Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Sebelah tangan


__ADS_3

Kemudian Arya dan Wisnu bergabung dengan para awak lainnya, singgah di suatu tempat untuk beristirahat.


"Sepi juga tanpa adanya sultan ya?" Celetuk yang lain dan mendapat anggukan dari yang lain juga.


Arya mengedarkan pandangan pada mereka, bibirnya menunjukan sebuah senyuman. "Kita sering menyadari kehilangan seseorang itu disaat dia tidak ada."


"Tentu. Ketika ada ya ... gak berasa!" timpal Wisnu.


"Iya, selang ada justru kita sering menyia-nyiakan dan bahkan ah, biasa aja," sambung Arya dan mendapat anggukan dari yang lain.


...---...


Saat ini Sultan tengah berjalan di sebuah mall bersama keluarganya. Kebetulan orang tua nya sedang berkunjung ke kota ini menemui putranya yaitu Sultan.


Kemudian masuk kesebuah restoran dan duduk di meja ujung.


"Wah ... kapan nih Ibu ditemukan dengan calon menantu?" ucap ibu Syasa, menatap ke arah putranya.


"Sabar Bu. Nanti deh aku kenalkan, dia lagi sibkuker." Balas sultan sambil membuka daftar menu.


"Apa tuh, sibkuker? kaya makanan saja," sang bunda mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"He he he ... Sibuk kerja, Bu." Sultan nyengir.


"Abang. Ada-ada saja bikin Ibu gak ngerti." Timpal ibunya.


"Mas, saya pesan masakan Sumatra ya?" ucap Sultan pada pelayan restoran.


Kemudian netra nya menyapu disekelilingnya yang tampak ramai dengan orang-orang yang makan. Mendapati Sofi sedang berduaan dengan seorang pria yang penampilan nyentrik, ketara berduit. Di meja nya pun ada beberapa paper bag Dior dan guci yang dari brand nya ada berduit.


Sultan melongo dan bagai tersentak dengan pemandangan itu. Pikirannya mulai bercabang kemana-mana.


Pandangannya menjadi curiga pada Sofi yang bila diperhatikan semakin mesra.


Ibu dan ayah Sultan pada ngobrol berdua, sementara Sultan sedang sibuk dengan pikirannya tentang Sofi.


Pesanan pun datang dan mereka langsung menyantap dengan lahapnya, makanan di meja.


Dalam keadaan makan. Pikiran Sultan melayang, dan sesekali melihat ke arah Sofi yang mungkin tidak mengetahui keberadaan Sultan di tempat itu.


Dalam hati, Sultan terus bermonolog siapakah pria tersebut. "Aku harus mencari tahu kebenarannya, aku gak mau di buat curiga begini."


"Ayo, Bu. Pak? makannya yang banyak dan semua ini kesukaan Ibu dan Ayah. Aku sengaja membawa kalian ke sini." Sultan menunjuk semua yang ada di meja.


"Ini juga makan nih, Tan. Ayah dan Ibu pasti memakan ini semua." Ayah Sultan mengangguk.


"Ngomong-ngomong cewek Abang orang mana sih? kapan akan di kenalkan sama Ibu dan ayah?" ucap ibunya, kembali membahas soal calon mantu.


''Orang ... orangan sawah. He he he ... nanti saja, Abang kasih tau lah, santai aja santai,'' ucap Sultan menyandarkan punggungnya ke belakang sembari memainkan bola matanya.


"Hem ..." desah sang ibu.


"Sudahlah, Bu. Nanti juga kalau sudah waktunya pasti bertemu juga, mungkin putra kita masih memilah-milah mana yang tepat." Kata sang ayah dengan bijak di sela-sela makannya tersebut.


"Nah, itu. Ayah bener," timpal Sultan sambil mengangguk. Ujung matanya kembali melirik ke arah Sofi seraya menunduk.


Mereka tampak hendak keluar dengan jalan bergandengan tangan. Senyum riang terlukis dari wajah keduanya. Tak terbayang gimana hancurnya perasaan Sultan saat ini.


Sultan hanya menghela napas panjang tanpa ada niat menyapa sepatah pun. Sultan segera menunduk membuang mukanya ke bawah menghadap lantai, ketika mereka melintas tidak jauh dari tempat Sultan duduk bersama keluarganya.


