
Fatma terus mengikuti Arya dan Rania dari jauh. "Excuse me, Sir, can you follow that cab?" pinta Fatma pada supir taksi yang dia tumpangi.
Supir pun menuruti permintaan sang penumpangnya. Yang memerintahkan untuk mengikuti seseorang.
Arya membawa Rania ke taman kota yang ada Kota Berlin, yaitu Tiergarten. Si sana tempatnya tenang. Nyaman, pemandangannya hijau dan ada danaunya juga.
"Wah ... indah sekali tempat ini?biarpun suasananya malam, sangat indah ya Papa di sini?" anak itu tampak sangat happy sekali.
"Iya, sayang. Coba mama ikut ya?" pandangan Arya menatap jauh menikmati suasana yang indah, walaupun ramai tapi terasa tenang.
"Iya, nih ... tapi kan mama capek, Papa ... biarkan mama istirahat kan? kata Papa juga tadi?" balas Rania mengingatkan.
"Oh, iya Papa lupa, yu kita jalan ke sana sambil mencari makanan tuh ke sebelah sana dulu?" ajak Arya sambil menuntun Rania yang mengangguk.
"Indah ya, Pah?" gumamnya Rania, manik matanya mengamati tempat sekitar.
"Iya sayang, Rania happy gak jalan ke sini hem?" tanya Arya sambil berjalan dengan santainya.
"Happy, happy sekali. Kenapa gak dari kemarin main ke sini, Papa? Rania suka deh. Tempatnya hijau. Tenang, nyaman." Rania protes kenapa dari kemarin katanya mengunjungi tempat tersebut.
"Iya ... kan sekarang di ajak nya. Terlambat itu lebih baik sayang, ketimbang tidak sama sekali.
"Oh, iya-ya? makasih ya Papa ... sudah mengajak Rania jalan-jalan ke sini?" Rania mendongak dan hentikan langkahnya.
Arya pun menghentikan langkah dan berhadapan dengan Rania. ia berjongkok biar sejajar dengan Rania. "Sama-sama Rania sayang."
Kemudian mereka kembali berjalan, dan langkah Arya berhenti di depan salah seorang pedagang. Rania mau membeli makanan ini? buat ngemil!"
"Mau," Rania mengangguk.
Arya pun membelinya buat mereka berdua beserta minumannya. Seusai membayar, Arya mengajak Rania ke dekat danau mencari tempat duduk di sana.
Mereka berjalan melintasi beberapa pengunjung. Yang sama-sama menikmati malam yang indah ini di taman kota tersebut.
Setibanya di dekat tempat duduk, Arya mengangkat tubuh Rania di dudukannya di kursi tersebut. Lantas ia sendiri duduk di samping anak itu menikmati makanan dan minumnya.
"Papa? Papa? lihat! ada bulan di danau?" gadis kecil ini menunjuk bulan yang ada di danau.
Arya mesem. "Itu bukan bulan di danau, Nona ... itu pantulan cahayanya bulan."
"Iya, indah sekali ya Pah?" sambung anak itu sambil menatap cahaya bulan, dari danau dan dari langit bergantian.
"Tentu, Rania suka?" tanya Arya melirik ke arah wajah gadis kecil tersebut yang tampak merona dan sinar matanya berbinar bahagia.
"Suka, Papa ... suka sekali." sembari mengangguk pelan.
"Happy?" tanya Arya kembali.
"Happy sekali. Coba sama mama ya kesini nya?" anak itu melirik ke arah Arya.
__ADS_1
"He'em. Lain kali saja kita ajak mama ke sini, setuju gak?" tanya Arya menunggu reaksi dari Rania selanjutnya.
"Setuju, Pah. Rania setuju sekali, Mama pasti happy kalau ke sini. Melepas lelah di sini, Papa ... di jamin happy deh." Rania sangat antusias sekali menyebut-nyebut mamanya.
"Iya nih, Papa juga happy di sini! betah." Arya mengulas senyumnya yang tampak merekah.
"Rania juga happy di sini! Em ... Rania jadi kangen sama mama!" Rania menoleh pada sang papa yang menikmati sinar rembulan dan minuman kalengnya.
"Hem ... coba kita telepon mama ya?" Arya merogoh sakunya untuk mengambil ponsel dan berniat menelpon sang istri.
Beberapa kali Arya memanggil nomor ponsel Fatma, namun tidak di angkat satu kali pun. "Ya ... gak di angkat sayang. Mungkin Mama sudah bobo."
"Em ... biarlah, Pah ... kasihan lho." Gumamnya Rania sok bijak.
"Iya kasihan ya?" lalu pasang mata Arya dan Rania beralih pada sekelompok yang bermain poli.
Ada juga yang cuman duduk-duduk di atas rumput hijau. Menikmati makan malam dan ada juga cuman menikmati minuman hangat saja.
Di sebelah sana ada juga yang mungkin sedang mengadakan acara, sehingga mendatangkan biduan yang bahasanya kurang dimengerti.
Sedang asyik-asyiknya menikmati malam dan suasana yang indah tersebut. Datanglah seorang pria yang rupanya penjual makanan yang tadi.
