
Dengan cepat Arya menoleh dan mengambil sendok tersebut ke tempatnya tanpa menyadari apapun.
Fatma hanya menatap tanpa ekspresi, ada rasa sesak yang menyapa dada nya dan entah kenapa dan sebab apa sehingga tiba-tiba datang menyiksa.
Suster berniat keluar setelah sebelumnya memberikan obat pada Fatma. "Saya permisi dulu, Mas. Bu." Mengangguk hormat dan ramah pada keduanya, setelah beberapa langkah tuk melintasi pintu. Terlihat bibir suster tersenyum merekah dan menoleh pada Arya yang memasang charger ke ponselnya.
Fatma tak luput melihatnya, kemudian menggerakkan manik matanya yang indah itu ke Arya yang juga melirik ke arah dirinya. Akhirnya mereka saling tatap dan sesat kemudian keduanya mengalihkan pandangan kelainan arah dengan degup jantung yang tak menentu.
"Halo, Hani bani swety. Aku datang membawa cinta, eh salah. Membawa buat makan siang." Sultan menyeruak masuk menjinjing kantong berisi cup makanan.
"Kau ngapain berdiri di situ? makan?" Sultan menatap Arya dengan sorot mata yang aneh.
"Nggak lihat, aku sedang ngeces handphone? nanya lagi," sahut Arya sambil menyeringai yang biasa.
Kemudian mereka berdua makan siang dengan lahapnya. Arya sempat menawari Fatma namun Fatma menggeleng dan berusaha memejamkan matanya.
Selesai makan dan membereskannya. Arya dan Sultan bergegas ke mushola tuk menunaikan salat Dzuhur. Dan sebelum nya pamitan lebih dulu pada Fatma dengan suara lembut takut mengganggu istirahatnya, dengan pendengaran yang masih jelas Fatma mengangguk pelan.
Keduanya berjalan dengan agak cepat. Langkah-langkah lebar keduanya segera menuju tempat berwudhu. "Berasa minta ijin sama ibu Negara," celetuk Sultan yang Arya sendiri tidak ngeh.
Selepas salat keduanya merasa lebih tenang dan tampak wajahnya segar, kembali berjalan meninggalkan mushola.
"Bro, sekarang berasa punya Ibu negara ya, minta ijin dulu. Sama Renata gitu gak?" Sultan mengulang pertanyaan yang tadi.
"Ha, sama. Jelas dong dia tunangan gue." Balas Arya dan sedikit melamun mengingat sang kekasihnya apa kabar sekarang?
"Oya, tapi sekarang aku jarang lihat kau jalan dengan dia lagi--"
"Aku datangi rumahnya." Arya memotong perkataan Sultan.
"Ooh, kirain jarang ketemu gitu. Secara sekarang perhatiannya sedang tersita pada ibu Negara. Ha ha ha ...."
"Apaan sih kamu ini?" ucap Arya sambil mesem. Keduanya berjalan beriringan, sesekali Arya dan Sultan mengulas senyuman manisnya pada suster yang berpapasan dengannya.
"Eh, aku mau bicara!"
"Apa? bicaralah." Arya menghentikan langkahnya sesaat.
"Aku ... bukan berniat mencampuri urusan yang di luar kapasitas ku, tapi. Rasanya mandeg gitu di dada kalau tidak diutarakan." Sultan kali ini tampak serius dan meyakinkan.
Degh!
Arya sedikit berhadapan dengan Sultan. "Maksudnya? jangan bikin orang penasaran lah." Menepuk bahu Sultan yang bicaranya sedikit bertele-tele.
"He he he ... penasaran ya?" Sultan malah tertawa nyeleneh.
"Ah, ngomong aja susah." Arya hendak melengos merasa dipermainkan oleh sahabatnya itu.
"Eeh, eeh. Tunggu! oke aku ngomong sekarang nih, gak sabaran amat jadi orang. Begini! aku sering lihat Renata berdua dengan Doni."
Degh!
"Terus? kan sudah biasa mereka suka nongkrong. Jadi apa anehnya?" Arya menyembunyikan kecurigaannya.
"Kalau nongkrong ya banyakan bro! ini cuma berdua gak ada yang lainnya. Si cewek siapa itu?"
