Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Ke rumah Fatma


__ADS_3

"Em, Ndak usah, Umi. Jangan repot-repot." Cegah Fatma namun umi tetap berjalan meninggalkannya.


"Oya, Neng Farm sama siapa ke sini? suaminya mana?" tanya Abah yang jelas-jelas tidak tahu kalau Fatma seorang janda.


"Eeh--"


"Ooh. Pasti dia sibuk ya." Lanjut Abah.


Kemudian Abah pamit untuk salat isya. Umi mengantar minuman buat Fatma, kemudian menyusul suaminya tuk salat bersama.


Arya yang baru saja selesai mandi. Tengah mengenakan pakaiannya sembari kepikiran Rania yang pasti penunggu kedatangannya saat ini.


Setelah rapi dan wangi. Arya menatap dirinya di cermin lalu mengayunkan langkahnya keluar kamar. Mau menghampiri Fatma namun terdengar suara Fatma dari balkon.


"Sayang ... om nya capek. Tolong mengerti! lain kali saja ya?" suara Fatma yang terdengar oleh Arya. "Sayang, jangan ngambek! ngerti dong ...."


Fatma menyimpan ponsel ke sakunya, lalu membalikan badan dan melihat Arya yang sedang berdiri menatapnya. "Sudah mandinya?"


"Belum, ini masih berendam," sahut Arya sekenanya dan mulai normal tidak terlalu seperti tadi lagi.


Fatma menggerakkan bola matanya jengah. "Ngarang."


"Emang, tau sudah berdiri di sini. Rapi, wangi. Masih bertanya!" Arya mengayunkan langkahnya ke dekat Fatma.


"Basa-basi." Fatma menggeleng sembari mengulum senyumnya.


"Rania ya?" Arya menempelkan kedua sikunya di pagar balkon. memandang jauh menatap langit yang gelap namun tak lagi mencurahkan hujan.


"Iya, merajuk." Fatma mengalihkan pandangan ke ain arah. "Kamu tampak capek sekali. Jadi lain kali saja ketemu Rania nya ya?" sedikit melirik lalu melihat ke arah semula lagi.


"Nggak, sekarang aja yu?" Arya membagikan badan dan mengayunkan langkahnya.


"Ke mana?" tanya Fatma. Tidak mengerti.

__ADS_1


"Ke rumah, kasihan Rania menungguku terus." Arya menghentikan langkahnya menoleh ke arah Fatma yang masih berdiri di tempat.


"Tapi, kamu capek. Apalagi dengan kejadian tadi, kamu pasti shock. Jadi istirahat saja." Lirih Fatma kembali, tak tega melihat lelahnya Arya.


"Nggak pa-pa, yu berangkat?" ajak Arya menggerakkan kepalanya.


Fatma tidak segera berjalan mengikuti Arya melainkan tertegun di tempat.


Arya memandangi Fatma yang yang terlihat bengong. "Betah ya di sini? atau perlu aku gendong?"


"Aish ... apaan sih?" gumam Fatma sambil membawa langkahnya berjalan.


Langkah Arya terhenti. "Tunggu? aku mau salat dulu dan mengajak Abah sama umi."


Fatma menoleh dan mengangguk, ia memilih duduk di sofa semula ia duduk.


Arya mendorong handle pintu, tampak umi dan Abah baru selesai salat. "Assalamu'alaikum? Abah, Umi. Kita berangkat sekarang!"


"Kemana, A?" tanya uminya menatap lekat pada Arya.


"Yang bener A? AA itu kan capek. Gak pa-pa lain kali saja, lagian sudah ketemu sama Neng Fatma nya juga," ungkap sang bunda sambil melipat alat salatnya.


"Iya, bener kata Umi, AA pasti capek. Belum istirahat." Timpal Abah membenarkan perkataan istrinya.


"Nggak pa-pa, Abah. Umi, AA bisa istirahat sepulang dari sana." Arya menunjukan senyum tipisnya.


"Ya udah atuh, Bah. Ayo kita berangkat? kita siap-siap dulu." Umi beranjak.


"AA juga, mau salat isya dulu." Arya mengayunkan langkah kaki menuju kamarnya.


Fatma menunggu sambil duduk di sofa, chat dari nomor sang bunda terus masuk ke ponselnya. Rania terus merajuk ingin bertemu dengan Arya. Fatma menggeleng. "Ya ampun sayang ... Sampai segitunya."


"Siapa, Neng?" tanya umi Santi yang baru muncul di tempat tersebut.

__ADS_1


"Oh. Ini putri saya," sahut Fatma sembari menoleh ke arah umi.


"Ooh iya, putrinya ya Allah ... lucu, bikin gemes, geulis pisan. Umi pengen ketemu," ucap umi sangat antusias membicarakan Rania.


"Abah juga suka sama anak itu. Padahal belum pernah ketemu," akunya Abah Yadi nimbrung.


Di saat mereka mengobrol, Arya datang sambil memasang jam di tangannya yang berbulu itu. "Yu, nanti terlalu malam?"


Kemudian mereka pun keluar dari unit tersebut. Berjalan menuju lift yang tidak jauh dari unit tersebut.


Namun sebelum masuk pintu lift. langkah Fatma terhenti. "Aduh," gumam Fatma sambil mengangkat kaki melepas sepatunya.


"Kenapa?" tanya Arya menoleh ke arah Fatma yang membuka sepatunya.


"Sakit, lecet. Tumben kok lecet gini." Fatma menenteng sepatunya.


"Eleuh-eleuh kasian atuh, Neng Fatma gak pake alas kaki, A." umi menatap ke arah Arya.


"Ya, sudah. Nanti di bawah beli di swalayan, gak pa-pa kan? buat sementara aja." Arya melirik Fatma sekilas lalu meminta sepatu Fatma untuk ia bawa.


Kepala Fatma menggeleng seraya berucap. "Nggak pa-pa."


"Iya, nanti AA, belikan. Kasian, Neng Fatma nyeker begitu.


"Nyeker? apaan tuh?" tanya fatma setelah mereka memasuki lift, ia tidak mengerti apa artinya nyeker.


Arya menekan tombol tujuan. Lalu menoleh sebentar. "Tidak beralas kaki."


"Artinya nyeker?" selidik Fatma lagi.


"Iya, seperti itu." telunjuk Arya menunjuk kaki Fatma yang polos yang terlihat jenjang sebab kebetulan ia cuma mengenakan rok span di bawah lutut sedikit ....


****

__ADS_1


Aku akan dengan senang hati, bahagia bila banyak yang komen. Aku suka senyum-senyum membacanya terima kasih🙏


__ADS_2