Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Tampak lelah


__ADS_3

Arya membukakan pintu buat Fatma yang sebelumnya memasukan koper ke dalam bagasi.


"Terima kasih! ucapnya Fatma sembari menunjukan senyum yang mempesona. Seindah hatinya yang telah melewati masa-masa kekhawatirannya.


"Sama-sama!" Arya mengitari mobil lalu membuka pintu satunya duduk di samping Fatma.


Supir melajukan mobilnya setelah menoleh sang majikan dan Arya duduk di belakang. Namun baru beberapa puluh meter merayap, adzan Maghrib berkumandang mengalun indah. Arya meminta supir untuk berhenti tepat depan masjid.


"Aku mau salat dulu." Tanpa menunggu jawaban, Arya mendorong pintu. Keluar menembus hujan.


Fatma hanya menatap punggung Arya yang berlari dalam remang dan hujan. Lalu menoleh ke depan dimana pak Harlan duduk di depan. "Pak, salat aja dulu." Yang langsung mendapat anggukan dari pak Harlan.


Fatma sendirian di dalam mobil, menunggu Arya dan pak Harlan yang sedang salat Maghrib.


Arya yang masih kurang stabil, pikiran dan jiwanya masih shock menjadikannya tampak lelah dan gak banyak bicara, hanya sesekali bahasa matanya yang berbicara dengan pandangan Fatma yang sendu.


Fatma mengambil botol minuman yang masih utuh, dari sisi pintu mobil lalu ia berikan pada Arya. "Minumlah? kamu terlihat lelah sekali."


Tanpa bicara tangan Arya bergerak mengambil botol tersebut kemudian meneguknya hingga tersisa setengahnya. "Terima kasih!"


"Iya." Fatma singkat.


Selang beberapa lama, mobil Fatma sampai di depan apartemen Arya. Keduanya berjalan menuju unit nya Arya, dengan membawa koper Arya berjalan di belakang Fatma.


Keduanya tidak banyak bicara selain derap langkah yang terdengar memenuhi gendang telinga yang menapaki lantai setelah keluar dari pintu lift.

__ADS_1


Netra mata Fatma tidak lepas dari perhatiannya pada apartemen tersebut yang cukup mewah dan berada dikawasan elit.


Beberapa kali berpapasan dengan tetangga unit Arya yang menyapa ramah. Arya pun membalas tak kalah ramahnya. Apalagi kalau ketemu orang yang lebih tua, pasti Arya membungkuk dengan sopan.


Arya mengetuk pintu yang langsung di buka oleh uminya. "Assalamu'alaikum ... Umi," tangan Arya meraih tangan sang bunda lalu diciumnya.


Fatma berdiri mematung melihat pemandangan tersebut, sebuah pelukan ibu dan anak yang begitu hangat.


Ketika netra mata umi menoleh pada Fatma, dia langsung. "Dia, Neng Fatma?" dengan spontan mendapat anggukan dari Fatma. " Masya Allah ... meni tambah cantik pisan."


Fatma dengan cepat bersalaman dengan umi Santi. "Aa kabar Umi?"


"Masya Allah tabarakallah ... meuni cantik tambah cantik, Masya Allah ... beneran ini teh, Aa. Neng fatma?" selidik umi Santi melirik ke arah arya. Seakan ingin meyakinkan dirinya kalau yang sedang berdiri di hadapannya itu.


Arya mengangguk dan menunjukan senyumnya pada sang bunda.


"Abah? Abah ... coba lihat siapa yang datang?" umi bergegas masuk memanggil sang suami.


Fatma dan Arya saling bersitatap begitu lekat, Fatma segera menundukkan wajahnya ke lantai.


Beberapa saat kemudian Fatma mengangkat wajahnya dan melihat ke arah wajah Arya yang masih menatap dengan tatapan yang sulit Fatma artikan. "Kenapa melihat ku seperti itu? gak mau mengajak ku masuk?"


"Ha? i-iya masuk, jangan sungkan-sungkan aja masuk ke dalam hatiku," ucap Arya akhirnya menyuruh masuk dan di akhir kalimat sedikit menggombal.


"Apaan sih?" Fatma mengikuti langkah Arya memasuki unitnya dan menyuruh Fatma duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Itu, Abah. Neng Fatma tea. semakin cantik, kita sediakan apa atuh Abah ... kita gak ada apa-apa kan niatnya juga mau ke sana," ucap umi menarik tangan Abah dari dalam untuk menemui Fatma.


Arya mencium tangan sang ayah sebentar, lalu mengalihkan pandangan pada Fatma. "Aku, mandi dulu ya?" Arya menenteng koper ke dalam kamar dan Fatma cuma menanggapi dengan anggukan dan senyuman.


"Eleuh, Neng damang atuh? rencana teh, kami mau ke sana sebelum balik ke Bandung. Tapi bertemu di sini, sepertinya gak jadi," kata Abah dengan nada ramah pada Fatma.


"Alhamdulilah Abah, gimana sebaliknya? kalau mau ke sana? ke sana aja, gak apa-apa. Lagian di sana bisa bertemu Ayah dan Ibu." Balas Fatma dibarengi dengan mengangguk hormat.


"Tapi, kenapa bisa bareng datangnya?" tanya umi terheran-heran.


"Eeh, itu. Ke ... ketemu di bandara." Jawab Fatma sedikit malu-malu.


"Ooh, Neng jemput, AA. Di bandara?" sambung umi kembali.


"Eeh ...."


"Umi senang bisa bertemu dengan, Neng Fatma, pengen dari lama. Eeh baru ketemu sekarang." Tangan umi menggenggam tangan Fatma. Raut wajahnya begitu sumringah terlihat jelas kalau umi ingin bertemu dengan Fatma.


"Iya, kami juga ingin bertemu dengan ayah dan ibu, Neng Fatma. Katanya ada di Indonesia," lanjut abah pada Fatma.


"Ooh, main aja ke sana, mereka juga ingin bertemu Abah dan Umi." Kata Fatma sambil menunduk.


"Tapi, sepertinya, AA. capek, Abah." Timpal umi. "Ya ampun, Umi lupa mau bikin minum dulu ya?"


Umi beranjak dari duduknya menuju dapur untuk mengambil minuman buat Fatma ....

__ADS_1


****


Aku sebagai author karya ini. mohon dukungan dari reader ku semua.


__ADS_2