membawa langkahnya ke dekat lemari. Sementara Arya gegas membersihkan dirinya.


Setelah lemari kosong dan isinya beralih ke koper besar. Arya dan Fatma bersiap untuk pulang ke Mension.


Arya menelpon pak Harlan agar mengambil koper di kantor yang ada di bandara. Pak Harlan tidak banyak bertanya apapun Mungkin dia pikir hanyalah koper milik Arya saja.


"Sayang. Apa katanya?" tanya Fatma yang duduk di sofa.


"Siap katanya. Yu? kita jalan. Biar nanti suruh orang saja untuk membereskan ini semua sekalian mengangkut ke ...tempat baru." Arya berucap lirih.


"Apa? tempat baru?" Fatma terkaget-kaget mendengar seperti itu.


Arya tersenyum dan mengangguk. "Iya, Aa sudah membeli rumah yang sederhana buat kita sekeluarga!"


"Ka-kapan Aa membelinya?" Fatma menatap lekat pada sang suami dengan tatapan yang teramat penasaran.


"Seminggu yang lalu yang ... Aa. Yakin sayang pasti suka tempatnya, sebab tempatnya lumayan strategis lho." Tambah Arya sambil mengenakan kacamata hitamnya.


Fatma bengong. Kok Arya Bali rumah? Mension aja luas gak ada yang menghuni, ini malah beli rumah. Tapi biarlah mungkin Arya ingin memperlihatkan tanggung jawabnya sebagai suami.

__ADS_1


Fatma berdiri dan meraih tas nya. "Kapan, Aa. Mau ajak aku ke sana? melihat-lihat."


"Iya, Nanti. Kapan-kapan sekarang sayang pasti capek," lirihnya Arya seraya me rangkul pinggangnya sang istri keluar dari apartemen tersebut.


Keduanya berjalan menuju lift yang kebetulan ada beberapa orang yang mau ke lantai dasar juga.embuat Arya dan Fatma menunjukan sebuah ramahnya.


Setibanya di di dekat motor Arya, keduanya langsung naik dan Fatma memegangi pinggang Arya dari belakang.


"Lapar gak? kita belum makan siang yang?" tanya Fatma pada sang suami yang mulai menjalankan motornya.


"Sayang kan. Sudah makan tadi!" sahut Arya melirik ke samping.


"Kapan aku makan, belum juga." Kata Fatma dari belakang.


"Tadi, sudah makan aku sampai kenyang. Bukan?" goda Arya sambil mesem.


"Apaan sih? ngarang deh," elak Fatma sedikit menepuk bahu sang suami.


"Ha ha ha ... benar kok. Sayang sudah makan, Aa yang yang kecapean." Timpal Arya sambil melajukan motornya.


Jari telunjuk Fatma menusuk pipi Arya dari samping, dengan gemasnya. "Jangan bahas itu lagi ah. Cepetan pulang?"


"Iya bidadari ku ... kita akan pulang ..." Arya melarikan motornya dengan sangat cepat, agar segera sampai di mension.


Motor Arya melesat menuju mension yang tanggal beberapa kilo. Membawa penumpangnya yang sudah tidak sabar ingin segera sampai di tempat tujuan.


Selang beberapa menit kemudian, motor Arya memasuki gerbang mension tersebut. Lalu Arya memberikan kuncinya pada supir agar di masukan ke dalam garasi.


Keduanya berjalan mendekati pintu utama. Memasuki dengan langkah yang penuh semangat dan baru saja melangkahkan kakinya dari pintu.


Rania sudah menyambut kedatangan Arya dan Fatma dari balik pintu. "Papa Dan Mama kok gak bilang-bilang sih. Kalau mau pulang?"


"Ya, kan kejutan buat Rania, gak senang ya? kalau mama, pulang cepat hem?"


Fatma memeluk anak itu sangat erat. Menumpahkan rasa rindu di dada. "Mama kangen banget sama Rania."

__ADS_1


"Rania juga kangen sama mama, kangen ... banget." Suara Rania dalam pelukan sang bunda Dan Arya ikut mengusap pundak Rania dengan lembut.


Dari luar. Pak Harlan membawakan koper milik Fatma dan Arya, membuat Rania merasa heran. Kenapa koper milik papa dan mamanya justru pak Harlan yang bawa ....


__ADS_2