
"Hi. Bro?" Sultan mengangkat tangannya yang ditujukan Arya yang memegangi koper.
Semua mata memandang lekat pada yang kini berdiri mengulas senyumnya, yang tidak di sadari kedatangannya.
Fatma langsung berdiri dan menghampiri. "Aa?" gumam Fatma langsung memeluk sang suami penuh bahagia. "Kemana aja sih?"
Arya pun membalas pelukan sang istri dengan sangat erat. "Ada sayang. Maaf, Aa terlambat pulang dan bikin istri Aa cemas."
"Kamu tau gak sih? aku khawatir banget sama kamu, mana gak bisa dihubungi. Kenapa sih bikin orang ketakutan?" Fatma mendongak menatap wajah Arya dengan tatapan nanar.
Arya, bukannya menjawab. Malah memuji kecantikan sang istri yang tampak sangat cantik, anggun nan mempesona. "Istri, Aa, sangat cantik. Hampir saja Aa tidak mengenalinya."
"Akh, gombal." Pandangan mereka begitu intens, kini sorot mata lah yang seolah berbicara.
Arya dan Fatma saling tatap begitu lekat. Arya begitu mengagumi kecantikan sang istri dan Fatma pun begitu amat merindukan sosok suaminya ini. Padahal hanya sehari mereka tidak bertemu.
Rania menghabiskan makannya. Lalu turun berhambur ke arah papa dan mamanya, anak itu mendongak seraya berkat.
"Mam? Rania kapan di peluk sama papa nya? Rania pengen dong ... di peluk Papa. Kan Rania juga kangen," ucap Rania menggoyang tangan Fatma dan Arya yang anteng dengan saling pandangnya menyelami isi hati.
Kemudian Arya dan Fatma saling melempar senyuman. Lantas menunduk melihat anak itu yang masih mendongak ekspresi wajahnya bikin gemes yang melihat.
Arya bergeser lalu berjongkok. Merentangkan tangan pada Rania yang langsung berhambur ke pelukannya.
"Papa, Rania kangen ... sekali, kenapa baru pulang? kami sungguh mengkhawatirkan papa yang tidak ada kabar, Papa dari mana sih? kata Om Tatan, Papa sudah pulang. Tapi nggak ada juga kunjung ke rumah Apa Papa pulang ke apartemen?" Rania memberondongkan pertanyaan pada Arya yang sedang memeluk erat dirinya.
"Ya ampun Rania ... panjang bener pertanyaannya? sepanjang jalan kereta. Om aja bingung untuk menjawabnya." Celetuk Sultan dari meja makan.
Arya menoleh dan tertawa. "Iya nih, dasar ditektif kecil." ucap Arya seraya mengusap punggung Rania.
"Sudah belum kangennya? Papa belum menyalami yang lain," kata Arya lalu mencium kening dan pucuk kepala Rania.
"Sudah!" anak itu melepas pelukannya.
Semua orang ikut tersenyum melihat Rania dan Arya. Mereka berdua tampak dekat dan saling menyayangi.
Arya mendekati semuanya seraya mengucap salam. "Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumus salam ..." jawab semuanya serempak.
lalu Arya bersalaman dengan ketiga pasang orang tua yang ada di sana, orang tua sendiri. mertua dan parang tua Sultan.
Semuanya menyambut hangat. kedatangan Arya, seolah-olah sudah lama tidak bertemu, atau baru pulang dari medan perang.
"Nak Arya apa kabar? lama kita gak bertemu ya?" ucap Bu Syasa pada Arya serta menatap lekat.
"Alhamdulillah, Bu. gimana sebaliknya? sudah lama datang?" Arya membalas sapaan Bu Syasa.
"Alhamdulillah juga. Sedari tadi lho. Kami sengaja datang ke sini ingin bertemu dengan mu." Sambung Bu Syasa.
"Benar, kami ingin bertemu dengan mu yang lama sekali kita tidak bertemu." Tambah ayahnya Sultan, menepuk bahu Arya.
''Wah ... Ayah masih terlihat segar nih!" Arya melihat intens ke arah ayahnya Sultan.
"Kamu semakin gagah, tampan dan berwibawa. Pantas istrinya sangat cantik sekali." Setengah berbisik.
"Ha ha ha ... bisa aja. Ayah ini!" Sultan menggeleng.
