Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Petualangan


__ADS_3

Arya menggenggam tangan Fatma dan ia kecup beberapa kali. Berharap Fatma terbangun menemaninya.


Setelah menunggu beberapa saat. Barulah Fatma ada terlihat pergerakan dari tubuhnya, perlahan membuka kelopak matanya dan melihat ke arah Arya yang menatap mesra ke arahnya.


Bibir Fatma mengulas senyuman yang indah pada Arya dan netra nya bergerak mencari keberadaan Rania. "Rania mana?" dengan suara parau nya.


"Bersama Dewi," sahut Arya sembari menempelkan dagunya di punggung tangan Fatma.


"Oh," kembali memejamkan matanya mengumpulkan kesadaran, rupanya ia tidur begitu nyenyak sekali.


Arya yang tidak bosan, terus memandangi wajah cantiknya sang istri. "Istri Aa kalau bangun tidur lebih terlihat cantiknya ya? cantiknya lebih natural gitu."


Fatma menggeleng dibarengi dengan senyuman simpul. "Ngegombal. Ada maunya apa?" seraya memicingkan sebelah matanya.


"Ha ha ha ... tau aja, tapi asli kok." Arya membaringkan tubuhnya di samping Fatma.


Fatma meringsut ke dalam pelukan Arya lantas menempelkan pipinya di dada Arya. ''Aku akan merindukan mu."


"Merindukan gimana sayang? aku di sini bersama mu." Arya mengelus rambut Fatma.


"Nanti bila kita berjauhan, aku pasti merindukan mu." Lirih Fatma sembari menggerakkan jemarinya di dada arah menari-nari di sana.


"Aa juga pasti merindukan istri, Aa yang cantik ini. Kangen segalanya, senyumnya! sentuhannya. Cara memanjakan ku gimana." Arya berucap lembut.


Fatma mendongak dan menatap dengan sangat lekat. "Gimana kalau aku rindu?"


"Telepon! sayang ... kini bukannya jaman dahulu kala yang katanya ngasih kabar sama keluarga itu melalui surat yang lama sampainya. Kini jaman sudah canggih, biar star negara! bisa langsung bertegur sapa dan bertatap muka," ujar Arya panjang lebar.


"Iya sih, ah ... takut kangen! kalau pengen gimana?" tanya Fatma dengan nada manja.


"Em ... pake alat, di toko banyak alat gituan. Hi hi hi ..." Arya nyeleneh.


Plakh!

__ADS_1


"Apaan sih? kalau dengan begitu bisa puas? ngapain punya pasangan?" tangkap Fatma setelah memukul pelan tangan Arya pelan.


"I-iya kan buat selingan ketika gak ada pasangan kali! dari pada berzina mungkin." Tambah Arya.


"Kalau kecanduan terus gak butuh pasangan? emang enak? salahkan pasangannya yang menyarankan itu." Lanjut Fatma lagi.


"Nggak-gak, jangan ah. Aku cuma bercanda, sabar aja nanti juga pasti ada pertemuan." Cuph! Arya mencium kening Fatma dengan durasi yang cukup lama.


Fatma memejamkan kedua manik matanya menikmati kecupan hangat dari Arya.


"Sembarangan deh! kita yang normal-normal aja ah." Gumamnya Fatma.


Arya kembali mengecup pipi kanan dan kiri lanjut kening dan berakhir di bibir pasangan mainnya. Lama ... di sana sehingga menimbulkan kembali hasrat yang lebih dari itu.


Keduanya menikmati kebersamaan di pulau ini dan bersiap rajin-rajin menyemai benih terbaiknya. Menanam bibit unggul agar menghasilkan yang terbaik di ladang yang terbaik juga.


Tatapan Arya yang tampak sangat menginginkan Fatma, langsung menyambut baik dan begitu welcam dengan keinginan Arya tersebut.


Tidak berasa sempurna, bila langsung masuk ke gua yang berada di hutan tersebut. Tanpa menikmati indahnya pegunungan yang bikin senam jantung tersebut.


Walau napas dibuat memburu, jantung dibuat berdegup sangat kencang! namun kepuasan yang di dapat, dengan usaha yang membuahkan hasil kenikmatan tiada Tara itu sungguh sangat sempurna.


