Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Dilema


__ADS_3

Renata sudah berpakaian lalu keluar dari persembunyiannya, selimut. Mendongak pada Doni yang masih saja duduk di tepi tempat tidur menatap ke arahnya.


Doni menggerakkan tangan mengarah ke pipi Renata lalu mengusapnya yang basah itu. "Jangan nangis lagi, aku gak apa-apain kamu, kan? kamu bilang tadi. Kalau aku mencintai kamu aku harus jaga kamu. Terbuktikan sekarang! kalau aku tidak jadi melakukan itu, padahal aku pengen banget lho." Setengah berbisik.


Renata mendorong bahu Doni kembali seraya berkata. "Pulanglah, cepetan nanti ketauan bunda!" ucap Renata dengan nada memohon.


"Iya-iya, gak sabaran banget sih. Coba gak sabaran nya ngasih, bikin seneng kek." Gerutu Doni sambil menggenggam tangan Renata.


"Apa, ini bikin seneng ha?" Renata mengepalkan tangan sebelahnya.


"Iya cinta ku ... sabar, ah." Cuph! kecupan lagi-lagi mendarat di bibir Renata dan lagi-lagi pula Renata tak sempat menghindar, malah memejamkan mata seakan menikmati.


"Brengseknya aku, kenapa malah menikmati setiap sentuhan Doni sih? bukannya melawan kek, ingat! kamu itu tunangan orang. Dimana sih otak mu disimpan di mana?" Renata bermonolog dalam hati.


Setelah itu, Doni beranjak dan berjalan dan tangannya menarik tangan Renata agar mengantarnya ke balkon. Di pintu balkon Doni merengkuh tubuh Renata dan sebentar menyusupkan wajahnya di leher Renata yang mulus, wangi dan ingin sekali menggigitnya. Gemas.


"Nggak mau pulang!" bisik Doni tepat depan telinga Renata.


Renata mundur dan melepaskan diri dari Doni. "Cepetan pulang, hati-hati turunnya.


"Tuh ... kan gak mau, kan? aku celaka? muach! aku mencintai mu." Doni kembali mengecup pipi Renata sampai akhirnya pergi dan entah turun dengan cara gimana dia.


Sebab Renata segera mengunci pintu lalu berdiri dan bersandar di daun pintu. Hati Renata terus berdebar, jantungnya berdegup dengan cepat. Masih untung gak jadi, kalau saja terjadi! mungkin kini ia sudah tidak suci lagi. Air matanya kembali menetes teringat Arya yang sudah ia khianati.


"Kenapa aku harus tergoda sama Doni sih?" mengetuk-ngetuk keningnya lalu menyeka air matanya kasar. "Dan kenapa juga aku harus merasa nyaman dan ketagihan setiap sentuhannya Doni kenapa-kenapa, kenapa?" pekik Renata tertahan.

__ADS_1


Kemudian berjalan mendekati tempat tidurnya lalu menjatuhkan tubuh di sana lagi-lagi menangis bingung harus bagaimana untuk menyelesaikannya. Di sisi lain Renata ingin mengakhiri perselingkuhannya dengan Doni sebab mau menikah dengan Arya yang notabene nya tunangan dan juga sangat dicintai. Namun di sisi lain juga gak mau kehilangan Doni yang selalu memanjakannya dengan sentuhan kasih sayang atau nafsu entahlah. Renata menjadi dilema.


...****...


Fatma sedang berada di kantor dan asistennya membawa seorang tamu wanita yang penampilannya lumayan elegan. Menatap ke arah Fatma yang menunduk sibuk dengan kerjaannya di meja.


"Silakan duduk?" tangan Fatma menunjuk kursi yang ada di depannya tanpa menoleh siapa yang datang. Setelah mendongak, Fatma kaget dengan sosok wanita yang datang tersebut.


"Kamu?" suara Fatma. Menatap tajam pada wanita itu serta menutup sementara laptopnya.


"Iya, kenapa? kaget ya?" ketua wanita itu.


"Nggak juga." Elak Fatma seraya menghela napas.


"Terima kasih kamu sudah mengantar semua barang Aldian ke rumah. Tapi aku kecewa! kenapa kamu buat dia mendekam di penjara?" ucap wanita itu yang melainkan Suci, istrinya Aldian.


