
Saat ini Arya dan Fatma sudah berada di kamar hotelnya. Rania yang minta bobo sama mamanya, terus merengek.
"Mam, Rania boleh Bobo sini ya? sedikit ... aja. Boleh ya?" Rajuk Rania sambil mencium pipi sang mama.
Arya yang duduk di sofa pun menoleh. "Boleh. Apaan sedikit sayang?"
"Semalam, Aa. Maksudnya sedikit itu semalam." Fatma melirik suaminya.
"Ooh ... boleh." Kata Arya meski sedikit kecewa rencananya malam ini mau memadu kasih, sudah beberapa hari ini si kecil namun besar manfaatnya tidak dimanjakan oleh pemiliknya.
Namun kendati demikian Arya yakin pasti ada kesempatan lah, walau Rania tidur di sini juga. Otak Arya mulai traveling, berfanasi liar. Jika tidak di tempat tidurpun kan bisa di sofa panjang ini. Bila perlu di kamar mandi, yang penting tersalurkan hasratnya.
"Kalau Rania bobo di sini. Aunty sendiri dong bobo nya? kasian nanti dia ketakutan gimana? Fatma membujuk Rania supaya tidak mengganggunya malam ini.
"Nggak pa-pa, aunty sudah besar, Mama ..." jawabnya Rania sambil tiduran di pangkuan sang bunda.
"Em ... gimana kalau besok aja bobo sama Mamanya? jangan sekarang--"
"Nggak mau! maunya malam ini, besok tidak lagi." Rania bangun dan melipat tangan di dada dengan nada dingin.
"Sayang ... biarkan saja kenapa sih?" suara Arya dari sofa.
"Papa? kenapa sih? Mama gak boleh Rania bobo sini?" pandangan Rania tertuju ke arah Arya.
"Nggak tahu. Boleh kok," balas Arya kembali.
Tatapan Fatma mengarah ke Arya. "Iih, katanya mau di manja? tapi gimana lagi sih? gak apalah, kasihan rania." Batin Fatma, lalu mengalihkan pandangan ke arah Rania.
"Boleh sayang, boleh." Kata Fatma membuat Rania bertepuk tangan senang.
"Ya udah bobo yu?" Fatma berbaring dan menarik selimutnya.
Sebelum berbaring, Rania menoleh ke arah Arya. "Papa? bobo?"
"Papa belum ngantuk, mau nonton televisi dulu sebentar." Arya menoleh sekilas lalu mengarahkan tatapannya ke televisi kembali.
__ADS_1
Anak itu pun berbaring di dekat sang bunda, masuk ke dalam pelukannya. Fatma memeluk erat dengan terus membelai rambutnya, Fatma membacakan cerita sampai Rania terlelap. Namun tidak lupa sebelumnya membaca doa dulu.
Perlahan Fatma bangun dengan sangat hati-hati. Turun menapakkan kedua kaki jenjangnya ke lantai, yang sebelumnya menyempatkan mencium kening Rania.
Sebelum berjalan, Fatma menggantikan lampu menjadi temaram. Lalu mendatangi sang suami yang berada di sofa.
Dengan langkah yang gemulai, tangan Fatma membuka kimono nya yang tersisa hanya lingerie merah saja.
Netra Arya yang menatap ke arah sang istri berkali-kali menelan saliva nya. Begitu indah pahatan yang Tuhan ciptakan untuk dirinya.
Tatapan Arya kian intens dan menimbulkan sesuatu yang aneh, gairah yang sedari tadi ada semakin tergugah menyelimuti dirinya.
Tingkah Fatma yang kian menggoda apalagi melihat sang suami yang sudah diselimuti kabut hasrat yang kian tebal ingin segera berenang di sagara cinta.
Menenggelamkan dirinya di lembah madu yang membuat semua manusia normal ingin merasakannya.
Berlayar di lautan cinta. Terombang-ambing dalam kenikmatan yang tiada Tara.
Fatma duduk di paha Arya yang terbuka. Mengalungkan kedua tangan di leher Arya serta tatapan yang sendu. Selanjutnya Arya mencumbu sang istri dengan lembut.
Percintaan mereka tak harus di atas tempat tidur, di sofa pun jadi. Berbekal selimut yang tebal, keduanya memadu kasih di sofa panjang yang ada di kamar tersebut.
