
Malam yang kian larut telah membawa Arya ke dalam bahtera alam mimpi yang menghiasi lelapnya tidur di malam ini.
Di pagi-pagi buta Arya sudah kembali terbangun mendengar suara adzan subuh yang berkumandang. Membangunkannya dari alam bawah sadar, mimpi. Arya menggeliatkan tubuhnya dengan nikmat. Memicingkan mata dan beberapa kali menguap, tidak lupa membaca doa setalah bangun tidur. Duduk sejenak untuk mengumpulkan kesadarannya yang belum terkumpul seluruhnya.
Kemudian setelah merasa cukup kesadarannya terkumpul. Arya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Lalu mengibaskan selimutnya dan menapakkan kakinya di lantai berjalan memasuki kamar mandinya untuk bersih-bersih.
Selesai membersihkan diri. Arya memilih kaos tiga perempat berwarna abu, mengambil sarung lalu menunaikan kewajibannya sebagai muslim.
Selepas itu, Arya membereskan bekas salat yang sebelumnya membaca doa dengan khusu. Lanjut merapikan tempat tidur, buka gorden dan bersih-bersih semua ruangan. Berdiri di balkon sebentar untuk menghirup udara segar.
Pergi ke dapur membuat sarapan kopi pahit dan roti. "Huuh ... kapan gue punya istri? capek juga apa-apa dikerjain sendiri. Upss itu istri apa pembantu? he he he."
"Tapi kan setidaknya aku tidak sendiri, ada yang bantuin. Atau mengerjakan bersama," bibir Arya mengukir senyuman yang merekah.
Entah mengingat apa atau rencana apa yang Arya siapkan untuk hari ini, yang jelas hari ini Arya harus bertemu Fatma dan Rania, kebetulan ini hari libur. Membuat Arya bersemangat untuk mendatangi sang kekasih hati.
Hari sudah menunjukan pukul 07.wib dan Arya bersiap pergi dengan topi pemberian dari Fatma yang dia kenakan menghiasi kepalanya. Ketika mendekati pintu, netra mata Arya menemukan kardus yang masih tersimpan di sana. Belum sempat Sultan ambil untuk dibagikan. Sementara dengan foto sudah dia bakar dan yang ada di ponsel pun sudah dia delete tak tersisa.
...---...
Sedari bangun, Rania terus merengek dan uring-uringan. Dia terus menanyakan Arya dan Arya. Sampai-sampai Fatma kelimpungan untuk memberi pengertian padanya.
Fatma hanya bisa menghela napas panjang dengan segala kebingungannya kenapa Arya tidak ngasih kabar? sama sekali walau hanya untuk menanyakan Rania. Mungkin memang dia yang salah yang terlalu berharap sementara Arya bukanlah siapa-siapa dirinya dan Rania.
Rasanya Fatma ingin sekali menjerit sekencang-kencangnya. Berteriak sepuasnya meluapkan segala rasa sesak yang memenuhi rongga dada dalam beberapa hari ini.
Fatma mendongak memandang langit yang begitu cerah, burung-burung pun beterbangan seakan menari-nari menyambut riang hari yang indah ini. Namun tidak dengan hati Fatma yang mendung dan kelabu bak langit yang kesulitan menyimpan air hujan. Fatma menangis dalam hati, menghadapi Rania yang ngambek terus.
Kemudian Fatma membawa langkahnya ke lantai bawah, dimana Rania yang diajak main sama pengasuhnya berada di lantai dasar. Manik matanya langsung disuguhi pemandangan Rania duduk dilantai dan terlihat ngambek, di dalam kerumunan opa dan Omanya juga Mia, sang pengasuhnya.
"Main yu? kita ke Mall beli eskrim?" bujuk Omanya.
"Iya yu? sama opa juga, opa mau jalan-jalan ah." Timpal pak Wijaya.
"Nggak mau, Ranai cuma mau sama om, gak mau sama yang lain kalau om gak ada." Teriak Rania sambil melempar bonekanya.
Membuat hati Fatma semakin mencelos sedih. "Sayang ... kok marah-marah sih? sama Mama ya kita jalan-jalannya!" lirih Fatma sambil mendekati Rania yang duduk di lantai.
__ADS_1
"Rania nggak mau. Gak mau sama Mama juga, kecuali sama om juga ..." Rania kembali berteriak dan melempar lagi mainannya yang Mia kumpulin lagi.
"Rania ... Mama gak suka ya Rania kaya gini, Rania gak sayang sama Mama apa?" suara Fatma lirih dan bergetar menahan sedih. Dadanya terasa sesak dan perih.
"Fatma. Coba hubungi Arya, kali saja sudah pulang," tutur Bu Wati menatap ke arah Fatma.
"Bu, dia kan sudah janji kalau dia gak sibuk akan datang! aku gak perlu menagihnya. Biar saja dia sendiri yang menyadarinya." Fatma enggan menghubungi Arya dengan rasa gengsi, tidak mau menunjukkan kalau dia membutuhkan Arya.
"Tapi apa salah nya lho!" sambung Bu Wati kembali.
Fatma menggeleng. Lalu beranjak lagi hendak pergi namun suara itu mengunci langkahnya.
"Assalamu'alaikum ... Rania, om datang." Arya berlutut menyambut Rania yang langsung berhambur ke dalam pelukannya.