"Yakin, ini ada udang di balik bakwan, kisah dibalik cerita! oke, mungkin kamu tidak serius dengan ku. Oke, aku tau itu. Aku kira kamu bisa belajar memupuk sedikit rasa untuk ku! ternyata aku salah." Batin sultan sembari mengangguk-anggukan kepalanya pelan.


"Abang itu harus pandai memilah wanita yang baik yang nantinya senantiasa menghormati suami. Menerima dan memberi," ujar sang bunda.


"Iya, Bu. Memberi rasa sakit dan menerima kebaikan," sahut Sultan nyeleneh seraya mengangguk.


"Bukan gitu maksud Ibu, Bang ...'' ucap sang bunda.


"Iya, Abang mengerti, Bu." Sultan mengangguk.


Setelah selesai makan, mereka pun berlalu meninggalkan tempat tersebut. Di parkiran malah bertemu dengan Sofi yang masih berada di parkiran.


Dan Sofi menunjukan sebuah senyuman. Sultan pun membalas dengan senyuman yang sulit di artikan, tak ada kata yang terucap dari keduanya.


Sultan melengos memasuki mobil bersama orang tuanya. Dengan hati yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


Sultan memilih hanya diam seolah tidak mengenal Sofi. Begitupun Sofi tidak berusaha menyapa. Keduanya benar-benar bagaikan orang asing.


"Ya Tuhan ... haruskah aku bertahan dalam hubungan seperti ini. Dalam cinta yang bertepuk sebelah tangan, jelas-jelas dia tidak mencintai ku." Sultan bermonolog dalam perjalanan pulang ke rumahnya.


"Oya, Yah. Lihat gak barusan ada wanita cantik tinggi semampai ramah lagi." Ibunya Sultan melirik pada sang suami.


"Yang mana, Bu?" tanya suaminya.


"Itu, barusan. Wanita muda memakai baju merah--"


"Ooh, itu. Emang kenapa?" tanya suaminya lagi mengerutkan keningnya.


"Cantik ya? badannya bagus. Cantik di pandangan mata sangat sempurna." Ibunya Sultan tersenyum mengagumi wanita yang ia maksud adalah Sofi.


Sultan hanya terdiam walau kedua telinganya mendengar perbincangan ayah ibunya. Namun tak ingin dia berkomentar apapun, sebab hatinya sedang gusar tak jelas apa yang dirasakan.


...---...


"Sebentar ya? aku mau jalan ke depan sebentar. Biasa, mau cari buat oleh-oleh si Rania." Arya pamit pada kawan-kawannya yang langsung mereka pun mengangguk.


Arya terus membawa langkahnya menelusuri toko mainan yang masih buka di malam seperti ini. Dia masuk ke sebuah toko yang kebetulan masih buka dan Arya langsung memilih mainan yang kira-kira Rania suka.


"Apa ya? boneka kelinci atau barby?" Arya seakan berpikir. Namun tangannya mengambil barby dan boneka kelinci yang tampak lucu.


"Mbak. Ini saja dua tolong di bungkus rapi ya?" pinta Arya pada si penjaga toko yang ramah, lantas mengambil belanjaan Arya.


"Sebentar ya Mas? kami bungkus dulu." Si mbak mengangguk hormat.


Arya mendekati kursi dan menunggu di sana. Sambil melihat ke arah jalan yang masih tampak ramai.


Kemudian netra mata Arya menemukan seseorang yang rasanya ia kenal bersama seorang pria asing.


"Lho, bukankah itu Suci? sama siapa dia? gandengan begitu, bukankah punya suami!" Arya menajamkan pandangan ke arah wanita tersebut.


"Suci itu kan istri Aldian mantannya Fatma. Kenapa dia ada di sini? bersama pria lain." Jiwa kepo Arya pun meronta, setelah membayar pesanannya Arya segera keluar dari toko tersebut dan mengawasi Suci.


Jarak langkah Arya yang terlalu jauh dari Suci, membuat Arya kehilangan jejak wanita tersebut.


"Kemana dia?" kepala Arya celingukan. "Sedang apa dia di sini? bukankah kemarin itu? ah ... buat apa sih aku kepo banget sama urusan orang. Biar sajalah, toh bukan siapa-siapa ku juga," akhirnya Arya membalikan badan untuk kembali ke tempat peristirahatannya.


