
Suasana di Mension sudah begitu ramai, para undangan sudah pada nampak hadir. Dari mulai kerabat, pembisnis. Pejabat dan para sahabat.
Fatma sang pengantin ala timur tengah, nampak sangat cantik, anggun dengan gaun panjang yang kali ini menempel di tubuhnya.
Bukan cuma itu saja, yang biasanya Fatma memperlihatkan rambut nan indahnya, kini sangat berbeda dari biasa. Sekarang rambut Fatma tertutupi dengan balutan kerudung dan kain kasa yang panjangnya sampai ke lantai. Tidak lupa sebuah mahkota pun melekat di atas kepala nya.
Begitupun dengan Arya dengan penampilan pangeran Arab yang tampan dan gagah. Bersanding dengan sang istri, Fatma di pelaminan bak raja dan ratu duduk di sebuah singgasana yang berhiaskan emas.
Di dampingi oleh beberapa selir yang cantik-cantik namun tetap sopan dalam penampilannya. Dan Rania menjadi putri kecil yang menyita perhatian dengan gayanya bak princess itu.
Kue pengantin yang tinggi menjulang. Berhiaskan pernik-pernik yang indah, siap itu di potong dan dihidangkan.
Di samping kursi-kursi para undangan, berjejer pula meja yang berisi hidangan dengan ratusan menu, Dari mulai daerah sampai hidangan Luar Negeri. Tersedia di sana.
Beberapa gunungan buah tertata rapi, sehingga berbentuk gunung-gunung yang tinggi. Minuman gelas dari mulai air putih, teh sampai air juse berbaris rapi dimeja panjang tersebut.
Di iringi dengan musik gambus yang menghibur para undangan. Yang turut bahagia dengan kebahagian Arya dan Fatma.
"Selamat ya? semoga menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah." Doa dari orang-orang yang mengucapkan selamat pada Fatma dan Arya.
"Terima kasih? atas kedatangan dan doa nya!" balas Fatma dan Arya.
"Terima kasih." Fatma bergumam ramah.
"Selamat ya? semoga di kasih baby secepatnya."
"Terima kasih!"
"Wah ... malam pertama yang ke sekian kalinya nih?" ucap kapten Wisnu sambil berjabat tangan dengan Arya.
"Ha ha ha ... sudah ratusan." Jawab Arya sambil tergelak.
"Aduh, kalah dong saya, dalam satu bulan lebih bisa ratusan. Saya aja gak nyampe! bisa-bisa kering duluan tuh sumur, ha ha ha ..." timpal Wisnu.
"Kalian ngomong apaan sih? Aa jangan di denger, kapten. Bohong," Timpal Fatma seraya mendelik ke arah sang suami.
Keduanya malah tertawa renyah. Lalu di susul oleh istrinya kapten Wisnu.
"Selamat ya? cepet dapet momongan ya?" istri kapten Wisnu memeluk Fatma cium pipi kanan dan kiri.
"Makasih ya?" Fatma dengan menunjukan senyumnya.
Disusul oleh yang lainnya para pramugara dan pramugari, pilot-pilot yang lainnya yang turut hadir di acara itu.
Usai memberi selamat kepada kedua mempelai. Kemudian para tamu pun bersalaman dengan keluarga kedua mempelai tersebut, yang wajahnya tampak sumringah tampak sangat bahagia sekali dalam acara ini.
Setelah lelah menerima tamu. dengan ucapan selamat. Kini waktunya melempar bunga dan konon katanya siapa yang bisa menangkap bunga tersebut akan seger menyusul, entah fakta entah cuma mitos belaka.
Arya dan Fatma sudah berancang-ancang melempar bunga pengantin yang dominan bunga berwarna putih itu ke para undangan, yang memburu pastinya pria dan wanita yang masih jomblo sudah bersiap untuk menangkap bunga tersebut.
Satu, dua. Ti ... ga. Arya dan Fatma melempar bunganya dengan semangat. Yang menantikan bunga tersebut pada menjerit, riuh. Ramai dan ingin berebutan bunganya, Tetapi yang mendapat bunga itu adalah Sultan.
Sultan bengong seakan tidak percaya kalau dia yang pertama kali menangkap bunga tersebut. "Wah ... gue yang dapat."