"Om, Om jahat tinggalin Rania sendirian. Biarkan Rania sekolah sama pak Didin lagi. Hik hik hik." Tangis Rania pecah dalam pelukan Arya yang terkesiap mendapati Rania yang langsung menangis di pelukannya.
Semua tercengang. Melihat Rania begitu merindukan Arya sampai-sampai tangisnya pun langsung pecah di dalam pelukan Arya, semua yang ada di sana merasa haru.
Arya memeluk tubuh Rania sangat erat dan mengusap punggungnya. "Maafkan Om sayang. Om sibuk dalam beberapa hari ini."
"Rania kangen sama Om, Om jangan tinggalin Rania lagi. Hik hik hik ..." suara Rania sambil terisak.
"Hik hik hik. Rania sayang sama Om, Om nya gak sayang sama Rania."
Helaan napas Arya tampak panjang dan berat. "Sayang ... dengarkan Om ya? kalau Om gak sayang ngapain Om datang ke sini? pagi gini," melirik putaran jam yang masih menunjukan pukul 08.wib. "Om masih capek ini, baru pulang dini hari. Pagi-pagi bangun dan bergegas datang ke sini, buat Rania."
Arya membingkai wajah gadis kecil itu dengan kedua tangannya. Menunjukan senyuman yang meyakinkan, membuat Rania berhenti menangis dan tatapan matanya yang nanar itu membalas tatapan Arya yang menatap intens.
"Beneran? Om sayang sama Rania?" pertanyaan itu terucap lagi.
"Sayang dong ... masa nggak." Jawab Arya meyakinkan.
Rania kembali memeluk Arya. Sungguh tampak sekali kalau dia sangat merindukan sosok seorang ayah.
Arya berdiri sambil menggendong Rania yang terus memeluknya. Tangan Arya meraih tangan Bu Wati dan pak Wijaya, mencium punggung nya penuh hormat.
Fatma tertegun memperhatikan pria yang yang mengenakan ti-sirt abu dan topi pemberiannya waktu itu. Terlihat tampan sekali, lalu Fatma menunduk ketika Arya melempar lirikannya. Fatma pun menjadi gugup dan salah tingkah.
__ADS_1
"Untuk kamu datang, Rania sedari pagi ngamuk terus. Kasihan Mamanya sudah kebingungan cara menghadapinya." Lirih bu Wati pada Arya dan sedikit melirik ke arah Fatma yang menundukkan kepalanya.
"Aku, baru bisa datang sekarang. Sebenarnya baru pulang dini hari," ucap Arya sambil menundukkan dirinya di sofa, Rania masih nemplok di pelukan Arya. Menyembunyikan wajahnya di dada Arya.
Fatma maju tiga langkah untuk menjangkau sofa untuknya duduk. Tempatnya berhadapan dengan tempat dimana Arya duduk, dan tanpa sepatah pun menegurnya hanya tatapan mata saja yang dia lepaskan padanya. Sesekali keduanya saling melempar pandangan, kedua pasang mata mereka saling tatap dengan tatapan yang penuh arti. Tangan Arya terus mengelus lembut punggung Rania yang sesekali sesenggukan.
Bu Wati menyambut segelas air minum dari Mia untuk Arya. "Diminum Nak Arya?" ia simpan di meja.
Manik mata Arya bergerak melihat gelas minuman tersebut di meja seraya mengangguk. Tangannya meraih dan perlahan menyesapnya. "Makasih, Bu?"
"Sama-sama." Balas bu Wati. Lalu melirik sang suami seraya memainkan matanya memberi tanda ajakan untuk pergi meninggalkan Arya dan Fatma. Mia pun diberi kode oleh pak Wijaya tuk meninggalkan Arya, Fatma dan Rania di sana.
Mereka bertiga melipir pergi meninggalkan sepasang manusia yang sedang menumpahkan rasa rindu melalui tatapan matanya yang bicara kalau mereka saling merindukan satu sama lainnya.
Heningh!
"Ehem," pada akhirnya Arya mengeluarkan suaranya setelah beberapa saat terdiam berteman keheningan. "Gimana kalau kita pergi ke pantai?" tatapannya tertuju pada Fatma.
Fatma menunjuk hidungnya. "Kau mengajak ku?"
Arya tersenyum tipis. "Em, emang di sini ada siapa lagi selain kita bertiga, kalau Rania sudah pasti mau ikut aku," seraya sedikit mencondongkan tubuhnya ke dapan.
Rania bergerak dan mendongak memandangi wajah Arya. "Rania ikut Om, ikut ya? boleh ya?"
"Iya, sayang tentu! sudah mandi belum nih? kalau belum mandi, gak jadi berangkat ah ...."
"Mau mandi, Rania mau mandi, Mam, Rania mau mandi. Ayo, Mam?" Rania buru-buru turun dari pangkuan Arya.
"Mia?" panggil Fatma sambil berdiri.
"I-iya, Nyonya muda?" Mia dengan cepat muncul memenuhi panggilan dari sang majikan.
"Ini, Rania mandikan segera. Kita mau pergi!" pinta Fatma pada Mia yang langsung menanggapi dengan anggukan hormat.
Mia menuntun tangan Rania diajaknya ke atas tuk mandi. Fatma pun melangkah mau bersiap, namun ....
****
__ADS_1
Terima kasih banyak atas dukungan kalian semua reader ku🙏