Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Merajuk


__ADS_3

Fatma meninggalkan Rania yang ngambek. Dia yakin kalau ngambeknya Rania akan reda bila dia tinggalkan, di sisi lain juga Fatma merasa heran ini anak gitu amat pengen ketemu Arya.


Padahal mana pernah Rania nanyain papanya setelah kejadian itu. Lain lagi dengan Arya ditanyain dirindukan sampai merengek segala. Fatma menggeleng sambil duduk di sofa membuka sepatunya, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi setelah sebelumnya menyimpan sepatu ke Wardrobe.


"Tuh, kan ... mamanya jadi marah sama Rania. Gimana dong sayang? kasihan mamanya dah capek, Rania nya rewel." Bu Wati mendekati Rania. Anak memang sudah berhenti menangis dan tinggal sisanya aja yang basah di pipi, bu Wati mengusap wajah Rania dengan tisu.


Rania terdiam dengan manik mata yang tertuju ke lantai atas.


"Rania kangen sama om?" tanya Bu Wati kembali atau cuma manja saja mau bikin Mama marah atau gimana?" tutur bu Wati sembari mengelus kepala gadis kecil tersebut.


Netra mata Rania bergerak melihat ke arah Omanya. "Kangen Oma, Rania kangen."


Bu Wati dan sang suami saling melempar pandangan dan sama-sama tersenyum.


"Gimana kalau Om nya telepon saja dan suruh ke sini? gimana ... opa juga kangen sama om ganteng," ujar pak Wijaya sembari menatap anak itu.


Mendengar ucapan opanya anak itu sangat antusias. "Tapi, kata mama. Om nya sibuk Opa ...."


"Lah ... ya di coba dulu, kalau gak di coba kan siapa yang tahu, ayo ... iya kan?" ini opanya malah ngomporin.


Rania mengangguk-anggukan kepalanya. Dengan jari mengetuk-ngetuk dagu. "Mana handphone Opa nya?"


"Hem, emang Rania tahu nomor Om nya?" selidik Bu Wati.


"Non Rania anak yang pinter, Nyonya ..." kata Mia yang duduk di sofa seberang Rania.


Pak Wijaya memberikan ponselnya pada anak itu. Dengan terampil Rania mengetik no ponsel Arya di ponsel opanya.


Tut ... Tut ... Tut ... Tut ....


Beberapa kali sambungan telepon itu tidak diangkat karena memang kalau no yang tidak dikenal, Arya tidak pernah menerimanya.


Wajah anak itu yang tadi sudah ceria, kini kembali bermuram durja. Tampak sedih dan sendu.

__ADS_1


"Ya ... sibuk kali omnya, ya sudah lain kali saja ya? Oma yakin kalau om pasti ke sini meskipun entah kapan," ungkap Bu Wati menenangkan Rania, cucunya.


"Oya, mendingan kita bermain di taman atau berenang sama aunty yu?" Mia membujuk anak itu agar ceria kembali.


"Bener itu, mending bermain. Mau Opa temenin? sama Oma juga?" sambung Bu Wati sambil memeluk tubuh mungil itu.


Namun Rania menolak untuk di peluk dan menggeleng lalu berlari menaiki anak tangga tanpa ada sepatah katapun yang dia ucapkan.


Bu Wati, pak Wijaya dan Mia memandangi langkah kaki Rania yang dengan cepat berlari ke lantai atas.


Setelah sekitar 15 menit Fatma di kamar mandi memanjakan diri di bathub, dia keluar dengan menggunakan handuk kimono.


Terdengar derap langkah yang tergesa-gesa menuju pintu kamar Fatma. Manik mata Fatma tertuju pada daun pintu yang masih tertutup dan akhirnya terbuka juga lalu munculah anak kecil yang bermuka masam. Berjalan cepat menghampiri sang bunda.


"Mama, ayo ke rumah om ganteng?" tangannya manarik-narik jari Fatma.


"Aduh, sayang ... kenapa sih? mama gak tau lho, gak pernah ke sana! om nya gak pernah ngajak mama ke sana--"


"Bohong, mama pasti tau alamat om nya!" Rania kekeh.