"Dapat buat oleh-oleh nya?" tanya Wisnu pada arya. yang baru datang.


"Alhamdulillah dapat!" Arya menoleh dengan senyuman senangnya.


"Kapten gak suka memburu oleh-oleh buat yang di rumah?" tanya balik Arya pada kapten Wisnu.


"Em ... nggak, biar beli sendiri saja ah ribet, paling pulang minta jalan ke mall dan belanja." Jawab Wisnu sambil menutup tabletnya.


"Ooh, aku tidak minta oleh-oleh. Emas permata dan juga uang." Nyanyian Arya mendudukkan dirinya di kursi.


Sekitar dini hari semua awak pesawat sudah bersiap dan mulai berkutat di pesawat yang siap kembali ke kota asal, Jakarta.


Arya dan Wisnu, sebelumnya mengecek mesin atau semua peralatan yang akan mereka gunakan jangan sampai ada kendala yang signifikan dalam perjalanan nanti.


Setelah semua penumpang sudah berada di dalam. Dan tak ada lagi yang tertinggal, pintu utama sudah mulai di tutup rapat. Dan melalui pengeras suara, pramugara memberi instruksi pada semua penumpang agar mematuhi peraturan yang diberikan oleh para kru pesawat.


Termasuk ketika mau take off dan landing, semua ponsel wajib dimatikan kecuali dikala penerbangan, itupun haru mode pesawat. Demi keamanan, keselamatan serta kenyamanan kita semua, sebab yang dihindari adalah radiasi atau sinyal dari ponsel akan sangat mengganggu selama perjalanan.


Kemudian tidak lama ada pengumuman kalua pesawat akan mulai take off dan para penumpang diingatkan lagi untuk mematikan ponselnya masing-masing.


Dan Arya selaku menanggung jawab penerbangan tersebut. Mulai berkutat dengan tugasnya yang sangat penting tersebut, dalam keadaan yang masih gelap, si burung besi mulai take off tinggi-tinggi semakin tinggi dan akhirnya melayang-layang di udara, dengan tanpa beban membawa semua para penumpang dan kru yang menyimpan harapan besar untuk selamat sampai tujuan.


Setelah beberapa waktu. pesawat sudah bersiap untuk landing. Monitor mendekati sinyal dari salah satu menara yang akan memberi petunjuk pada pesawat tersebut landing di tempat yang tepat.


Tit, tit. Tit ... tit, tit. Tit ...


Pesawat tersebut pada akhirnya landing dengan sangat sempurna menapakkan kakinya di permukaan bumi ini.


Setelah pintu terbuka dan tangga pun sudah terpasang, para penumpang pun keluar dengan wajah yang sumringah, lega dan bahagia karena sudah sampai tujuan dengan selamat.


Seperti yang Arya katakan pada sang istri. Kalau dia tidak bisa pulang dengan cepat, sebab setelah penerbangan ia masih banyak yang harus ia urus termasuk meeting di kantor.


Setelah selesai mengurus pesawat dengan mekanik lainnya. Arya bersiap meeting, untuk terhindar dari bau sebab belum sempat mandi. Arya menyemprotkan minyak wanginya ke seluruh tubuh sehingga baunya semerbak menyengat ke rongga hidung.


Selang beberapa waktu, meeting pun selesai. Arya bersiap pulang dan sengaja naik taksi.

__ADS_1


Di perjalanan, supir taksi menghentikan laju mobilnya tepat di depan Alfamart. Dengan alasan mau membeli minuman.


Setelah supir kembali. Kemudian melanjutkan perjalanannya, ada sebuah taksi yang di dalam terdengar keributan.


Arya merasa penasaran, lalu meminta supir untuk mengikuti taksi tersebut. Dan supir pun bersedia mengikuti perintah Arya.


Lantas taksi yang Arya tumpangi mengikuti mobil yang Arya tunjukan.


Mobil tersebut begitu cepat melaju. Namun tetap diikuti oleh taksi yang Arya tumpangi. Sampai akhirnya, taksi tersebut berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan mewah.