"Excuse me Sir?" sapa orang tersebut dan menghampiri.
"Yes, please, can I help you?" balas Arya menatap ke arah orang tersebut.
"Maaf, Pak? saya mau menagih pembayaran yang barusan," ucapnya pria tersebut dengan menggunakan bahasa Indonesia.
"Ooh, apakah anda orang indonesia?" tanya Arya sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Ya, saya ke sini untuk mengambil tagihan yang anda beli tadi," orang itu tho the point. langsung.
Betapa tercengangnya Arya mendengar itu, toh sudah bayar kok, perasaan sudah Arya bayar tadi juga.
"Maaf. Saya sudah bayar kok tadi sebelum pergi ke sini." Bela Arya dengan tidak habis pikir.
"Saya tidak akan dari ke sini, bila anda sudah bayar! Anda tidak boleh begitu Pak, hutang harus di bayar." Sergah pria tersebut.
"Tapi saya sudah bayar tadi juga, Saya tidak mungkin juga pergi! bila belum membayar." Timpal Arya sambil mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan uang euro.
"Kalau memang anda sudah membayar, mana buktinya?" pinta pria tersebut.
Arya kebingungan dengan bukti yang pria tersebut ucapkan. Lalu menggeleng. "Saya tidak punya bukti itu!"
"Kalau Anda tidak mempunyai barang bukti tersebut. Berarti anda belum membayarnya.
"Papa, tadi Rania lihat kok Papa bayar," celetuk anak gadis tersebut mendongak.
"Tuh kan ... anak ini melihat kalau saya sudah membayar." Sambung Arya pada pria tersebut.
__ADS_1
"Kalau memang sudah di bayar, saya cuma meminta buktinya, itu saja simpel!" Sergah pria tersebut ngotot.
"Oke-oke! saya akan bayar sekarang, bila memang belum membayar." Arya memberikan sejumlah uang rupiah.
"Saya tidak terima rupiah. Saya mau euro saja." Pintanya menatap tajam.
"Saya kehabisan mata uang euro. Yang ada cuma ini saja. Lagian di sekitar sini pasti ada penukaran uang." Timpal Arya.
"Saya tidak bisa mengambil rupiah dari anda. Yang saya inhinkan adalah uang euro." Suara pria tersebut dengan nada tinggi dan kini tangannya mendorong dada Arya ke belakang. Tidak ayal tubuhnya mundur dan hampir terjatuh.
Jelas Arya tidak terima dengan perlakuan orang tersebut. Dia berusaha membayar namun tidak diterima. Jadi yang salah itu siapa sih?
Tangan Arya membalas dan mendorong bahu sebelah kiri orang tersebut, namun pelan.
"Apa maksud dorong-dorong saya? saya yakin tadi sudah membayar dan kali ini juga saya berniat bayar, tapi anda malah melakukan yang aneh-aneh." Arya tersulut emosinya. Di tempat orang yang mengajak ribut malah orang sendiri.
Melihat kejadian itu, Rania ketakutan. Khawatir kalau papanya kenapa-napa. Rania memegang tangan Arya. "Papa? Papa ... Rania takut!"
Arya menoleh putri sambung nya itu seraya mengusap pucuk kepalanya. "Jangan takut sayang."
"Anda juga jangan dorong-dorong dong ..." pria itu pun tidak terima kalau di dorong oleh Arya.
"Papa? Rania takut?" gumam Rania lagi.
Orang-orang di sana mulai berdatangan, mungkin mereka khawatir atau apalah? mereka menengahi antara Arya dan dan orang tersebut.
Arya paling tidak suka kalau ada orang sudah mulai main tangan, adu mulut ya adu mulut saja. Tidak perlu memakai tangan.
"Happy birthday to you. Happy birthday to you," suara Fatma menghiasi kegersangan tersebut.
Tangan Fatma membawa kue tar dengan tulisan Happy birthday Arya Saputra. Dan rekannya membawa kue tar dengan lilin angka 6.
Rania kaget dengan kedatangan mamanya di tempat tersebut. "Mama? kok ada di sini sih?" menyeruak mendekati sang bunda.
Fatma cuma tersenyum manis ke arah putri kecilnya itu lalu ke arah Arya bergantian.
"Happy birthday to you, my husband?" ucapan itu di tujukan pada Arya yang bengong.
Arya tidak percaya. Terheran-heran, dia tinggalkan sang istri di kamar hotel. Tetapi saat ini tiba-tiba dia berada dihadapannya dengan membawa kue tar.
"Happy birthday to you, putri kecil ku?" kali ini Fatma tujukan pada Rania yang langsung meniup lilinnya.
"Yey ..." semua yang berada di sana bertepuk tangan serta mengucapkan selamat pada Rania.
kemudian Fatma menitipkan kue tar satunya kepada seorang kawan.
"Sayang ... selamat ulang tahu ya? semoga tambah dewasa. Panjang umur, sehat mudah rejekinya," ucap Fatma sambil mengecup kening dan pipi Rania lantas memeluknya sangat erat ....
.
__ADS_1
.
Terima kasih pada reader ku yang selalu setia🙏