Setelah itu, Arya bergegas naik ke untuk ke kamarnya. Mau membersihkan diri, badan berasa lengket dan bau gak enak. Diikuti oleh Fatma sekalian mau menyiapkan sesuatu. Termasuk pakaian buat prewed yang akan dilaksanakan sebentar lagi.
Fatma duduk di tepi tempat tidur, setelah menyiapkan pakaian untuk Arya.
Tidak lama kemudian Arya muncul dari balik pintu kamar mandi dengan handuk di pinggang dan handuk kecil di tangan buat mengeringkan rambutnya. Melihat ke arah Fatma yang tengah duduk di tepi tempat tidur. Ia ingat sesuatu.
"Sayang?" panggil Arya.
"Hem, iya?" Fatma mendongak.
"Istri Aldian meninggal!" jelas Arya sambil menggosok rambutnya.
Fatma terkesiap, tidak percaya. "Ha? masa?"
"Kok masa sayang? beneran. Sekarang masih di rumah sakit, masih dalam pemeriksaan." Arya meyakinkan.
Fatma menggeleng, meragukan perkataan suaminya. "Semalam aku lihat dia di bandara kok!"
"Iya, benar. Sepertinya dia menjadi salah satu penumpang pesawat ku. Pulang-pergi. Dan tadi terjadi insiden membuat nyawanya melayang."
"Tidak, itu tidak mungkin! Kamu gak bercanda kan?" Fatma terus menggeleng. Tidak percaya.
"Bener yang ... aku gak bohong. Ya sudah. Aku mau salat dulu," ucap Arya sembari menggelar sejadah nya.
Fatma menjadi terdiam, merasa shock mendengat berita itu. Tidak percaya dengan berita yang Arya bawa, masa iya sih Suci meninggal.
__ADS_1
Kemudian Fatma mengambil ponselnya mencari berita di media sosial siapa tahu Fatma mendapatkan beritanya.
"Sekarang jasadnya masih di rumah sakit, di otopsi. Dan gak ada keluarga yang dapat dihubungi kecuali suaminya, Aldian." Suara Arya sembari melipat sarungnya.
Sontak Fatma menoleh, menatap penasaran pada Arya, kok bisa tahu tentang itu.
"Aa tau, sebab Aa sebagai saksi insiden itu. Walau tidak menyaksikan pas kejadiannya. Setidaknya, Aa orang pertama yang melihat dia bersimbah darah."
"Astagfirullah, yang jadi pertanyaan ku. Kenapa Aa bisa tahu apalagi menjadi saksi?" Fatma menatap penuh rasa penasaran.
Arya mendekat lalu duduk di samping Fatma dengan tangan merangkul bahunya, tangan satunya menggenggam dan meremas jemarinya Fatma.
Fatma tambah dibuat bingung. Dengan pertanyaan yang belum juga terjawab. Kemudian Arya menceritakan semua dari awal menuju pulang.
Bahkan dari semalam ketika ia di toko melihat Suci pun ia ceritakan semua. Sampai akhirnya bisa pulang setelah menjadi saksi bersama supir taksi.
Fatma merasa shock. Mendengarnya, dan tanpa terasa air matanya menetes, terharu dengan apa yang telah menimpa Suci. Tak terduga kalau nasibnya akan tragis seperti ini.
"Aku ingin ke sana?" ucap Fatma sambil mengusap pipinya yang basah.
"Iya, nanti setelah pemotretan selesai. Dan jangan bawa Rania ya?" tutur Arya seraya mengusap air mata Fatma.
Fatma mengangguk. " Ya sudah, Aa segera bersiap, sana? mereka pasti sudah menunggu."
Lalu Arya mengganti pakaian buat prewed, diberi sedikit make up. Setelah itu barulah mereka, Arya dan Fatma berjalan menuju taman yang akan dijadikan tempat prewed.
Di sana sudah ada Rania dan yang lainnya. Arya yang tampak tampan dan gagah, bersanding dengan Fatma wanita yang tampak dangat cantik. Anggun. Semua yang ada di sana mengagumi dan memujinya.
Beberapa sesi pemotretan sudah di dapatkan, beberapa pose cantik yang kurang sesuai sudah di gantikan dengan pose-pose yang menakjubkan.
Kini giliran bersama Rania dan keluarga. Tak ayal Sultan dan Dewi pun berbaur di sana, semakin lama Sultan pun berani ngegombal di hadapan Dewi.