"Indah?"
"Iya, Indah. Dia gak ada, setiap aku lihat selalu berdua dan maf ya? kalau pandangan ku salah? gerak-geriknya lebih dari kawan biasa.
"Ah, itu cuma pikiran mu saja bro." Elak Arya.
"Dulu, oke. Aku juga sering lihat mereka nongkrong banyakan. Tapi biasa aja! gak seperti akhir-akhir ini yang berasa aneh gitu," ungkap Sultan dengan nada serius.
Arya menatap kosong ke arah Sultan. Memang ia sendiri juga mencurigai sang tunangan namun ia pikir ah cuma sebuah pikiran jelek saja yang seharusnya dibuang jauh-jauh.
"Aku percaya sama mereka, Tan. Dan aku kenal mereka berdua dengan baik jadi gak ada alasan ku buat curiga atau apalah? mereka cuma teman biasa saja," akunya Arya penuh rasa percaya, walau tak dapat dipungkiri adanya sekelumit rasa yang bikin dia gusar.
"Kamu begitu percaya sama mereka? tapi apa salahnya kamu harus waspada bro." Sultan mengingatkan.
"Ya, makasih atas perhatiannya bro?" ucap Arya sambil menepuk pundaknya Sultan. Lalu melangkahkan kakinya menuju ruang inap Fatma.
__ADS_1
Sultan menatap punggung Arya yang berlalu meninggalkannya. Setelah itu barulah ia menyusul langkah Arya yang lebar itu.
"Hei, tunggu? kok gue ditinggal sih?" pekik Sultan sambil celingukan ke kanan dan ke kiri.
Arya masuk dengan mengucap salam dalam hati. Netra nya menangkap Fatma sedang memegang handphone milik dirinya.
Melihat pemilik handphone datang, Fatma segera berkata. "Maaf? aku lancang mengambil handphone mu. Aku pinjem buat telepon Ibu di rumah."
"Iya, gak pa-pa pake aja." Arya mengangguk tak ada masalah. Lalu mendudukkan dirinya di sofa dan tidak lama Sultan pun datang.
"Tinggalin gue sih?" sambil menghempaskan bokongnya di sofa lantas main game.
Fatma meletakkan ponsel Arya di tempat namun detik kemudian ponsel Arya berbunyi, Fatma cuma menatap bergantian ke arah Arya yang malah memejamkan matanya. Sultan juga terlihat tak perduli, akhirnya Dengan ragu Fatma ambil dan melihat kontak siapa yang telepon Arya.
Degh!
Kontak bernama "Sayang Q" Fatma segera meletakkan ponsel di tempat semula. Pasti cewek nya menelepon Arya menanyakan keberadaannya. Secara Arya beberapa hari ini bersamanya. Huuh ... Fatma membuang napas dari mulut.
Sultan menoleh ke sumber suara, dimana ponsel Arya berbunyi terus menerus. Matanya bergerak pada Arya. "Bro, ponsel noh ... bunyi mulu diangkat napa? kali aja tunangan mu."
Arya membuka matanya, sengaja ia gak mau angkat siapa pun dia apalagi Renata, omongan Sultan tadi merasuki hati dan pikirannya. Namun pada akhirnya ia bangun dan mengambil ponsel tersebut dan menyentuh ikon hijau.
Arya berjalan keluar, sambil menempelkan ponsel dekat kuping. Selepas berada di luar.
^^^Arya: "Halo?"^^^
^^^Renata: "Kamu dimana? aku kangen deh."^^^
^^^Arya: "Aku sedang menjenguk saudara yang sakit."^^^
^^^Renata: "Aku, ke sana ya?"^^^
^^^Arya: "Em, jangan! sebentar aku mau pulang dan langsung ke sana ya?"^^^
Arya menolak kalau Renata menyusul ke sana. Kebetulan pengen mandi dan berganti pakaian serta membawa pakaian yang kotor tuk di cuci terlebih dahulu.
^^^Arya: "Ya ... sudah dulu ya? nanti aku ke sana, paling malam. Oke?"^^^
^^^Arya: "Iya, aku pasti datang."^^^
Ponsel ia masukan ke saku celananya. Lalu membawa langkahnya ke ruangan tadi namun baru saja mau melintasi pintu.