"Anda punya banyak uang untuk melakukan segala cara bukan?" tuduh Suci seenaknya.


"Ha! saya tidak seficik itu, saya bertindak tentu menuruti kesalahan yang orang itu lakukan, bukan tanpa sebab," sambung Fatma kembali.


"Hem, kamu itu seorang istri. Bahkan seorang ibu yang seharusnya punya perasaan, dan kamu orang terpandang! apa kata orang? bila suami mu di penjara, apa jadinya kalau orang-orang bilang. Papanya Rania dipenjara? apa kamu gak punya hati?" ungkap Suci dengan nada kecewa.


"Apa? perasaan? hati! kau bilang. Aku tanya sama kamu. Di mana perasaan atau hatinya yang memperlakukan ku semena-mena, menyiksaku. Membuat ku menderita padahal aku ini siapanya dia? istrinya. Ibu yang mengandung anaknya," jelas Fatma menatap tak kalah tajam pada Suci sebagai madunya.


"Bahkan lihat, luka di kepalaku ini. Ulah siapa? dia hampir membuatku mati! dia mencelakai ku lebih dari batas. Ayah ku juga dia serang, apa wajar ha? apa masih kau ingin bahas dimana perasaan ku. Di mana hatiku?"

__ADS_1


"Sebagai suami. Apa pernah dia memberi ku nafkah? tidak! menafkahi anaknya? tidak. Aku gak pernah tahu kemana dia bawa hasil kerjanya setiap bulan? apalagi menerimanya sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai suami, sekarang kamu seolah menganggap aku gak punya hati atau perasaan ketika dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya," jelas Fatma yang begitu tersinggung dengan ucapan Suci, madunya.


Suci tak berkutik dengan semua penjelasan Fatma yang terlalu menyudutkan Aldian yang mungkin omongan Fatma ada banyak benarnya. Ia kalah telak di mata Fatma.


"Tapi, kamu bisa cabut tuntutan tersebut. Biarkan dia hidup bebas, dan ceraikan dia itu sudah cukup bukan?" nada suara Suci meninggi.


"Jangan pernah berteriak dihadapan ku! Mbak Suci yang terhormat. Aku sudah muak melihat mu di sini pergilah sebelum aku panggilkan scurity ke sini. Percuma kau minta aku membebaskan dia sebelum waktunya." Fatma menggeleng. seraya menunjuk pintu.


"Kamu, wanita yang angkuh dan sombong. Pantas suami ku suka menganiaya kamu--"


Fatma menoleh dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. "Kamu itu tidak tahu siapa aku, jadi jangan banyak berasumsi. Silakan pergi dan pintu masih terbuka lebar." Menunjuk arah pintu.


Suci berdiri dengan hati yang dongkol dan bibir maju ke depan, rahangnya mengeras. Menahan emosi. "Oke. Sampai ketemu di pengadilan nanti."


Netra mata Fatma menatap punggung Suci sampai menghilang. Jari Fatma memijat keningnya yang terasa pusing, seraya menggeleng dan bergumam. "Enak saja, bilang aku gak punya perasaan. Kalau saja aku gak punya hati! sudah ku bakar semua barang Aldian. Bukannya mengantar ke sana."


Kemudian Fatma melirik putaran jam yang sudah menunjukan jam makan siang. Fatma berdiri menarik kursi kebesarannya, membawa langkah keluar ruangan kerjanya.


Setelah menemukan tempat yang tepat dan nyaman untuk duduk. Fatma duduk sendiri dengan mata memandang lepas ke luar jendela yang menunjukan pemandangan jalanan dan pertokoan, orang-orang pun terlihat ramai lalu lalang dengan keperluannya masing-masing.


Pesanan Fatma datang, sepiring makanan sipood yang dia suka. Lalu tidak membuang waktu lagi untuk menyantap hidangan yang tersaji di meja serta segelas jus buah sebagai pelengkapnya.


Dari tempat yang agak jauh dari tempat duduknya Fatma, ada sepasang mata dengan bola mata yang hitam. Tengah mengawasi Fatma dengan pandangan yang sangat intens ....


****

__ADS_1


Hi ... reader ku setalah membaca! jangan lupa like dan komen, beserta vote nya sebagai rasa suka kalian🙏


__ADS_2