"Wi, kamu cantik deh, tambah cantik!" ucap Sultan dengan tatapan yang begitu intens.
"Ah, bisa aja. Jadi malu," balas Dewi tersipu.
"Woi! ngobrol aja. Posenya menghadap sini dong ..." kata Arya yang berdiri dekat Abang fotografer.
"Cie ... lah ... baru satu kata aja sudah kena semprot dari Mas pawang. Jangan galak-galak, Mas. Tenang! adiknya tidak saya terkam kok." Celetuk Sultan seingetnya aja.
"Ingat, Tan di luar ada yang menunggu." Tambah Arya sambil tersenyum.
"Siapa yang menunggu? hujan? panas kok." Sultan mendongak melihat langit.
"Aduh, aku yang yang prewed, dia yang malah asyik foto-foto. Gimana nih?" Arya menggeleng.
"Biar aja, Aa. Siapa tahu menjadi jodoh mereka," timpal Fatma yang memegang tangan Arya dengan mesra.
"Sultan sudah ada Sofi, sayang ..." Arya menatap sang istri dengan lembut.
"Belum pasti. Siapa tahu mereka bukan jodoh terus jodoh Sultan adalah Dewi?" tambah Fatma kembali.
"Tidak Masalah sih, Aa juga tahu Sultan orangnya gimana? jadi gak khawatir. Cuman Aa gak mau kalau sampai Dewi yang mengganggu hubungan mereka," sambung Arya. Dia yakin kalau Sultan pria baik.
"Em," gumamnya Fatma sembari mengedarkan pandangan pada kumpulan orang tua yang tampak akrab sekali. "Lihat, Aa. Orang tua kita dengan orang tua Sultan sangat akrab sekali, kalau saja kita semua menjadi keluarga besar pasti lebih senang dan ramai."
"Di tambah dengan anak-anak kita nantinya." Timpal Arya sambil meremas jari-jarinya Fatma mesra.
"He'em, pasti!" Fatma senyum simpul.
Rania berfoto-foto bersama Sultan dan Dewi, aunty nya.
"Aa, kita berangkat sekarang yu ke rumah sakit? Kita sudah selesai kan pemotretannya." Fatma menoleh ke arah sang suami yang kini tengah berbincang dengan asisten fotografer, mengecek hasil potretannya.
Arya mengembalikan kamera. "Ha? Sekarang?"
"Besok, ya sekarang. Besok aku ada meeting di luar kota." Fatma menatap tajam.
"Ooh, sebentar?" Arya mendekati fotografer. "Sudah cukup belum mengambil foto saya dan istri?"
"Oo! sudah, sudah cukup kok." Kata sang fotografer.
Kemudian Arya dan Fatma, segera mengganti pakaiannya dengan pakaian lain dengan niat mau ke rumah sakit, melayat Suci.
Setelah keduanya berada di lantai dasar, lantas berpamitan pada orang tua dan yang lainnya. Dengan alasan ada urusan yang harus diurus sekarang dan Rania pun gak di ajak. Biar sama Dewi saja di rumah.
"Aa, aku temui Rania dulu ya?" Fatma gegas mencari keberadaan Rania dan Dewi.
"Mau kemana bro?" tanya Sultan pada Arya sambil berjalan menuju mobil Fatma.
"Ada urusan sebentar. Kamu masih mau di sini apa mau pulang sekarang?" Arya malah balik tanya.
"Masih mau di sini, Boleh dong? oya Rania mau di ajak gak?" tanya Sultan kembali.
__ADS_1
"Nggak. Makanya titip ya?" Arya memainkan mata genitnya.
"Iddih, ngusir! tapi ada butuhnya juga. Tapi tidak apalah, demi seseorang!" kini giliran Sultan yang menaik turunkan alisnya.
"Seseorang siapa?" Arya penasaran.
"Ada deh ..." sahut Sultan sok menyimpan rahasia.
"Awas ya macam-macam sama Dewi, lu. Gue gantung di pohon pisang," sambung Arya.
"Waw. Takut! di gantung!" Nggak lah. Mana ada Sultan menyakiti hati perempuan? no-no, no ..." Jawab Sultan sambil menepuk pundak Arya.
"Oya, kenapa sih gue hubungi nomor mu mailbox terus?" Sultan menjadi penasaran.