Rania tidur di kasur Fatma sangat nyenyak. Sehingga yang di sofa tetap anteng membuat adonan Arya junior yang kelak terlahir dengan sangat lucu.
Malam yang semakin larut dan suasana yang kian syahdu, menambah kian antengnya permainan yang mereka berdua bangun, penuh kasih dan cinta.
Pagi-pagi buta mereka berdua sudah terbangun lantas bergegas membersihkan dirinya masing-masing.
Sehingga Rania terbangun nanti, keduanya sudah bersih dan selesai menunaikan subuh.
"Yang, sarapannya persen aja ya? malas turun. Capek," ucap Fatma sambil merangkul pundak Arya yang tengah duduk di kursi menghadap ke jendela besar.
"Apa saja. Terserah sayangku saja," sahut Arya sambil memegangi tangan Fatma yang memeluknya dari belakang.
Keduanya menatap laut yang ombaknya terlihat tenang. Burung-burung berkicau menyambut sang pagi yang ceria menjemput sang Surya yang akan menghangatkan penghuni bumi.
__ADS_1
Rania membuka kedua mata dan menyipitkan nya menyapu setiap sudut ruang tersebut. Mencari keberadaan sang mama.
Anak itu menggeliat nikmat lalu mengeratkan selimutnya. memejamkan kembali pasang matanya, Merasakan dingin di pagi ini.
Fatma menelpon pihak resepsionis untuk membawakan sarapan ke kamar.
"Jadi pengen di kamar saja nih? gak mau jalan gitu menikmati alam!" tanya Arya melihat ke arah sang istri.
"Em ... kayanya nggak deh. Pengen diem di kamar saja untuk hari ini, kalau Aa mau jalan? boleh. Biar aku sendiri saja di sini." Fatma berucap lirih sembari duduk di pangkuan sang suami.
Tangan Arya merangkul pinggang istrinya supaya tidak jatuh. "Kalau sayang gak mau keluar, Aa juga gak mau ah. Kali aja ... di kasih lagi."
"Di kasih apaan? ngeres mulu pikirannya ih. Nggak ada yang lain apa?" Fatma mesem seraya menggeleng.
"Ada yang lain. Pijitin dong, semalam sayang agresif banget dan bikin, Aa gemes ingin terus dan terus." Arya menyeringai puas.
"Ih, mana sarapannya ya? belum datang?" Fatma mengalihkan pembicaraan.
"Kebiasaan sayang, suka mengalihkan pembicaraan?" jari Arya menjepit hidung Fatma dengan gemas.
Fatma memanyunkan bibirnya, bikin geregetan yang melihat.
"Males ah bahas itu mulu! mending ngerjain apa kek." Fatma beranjak mau pergi, namun geph! tangannya Arya tangkap dan menariknya membuat bokong Fatma terjatuh ke atas pangkuan Arya kembali.
Bikin hati Fatma terkesiap dan takut terjatuh ke lantai. Padahal pinggangnya pun langsung Arya tangkap, Kedua pasang mata mereka bersitatap lekat. Arya mendaratkan kembali kecupan di bibir Fatma sebagai kiss pagi.
"Mama, Papa? sedang apa?" suara Rania mengagetkan keduanya.
Membuat Fatma langsung melonjak naik. Berdiri sambil mengusap bibirnya yang basah. Lalu berbalik badan melihat ke arah Rania yang sudah bangun, duduk mengedip-ngedipkan matanya yang mungkin masih mengantuk.
"Sa-sayang dah bangun? gimana Bobonya nyenyak ya?" langkah Fatma mendekati tempat tidur.
Arya menggelembungkan pipinya lalu mesem yang di buat-buat ke arah Rania. "Untung gak lebih dari itu, kalau labuh dari itu! bisa berabe nih. Ah, kenapa sih suka gak bisa nahan?" Batin Arya bermonolog sendiri sambil menepuk bibirnya.
"Nyenyak ... banget. Enak sekali Rania bobonya. Oya, kok semalam Mama sama papa gak ada di samping Rania sih? bobo di mana?" tanya anak itu dengan raut wajah yang heran.
__ADS_1
Sesaat Fatma dan Arya saling melempar pandangan, kemudian Fatma berkata. "Em ... semalam? mungkin Mama sedang ke kamar mandi dan papa juga. Iya sayang ke kamar mandi kayanya."
Anak itu terdiam mengingat-ngingat semalam ....