Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Rania merajuk


__ADS_3

"Lho, Mam. Kenapa barang-barang Mama dan papa, pak supir yang bawa? berarti! pak supir tau dong, kalau Mama pulang? terus kenapa gak ajak-ajak Rania, Mama ... Rania mau ikut jemput." Suara Rania tampak kesal.


Arya dan Fatma saling tatap satu sama lain. Mereka sedang mencari alasan buat gadis kecilnya itu.


"Eehem ... Papa kan bawa motor, sementara kalau koper mama di motor juga? gak muat sayang, jadi terpaksa Papa titipkan saja di kantor. Biar pak supir yang jemput." Jelas Arya sambil memeluk anak itu yang mendadak murung.


Sejenak Rania terdiam dalam pelukan Arya dengan usapan lembut di punggungnya.


Lalu Rania melepaskan iri dari pelukan Arya lantas menatap sangat lekat. "Terus kenapa Papa, pulang barengan mama? sudah janjian kan? supaya Rania gak ikut? biar Mama dan Papa berduaan bikin adek!"


"Huus ... kok Rania bilang gitu sayang, sapa yang ngajarin hem?" Fatma kaget mendengar Rania bicara seperti itu.


Arya hanya tersenyum dan Dewi pun mesem, anak tau dari mana coba? kala berduaan bikin adek, ada-ada saja ini anak. Padahal Sultan gak terdengar ngomong gitu.


"Kata kawan Rania, kalau mama dan papa berduaan. Itu artinya sedang bikin adek," ungkap anak itu dengan gayanya khas anak kecil.


"Terus, kalau iya kenapa ya? kan Rania mau punya adek bakan?" tanya Arya lirih.


"Em ... iya sih, tapi kan Rania mau ikut jemput mama!" Rania menghentakkan kakinya ke lantai, intinya dia kesal gak di ajak menjemput.


"Kan emang gak ada yang jemput sayang ... Papa juga ga tahu kalau mama pulang hari ini. Serius." Sambung Arya lagi.


"Papa benar, papa aja kaget. Ketika bertemu Mama di bandara, kan Mama mau bikin surprise buat Rania dan semuanya." Tambah Fatma kembali.


Rania berbalik pada Fatma. "Kan bisa telepon dari bandara, biar Rania jemput!"


"Aduh sayang, bukan surprise dong kalau minta di jemput?" lirih Fatma menggelengkan kepalanya.


"Oya, Papa punya hadiah lho ... buat Rania, mau gak?" Arya mencoba mencairkan suasana.


"Hadiah apa? aah ... Rania masih marah nih, sama mama dan Papa. Jangan bujuk Rania, Rania lagi ngambek." Anak itu menyilang kan tangannya di dada.


Fatma menatap datar pada sang putri kecilnya itu, yang sedang merajuk ingin jemput mama dan papa katanya.


Arya menghela napas panjang lalu tersenyum. "Oke, Mam? Rania nya juga sedang merajuk. Jadi baiknya kita tinggal saja yu? mendingan kita berduaan, tidak ada yang mengganggu kan lebih mengasikan! tidak akan ada yang ngerecokin."


Arya menarik pergelangan tangan Fatma di ajaknya pergi. Dalam hati pengen tau aja reaksinya Rania setelah ia bicara seperti itu.


Fatma pun mengikuti langkah Arya yang menuntunnya pergi meninggalkan Rania yang bermuka masam.


Rania kaget melihat papa mamanya pergi, gegas menyusul dan menangkap tangan keduanya. "Jangan pergi? Rania mau hadiahnya!"


Arya dan Fatma hanya terdiam dan saling menautkan keningnya satu sama lain.


"Mama? Papa? Rania minta maaf ya? Rania sudah merajuk dan marah-marah, habis gak di ajak jemput sih! maafin Rania ya?" anak itu mencium tangan Arya dan Fatma bergantian.


Fatma tersenyum lalu menoleh pada Arya yang juga mengulas senyumnya, menatap Rania yang memelas meminta maaf.

__ADS_1


Arya berjongkok mengsejajarkan tubuhnya dengan Rania. "Papa sudah maafkan kok. Dan sekarang, kita ambil hadiahnya, oke?"


"Oke, Papa." Rania mengangguk sembari melihat ke arah Fatma yang menunjukan senyumnya pula.


"Mama, juga maafkan Rania kok," tambah Fatma sembari mengusap kepala anak itu lembut.


Arya menuntun tangan Rania bersama Fatma kanan kiri. Berjalan mendekati koper.


"Nah ini hadiah buat Rania, buka dulu ya? lihat isinya dulu, semoga Rania suka." Arya memberikan sebuah bungkusan pada anak tersebut.


"Makasih, Papa?" Rania langsung membuka bungkusan tersebut dengan riang.


Break! break, Rania menyobek bungkusan tersebut. "Uwaaaaah. Boneka yang bersuara dan pandai mengaji. wawww amazing. Rania suka, Rania suka."


Arya mengangguk, dengan mengarahkan pandangan pada anak itu yang tampak bahagia. Lalu Arya menyalakan boneka tersebut, memutar bacaan surat-surat ayat suci.


"Wah ... Rania bisa sambil mengaji lho, Pa ... Rania bisa sambil belajar." Fatma pun antusias, memperhatikan Boneka tersebut.


"Iya, Mam. Rania suka deh, Papa. Rania mau belajar mengaji kan?" Rania bertanya pada Arya yang melirik pada sang mama.


"Mama dukung kok, iya nanti kita mendatangkan guru ngaji ya? agar Rania bisa belajar setiap hari." Kata Fatma mengarahkan pandangan pada putri kecilnya.