"Buat gue, lah buat gue?" pinta teman-teman yang lain seraya merebut bunganya. Namun dipegang kuat oleh Sultan yang tidak rela bila harus memberikan pada orang lain.
Kemudian Sultan berjalan mendekati Dewi yang sedang berada dekat dengan keluarganya. Lalu Sultan berlutut menyodorkan buket bunga pengantin tepat di depan Dewi+Abah dan umi dan juga yang lainnya.
"Dewi. Mau kah kamu menjadi istriku? ibu dari anak-anakku?" tanya Sultan dengan tatapan penuh harap.
Dewi tertegun melihatnya. Tidak percaya Sultan dengan beraninya berlaku seperti itu di hadapan orang banyak. Dan ini kali kedua dengan malam kemarin.
Mulut Dewi menganga yang ia sembunyikan di balik kedua telapak tangannya. Kedua netra nya berkaca-kaca berasa haru. "Ya ampun!" batinnya Dewi seraya melirik ke arah Abah dan umi.
Mereka hanya mengulas senyuman pada Dewi yang tampak gugup. Telapak tangannya mendadak keluar keringat dingin. "Masya Allah ..." lantas Dewi mengangguk dan mengambil bunganya.
Sultan berdiri dan menarik tangannya seraya berkata. "Yes!" Betapa bahagianya hati Sultan saat ini.
"Terima kasih, Dewi. Dewi di hatiku dan akan menjadi permaisuri untuk selamanya." Sultan tak berhenti tersenyum.
Kini saatnya Arya dan Fatma memotong kue pengantin yang menjulang tinggi tersebut. Tangan Arya dan Fatma memegang pisau kue yang panjang agar bisa mencapai ujung.
Semua bertepuk tangan memberi semangat pada pengantin itu untuk segera memotong kue.
__ADS_1
"Rania mau? mau?" rengek Rania.
"Iya, sayang sebentar." Fatma menoleh ke arah sang princess yang berdiri tidak jauh dari dirinya.
"Sini? Papa gendong. Rania yang potong dari atas ya?" Arya segera menggendong tubuh mungil anak itu dan menyerahkan pisau kue biar dia pegang bersama mamanya.
Semua tamu kembali bertepuk tangan, lalu potongan pertama tentunya buat seseorang yang teristimewa di hati.
Fatma mengambil potongan kecil lantas ia berikan pada Arya dan Rania. Begitupun Arya menyuapi Fatma dan Rania bergantian. Kebahagian kedua begitu nampak, si kecil pun begitu menikmati hari-hari nya bersama ayah sambung yang amat menyayanginya itu.
Para tamu menikmati semua hidangan yang tersedia dia sana. Termasuk kue pengantin yang dengan cepat raib dengan cepat tinggal sedikit lagi. Tidak luput para tetangga yang Fatma undang dari kalangan orang biasa pula. Berbaur dengan orang-orang penting dari kalangan menengah ke atas.
Musik gambus terus mengiringi, menghibur para undangan yang sedang makan, ada juga yang turun berjoget ria dan menyumbangkan suaranya bernyanyi yang mereka bisa. Walaupun bukan lagu Arab.
Artis ibu kota yang pandai bernyanyi lagu-lagi Arab pun sesekali bercengkrama dengan para tamu yang meminta lagu dari sang biduan.
"Sayang tampak sangat cantik memakai kerudung seperti itu, jadi yang lihat dalamnya hanya Aa saja." Arya menatap intens ke arah sang istri yang tersipu malu.
"Jadi?" tanya Fatma, membalas tatapan Arya dengan sangat lekat. Tangannya menggenggam erat tangan Arya.
"Maksudnya?" Arya kurang mengerti.
"Jadi, maunya gimana? mau aku pakai kerudung atau gimana?" tanya Fatma dengan tetap saling tatap dengan Arya.
"Em ... Aa sih terserah gimana istri, Aa yang cantik ini saja. mau pake syukur, buka tutup boleh. Yang penting tidak terlalu seksi saja, sebab kalau penampilan seksi Aa orang pertama yang tidak rela."
Emang, selama ini, aku suka berpenampilan seksi gitu? perasaan wajar-wajar saja kok," jawab Fatma.
"Iya, wajar kok masih sopan. Cuma di depan Aa saja yang tidak sopan he he he ..." Arya terkekeh dengan mata mengedar para undangan yang tampak happy.
