Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Kelelahan


__ADS_3

Rania tertegun, mengingat-ngingat sesuatu. "Mam, kayanya semalam aku mendengar sesuatu deh."


"Ha, mendengar apa?" selidik Fatma terheran-heran menatap putri kecilnya.


"Mama ngigau ya? semalam Mama bilang gini. Papa jangan cepet-cepet, Pah. Pelan-pelan. Mama pengap." Anak itu menirukan yang ia dengar semalam.


Degh!


Fatma menoleh ke arah Arya yang bengong, pipi keduanya memerah. Malu ternyata suara meracau fatma semalam terdengar oleh Rania.


"Apa Rania melihat sesuatu?" selidik Arya penasaran dengan hati dag-dig-dug tak menentu.


"Eu ... tidak, mata Rania terpejam. Nggak bisa di buka, Pah." Jawabnya rania.


Arya dan Fatma kembali saling lirik. " Terus Rania dengar apa lagi sayang?" tanya Arya kembali tambah penasaran.


"Nggak, gak denger apa-apa lagi. Rania nyenyak lagi Bobonya, itu saja yang Rania dengar Pah." Anak itu menggeleng.


"Ah ... Alhamdulillah." Gumam Arya seraya mengusap dadanya merasa lega.


Fatma hanya menatap ke arah Arya tanpa ekspresi.


"Tau gak sayang? Mama sama Papa kalau tidur suka ngigau lho, nah ... seperti itulah ngigau nya. Iya, kan Mam?" Arya melirik sang istri yang langsung memberi respon dengan anggukan dan sekilas senyuman.


Dada Fatma yang sempat melompat-lompat, khawatir Rania melihat atau mendengar lebih dari itu. Syukurlah cuma itu saja.


"Em ... Rania sekarang bangun lantas mandi. Nanti kita sarapan oke?" Fatma mengibaskan selimut yang Rania pakai.


"Oke," Rania mengangkat kedua tangannya minta diturunkan oleh sang bunda.


Setelah berada di lantai, barulah anak itu berlari ke kamar mandi, dengan riangnya.


"Hati-hati, jangan lari-lari, takut jatuh Nona." Cegah Arya.


"Huuh ..." Fatma membuang napas dari mulutnya sambil duduk memeluk selimut yang hendak dilipatnya itu.


Arya mendekat, duduk di samping sang istri. "Kenapa? gusar begitu?"


Kepala Fatma menoleh ke arah Arya. "Gimana gak gusar yang ... jantung ku berdebar gini. Aku kira Rania melihat semuanya, ternyata cuma mendengar itu saja, tapi tetap aja aku malu!" mengusap wajahnya kasar.


"Ha ha ha ... saking semangatnya. Padahal kita dah hati-hati, agar tidak di dengar orang lho." Arya malah tergelak tawa.


Fatma menggigit bibir bawahnya. Menatap sendu kepada suaminya. "Aa, sih boleh-boleh aja, jadinya begini."


"Lho, kok Aa yang disalahkan sih? kan sayang sendiri yang datangi Aa, kalau Aa yang datangi sayang atau memaksa. Barulah, Aa yang salah." Arya menjepit pipi Fatma dengan gemasnya.


"Akh, jadi gak enak hati." Keluh Fatma sembari melipat selimutnya.

__ADS_1


"Nggak pa-pa sayang. Sudah Aa bilang beneran ngigau kok--"


"Malu, Aa ... gimana kalau Rania cerita sama temennya?" Fatma tampak sangat gusar.


Arya mendekat dan merangkul seraya mengecup singkat keningnya. "Sudah. Jangan gusar gitu ah, santai aja."


Fatma hanya diam, melamun menatap kosong keluar jendela. Dadanya masih berdebar, berdegup kencang membayangkan bila anak itu melihatnya.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara.


"Pasti sarapan yang datang? biar Aa yang buka." Arya memudarkan rangkulannya lalu berjalan membawa langkahnya ke dekat pintu.


Blak!


Tampak pelayan hotel membawa dorongan yang berisi buat sarapan. Mengangguk hormat pada Arya yang mengulas senyumnya.


"Sarapan nya, Tuan?" menyodorkan yang dia bawa.


"Oh, iya biar sampai situ saja. Dan terima kasih ya?" Arya mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya buat insentif


Kemudian dia pamit mundur, menjauhi tempat tersebut. Sementara Arya membawanya ke dalam kamar setelah orang tersebut tiada.


