
"Sini! aku yang bawakan, Nyonya." Suara Adi mengagetkan Fatma.
Fatma menatap heran pada kedua bodyguardnya. "Kalian? saya gak suruh kalian mengikuti saya! saya di sini sama suami saya. Jadi gak perlulah kalian ikuti saya, kecuali kalau suami saya sedang keluar dan atau sedang urusan kerja."
Kedua bodyguardnya itu mengangguk faham. "Tapi, biarkan kami sekarang mengantar anda sampai ke unit suami anda. Setelah itu kami akan pergi, hubungi kami kalau anda membutuhkan kami berdua."
"Baiklah, sebentar!" Fatma merogoh tas kecilnya. Lalu mengambil sejumlah uang. "Ini. Buat kalian berdua."
"Terima kasih Nyonya?" ucap Adi dan temannya seraya mengangguk hormat.
Lalu mereka berjalan di belakang Fatma melewati lobby memasuki lift, jari Fatma menekan beberapa tombol yang ada di dinding.
"Kami akan mengantar anda sampai ke unit apartemen. Setelah itu barulah kami akan pergi." Jelas Adi.
"Oke, terima kasih! Oya jaga mension baik-baik." Timpal Fatma mewanti-wanti.
"Baik, Nyonya." lagu lagu Adi dan temannya mengangguk.
Setalah sampai di depan unit Arya bodyguard pun tak serta-merta meninggalkan Fatma, sebelum memastikan Fatma masuk ke dalam, sebab. selamat.
Sebab Fatma belum tau nomor sandi atau akses unit tersebut. Fatma cuma bisa membunyikan bell saja. Tidak lam Arya dan Rania membuka pintu.
Rania langsung menyambut sang bunda dengan pelukan hangat penuh rindu, Rania mendongak. "Mam, Rania kangen."
"Kangen? wih ... baru beberapa jam terpisah, sudah bilang kangen aja." Fatma menuntun Rania masuk.
Arya menarik dan membawa koper besar serta tas sekolah Rania. Langsung di bawanya ke kamar.
Fatma duduk dengan Rania di sofa. "Rania betah di sini hem?"
"Betah, Mam. Aunty Mia mana? kok gak ikut?" Rania menanyakan Mia.
"Em ... aunty Mia sudah pindah kerja sayang. Dia mengurus baby Dani di Bekasi," sahut Fatma sambil mengusap kepala Rania lembut.
"Terus yang ngasuh Rania siapa dong?" mata bening anak itu menatap lekat pada sang bunda.
"Sayang ... Rania sudah besar lho, bisa mandiri juga jadi gak harus di asuh sama aunty Mia lagi--"
"Ingat ya, kalau Papa gak kerja, Rania sama Papa antar jemput nya kan? dan kalau Papa kerja sama pak Dudin dan ada banyak asisten di Mension. Rania tinggal pilih saja." Arya memotong kalimat dari Fatma.
"Em ... gitu ya? terus besok, Rania sekolah sama siapa dong?" netra mata Rania menatap Fatma dan Arya bergantian.
__ADS_1
Arya dan Fatma saling lempar pandangan sesaat. Kemudian Arya yang menjawab. "Besok ... insya Allah sama Papa."
"Hore! ...aku sekolah sama Papa, ye-ye-ye ..." anak itu bersorak.
Lantas Fatma melempar senyuman pada Arya lalu berdiri. Buat kamar Rania yang mana?" melirik ke arah Arya.
Terus Arya menunjukan sebuah kamar kosong yang akan di tempati Rania. Fatma masuk dan menyapukan pandangannya pada seluruh ruangan tersebut.
Lalu Fatma menyingsingkan lengan bajunya. Kini ia bersiap menata kamar Rania, mengganti seprei dengan motif kesukaan anak-anak. Terutama favorit nya Rania. Hello Kity berwarna ping.
Fatma menoleh ke arah Arya. "Aa, boleh minta tolong?"
"Apa sayang? buka koper barusan dan ambil seprei hello kity dan bawa ke sini."
"Oke," Arya keluar dari kamar tersebut.
"Rania ikut, mau bantu bawa seprei." Rania mengikuti Arya ke kamar pribadinya.
Fatma membuka seprei dan sarung bantal+gulingnya. Ia masukan ke keranjang. Untuk menggantinya dengan motif anak-anak. Tidak lama kemudian Rania membawa seprei dan Arya membawa tas dan keperluan Rania ke kamar itu.
