
''Nak Arya, titip Fatma ya?" bu Wati menatap ke arah Arya penuh harap.
"Em, insya Allah, Bu. Selama saya gak ada tugas akan menjaganya." Arya mengangguk dengan wajah ramah.
"Ibu, tidak tahu harus minta tolong siapa lagi? kerabat pada berada jauh. Ayahnya juga seperti itu," ucap Bu Wati sembari menghela napas panjang.
"Nggak pa-pa Bu, saya akan menjaganya selagi saya bisa. Kebetulan dalam beberapa hari ini saya kosong jadwal, kecuali ada yang mendadak." Arya meyakinkan Bu Wati dengan kata-kata yang cukup menenangkan.
"Oma cepetan ... Rania dah ngantuk nih!" pekik Rania yang berada dalam gendongan pengasuhnya, Mia yang berada beberapa meter dari tempat bu Wati dan Arya berdiri.
Bu Wati menoleh sebentar. "Iya sayang, iya. Ya sudah, saya mau pulang dulu. Yu Nak Arya. Assalamu'alaikum?"
"Wa'alaikum salam," balas Arya sambil melambaikan tangan pada Rania yang juga melambai.
Setelah, mereka hilang dari pandangan. Arya masuk dan menutup kembali pintunya, melangkahkan kaki menuju sofa. Sekilas netra matanya melirik pada Fatma yang tampak gelisah.
Tangan Fatma meraih alat tuk memanggil suster. Ia merasa ingin ke toilet, rasanya risih mau meminta tolong sama Arya.
"Kak, ada yang bisa aku bantu?" tanya Arya setelah melihat tangan Fatma menggenggam alat itu.
"Ha!" Fatma terkesiap dan seketika menoleh ke arah Arya. "Mau manggil suster."
"Mau apa? ke toilet? aku bantu ke sana." Arya mendekat.
"Ta-tapi, gak usah. Aku malu dan biar panggil suster saja." Tolak Fatma merasa gak enak.
"Nggak pa-pa, jangan takut. Aku antar sampai pintu saja!" Arya menatap lekat.
"Em ..." Fatma bimbang dan pada akhirnya ia mengangguk.
Bibir Arya tersenyum. Kemudian tak buang waktu lama lagi Arya menyibakkan selimut Fatma lantas menggendong tubuhnya. "Bisa gak bawa infusan nya?"
Fatma mengangguk dan tangannya sebelah melingkar di pundak Arya dan satunya membawa infusan, sesekali matanya melirik wajah Arya yang pandanganya fokus ke depan. jantung Fatma dag dig dug tak karuan.
Begitupun Arya yang berusaha menyembunyikan perasaannya yang tak menentu, merasakan ada getaran aneh yang menjalar ke tubuhnya.
__ADS_1
Fatma diturunkan di dekat toilet dan Arya bergegas keluar sambil berkata. "Aku tunggu di depan pintu." Setelah keluar Arya menutup pintu rapat-rapat. Lantas terdengar suara air keran dari dalam.
Setelah berjongkok, Fatma bengong menatap dirinya di cermin, wajahnya pucat Pasih tanpa bedak sedikitpun. Kepala dibalut perban dan rambut berantakan, lalu tangan diangkat dan mengusap kasar wajahnya.
"Ya Ampun ... gini amat aku ini." Menatap intens dirinya yang mengenakan baju pasien Rumah Sakit. Lantas menyisir rambut dengan tangan dan mengikatnya supaya tak terlalu berantakan.
"Huh ... sekujur tubuhku rasanya remuk begini, sakit. Kepala berat bagai di tindih batu." Tangan Fatma pegangan kuat pada bibir wastafel, kepalanya pusing.
Arya berdiri di depan pintu sambil mondar-mandir dan meletakan tangan di dada. Dengan menunggu Fatma selesai, Hingga akhirnya Fatma membuka pintu dengan sangat pelan.
"Sudah?" tanya Arya sekilas menatap lalu menunduk, ia lihat penampilan Fatma agak rapi dari sebelumnya. Rambut pun di kuncir rapi, wajah sedikit segar habis dibasuh.
Fatma mengangguk dan hendak memaksakan melangkahkan kakinya keluar kamar mandi.
Namun Arya dengan cepat meraih tubuh Fatma dan membawanya kembali ke tempat istirahatnya.
"Makasih," ucap Fatma setelah berbaring lagi.