Sebuah petualang yang membutuhkan adrenalin yang tinggi, untuk bisa menikmati pulau kecil yang penuh dengan madu, dan keberadaannya Hanya ada di sebuah gua di dalam hutan belantara tersebut.


Setelah Arya puas bermain di pegunungan, yang bedanya. Biasanya kalau bermain di sebuah pegunungan bikin hati tenang dan adem ayem, namun ini malah kebalikannya. Membuat hati terus berdebar, jantung seakan mau melompat dari ketinggian.


Dag-dig-dug. Tak menentu, tidak sabar untuk segera sampai di tempat tujuan, dalam sebuah perjalanannya menuju gua tersebut sangatlah mulus. Tidak ada halangan apapun ketika melewati hutan yang pohon-pohon nya nan rimbun bikin sejuk yang yang memandang.


Sesudah sampai di tujuan, Arya terdiam sejenak di pintu gua tersebut. Memandangi lembah yang sebentar lagi ia nikmati keindahannya, dengan napas yang kian memburu bibir Arya tersenyum lebar. Rasa keinginannnya meledak-ledak, meronta untuk segera menyelam di sana.


Tidak lagi membuang-buang waktu. Arya langsung menyelam di sebuah lembah tersembunyi, yang tidak sembarangan orang boleh menjamahnya. Cuma orang-orang tertentu lah yang bisa menikmati keberadaannya.


Hening!

__ADS_1


Sesekali suara napas yang terdengar maraton. Sesekali Arya pun berteriak saking senangnya bisa bergerak bebas, lepas tanpa ada hambatan ataupun gangguan dari sekelilingnya.


Kini tubuh Arya basah kuyup tanpa air keran ataupun air hujan, melainkan keringat yang bercucuran. Dia sangat kelelahan dari perjalanannya barusan.


Fatma apalagi, dia lemas tidak berdaya. Lesu, lelah, puas. Bahagia bercampur menjadi satu. Bibirnya terus tertarik ke samping menunjukan sebuah senyuman yang penuh kebahagiaan.


Arya menoleh menunjukan raut wajah yang sangat bahagia pula, dia melapaskan sesuatu dari tempat persembunyian yang mengasyikan. Lalu menjatuhkan tubuhnya menempelkan kepala di tumpukan bantal yang empuk.


Pandangan terlepas ke jendela kaca besar yang memperlihatkan sebuah pemandangan laut dan hijaunya hutan di sebelahnya.


Sejenak tidak ada perbincangan di antara keduanya selain suara napas dari keduanya yang belum terkontrol. Sehingga terdengar masih memburu.


Fatma cuma meringsut memeluk tubuh pria yang memiliki perut sixpeks itu. Dengan selimut yang terjepit dibawah ketiaknya, Fatma tidak mau jauh dari sang suami.


Hari ini Fatma hanya ingin terus bersama sang suami di dalam kamar tanpa ada yang menggangu. Tanpa mau keluar buat jalan-jalan.


Ponsel Fatma terus berdering, chat dari Zayn yang menanyakan kenapa tidak jalan-jalan menikmati alam. Hanymoon itu untuk menikmati keindahan sekitar! bukan cuma duduk di kamar, kalau buat itu sih bagaian hanymoon jauh-jauh? sudah aja di rumah sendiri 24 jam nonstop di kamar. Gak harus keluar biaya.


Fatma dan Arya cuma saling melempar senyuman membaca chat tersebut.


"Terserah Zayn mau bicara apa ah? yang penting kita berdua happy di sini." Arya lantas mengecup mesra kening sang istri yang mengangguk setuju.


Kemudian telapak tangan Arya bergerak mengarah ke perut Fatma yang rata itu, di usapnya pelan seraya berkata. "Semoga benih ku segera tumbuh di sini, menjadi anak yang sehat, lucu yang membuat gemas papa, mamanya."


"Anak yang baik, pinter Sholeh dan membanggakan orang tua. Bangsa dan agama juga," tambah Fatma sambil memegangi tangan Arya.


"Iya, itu kan bila sudah besar. Masih baby tentunya cukup membuat orang tua nya bahagia," lanjut Arya sembari menempelkan bibir di pipi sang istri ....


.


.


Ayo siapa yang lebih suka author menceritakan Arya dan Fatma saja? angkat jempolnya.

__ADS_1


__ADS_2