
"Terserah, mau percaya atau tidak. Yang jelas gue dah ada niat tuk berubah, gue akan merubah semua perilaku gue. demi Renata." Timbal Doni sambil mendudukkan dirinya di sofa.
"Aku pastikan kamu itu tidak bisa berubah, ****** tetap aja ******." Sinis Indah, kemudian mencondongkan tubuhnya dan cuph! tanpa permisi mencium pipi Doni.
Doni memejamkan matanya sejenak. "Jangan pernah lagi seperti ini. Jujur aku merasa gak nyaman, risih."
"Risih? sekarang kau bilang risih? dulu kemana aja sampai-sampai kau mengambil tunangan teman mu sendiri? hem aku pengen tahu sampai mana kau akan menjadi laki-laki baik seperti yang kau bilang?" Indah menyambar tas nya kemudian membawa langkah keluar dari rumah Doni.
Doni menghela napas panjang setelah Indah pergi. Kemudian membawa langkahnya ke kamar. Mengambil ponsel untuk menelpon Renata.
...****...
Sudah beberapa hari ini Arya bertugas dan tidak ada kabar sama sekali. Begitupun Fatma tidak bertanya atau memberi kabar, padahal Rania sudah merengek-rengek ingin ketemu Arya, dan terus bertanya. Kok om ganteng belum pulang sih? kok belum datang menemui dan mengantar Rania sekolah.
Kini Fatma sedang berada di kamarnya bersama putri tercinta, Rania.
"Om nya masih sibuk sayang. nanti juga kalau Sudak tidak sibuk pasti datang buat Rania, Rania sudah kangen ya?" lirih Fatma sambil merengkuh tubuh Rania ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Kangen, Mam. Rania kangen! teman-teman juga suka bilang, eh Rania. Papa kamu ngilang lagi ya, apa di penjara lagi? yang bener dong punya papanya. Katanya gitu, Mam."
Degh!
Jantung Fatma seakan berhenti berdetak mendengar cerita Rania. Membuat hatinya mencelos sedih. "Sayang ... Jangan dengerin mereka ya!" jemari Fatma yang lentik membelai rambut Rania yang terurai sebahu. Kepalanya di usap lembut penuh kasih dan tatapan Fatma kosong ke depan.
"Telepon dong, Mam ... Rania kangen!" kepala Rania mendongak pada sang ibu yang tampak bengong.
"Hem, Rania sayang ... om itu kerja di dalam pesawat lho. Di pesawat kan gak boleh nyalakan ponsel, percaya deh. Nanti om nya pasti datang untuk Rania, oke? sekarang Rania main dulu sama aunty Mia sebelum datangnya Maghrib," cuph! kecupan hangat mendarat di pucuk kepala Rania.
"Oke, Mam." Cuph! Rania mencium pipi kiri dan kanan sang bunda.
"Kenapa gak ngasih kabar sedikitpun? gak bisakah kirim pesan walau sepatah kata untuk menanyakan kabar ku dan Rania!" batinnya Fatma bermonolog.
Dia menghela napas dalam-dalam lalu ia buang dengan sangat panjang, untuk membuang semua rasa sesak yang memenuhi ruang dadanya. "Kok gini amat ya? rasanya menahan rindu sama seseorang? tapi mungkin aku memang gak seharusnya terlalu berharap sama dia? yang cuma memberi harapan palsu! Huuh ...."
Entah kenapa manik matanya Fatma yang indah terlihat buliran air bening yang siap tumpah begitu saja. Dan akhirnya menetes juga, walau satu dua tetes saja.
__ADS_1
"Iih ... kok aku nangis sih, hanya karena ingat dia? lebay banget si aku ini!" Fatma menyeka kasar pipinya. "Ini mata ngapain juga mengeluarkan air, gak penting juga!"
Kepala Fatma menunduk dan lagi-lagi menjatuhkan setetes air bening sebagai bukti betapa ia sangat merindukannya. "Kenapa sih ku menangisi dia? kenapa aku harus merindukan dia? sadar, kamu bukan anak remaja yang bucin sama lawan jenisnya! kamu itu sudah tua, sudah punya anak." Fatma merutuki dirinya sendiri.
Ingin membuang semua tentang Arya yang ada di dalam pikirannya itu. "Sudah, keluarkan bayangan wajahnya buang ... jauh-jauh," menggeleng namun masih saja ada di pelupuk mata. Semakin ingin membuang semakin aja membayang.
"Iih ... kesel-kesel, kesel!" Fatma mengusap wajahnya lalu bergegas masuk menutup dan mengunci pintunya.
Berjalan ke wardrobe membuka lemari besar. Manik matanya tertuju ada sebuah kain yang biasa digunakan buat bersujud. "Ya Allah ... aku terlalu banyak lalai. sehingga kain ini hanya ku jadikan penunggu lemari saja." Seraya menariknya. Ia tatap dan mengusapnya dengan lembut.
...****...
Di suasana yang sama dan waktu yang hampir sama pula. Arya tengah berada di dalam pesawat namun sedang dalam keadaan beristirahat, Arya juga menatap langit yang berwarna merah menyala dan tampak sangat indah.
Sebuah senja yang memanjakan mata, dan tak henti-henti Arya memuji sang maha pencipta alam beserta isinya. Lalu ada sekelumit wajah yang membayang diingatan nya. Membuat bibir Arya tertarik melengkung, menggambarkan sebuah senyuman yang mengembang ....
****
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote nya. Dan fav juga karya aku yang berjudul Gadis Satu M 🙏