"Om ganteng?" suara anak kecil memanggil. Siapa lagi yang panggil om ganteng kalau bukan si gadis kecil yang bernama Rania.
Arya berbalik melihat siap yang datang. "Rania ... akhirnya datang juga." Arya berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.
"Om ganteng selalu jagain Mama kan?" mata polos anak itu menatap lekat pada Arya.
"Ooh. Tentu, Om jagain mama terus sampai mama Rania bosan sama Om." Arya sekilas melirik ke arah Fatma yang memberikan senyumnya.
Sultan yang tengah asyik bermain game melonjak bangun dan melihat anak itu yang lucu dan bikin gemes. Menyeringai senyuman.
"Beneran Mam?" Rania melihat sang bunda yang tak lepas dari senyumnya.
Fatma hanya merespon dengan anggukan. Membenarkan.
"Makasih, ya Om ganteng? sudah jagain Mama. Rania sa-ya-ng Om ganteng." Rania memeluk Arya sangat erat.
"Sama-sama sayang," balas Arya sambil mengeratkan pelukannya pada anak itu.
"Gimana keadaan mu sayang?" sapa bu Wati pada Fatma setelah berada dekat dengan Fatma yang merubah posisinya menjadi duduk.
"Sudah agak baikan, Bu. rasanya besok juga minta pulang lah. Bosan di sini terus, oya bawa yang aku pesan?" tanya Fatma melirik Mia yang membawa paper bag.
"Bawa, Nyonya muda. Pakaian, sabun mandi. Minyak wangi dan pelembab. Satu lagi ponsel, oh iya ada satu lagi, pakaian dalam." Mia tak tanggung-tanggung mengeluarkan isi paper bag.
Yang bikin risih, pakaian dalam milik Fatma pun ia keluarkan dan dia tunjukan. Fatma merasa malu pada dua pria yang ada di sana, padahal Fatma sudah memberi isyarat agar segera dimasukan namun Mia gak ngerti. Fatma hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Mia, tolong semuanya masukan lagi? malu!" pekik Fatma yang tertahan pada Mia, matanya sedikit terbelalak pada pakaian pribadinya.
Mata Sultan melotot dengan kaca mata dalam milik Fatma yang ukuran ... standar lah dengan milik si empu nya. Bibir membulat dengan isengnya berkata. "Waw ... kaca matanya berenda cantik."
__ADS_1
Plak!
Pahanya Sultan di pukul Arya. "Bikin malu." Setengah berbisik.
"Eh, i-iya." Mia malu-malu setelah menyadari kalau pakaian dalam milik majikannya senagaja ia ekspos dikeluarkan dari paper bag nya.
Bu Wati melirik cepat kearah Mia. "Mia, apa-apa sih kamu ini!"
"Ma-maaf Nyonya besar?" Mia menunduk dalam merasa malu dan menyesal bercampur menjadi satu.
Suasana menjadi tegang dan sedikit canggung. Pandangan Sultan menyisir ke semuanya yang tampak canggung itu.
"Hei, Nona kecil? kok Om yang ini gak di sapa sih? boro-boro dapat pelukan, gak adil nih. Padahal Om ini juga gak kalah ganteng sama dia." Sultan mencoba mencairkan suasana.
"Om ini siapa sih? gak kenal deh. Lagian tadi Rania mau ikut ke om ganteng gak bolehin." Celoteh anak itu sambil melirik ke arah Arya yang memangku nya.
"Oh, ini temen Om, tadi Om suruh ngambil motor Om di sana. Tadi Rania mau ikut ya? gimana kalau Om itu penculik, emang Rania mau?" Arya menatap lekat.
"Tapi. Om ini kelihatan baik Kok," balas Rania matanya terus menatap ke arah Sultan.
"Dasar Om yang resek lho. Anak ini aja tahu kalau saya orang baik. Lah dia ... ngira saya penculik. Asal aja nih." Sultan menggerutu.
"Ih, marah! kan kalau. Seandainya, jangan berpikir yang aneh-aneh deh." Arya gak mau kalah.
"Aah ... aku pusing ... dengar kalian berantem. Rania malas dengarnya." Teriak anak itu, berdiri sambil melipat tangannya di dada. Wajahnya tampak lucu bagi yang melihat.
