
"Wa'alaikum salam. Nggak ada apa-apa, cuma masalah sedikit saja." Jawab Abah sembari mengedarkan pandangannya pada Sultan dan Sofi.
Beberapa menit kemudian, semua berangsur bubar ke tempat peraduannya masing-masing, begitupun Fatma yang mencari keberadaan Arya. Masuk juga ke kamarnya.
Sofi yang hendak masuk kamar, melihat Arya sedang berada di teras menyendiri. Manik mata Sofi melihat kanan dan kiri kemudian berjalan pelan menghampiri.
"Sedang apa di sini? bukannya istirahat." Sapa Sofi berdiri tidak jauh dari tempat Arya duduk.
Sontak kepala Arya menoleh, lalu mengalihkan kembali pandangannya. "Ah, lagi cari angin saja. Kenapa kamu belum tidur?" tanya balik Arya.
"Ada apa? sepertinya sedang ada masalah? tadi aku temui wajah-wajah gusar dan sekarang. Kamu juga nampak gelisah," ungkap Sofi lalu duduk di kursi satunya.
"Ehem," dehem Mia yang baru muncul di sana. "Tuan Arya, mau Mia buatkan kopi biar hangat?"
Sofi melirik muak ke arah Mia yang ia pikir ganggu saja. "Arya gak ngopi." Ketus Sofi.
"Ooh, teh hangat mungkin?" netra mata Mia bergerak dari Sofi ke Arya kembali.
kedua bola mata Arya mengarah pada dua wanita sekaligus. "Tidak terima kasih!"
"Sudah jelas kan? kalau Arya tidak butuh apa-apa. Silakan pergi!" ucap Sofi sambil berdiri menatap tajam ke arah Mia yang masih berdiri mematung.
"Emang kenapa? bukankah satu orang wanita dan pria berdua itu yang ke tiganya setan?" celetuk Mia sembari menaikan alisnya.
"Iya. Kamu setannya." Sofi sedikit melotot.
"Lho, kok kamu yang nyolot sih? emang kalian ada apa?" tanya Mia terheran-heran.
"Itu bukan urusan mu!" manik mata Sofi kian keluar menatap tajam kepada Mia.
"Kalian apa-apaan sih? gak punya malu apa, ribut malam-malam." Arya melihat keduanya bergantian.
"Dasar wanita ular--"
"Hei ... kamu siapa? pacarnya bukan, calon istri apa lagi. Pembokat juga bukan, tidak tau diri." Sofi menyela omongan Mia.
"Ada apa nih, ribut-ribut?" suara Sultan yang muncul dari balik pintu.
__ADS_1
"Ini sayang, wanita ini menyebutku wanita ular. Apa maksudnya coba, aku di sini sedang mencari angin. Di dalam panas sekali." Akunya Sofi mendekati Sultan dan menggenggam tangannya.
Begitupun Fatma yang keluar setelah Sultan. Menatap sendu ke arah Arya yang terdiam dan duduk santai.
Arya berdiri menghampiri Fatma. "Kamu belum tidur?"
"Belum, ada apa ini?" tanya Fatma sembari melihat ke arah Mia juga.
"Nyonya muda, tadi Mia cuma menawarkan kopi pada tuan Arya, tapi Mbak Sofi ngomong yang aneh-aneh. Jangan-jangan mbak Sofi ini naksir tuan Arya." Akunya Mia melirik sinis pada Sofi.
"Apa maksud mu? aku dan Arya sudah lama berteman. Jangan asal bicara ya?" protes Sofi.
"Apa yang asal bicara? kalian tampak mesra dan ketika aku datang kau merasa terganggu," ucap Mia dengan nada menantang.
"Itu, tidak benar! kami biasa aja dan aku sudah cukup mengenal di sebagai rekan kerja juga, asal ya kalau ngomong," bela Sofi.
Fatma mengalihkan pandangan pada Arya di tatapnya lekat, tatapan yang penuh curiga. Tanpa berbicara apapun, Fatma melengos pergi membawa perasaan hati yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata.
Arya menoleh ke arah Mia dan Sofi. "Kalian ini, Sofi dan kamu Mia." Dengan nada penuh penekanan. Kemudian segera menyusul Fatma ke dalam.