"Nanti Rania bisa belajar tiap hari, yang rajin ya. Dan semoga menjadi orang yang pandai dan Sholehah." Tambah Arya.


"Dan ini hadiah dari Mama." Fatma memberikan bungkusan kecil dan tipis pada sang putri kecilnya itu.


"Iya, Dong. Buat Rania! emang buat siapa lagi coba? masa buat aunty sih?" pada akhirnya Dewi ikut nimbrung juga bicara.


Rania langsung membuka nya juga dengan semangat. Matanya terbelalak melihat isi bingkisan tersebut.


"Oo! baju cinderela." Anak itu membulatkan bibirnya melihat ke arah baju tersebut dan Fatma bergantian.


"Rania sangat suka hadiah dari Mama dan Papa. Makasih ya Mama dan Papa? terima kasih banyak? aku sayang Mama dan Papa juga." Anak itu memeluk keduanya berbarengan kanan dan kiri.


"Mama juga sayang Rania, sama-sama sayang." Balas Fatma membalas pelukan sang anak.


"Sama-sama Nona manis, semoga bermanfaat ya?" cuph! Arya mencium pucuk kepala Rania penuh kasih.


Kemudian, Arya juga Fatma beranjak dari tempatnya untuk ke kamar. Mejinjing kopernya masing-masing.


"Ya sudah, Papa mau ke kamar dulu ya? mau istirahat." Pamit Arya pada Rania yang mulai anteng dengan mainannya.


"Iya. Mama juga, capek. Rania main sama aunty ya? Wi! titip Rania ya?" Fatma melirik ke arah Dewi juga. Yang langsung mendapat respon dengan anggukan dari Dewi.


"Baiklah, kalau gitu. Kalian istirahat aja, Rania mau bermain sama aunty Dewi." Balas Rania.


Setelah Fatma dan Arya berlalu ke kamarnya. Rania pun mengajak Dewi untuk ke kamar.

__ADS_1


mau bermain sambil mencoba baju cinderela nya itu.


Wajah Rania menggambarkan sebuah kebahagiaan yang teramat sangat. "Yeey ... Rania punya banyak boneka nih aunty. Seneng deh."


"Iya, nih ... bonekanya banyak nih, aunty iri dong ... Rania banyak mainannya. Sementara aunty gak punya sama sekali nih," canda Dewi sembari memeluk salah satu boneka milik Rania.


"Kan itu, banyak. Jadi aunty boleh mainin sepuasnya, bersama-sama Rania ya aunty? kita bermain bersama." Timpal Rania kembali.


"Oke, nanti. Kalau aunty punya anak perempuan, Rania mau pinjemin gak nih mainannya?" tanya Dewi kepada anak itu.


"Em ... boleh dong. Masa tidak boleh! anaknya aunty kan, sama aja dengan adik Rania juga ya?" anak itu mendongak pada Dewi.


"Iya dong, itu namanya saudara sepupu, Rania pinter deh." Dewi tersenyum bangga.


"Iya dong, kan ponakan aunty. Aunty cantik deh ..." Rania memeluk Dewi erat.


Sementara di kamar Fatma, Fatma langsung meluruskan tubuhnya di atas tempat tidur. Setelah beberapa saat, Arya pun ikut berbaring di samping sang istri yang sedang menatap langit-langit.


"Sedang mikirin apa sayang?" tanya Arya sambil menghadap tubuh sang istri dengan menumpukan siku sebagai penyangga kepalanya. membelai rambut Fatma dengan sangat mesra.


Namun bukannya menjawab, Fatma malah melonjak bangun dan lari ke kamar mandi sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangan.


Arya kaget melihat tingkah sang istri, dan langsung menyusul Fatma ke kamar mandi, ikut panik. "Sayang kenapa?"


"Oo, oo ..." Fatma memuntahkan isi perutnya sampai habis. Sampai lidah nya terasa pahit.


Arya memijat pundak Fatma dengan lembut dan pandangan tertuju pada Fatma dari pantulan cermin. Lalu loncat ke kamar mengambil beberapa lembar tisu.


Detik kemudian Arya kembali membawa tisu yang langsung diberikan pada Fatma yang sedang membasuh mulutnya berkali-kali. Tampak dari cermin kalau wajahnya sangat pucat Paseh.


Arya merangkul bahunya Fatma di ajaknya keluar dari kamar mandi. Namun setelah berada di depan pintu Arya hentikan langkahnya. Arya langsung memangku tubuh Fatma dibawa ke atas tempat tidur, di dudukan bersandar dekat bahu tempat tidur.


"Tunggu dulu ya sebentar, Aa mau ambilkan air hangat." Arya langsung mendekati tempat dispenser dan membuatkan air minum yang hangat.


Fatma hanya menatap ke arah Arya yang sedang mengambil air hanya untuknya.


Langkah Arya berbalik, berjalan mendekati sang istri. Dengan segelas air hangat di tangan. "Ini sayang, diminum dulu! biar hangat dan dapat mengurangi rasa mual."


Tangan Arya meminumkan air tersebut pada mulut Fatma dengan penuh perhatian. Lalu mengusap perutnya Fatma dengan lembut.


"Jangan buat mama menderita ya sayang, kasian mama. Papa gak tega melihatnya," ucap lembut Arya mengajak bicara calon baby nya di dalam perut sang istri.


Fatma menatap lekat pada sang suami yang tampak begitu mengkhawatirkan dirinya ....


.


.

__ADS_1


Yu mana nih dukungannya?


__ADS_2