Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Akad


__ADS_3

"Yang sabar Dewi, yang kuat ya?" Umi terus menguatkan Dewi.


Dewi menjauhkan dirinya dari sang bunda dan gegas ke kamar mandi untuk mengganti pakaian pengantin nya dengan pakaian biasa di iringi tangisnya yang merasa sakit. Pedih, terluka menjadi satu! harapan dan impian musnah, lenyap begitu saja. Hancur tak berkeping, serpihannya terbang terbawa angin.


"Umi, harap kamu sabar dan kuat, yakinlah. Bahwa akan ada hikmah di balik ini semua, pasti akan datang seorang pria yang akan menjadi jodoh mu yang terbaik," tutur umi pada Dewi yang sudah kembali naik ke tempat tidur.


"Aku aku, gak mau menikah dengan siapa pun, selain dengan Ari, Umi. Aku gak sanggup tanpa dia Umi. Hik hik hik."


"Manusia hanya bisa berencana. Allah juga yang menentukan, dan Allah lebih mengetahui apa yang kita butuhkan, Apa yang baik menurut kita! belum tentu menurut Allah. Manusia hanya bisa menjalani, ikhlaskan. Nanti sore kita melayat ke dana," ujar Abah dengan nada yang menerangkan.


"Tapi, Abah." Dewi menatap sang ayah dengan wajah yang basah Aira mata yang terus mengalir tumpah ruah membanjiri wajahnya yang manis.


"Abah yakin, kamu bisa melewatinya. Dan Allah tidak akan memberi cobaan! bila kita tidak mampu. Ikhlaskan, dan doakan saja semoga dia tenang diterima segala amal ibadahnya. Diterangi ku kuburnya."


Mendengar wejangan dari Abah seperti itu, membuat Dewi semakin tersedu tangisannya memilukan yang mendengar.


Tidak kuasa umi pun meneteskan buliran air bening di pipinya. Lantas kembali memeluk Dewi, putrinya.


Sofi merasa heran melihat di kamar Arya ramai dengan MUA yang mendandani Fatma dan Arya dengan make up pengantin. Pakaian pun pengantin bernuansa Sunda. Paduan putih dan hitam.


Mia pun juga sama, dia merasa heran. Namun dengan mudahnya dia mendapatkan info kalau Arya dan Fatma akan menikah hari ini.


"Kenapa bisa mendadak begini? dan aku gak dengar dari sebelumnya kalau mereka berencana pernikahan secepat ini," Mia terheran-heran, keningnya mengerut.


"Eh, ulat bulu. Kenapa bengong di sini? bukannya ikut masuk. Kok majikan mu berdandan ala pengantin sih?" sapa Sofi pada Mia yang menatap ke arah Fatma dari jauh.


"Lu, ular laut tidak tahu ya? hem ... ketinggalan info ya? nyonya Fatma mau menikah dengan Arya! hari ini." Tegas Mia sembari mencibirkan bibirnya.


"Ha? serius kamu?" Sofi tidak percaya.


"Serius kamu? iya lah masa nggak. Terus kamu pikir mereka di make up sama MUA buat apa? dijadikan badut ha! gak mikir ini orang." Lagi-lagi Mia mencibirkan bibirnya.


Sofi tertegun mendengarnya. Kok secepat ini? musnah lah kesempatan mendekati Arya si pria idaman dari sejak lama.


"Ngapain di sini sayang?" suara Sultan memecah lamunan Sofi.

__ADS_1


Sofi menoleh. "Mereka itu ..."


"Mau menikah," Sultan mengangguk.


Sofi kian tidak mengerti. "Emangnya sudah direncanakan lama?"


"Sudahlah! mereka saling mencintai. Apa salahnya?" Sultan dengan nada santai. "Kita kapan nyusul mereka?"


"Entah, belum siap menikah. Masih punya tanggungan," sahut Sofi dengan jelas.


Sultan terdiam sejenak tanpa banyak bicara lagi lalu menghampiri Arya yang sudah siap dengan setelan pengantinnya.