Seorang wanita keluar dari taksi tersebut dengan tangan di kunci oleh seorang dan di dorong ke dalam rumah. Tampak wanita tersebut meringis kesakitan.


Arya jadi kebingungan, antara turun dan tidak, Dibiarkan, merasa berdosa. Mau turun tidak tahu titik permasalahannya apa?


"Harus gimana nih?" gumamnya Arya. Dengan sorot mata yang tak lepas dari rumah tersebut.


Namun sebab lama tidak muncul juga kembali, Arya menoleh ke arah rumah tersebut yang tampak sangat sepi, lalu Arya bergegas turun untuk menyelinap masuk.


Baru satu kaki turun dari taksi. Terlihat pria tadi keluar dengan terburu-buru, membawa gulungan jas di tangan. dan sesekali celingukan, tampak gelisah. Dengan cepat pria tersebut meninggalkan pintu rumah tersebut dengan


sangat tergesa-gesa sekali.


Arya meminta supir untuk menunggunya sebentar. Sementara dia keluar dan mendekati tempat tersebut.


Khawatir kalau wanita tersebut. dalam keadaan mengkhawatirkan atau gimana gitu. Membuat Arya mencoba masuk dan melihat keadaan tersebut.


Namun suasana sekitar atau di rumah itu begitu sepi. Membuat Arya tambah penasaran, ia terus membawa langkahnya ke dalam rumah tersebut, matanya terus sambil mengamati keadaan rumah yang ia masuki saat ini.


Meskipun rasanya begitu mencekam dan jantung Arya mendadak berdetak begitu kencang.


Langkahnya terus berjalan mendekati sebuah kamar. Alangkah terkejutnya Arya, ketika menemukan seseorang tergeletak bersimbah darah di lantai.


Dengan tubuh setengah telanjang. Bermandikan air berwarna darah, tergeletak begitu saja tak bernyawa.


"Astagfirullah ... Mbak?" Arya hendak mendekat. Namun niat itu ia urung dan langsung menelpon polisi supaya segera menindak lanjuti kejadian tersebut.


Arya cuma bisa menatap dari beberapa langkah ke arah Suci. Padahal baru saja ia melihat wanita ini masuk di seret teman prianya.


Namun tiba-tiba kini wanita tersebut sudah bersimbah darah begitu saja. Kemudian supir taksinya Arya pun menyusul Arya dengan rasa tidak percayanya.


"Kok bisa begini ya? padahal belum lama ini dia masuk tampak mesra dengan teman wanitanya."


Arya menggeleng. "Pas aku masuk semuanya sudah begini, aku pun tidak tahu, tahu-tahu sudah tergeletak seperti ini."


"Tuan, ini mah pembu-nu-han." Kata supir taksi, menatap ngeri ke arah Suci.


...---...


"Mam. Rania boleh ikutan pemotretan gak?" tanya Rania pada sang bunda yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Hem, boleh. Kita bertiga ya?" sahut Fatma sembari sekilas melihat sang anak.


"Hore! Aku boleh ikutan. Tapi Mam, bajunya?" wajah Rania mendadak tampak bingung.


"Baju, sudah siapa kok. Mama sudah siapkan baju buat Rania, tenang saja sayang!" sambung Fatma.


"Beneran?" Rania ragu.


"Beneran. Sebentar lagi juga datang bajunya, nanti Rania coba ya?" tangan Fatma mengusap kepala Rania.


Tidak lama kemudian, ada tamu yang mengantar paket pakaian buat pemotretan nanti siang.


"Di coba sayang bajunya." Pinta Fatma pada sang anak.


Yang langsung mendapat respon dari Rania, dia buru-buru mencoba beberapa pakaiannya dengan sangat riang.


Rania tampak bahagia sekali dengan semua ini.


"Wah ... cucu Umi cantik sekali." Suara umi Santi.


"Ya ampun ... Rania cantik sekali ini," timpal Bu Wati yang berjalan dibelakang umi Santi.


"Iya dong ... Rania kan cantik, pintar, Rania mau pemotretan. Oma dan Umi mau ikutan gak?" tanya Rania menatap lekat ke arah kedua wanita paruh baya tersebut ....


****

__ADS_1


Maaf ya reader ku semua🙏 karya ku ini terkenal dengan kurang fit nya diriku🙏


__ADS_2