Fatma merapikan tempat tidur luas itu buat Rania, dan Arya menata semua keperluan Rania di meja. Fatma melempar senyuman ke arah Arya dan sembari menepuk tangannya tanda selesai tugasnya.
"Ye-ye-ye, ye! sudah selesai, Rania mau bobo." Menjatuhkan tubuhnya, menempelkan pipinya ke bantal yang wangi dengan parfum yang sang bunda semprotkan.
"Em, Rania dah makan roti tadi sebelum Mama datang." Gumamnya sambil memejamkan matanya.
Netra mata Fatma beralih ke arah Arya yang masih menata buku Rania. "Apa benar, yang dikatakan Rania barusan?"
"Iya, aku mau masakan mie. Mintanya roti."
"Oh iya, ada stok apa di dapur?" Fatma turun menapakkan kakinya di lantai dan membawa langkahnya ke dapur. Diikuti oleh Arya.
Fatma ngecek isi laci-laci yang ada di dapur. Berjongkok membuka dan mengamati isi lemari pendingin. Kemudian Fatma mengeluarkan ayam, tempe dan tahu. Kangkung juga, ia bawa ke mana.
"Maaf ya? di sini tidak ada asisten rumah tangga? suara Arya yang membuat Fatma langsung menoleh.
"Kalau aku mau, bawa saja dari Mension. Beres!" balas Fatma sambil mengambil pisau dan beberapa wadah.
"Oya, aku mau Maghrib dulu ya? nanti aku batu sayang masak." Cuph! mendaratkan kecupan kecil di pipi Fatma.
Membuat bibir Fatma mengembang tersenyum bahagia. Arya masuk ke dalam kamarnya dan Fatma melanjutkan aktivitasnya. Bersiap berperang dengan wajan dan minyak panas.
__ADS_1
Sekitar 15 menit kemudian, Arya kembali mengenakan sarung menghampiri Fatma untuk membantunya masak.
"Bisa gak masaknya?" tanya Arya pada sang istri yang mulai menuang minyak ke wajan.
"Kau meragukan ku ya? memang benar sih, aku gak bisa masak dan agak takut dengan minyak panas, he he he ..." jawab Fatma tanpa menoleh.
"Ya, sudah. Sini Aa yang menggoreng." Arya mengambil alih posisi Fatma.
"Nggak, aku bisa kok. Tenang aja. Kalau mau bantu? potongin aja sayuran nya. Kalau kangkung beneran gak tau cara motongnya. Kalau masak bisa."
"Oke, Aa yang potongin kangkungnya. Oya kalau seandainya tiba-tiba terkena minyak panas atau tersiram air panas. Pertolongan pertamanya, gampang. Olesi saya kecap atau pasta gigi, insya Allah lebih mudah sembuhnya dan mengurangi menggelembung nya si kulit," ujar Arya.
Fatma mengangguk. "Oo! gitu ya? Kalau kena omongan tetangga, kan suka panas tuh, bisa pake kecap juga atau pasta gigi gitu?"
"Ha ha ha ... kalau soal itu, obatnya sabar. Atau jangan dengarkan orang tersebut."
"Hem ..." Gumamnya Fatma.
Hening!
Dengan kesibukan masing?masing. Hanya suara minyak yang dipake menggoreng yang terdengar suaranya dan suara sodet bertemu wajan.
"Au ..." suara Arya mendesis.
Membuat Fatma terkesiap dan langsung memutar badan menghadap ke arah Arya. Manik mata mendapati Arya memegang telunjuknya, sontak Fatma mendekat.
"Aa kenapa?" dengan nada cemas menyentuh tangan Arya.
Arya meringis dan terus menutupi jarinya. "Astagfirullah ... Sayang ...."
"Kanapa?" ulang Fatma sambil menatap khawatir dan berusaha melihat yang Arya tutupi.
"Jariku kena pisau sayang. Terhiris, sakit nih ..." jawab Arya dengan masih menutupi jarinya.
"Mana aku lihat?" Fatma menarik tangan Arya. Hatinya was-was tak karuan.
"Carikan plester sayang." Pinta Arya.
Fatma semakin panik. "Dimana plester nya?" manik mata Fatma mencari kotak obat yang sulit ia temui ....
****
__ADS_1
Tolong ya kalau ada tulisan yang tipo di kasih tahu ya🙏 jangan lupa like komen dan vote nya.