"Tapi suka kan ... bohong banget kalau gak suka," ucap Fatma sembari senyum simpul.
"Suka dong, siapa yang tidak suka.'' Goda Arya.
"Em, mau makan apa?" Fatma mengalihkan obrolannya dengan Arya.
"Mau makan kamu." Bisik nya.
Fatma geram dan mencubit paha Arya. "Dasar!"
"Bodo ah, Rania mana ya?" netra Fatma celingukan.
Acara berlangsung sampai malam tiba, dan akhiri dengan ceramah seorang ustaz terkenal dari Bandung. Dengan tema ceramah bab nikah yang ngena di hati. Orang-orang begitu mendengar ceramahnya tampak serius namun dihiasi senyuman mendengar isi ceramah itu.
Malam pun semakin larut, jarum jam sudah menunjukan pukul 22.00 wib. Dan acara pun berakhir. Tamu berangsur pulang, Arya dan Fatma berdiri menerima tamu yang berpamitan.
Rania yang kecapean sampai-sampai tertidur di pangkuan Susi. Dan Susi segera membawa ke kamarnya.
"Kamarnya mana sih?" tanya Susi yang menggendong Rania.
Sementara Zayn hanya berpangku tangan dan menunjukan kamar Rania.
"Dasar Zaylangkung. Melihat istri kerepotan! bukannya di bantu malah berpangku tangan saja. Daras aneh suami aku ini. Gimana mau punya anak kalau kaya gitu?" gerutu Susi sambil. berjalan.
"Sini, aku yang bawa? bisanya menggerutu saja. Aneh punya istri mulutnya banyak." Zayn meminta Rania dari Susi.
Namun Susi kekeh dan terus berjalan. "Nggak usah, sudah dekat dan tinggal beberapa langkah saja. Tadi gak mau bantu! sudah dekat mau bantu. Nanggung."
"Ya, sudah, jangan menggerutu." Zayn kembali berpangku tangan sambil berdiri melihat punggung sang istri.
"Gimana gak menggerutu? punya suami gak perduli gitu sama istri! aneh kan? bukain?" Susi berdiri depan pintu kamar Rania, namun pintu tidak kunjung dibuka.
Susi menoleh ke belakang dan dengan geramnya memekik. "Bukain pintu? malah bengong di situ? pegal nih.
Zayn yang beberapa meter dari Susi berlari membukakan pintu kamar Rania tersebut. Blakh!
Susi membawa Rania ke ranjangnya. Dibaringkan di sana dengan perlahan, tarik selimut menutupi sebagian tubuhnya Rania.
Kemudian Susi setelah puas melihatnya ruang kamar tersebut yang indah, Susi barulah berlalu pergi dari kamar Rania.
"Dekornya baguskan? pas buat anak kita nanti." Susi yang mengagumi interior kamar Rania.
"Iya, kita baut nanti." Balas Zayn sambil tersenyum.
__ADS_1
Kini tamu pun tinggal beberapa gelintir yang masih di sana. Arya dan Fatma sudah tampak lelah.
Lalu mereka berlalu, pergi meninggalnya pekarangan atau tenda yang dimana acara berlangsung sedari pagi sampai malam itu.
Semua masuk kamarnya masing-masing, Membuat suasana Mension mendadak sepi tinggallah orang-orang dari WO yang membereskan peralatan tenda dan asisten rumah tangga.
Arya langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, badan terasa lelah. Pegal-pegal di sekujur tubuh, sementara Fatma mendekati lemari besar untuk menyiapkan pakaian malam.
Manik mata terasa sangat ngantuk, perih dan sakit. Namun tubuhnya yang perlu lebih perhatian. Berasa lengket dan tidak kuat bila harus tidak membersihkan diri lebih dulu sebelum tidur.
Lalu Fatma membuka gaunnya, satu persatu, sesekali netra nya melirik sang suami yang terlentang dengan kedua kaki menyampai ke lantai. Matanya terpejam berbantalkan kedua tangan.
Fatma membawa langkahnya ke kamar mandi dengan hanya menggunakan tank top dan celana pendek saja. Di tangannya terdapat pakaian malam.