"Istirahat lah." Arya menyelimuti Fatma, kemudian ia berjalan mendekati sofa panjang dan berbaring di sana.
"Kak, aku ke mushola dulu ya?" ucap Arya sambil bergegas keluar kamar tanpa menunggu jawaban dari Fatma.
Fatma bengong melihat punggung pria yang usianya lebih muda darinya itu. Ia tatap sampai pintu tertutup.
Helaan napas terlihat jelas dari gerak dadanya dan membuangnya melalui hidung.
Playback
Setelah kepergian bi Ina dari kamar Fatma. Fatma memejamkan matanya merasakan semua rasa sakit di tubuhnya.
Dengan tiba-tiba Fatma merasakan ada yang aneh, lalu membuka kelopak matanya perlahan.
Seiring dengan gumaman seseorang. "Mati kau, wanita wanita sialan!"
"Mau apa kamu ke sini? keluar atau aku panggilkan scurity. Cepat keluar!" mata Fatma melotot pada Aldian sambil berusaha menggeser tubuhnya menjauhi Aldian yang memegang benda tumpul.
__ADS_1
Fatma berusaha turun dari tempat tidur, gugup melihat Aldian terus mendekat dengan tatapan tanpa ekspresi. Tatapannya menghunus jantung seolah ingin memangsa korbannya sampai musnah.
"Aku minta kamu pergi. Kalau tidak, aku akan berteriak." Fatma menunjuk ke arah Aldian dengan netra mata yang terus bergerak. Fatma kian gugup, ketakutan.
Karena Aldian tidak mengindahkan permintaannya. Fatma bersiap berteriak. Namun kalah cepat dengan gerakan Aldian yang mengayunkan benda tumpulnya.
Dugh!
Pukulan dengan sepenuh tenaga menghantam kepala Fatmala. Sehingga tubuhnya Fatma tumbang ke lantai. "Aw! sakit ... kau benar laki-laki bejat--" desis Fatma dan akhirnya Fatma hilang kesadaran dan kemudian tau-tau sudah berada di rumah sakit.
Playback off
Fatma menggeleng-geleng kan kepala. Sungguh malang nasib yang harus ia telan sampai pahit-pahitnya.
Sekitar 15 menit kemudian Arya muncul kembali dari mushola. "Belum tidur?" menoleh ke arah Fatma yang bengong.
"Belum!" balas Fatma menggeleng.
"Istirahatlah, apa kau perlukan sesuatu." Pada akhirnya Arya bertanya.
"Tidak, terima kasih." Gumam Fatma.
"Ya, sudah. Kalau butuh sesuatu bilang saja jangan sungkan." Arya membaringkan tubuhnya di sofa panjang. Arya memejamkan mata, mengosongkan pikirannya sejenak.
Begitupun Fatma melamun seraya berpikir rencana ke depannya dan berharap semoga proses perceraiannya lancar. Fatma tidak tau kalau Aldian sudah di tangkap polisi dengan tuduhan penganiayaan istrinya sendiri.
Terbayang semua yang sudah terjadi, dari awal pernikahan memang tak pernah ia temukan kebahagiaan yang seutuhnya. Setahun semenjak pernikahan baru mulai ketara busuknya Aldian, seorang pria yang ternyata sudah memiliki istri dan mendekatinya hanya demi nafsu dan harta.
Memang sebuah kesalahan yang membuatnya terjebak dalam kata-kata manis dan tipu daya seorang Aldian. Semua membayang jelas diingatan nya sampai tak terasa air mata pun berjatuhan menetes di pipi, sebuah tangisan yang tak bersuara itu ia nikmati sendiri.
Jari-jari lentik Fatma mengusap pipinya yang basah tersebut. Kalau saja bisa mengulang waktu dari semula mungkin gak akan memilih Aldian untuk dijadikannya suami. Melainkan memilih Surya yang kini sudah bahagia dengan wanita pilihannya dan kini sudah mempunyai dua anak yang lucu-lucu.
Seiring helaan napas yang berat, Fatma menoleh ke arah Arya yang tertidur nyenyak sekali walau tanpa selimut membungkus tubuhnya. Tertidur dengan kedua tangan melipat di dada, sedang tidur saja dan terlihat dari jauh pun pesonanya akan memikat siapa yang memandang ....
****
__ADS_1
Terus dukung aku ya reader ku? jangan lupa tinggalkan jejak! ayolah jangan pelit-pelit jempolnya. Aku akan senantiasa berusaha menyuguhkan yang tebaik dengan semampuku.