"Aku, berurusan dengan polisi--"
"Wat? serius?" Sultan tersentak tak percaya.
"Aku menjadi saksi atas meninggalnya madu Fatma. Em ... nggak-nggak jadi saksi banget sih, sebab kalau yang pastinya aku gak tau. Cuma waktu kejadian aku berada di sekitar tempat tersebut. Karena aku merasa curiga dan aku datangi, wanita itu sudah--"
"Papa?" panggil Rania. Menghentikan obrolan Arya dan Sultan yang tampak serius itu.
Arya yang tadinya bersandar ke mobil bergerak menyambut Rania yang datang dengan mamanya.
"Papa mau ke mana sih? kok Rania gak di ajak sih?" tanya Rania mendongak pada Arya.
"Em ... Rania gak bole--"
"Papa dan mama mau bulan madu!" sahut Sultan memotong kalimat dari Arya.
"Apaan sih? Om Tatan?" protes Fatma.
"Kau ini?" Arya melotot pada Sultan.
Manik mata Rania yang bening menatap ke arah Sultan, penasaran, apa itu bulan madu. "Apa itu bulan madu, Om tatan?"
"Hanymoon. Eh, maksud Om Tatan ... Papa dan mama ada urusan di luar. Jadi Rania tidak boleh ikut dan sama om Tatan aja ya? kita jalan-jalan." Ralat Sultan sambil melirik ke arah Arya dan Fatma.
"Iya, sayang. Jangan ikut ya? Rania sama aunty dan om Tatan saja, lagian Oma opa nya sekarang banyak!" Arya menunjuk ke dalam.
"Emang Rania boleh jalan-jalan sama Om Tatan dan aunty Dewi, Mam, Pap? nggak di marahin kan?"
"Nggak lah sayang! Boleh. Tapi ingat jangan pergi sendiri atau harus dalam pengawasan orang dewasa, oke?" Fatma mengusap kepala Rania.
"Kalau om Tatan nya nakal. Laporin saja sama Papa ya?" Arya mencubit pipi Rania yang tembem.
"Oke, Rania mau jalan-jalan sama Om Tatan. Beli eskrim ya Om tatan? tapi gak dijual kan? Rania nya?" tanya anak itu bikin Sultan tertawa lepas.
"Ha ha ha ... aduh, Rania ... buat apa Om jual Rania? yang belinya gak mau beli Rania. Habis Rania suka eskrim, nanti orangnya bangkrut, habis beli eskrim mulu." Sultan menggeleng.
"Ya sudah, Papa. Mama pergi dulu ya sayang, sini cium dulu?" Arya mencium pipi kanan dan kiri Rania.
Begitupun Fatma terhadap Rania. Lalu Fatma masuk ke dalam mobil setelah Arya membukakan pintunya.
Kemudian Arya mengitari mobil lalu barulah masuk duduk, di belakang kemudi.
Rania yang bersama Sultan melambaikan tangan pada Arya dan mamanya.
Kepala Arya sedikit condong dan berkata. "Sultan. Titip ya?"
Fatma pun mengangkat tangannya. "Sayang dah ...."
Setelah sama-sama menggunakan sabu pengaman. Mobil meluncur keluar dari halaman tersebut. Dengan kecepatan tinggi, setelah berada di luar gerbang tersebut.
"Jangan ngebut juga, yang ..." pinta Fatma melirik lembut pada Arya yang fokus melihat ke depan.
"Jangan khawatir sayang. Aa bisa kok. Santai saja." Lirih Arya tanpa menoleh.
Fatma menggeleng. Lalu menyandarkan punggung nya ke belakang, dengan tatapan kosong ke samping, keluar jendela.
Tiada pembicaraan di antara mereka, Arya fokus menyetir dan Fatma melamun. Keduanya memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Kemudian pada akhirnya Arya menoleh ke arah sang istri. "Kenapa melamun?"
Fatma menggercapkan matanya. "Hem, Nggak."
"Jangan melamun. Nanti burung tetangga mati!" sambil tersenyum.
"Apaan sih? gak nyambung amat deh!" Fatma menggeleng seraya mesem-mesem.
Mobil terus melaju dengan sangat cepat, menyelip mobil-mobil lainnya. Agar mobil yang dikemudikan Arya berada di depan ....
****
__ADS_1
Masihkah kalian menunggu Arya dan Fatma up?