Manik mata Arya yang lelah masih sempat melihat sang istri dari belakang. Dia menelan saliva nya melihat penampilannya Fatma yang menggairahkan, namun lelahnya begitu terasa sehingga malas ngapa-ngapain untuk saat ini.
Kemudian Arya bangkit untuk mengganti pakaian yang sudah Fatma siapkan barusan. Namun yang ia pakai seperti biasa cuma bawahannya saja. Toh dia kalau tidur cuma bertelanjang dada, jadi gak perlu pakaian ganti.
Setalah itu Arya kembali naik ke atas tempat tidur, membaringkan dirinya. Di atas tempat yang besar tersebut.
Beberapa kali menguap pertanda ngantuk sudah menyerang dirinya. Matanya pun berair akibat menguap.
Setelah beberapa saat Fatma muncul dari balik pintu kamar mandi dengan mengenakan pakaian tidur favoritnya, yang terbuat dari bahan satin merah jambu, selutut.
Arya yang sudah mulai terpejam sesaat membuka mata melihat sang istri yang tampak segar tersebut.
"Mandi dulu sayang?" suara Fatma sambil duduk di kursi depan cermin riasnya.
"Hem, aku ngantuk banget sayang. Aku ingin istirahat dulu." Gumam Arya sambil memejamkan matanya.
"Tapi badan Aa pasti lengket. Gerah. Orang seharian kan?" sambung Fatma sambil menyisir rambutnya.
Namun setelah sekian lama, tidak ada sahutan atau
pun pergerakan dari Arya. Membuat Fatma menoleh dan tampak Arya memejamkan mata, sepertinya dia benar-benar lelah.
Perlahan Fatma mengayunkan langkahnya mendekati ranjang yang ada sang suami, tampak nyenyak sekali. Lalu merangkak naik, berbaring di samping sang suami.
"Hem ... bukannya mandi dulu biar segar." Gumamnya Fatma sembari menatap lekat wajah sang suami. Cuph! Fatma mengecup kening dan pipi Arya.
"Hem, aku ngantuk benget sayang. Jangan ganggu dulu? Aku gak kuat." Suara Arya berat tanpa membuka matanya sama sekali.
Akhirnya mereka berdua tertidur tanpa aktifitas yang signifikan selain tidur, saling berpelukan satu sama lain.
Beberapa hari dari acara itu, kini Arya dan Fatma bersiap untuk perhi hanymoon. Ke suatu pulau dan tidak lupa mengajak Rania si putri kecilnya.
Zayn dan Susi pun ikut serta sekalian hanymoon juga. Rania di temani sama Dewi Mereka biar ada temannya.
Tadinya mau mengajak orang tua kedua belah pihak. Namun mereka menolak dengan alasan takut mengganggu.
"Ye-ye-ye ... Rania mau ke Lombok. Mau ke Bali juga, asyik mau jalan-jalan. Akhirnya mau jalan-jalan sama Mama dan Papa." Rania berjingkrak senang.
"Iya, pakaiannya sudah di siapkan belum?" Arya mengusap kepala Rania.
"Sudah dong ..." jawab Rania lalu memeluk boneka nya dengan erat.
Arya mengedarkan pandangan ke arah orang tua dan mertua. "Yakin, kalian gak mau ikut?"
"Nggak, Umi dan Abah besok juga mau pulang ke Bandung. Jadi kalian saja lah. Biar leluasa!" Umi menatap anak dan mantunya tersebut.
"Iya, bener! kalian saja lah. Biar kami di sini saja. Semoga kalian membawa kabar baik nanti pulangnya, Ya Umi?" Bu Wati menoleh ke arah Umi Santi.
"Ooh, Aamiin ya Allah." Timpal umi kembali.
Degh!
Fatma merasa gimana gitu bila mendengar berkaitan dengan baby. Sebab yang mereka bincang kan tentunya tentang dirinya.
Lalu berpamitan Fatma berpamitan saling peluk dan saling mendoakan.
Arya berjalan menarik kopernya, yang sebelumnya mencium tangan orang tua bergantian. begitupun Zayn dan Susi yang tidak lupa berpamitan pada Abah dan istri juga pak Wijaya serta istri juga.
Setelah semua berada di dalam mobil masing-masing, dengan cepat ada yang menghentikan mobil tersebut ....
__ADS_1
****
Kunjungi juga karya ku yang berjudul "Gadis Satu Milyar ku"