"Mama bohong, Rania tau Mama bohong." Anak itu lagi-lagi mengalirkan air mata.


"Sayang ... dengerin Mama ya? bulan depan kita ke Bandung, sama opa dan Oma juga sekalian liburan, mau?" ucap Fatma sambil menaikan Rania ke tempat tidur miliknya.


"Mau, beneran ya? Rania mau ikut. Ke tempat om kan Mam?" Rania menatap sang bunda penuh harap.


"Iya, sayang beneran. Kalau tidak percaya! tanya saja om nya nanti kalau ketemu." Fatma meyakinkan sang putri kecil yang lagi merajuk itu. Entah kenapa hari ini Rania rewel dan manja sekali.


"Sudah, jangan nangis lagi. Jelek tuh ... pipinya basah." Jemari Fatma mengusap pipi Rania yang basah itu.


"Rania mau bobo di sini ya? ngantuk." Rania membaringkan diri di bantal dan dengan cepat memejamkan matanya. Lelah dengan perasaannya yang gusar, lelah sedari siang merajuk dan menangis.


Manik mata Fatma memandangi wajah Rania yang terpejam dengan perasaan pilu. Anak ini harus lepas dari kasih sayang sosok ayah. Jangankan sekarang ketika Aldian sudah tidak tinggal di sini lagi. Sewaktu masih tinggal bersama pun Rania jarang merasakan belai kasih ayahnya.

__ADS_1


Tangan Fatma mengusap pucuk kepala Rania dengan lembut dan penuh kasih dicium keningnya dengan hangat. "Maafkan Mama Rania, Rania jauh dari kasih sayang papa disebabkan papa yang seolah kurang perhatian pada Rania. Tapi Mama pastikan kalau Rania tidak akan pernah kurang kasih sayang dari Mama dan Oma juga opa," ungkap Fatma.


...****...


Di apartemen kawasan elit, tempatnya Arya tinggal. Arya tengah nge-gim sebelum membersihkan dirinya sepulang tugas tadi yang sempat mampir ke sebuah restoran dan di sana melihat Fatma tengah makan siang.


Di tengah asyik nge-gim, terdengar suara bell berbunyi dan Arya segera menghentikan aktifitas nya lalu berjalan mendekati daun pintu sembari mengusap keringatnya dengan handuk kecil.


Blak!


Sultan berdiri dengan menunjukan senyumnya yang lumayan manis. Netra nya memicing melihat penampilan Arya yang mengenakan setelan kaos ketat sehingga menonjolkan bentuk tubuhnya.


"Woi! lihat apa? jangan bilang terpesona dengan tubuh ku!" telunjuk Arya menunjuk hidung Sultan.


Sultan menepis tangan Arya dan berkata. "Aihs ... amit-amit, gatal-gatal. Iiy ... jauh-jauh, jauh gue masih normal bro ... kalau lihat nenek gak nafsu gue." Sambil menyeruak masuk.


Arya mengikuti dari belakang. Lalu duduk di sofa seberang Sultan. Namun detik kemudian Bell kembali terdengar membuat Arya beranjak lagi menghampiri pintu.


"Siapa tuh bro?" tanya Sultan yang dibalas bahu Arya yang di angkat tanda tidak tahu.


Blak!


Arya menarik handle pintu. "Paket? saya gak pesan, Mas." Arya merasa heran sebab ada pengantar paket kue untuknya, sementara ia sama sekali tidak merasa pesan.


"Tapi ini benar alamatnya? atas nama Bu Fatma R. Silakan diterima," ucap kurir dengan ramahnya.


"Ooh. Baiklah, terima kasih ya Mas?" balas Arya sambil menerima paper bag yang berisi cake tersebut dan membawanya ke ruang tengah.


Bibir Arya mengembang lalu membuka paper bag itu dan isinya cake rasa durian.


"Apaan tuh? wah ... enak banget nih kayanya," gumamnya Sultan setelah lihat isinya.


Sementara manik mata Arya terus memandangi dengan senyuman yang tak memudar dari bibirnya ....

__ADS_1


****


Jangan lupa like, komen dan vote nya dong🙏 biar tambah semangat nih.


__ADS_2