Sofi dan Mia khusus nya menatap lekat, tergoda dengan pesona nya. Yang tampan di make up pengantin tambah tampan auranya semakin keluar.


Kemudian Arya keluar tanpa menoleh ke arah Fatma yang masih belum selesai di make up nya. Ia tak berani melihat Fatma yang pastinya akan tambah sangat cantik.


Begitupun Fatma, dia gak berani larak-lirik ke arah Arya, ia terus menundukkan pandangannya. Malu kalau saja bertemu pandang. Perasaannya semakin tidak menentu terus bergemuruh hebat, gugup, nervous. Jantung yang terus berdegup kencang lebih dari normal. Bercampur menjadi satu.


Tidak pernah menyangka kalau akan secepat ini. Tapi yakin kalau saja Dewi tidak gagal menikah atau tidak terjadi insiden, tak mungkin dirinya gegas ditikahkan Arya. Ini cuma pengganti kedua mempelai yang di takdir kan terpisah di tengah jalan.


"Bisa aja. Kau jangan membuat hidung ku terbang, nanti sulit turun lagi." Arya menggeleng.


"Ya ampun ... Aduh Aa ... meni kasep pisan." Kata para wanita yang melihat Arya yang tampak tampan dan berseri.


Arya cuma menebar senyumnya termanisnya saja tanpa mengeluarkan suaranya.


Pak penghulu sudah datang, para undangan juga sudah pada hadir sebagian. Di depan pelaminan pak penghulu dan pak Wijaya, Abah juga sudah setembai terlihat mengobrol.


"Saya ikut prihatin atas kejadian yang menimpa keluarga ini. Ooh ini yang akan menjadi mempelai pria nya?" tanya pak penghulu menunjuk ke arah Arya yang nampak sudah siap.


Abah mengangguk dan melirik ke arah Arya. Begitupun pak Wijaya sebagai wali dari mempelai wanitanya.


"Siapa nama mempelai pria nya?" selidik pak penghulu kembali.


"Arya Saputra." Jawab Arya singkat.

__ADS_1


"Dan ... mempelai wanitanya?" tanya kembali sambil menulis di lembaran kertas di atas meja.


Arya menatap ke arah pak Wijaya. Sebelum Arya menjawabnya sendiri.


"Mempelai wanitanya bernama Fatmala Wijaya." Jawab pak Wijaya.


"Baik. Bisa kita mulai sekarang?" pak penghulu. Menatap Arya yang kini malah terlihat gugup.


Abah dan pak Wijaya mengangguk seraya berkata. "Bisa! silakan di mulai."


Sebelum akad berlangsung para undangan yang sudah berkumpul membaca doa sebagai berikut.


"Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin"


"Sekarang, kalian berjabat tangan dan membaca ijab kabul." Perintah pak penghulu.


Pak Wijaya dan Arya saling berjabat tangan. Di awali dengan basmalah. "Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinangan mu, putriku Fatamala wijaya, dengan mahar! seperangkat perhiasan dibayar tunai."


Dengan cepat, Arya membalasnya. "Saya terima nikah dan kawinnya Fatmala Wijaya, dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah."


Dengan satu tarikan napas, Arya mampu melepaskan nya dengan cepat dan lancar.


"Gimana sah?" tanya pak penghulu mengedarkan pandangan ke semua yang ada di sana.


"Sah ..." jawabnya serempak.


"Alhamdulillah ...."


Fatma yang masih di kamar seakan berhenti bernapas ketika mendengar ucapan dari Arya yang lantang tanpa ragu sedikitpun. Dan akhirnya bibirnya mengulas senyuman yang merekah, kemudian perlahan keluar menuju kursi yang di sebelah Arya.


Setalah tiba dan duduk di sebelah Arya. Fatma dibacakan oleh Arya doa tepat di ubun-ubun nya dengan doa sebagai berikut.


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."


Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya ....

__ADS_1


__ADS_2