Sultan juga ikutan dengan ekspresi Rania, ia berlutut agar agak sejajar dengan gadis kecil tersebut. "Om juga pusing, malas berteman dengan om ganteng. Bikin sakit kepala baby."
"Ha ha ha ... si Om ini lucu deh. Ikut-ikutan Rania segala! Rania kan sedang marah."
"Om juga marah!" Sultan sok membuang mukanya dari anak kecil tersebut. Dan akhirnya terkekeh.
Arya ikut tersenyum rupanya Rania sosok anak yang mudah bergaul atau berkomunikasi dengan orang lain. Termasuk dirinya dan Sultan.
Fatma dan Bu Wati tak berhenti tersenyum memperhatikan Rania yang tampak happy dengan Arya dan Sultan. Kemudian Fatma melihat ke arah sang bunda. "Ayah gimana kabarnya sekarang?"
"Lumayan membaik, Fatma. Sudah bisa berjalan keluar."
"Ooh, syukurlah." Fatma mengangguk, tangannya memegang ponsel miliknya.
"Aku mau pulang dulu, kamu mau ikut pulang atau mau ke mana?" tanya Arya pada Sultan.
"Lah, gue pulang juga. Ke sini kan aku pakai motor kamu bro. Kalau gak ikut pulang! masa aku ngecer? gak etis ah minimal antar aku pulang gitu." Sultan berdiri dan menyimpan ponselnya.
Arya mendekati Fatma dan Bu Wati. Untuk berpamitan. "Kak, Bu. Aku mau pamit pulang dulu. Gak enak pengen mandi dan baju ku dari kemarin kotor, sekalian mau nyuci dulu."
"Ya, kok pulang? terus yang jagain Fatma siapa dong?" terlintas kecewa di wajah Bu Wati.
Begitupun Fatma, ada rasa berat untuk ditinggalkan. Namun tak ada haknya untuk mencegah atau memintanya untuk tetap bersamanya. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengangguk dengan sekilas senyuman.
"Insya Allah nanti malam aku balik lagi. Kalau gak ada halangan itupun," sambung Arya sambil mengusap kepala Rania yang tampak sedih.
"Yah ... Om kok pulang sih? Rania, kan baru datang. Terus, Mama siapa yang nemenin? kalau papa datang dan sakiti Mama lagi, gimana? gak ada yang nolongin dong!" Celoteh anak itu bikin miris yang mendengar.
"Sayang ... Om pulang. Gak lama kok dan secepatnya pasti kembali. Rania jagain mama dulu ya gantian sama Om. Rania kan anak pinter dan pengertian." Arya meyakinkan Rania tuk kembali menjaga mamanya.
Arya berjongkok dan memandangi wajah sedih Rania. Lantas dipeluknya. Mengusap punggung Rania lembut. Hati Arya mencelos sedih mendengar kalimat papa datang dan sakiti mama. "Ya Allah ..." batin Arya.
Begitupun Fatma dan Bu Wati, merasa pilu. Anak sekecil ini harus mengenal sosok ayah yang arogan terhadap ibunya sendiri.
Fatma menyeka ujung matanya yang basah. "Sayang ... perasaan dari tadi Om terus deh yang Rania peluk. Mama gak dipeluk! katanya sayang?"
Rania melepas pelukan dari Arya dan berhambur ke Fatma, Bu Wati bantu naik lantas memeluk sang bunda dan menyembunyikan wajahnya di ceruk Fatma.
Arya berdiri dan berjalan mengambil barangnya yaitu pakaian kotor. "Assalamu'alaikum ... aku pulang dulu."
"Wa'alaikum salam ... hati-hati." Balas bu Wati. Memandangi punggung Arya dan Sultan.
Sultan mengekor dari belakang. "Sepertinya anak itu dekat benget ya sama kamu bro?"
Arya tak merespon omongan Sultan, dia terlihat bengong menatap kosong jalan yang dia lalui.
__ADS_1
"Kamu ada lemnya ya? sampai-sampai anak itu nempel banget," ulang Sultan kembali sambil menepuk bahunya Arya yang bengong sambil berjalan ....