Tangan Fatma menata hidangan di meja. Untuk sarapan bertiga sambil menunggu Rania keluar dari kamar mandi.


"Mama, Rania sudah beres mandinya. Tetapi pakaian Rania di kamar sebelah." Kedua mata bening Rania menatap sang bunda.


Fatma menoleh menatap Rania yang memakai handuk, yang ada di kamar mandi. "Yu sama Mama, kita berdandan di sana."


"Ayo, Mam, kita ambil pakaian Rania di sana!" Rania menarik tangan sang bunda.


"Aa, aku ke kamar Dewi dulu ya?" pamit Fatma menoleh ke arah sang suami.


"Iya, sayang, jangan lama-lama kita kan mau makan!" pinta Arya dengan lirih.


"Oke," Fatma keluar menuntun Rania yang hanya mengenakan handuk saja.


Arya menatap punggung keduanya dengan tatapan lekat. Lalu menyandarkan punggungnya di bahu sofa. Bermain ponsel yang berada di tangan.


Fatma membawa langkahnya


menuju kamar Dewi yang sudah tidak terkunci lagi itu. Dengan mudahnya Fatma dan Rania memasuki kamar tersebut.

__ADS_1


"Aunty? Rania sudah mandi dong wangi gak?" Rania menunjuk dirinya yang tampak wangi dan segar.


"Pantas, wanginya semerbak ..." sahut Dewi sambil mengendus bau wangi dari anak itu.


"Kamu mau sarapan dimana?" tanya Fatma pada Dewi yang sedang menyodorkan semua keperluan Rania.


"Dimana saja, Kak. Oya barusan Sultan mengajak ku sarapan di bawah, boleh gak?" Dewi menatap ke arah Fatma.


Fatma yang sedang mendandani Rania, mengangguk setuju kalau Dewi sarapan keluar bersama Sultan.


Kemudian Fatma dan Rania keluar dari kamar Dewi lantas kembali ke kamar Fatma.


Saat ini Arya dan Fatma juga Rania sarapan bersama. Di kamar bertiga, sesekali Fatma nyuapin Rania.


"Dewi sarapan di mana?" tanya Arya mengarah pada Fatma.


"Sama om Tatan, aunty Dewi sama om Tatan." Rania menyahut di sela-sela makannya.


"Oh," Arya singkat.


Selesai makan, mereka bersantai dan Arya bercanda dengan Rania. Bermain kuda-kudaan dan kucing-kucingan.


Sementara Fatma tiduran di atas tempat tidur sampai bener-bener tertidur.


"Iih, Mama malah bobo, kapan jalannya? ih ... bikin bete! gerutu Rania ketika melihat sang bunda tertidur.


"Mama capek kali sayang. Biar saja. Oya Rania mau jalan-jalan? sama om Tatan dan aunty sana." Kata Arya.


"Boleh, sama aunty jalan-jalan?" tanya Rania menatap ragu.


"Boleh dong, yu? Papa antar ke aunty Dewi." Arya beranjak merapikan pakaiannya.


"Yu, antar Rania ke kamar aunty?" tangan Rania menarik tangan Arya.


Mereka berdiri dekat pintu kamar Dewi setelah beberapa detik berjalan menuju kamar tersebut.


"Aunty?" panggil Rania.


Tidak lama menunggu pintu pun terbuka. "Eh, Nona gemoy. Yu masuk"


"Wi, nanti kalau Rania mau jalan-jalan ajak aja. Tapi kalian tidak cuma berdua kok, sama Sultan juga. Aa sepertinya gak enak badan dan kak Fatma juga kelelahan, jadi gak keluar dulu. Titip Rania ya?" ungkap Arya pada sang adik.


"Siap, Aa. Dewi ngerti, ayu sayang masuk? nanti kita jalan-jalan ke pantai sama om Tatan dan aunty Susi juga." Dewi mengalihkan pandangan pada Rania.


"Ayo!" Rania menanggapi dengan antusias dan senang mau jalan-jalan ke pantai.


"Rania. Papa balik ya ke kamar?" Arya membalikan badan membawa langkahnya ke kamar lagi.

__ADS_1


Arya masuk dan mengunci kamar rapat-rapat. Mendekati sang istri yang tampak lelap, cuph! kecupan singkat mendarat di pipi sang istri. Di tatapnya lekat dan rambutnya di belai lembut.


Sementara yang ditatap, tetap tak bergeming seolah tak merasakan sentuhan dari suaminya tersebut ....


__ADS_2