Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Masih shock


__ADS_3

Arya dan kru lainnya berjalan gontai, tak banyak kata yang mereka ucapkan, Sultan pun yang biasanya bawel diam membisu. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, teringat insiden yang hampir merenggut nyawanya.


Semua berjalan menunduk dengan wajah lesu menuju kendaraannya masing-masing.


Wisnu menepuk bahu Arya. "saya duluan, kebetulan sudah ada jemputan." Menunjuk pada sang istri yang menyambut hangat.


Arya mengangguk dan mengangkat tangannya. Sultan juga begitu hanya mengulas senyuman. Lalu mengedarkan pandangan ke lain arah.


"Bro, itu Ibu negara. Jemput lu kali." Sultan menepuk tangan Arya yang tampak melamun dan tak melihat keberadaan Fatma.


Spontan Arya menoleh ke arah yang Sultan tunjukan. Benar saja Fatma tengah berjalan pelan dengan wajah lesu, Menunduk sedih.


"Dia pasti menjemput mu, percaya deh." Suara Sultan kembali terdengar.


Manik mata Arya menoleh ke arah Sultan sejenak lalu kembali mengarahkan pandangannya pada Fatma. Tanpa bicara apapun, bibirnya masih terkunci tak tahu harus berkata apa? Di memorinya masih shock.


Pada akhirnya Fatma mengangkat wajahnya dan melihat ke depan, tiba-tiba melihat sosok yang dia cari berada di depan berdiri menenteng koper. Fatma menelan saliva nya, bersyukur ternyata Arya selamat.


Manik mata Fatma berembun. Menatap lekat ke arah Arya, rasa gundah, gelisah dan rasa cemas berakhir sudah. Bergantian bahagia sebab orang yang ia cemaskan telah selamat cuma dari wajahnya tergurat jelas masih terbawa suasana. Lesu dan lelah.


Perlahan kaki Arya melangkah mendekati Fatma. "Kak Fatma sedang apa di sini?" suara Arya terdengar lelah.


"Sa-saya ... em ... aku, pengen tau keadaan mu, eh ... tadi aku melihat berita di media sosial." Suara Fatma terbata-bata.


Netra mata Arya tak berhenti melihat wajah Fatma yang tampak cemas dan di matanya ada genangan air yang siap tumpah ruah membasahi pipinya yang putih. "Kau mencemaskan ku?"


"Bu-bukan, a-aku cuma--" ucapan Fatma tergantung.

__ADS_1


Dengan kedatangan segerombolan wartawan dari beberapa media yang ingin mewawancarai Arya sebagai pilot yang masih ada di bandara.


Kepala Arya menoleh ke arah Sultan yang masih shock, tak semangat tuk banyak bicara. Apalagi sepupunya sudah menjemput.


"Sorry." Sultan menyeruak diantara orang-orang media. Tubuh dan otaknya sudah terlalu lelah untuk buang-buang waktu.


Sultan ingat kalau malam ini mau ikut Arya dan keluarga untuk ke rumah Fatma, namun dengan kodisi seperti ini ia benar-benar pengen istirahat. Sultan pergi setelah pamitan pada Arya dan Fatma.


"Gimana kejadian tadi Tuan ketika pesawat gagal mendarat?" tanya salah satu media.


"Maaf, untuk saat ini saya no komen," ucap Arya sambil merangkul bahu Fatma agar keluar dari kerumunan wartawan.


Fatma merasa dag-dig-dug dirangkul bahu oleh Arya Hanya untuk menjauhi wartawan.


"Tuan, tunggu? tolong bisa sedikit beri penjelasannya tentang kejadian tadi? Kami ingin tahu kejadian yang sebenarnya."


Wartawan yang kurang puas dengan jawaban dari Arya malah menyoroti sosok Fatma yang tentunya mereka kenal sebagai CEO muda yang sukses dan baru saja menyandang status janda.


"Nyonya Fatma, anda berada di sini apa kapten ini tambatan hati anda?"


"Apa kapten ini calon suami anda?"


"Apa Nyonya Fatmala berada di pesawat yang sama? yang mengalami insiden gagal mendarat tersebut?"


"Atau anda hanya menjemput calon suami anda?"


"Kapan anda akan resmikan hubungan ini? Apa menunggu masa Iddah habis?"

__ADS_1


"Apa putri anda sudah mengenal calon ayah sambungnya?"


"Anda tampak serasi dengan kapten ini, segara halalkan jangan sampai keduluan orang."


"Gimana kapten, ini pengalaman pertama atau yang ke berapa kalinya?"


"Apa kapten bisa menggambarkan gimana suasana di dalam pesawat ketika itu?"


Fatma merasa kelimpungan, bingung harus menjawab apa? dari semua pencari berita tersebut. Dia hanya bisa tertunduk menyembunyikan wajahnya ke bahu Arya.


Arya hanya mengangkat telapak tangannya. "Tolong jangan tanyai saya saat ini, saya butuh rehat. Dan satu lagi. Tolong jangan tanya-tanya wanita ini, dia butuh privasi." Tegas Arya kembali mengajak Fatma keluar dari tempat tersebut.


Wartawan akhirnya pergi tak membawa hasil yang diinginkan. Tak dapat berita yang memuaskan dari sumbernya.


Fatma di gandeng Arya ke mobilnya. Mereka berdiri dekat pintu. "Makasih ya?"


"Buat apa?" tanya Arya sambil membukakan pintu untuk Fatma namun Fatma tak segera masuk.


"Buat ... tadi sama wartawan. Oya aku antar pulang ya?" Fatma menunjuk ke dalam mobil.


"Tapi, aku bawa motor." Menunjuk ke belakang.


"Sudah, tinggalin saja. Barang-barangnya masukan ke dalam bagasi." Berjalan ke belakang mobil ....


****


Harap jangan lupa like komen dan vote nya 🙏

__ADS_1


__ADS_2