
Doni mendekat dan segera membantu membukakan lesleting di punggungnya. Mengekspos kulit punggung yang bersih putih tersebut.
Tangan Doni bergerak menyentuhnya menimbulkan sesi yang terasa sangat aneh membuat mata Renata terekam. Terus bergerak ke atas bagian tengkuk.
Tubuh Doni melangkah maju ke depan Renata dan menarik gaun pengantinnya Renata supaya turun, dan akhirnya terjatuh juga ke lantai. Yang tersisa cuma pahatan yang terukir indah, yang tertutup hanya bagian intinya saja.
Perasaan Renata bagai bedug yang di tabuh. Dag-dig-dug tak menentu, bergemuruh bak ombak di lautan. Padahal ini bukan kali pertama berdekatan dengan Doni. Apalagi tatapan Doni begitu intens ke arah dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki tak ada yang luput dari pandangannya.
Tatapan Doni yang intens itu diiringi dengan napsu. Hasrat yang ingin dari lama menikmati kekasihnya itu, namun di tahan-tahan sampai saat ini masih juga tertahan.
Renata menepis tangan Doni yang menempel di tengkuknya. "Aku mau mandi dulu." Sembari melangkahkan kakinya maju beberapa langkah namun langsung Doni tangkap dan mendekapnya.
Bukan cuma itu saja, Doni langsung menerjang penuh hasrat yang begitu menggebu. Tangannya mengunci tubuh sang istri yang baru beberapa jam ini ia halalkan.
"A-aku mau mandi dulu." Renata bergumam lembut, suaranya bergetar sepertinya sudah terpancing dengan perlakuan dari Doni suaminya itu.
Doni sejenak melepaskan benda kenyal itu dan berkata. "Tidak bisa. Aku sudah gak kuat, lalu menyeret tubuh Renata ke tempat tidur yang besar itu.
Dada Renata semakin berdebar dan tak kuasa menolak setiap yang Doni lakukan. Cumbuan dan sentuhan yang penuh dengan hasrat yang menggebu itu semakin menggiring Doni untuk melakukan semua.
Meluapkan setiap keinginan yang begitu menggelora tersebut sesuai ekspetasinya. Renata mendesis dan berair mata menahan sakit yang di bagian tertentu.
Namun lama-lama rasi sakit itu berangsur hilang. Dan digantikan rasa nikmat yang tak terbayangkan dari sebelumnya.
Ritual tersebut membuat jiwa keduanya melayang terbang ke angkasa. Keduanya begitu menikmati sesi demi sesi percintaannya.
Di tengah-tengah keintiman yang berlangsung, tiba-tiba terbayang wajah Arya menari di pelupuk mata Renata membuat dia seketika membuka matanya dan mendorong dada Doni.
Lantas meminta menyudahi segera ritual tersebut. Hati Renata sontak terasa sakit mengingatnya menyesali kali dirinya yang sudah mengkhianati Arya sehingga Arya membatalkan pernikahannya.
__ADS_1
Yang semestinya sekarang Renata tengah berbahagia dengan Arya sang kekasih yang sudah terjalin beberapa tahun itu. Namun sebab ke curangan yang Renata buat membawa dirinya terdampar di pernikahan dengan doni, pria selingkuhannya.
Tapi Doni tak mengindahkan permintaan dari sang istri, dia malah bertambah keinginannya untuk terus berpacu mengendalikan tubuh sang istri sampai dirinya merasa puas.
Renata merasa kesal dan mood nya pun menurun. Sehingga tak lagi menikmati yang sedang berlangsung antara dia dan suaminya. Semua berubah hambar tak seindah tadi di awal, dalam ingatannya hanya Arya dan Arya bahkan melihat wajah Doni pun berasa melihat Arya namun detik kemudian berubah lagi menjadi Doni.
Saat ini Renata bebar-bebar tersiksa dengan perasaannya sendiri. Menderita dengan bayangan rasa bersalah.
Secara tidak langsung, Renata marah-marah. Memukul-mukul kan tangannya ke kasur, tapi Doni tidak perduli. Dia kembali mencumbu Renata, bibirnya menelusuri seluruh wajah, leher dan dada, untuk menaikan kembali libidonya Renata yang turun drastis.