Langkah Fatma terhenti sebab Arya berdiri dihadapan nya. "Malah bertanya? gak peka banget jadi laki-laki." Gumamnya Fatma dalam hati.
"Aku mau tidur." Ketus Fatma.
"Kau marah padaku? itu tidak benar, Sofi adalah teman aku seperti tak ubahnya Sultan. Sahabat aku." Jelas Arya.
"Aku gak mau tau itu, awas. Ku mau tidur," ucapnya dengan nada dingin.
Keduanya saling tatap, tatapan yang penuh arti luapan rasa hati. Lalu Arya menggeser posisinya sehingga Fatma bergegas melewatinya. Tanpa sepatah kata yang terucap dari bibirnya.
"Tan, wanita itu tidak benar!" Sofi menatap ke arah Sultan yang terdiam sedari tadi
Sultan tau kalau Sofi memang suka pada Arya jadi percaya tidak percaya memang begitu adanya. Dan kini waktunya dia membuat Sofi mengalihkan rasa itu terhadap dirinya.
"Sudah malam. Tidurlah." Menatap Sofi tanpa ekspresi.
"Tapi, Tan?" protes Sofi sambil menatap ke arah Sultan yang membalikan badannya tanpa menoleh lagi.
__ADS_1
"Awas ya? kamu sudah mulai mengibarkan bendera permusuhan di antar kita." Sofi menatap muak dan mundur beberapa langkah hingga akhirnya pergi meninggalkan Mia yang masih berdiri d tempat.
Mia menyunggingkan senyum yang penuh arti. "Satu kali mendayung dua pulang terlampaui, he he he he ..." bermonolog sendiri.
Fatma setibanya di kamar Arya menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur samping Rania yang tampak lelap sekali. Dadanya sesak hatinya kesal mengingat omongan Mia dan Sofi yang seolah berebut sosoknya Arya.
Tubuh Fatma terbangun lantas duduk memeluk lututnya dan menyembunyikan wajah di atas kedua lutut yang dirapatkan tersebut.
"Benarkah omongan Mia tadi?" gumamnya Fatma lalu wajahnya bergerak naik melihat fotonya yang seolah tersenyum ke arahnya.
Kedua manik matanya terus memandangi wajah itu smpai-sampai matanya panas dan datangnya rasa kantuk yang menyerang. Beberapa kali ia menguap lalu kembali berbaring lantas memejamkan matanya.
Dalam hitungan detik pun Fatma sudah terlelap melayani mimpinya.
Sementara Arya tidak bisa tidur, memikirkan pernikahan sang adik yang sampai detik ini nomornya masih gak aktif. Di tambah lagi terbayang-bayang raut wajah Fatma yang tampak marah terhadap dirinya.
"Apa sih maksud mereka sampai bicara tidak sesuai paktanya! ada-ada saja mereka." Kepala Arya menggeleng.
Tidurnya Arya terus gelisah. terlentang salah, miring juga gak lena. Semuanya menjadi serba salah, hatinya gusar dan gelisah. menjadi was-was ada sekelumit rasa takut. Jantungnya terus berdegup sangat kencang.
Sampai menjelang subuh, Arya masih juga tidak bisa tidur dan akhirnya bersih-bersih bersiap untuk melaksanakan subuh.
Sementara yang lain setelah datang yang dari pihak MUA langsung mendandani calon mempelai wanita dan para wanita yang akan menjadi pagar ayu dan ibu hajat lainnya.
Namun di tengah antengnya ngemak up. Si calon mempelai mendapat berita kalau calon mempelai pria nya mengalami kecelakaan tunggal dari semalam dan si calon mempelai meregang nyawa di tempat.
Membuat Dewi shock dan akhirnya tak sadarkan diri. Pingsan, semua histeris.
"Dewi? Dewi sadar, Nak ..." suara umi memeluk kepala Dewi di lantai.
Kemudian Dewi dipindahkan ke tempat tidur. Dan di beri minyak angin supaya segera sadar.
Suana menjadi riuh membuat tak jelas apa yang harus di dengar, yang bicara dan yang menangis bercampur menjadi satu ....
****
Mohon dukungannya. like komen dan vote nya🙏
__ADS_1