Walau bingung, Doni tak mau pikirkan itu. Apalagi hanya untuk mengganggu kebahagiaannya bersama, Doni baru menghenti kan ritualnya ketika dia sudah benar-benar puas. Keringat bercucuran dari tubuh keduanya.
Tubuh Doni akhirnya tumbang di atas dada Renata. Lemas, lelah, menyerang tubuh Doni. Doni mengerang panjang. "Akh ..." erangan nikmat saat sesuatu berdenyut mengisap kuat miliknya untuk kesekian kalinya.
Renata langsung meringkuk ke samping dan menarik selimutnya, terlihat dari sudut matanya buliran bening yang mengalir.
"Cuph! makasih sayang, makasih atas malam ini." Doni mengecup bahu Renata yang tidak memberi respon.
Malam yang beranjak pun membawa kedua insan itu bertemu lagi dengan sebuah pagi yang cerah, Doni sudah mandi. Rapi dan wangi, mengenakan pakaian santai. toh dalam dua hari ini ia libur.
Kemudian Doni duduk di tepi tempat tidur yang masih ada Renata meringkuk di balik selimut. Ia tatap lalu tangannya mengarah dan menyentuhnya. "Sayang, jam berapa nih? bangun!"
"Hem," gumamnya Renata yang menggeliat nikmat. Memicingkan matanya sebelah mengitari ruangan tersebut. Lalu berhenti di wajah yang memberi senyuman padanya.
Cuph! kecupan hangat mendarat di kening Renata. "Bangun. Suami mu sudah lapar nih!"
Renata terdiam dengan mata yang mengedip lemah. Antara masih mengantuk dan mengumpulkan kesadarannya. Setelah itu, Renata pun turun dengan menggulungkan selimut di tubuh nya. Ia sadar kalau tubuhnya masih polos, walau terasa perih, sakit. jalan pun sedikit tertatih Namun Renata tahan dan bergegas masuk kamar mandi.
Doni bengong melihat sikap Renata yang dingin seperti itu. Ketika masih pacaran gak pernah seperti ini. Semakin lama Doni makin anteng dengan lamunannya.
__ADS_1
Renata pun selesai dari membersihkan dirinya. Setelah rapi barulah ia turun untuk menyiapkan sarapan, namun tetap sikapnya tamak dingin pada Doni yang masih termenung di tempat semula.
Doni menyusul sang istri, dengan langkah yang lebar, dengan cepat Doni meraih tangan Renata. "Sayang, kenapa? ditekuk begitu wajahnya. Marah apa?"
Renata tak menjawab melainkan menggeleng pelan. Langkahnya terus berjalan menuruni anak tangga.
Doni menghela napas panjang dan terus mengikuti langkahnya sampai dapur yang jadi tujuannya Renata.
Dalam pikiran Renata saat ini hanya Arya dan Arya, entah kenapa rasanya melihat Doni itu malas dan kesal bawaannya.
...--...
Setibanya di Mension Fatma langsung mengemas pakaian yang mau di bawa ke apartemen. Setidaknya dalam dua hari ini akan tinggal di sana.
Tidak lupa memberikan gaji terakhir buat Mia. "Ini gaji terakhir mu, biar beberapa hari masa kerja kami kali ini tapi aku pul kan gaji mu, Mia. Dan semoga kamu betah di sana."
Mia terdiam sambil mengambil sebuah amplop dari tangan Fatma. "Terima kasih Nyonya?" akhirnya keluar kata-kata itu dari mulutnya.
"Sama-sama. Kalau sudah siap, biar pak Dudin yang mengantarmu!" sambung Fatma sambil beranjak dari duduknya.
"Nyonya, saya minta maaf jika saya pernah berbuat salah sama anda dan keluarga ini?" suara Mia hentikan langkah Fatma dan menoleh.
Sejenak Fatma menatap ke arah Mia dengan tatapan sangat dingin, masih untung waktu itu Fatma tidak melihat Mia merangkul pinggang arya. Kalau saja lihat! mungkin Fatma tampar wajahnya. "Saya sudah maafkan kamu."
Kemudian Fatma melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Mia yang masih membereskan barangnya ....
****
Jangan lupa dukungan, seperti lake komen dan vote nya🙏
__ADS_1