
"Aku gak melimpahkan kesalahan pada orang lain, pada kenyataannya aku lihat terakhir kamu begitu tampak mesra dan begitu melindungi dia. Wajar dong kalau aku berpikiran seperti itu sebab aku melihat itu dengan mata kepala sendiri," ujar Renata dengan nada agak emosi.
Arya menoleh dan lagi-lagi menatap tajam. "Aku gak pernah macam-macam sama dia. Dan aku masih menghormatinya sebagai wanita, tidak seperti Doni yang perlakukan mu seperti sudah halal! dan itu aku juga melihat dengan kedua mata ini dengan kepala ini melihat kamu dan di ciuman dan itu cuma segelintir saja yang aku lihat. Tidak tahu sebelumnya atau sesudah nya," akunya Arya.
Degh!
Hati Renata tersentak, mendengar itu. Berarti Arya tahu dan melihat waktu di restoran itu, wajah Renata merah menahan malu, lalu tangannya menggenggam tangan Arya. "Aku mencintai mu Ar, masih mencintai mu dan aku akan menjadi istri yang baik untuk mu, nantinya."
Netra mata Arya bergerak menatap tidak suka ke arah tangannya yang digenggam Renata. Membuat Renata menarik tangan dan menjauhkannya.
"Sekarang kamu mau menikah dengan dia, sudah, lupakan semua dan lanjutkan hidup mu, semoga bahagia. Jangan bikin semuanya runyam dan menghancurkan hidup sendiri." Arya berdiri tidak ingin membahas apapun lagi.
"Ar, aku belum selesai bicara?"
__ADS_1
"Aku rasa, tidak ada yang harus kita bicarakan lagi. Jadi aku harus pergi." Arya mengayunkan langkahnya setelah membayar bil.
Renta mendongak menahan air mata yang ingin jatuh sebanyak-banyaknya. "Tunggu?" Suara Renata menghentikan langkah Arya.
"Aku harus memberikan ini sama kamu." Suara Renata bergetar, kemudian berdiri mengambil sebuah surat undangan pada Arya. "Ini undangannya. Datang ya dan restui aku."
Manik mata Arya tertuju pada surat undangan itu, perlahan mengambilnya. "Makasih?"
Arya membalikan badan untuk melanjutkan langkahnya menuju unit apartemen dengan segenap rasa yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Bagaimanapun Renata wanita yang cukup lama mengisi hatinya. Menemani dalam hidupnya Arya, kini Arya menyimpan rasa kecewa yang tak mampu ia luapkan dengan apapun. "Huuh ..." menghembuskan napas melalui mulutnya, hanya itu yang bisa ia lakukan di saat ini.
Langkah Arya berhenti di depan pintu, mengambil kantong kelapa bakar yang tadi ia simpan di sana. Dibawanya masuk dengan langkah yang lesu dia mulai membuka undangan tersebut perlahan ia membacanya.
Nama mempelai pria yang awalnya bernama Arya Saputra. Kini berubah menjadi Doni Rahadian. Untuk kesekian kalinya Arya menghela napas panjang dan susah payah menelan saliva nya. Mengarahkan pandangan nya ke langit-langit, berharap air matanya tak menetes setetes pun, hanya untuk menangisi wanita yang mengkhianatinya.
__ADS_1
Saat ini Arya menunduk dengan kedua tangan bertumpu pada dinding kaca tebal yang ada dihadapannya itu. Hatinya menangis sedih, orang yang selama ini ia sayangi ternyata tega menduakan nya. Rupanya selama ini ia menjaga jodohnya orang. Sekali lagi ia membuang napas berat dan tersendat, luapan perasaan ia yang tak menentu.
Namun Arya segera bergerak dan tak ingin larut dalam kesedihannya. Ia memulai aktifitasnya, mulai dari membersihkan semua ruangan dan mencuci pakaian kotor, merapikan tempat tidur mengganti seprai dengan yang bersih. Ia benar-benar ingin melupakan semuanya.
Kini matanya dengan intens mencari barang yang berkaitan dengan Renata. Dari hal sekecil apapun dia harus menjauhkan dari kehidupannya mulai sekarang, Foto-foto dan barang sebagai kado yang pernah ia berikan. Ada jam tangan, beberapa topi. Sepatu, kaca mata, gripsack. Kaos dan kemeja. Arya masukan tak tersisa ke dalam kantong besar.
Dia ingin membuang semua, membuang semua kenangan bersamanya. Namun setelah berpikir lagi, Arya berubah pikiran dan mengeluarkan lagi semua barang yang sudah ia masukan.
Arya mencari kardus yang kebetulan ada. Dan kini ia masukan dan menatanya di dalam kardus, kecuali foto-foto yang tidak mungkin ia berikan pada orang lain. Beda dengan barang-barang yang masih bagus, yang masih layak pake dan memang barang pemberian dari Renata masih bagus-bagus jarang Arya pakai juga.
Arya kemas dan di simpan di pojokan. Tidak jauh dari pintu, agar nanti mudah mengeluarkannya. Kemudian Arya mandi setelah melihat putaran jam yang sudah menunjukan pukul 09.45 wib. Dia ingat harus menjemput Rania di sekolahnya.
Agar tidak terlalu menyita waktu, Arya mandi langsung di bawah air shower dengan mengenakan ****** ***** saja. "Aku harus bisa segera move on, dan membuka hati yang selebar-lebarnya untuk sosok Fatma," gumamnya dalam hati ....
__ADS_1
****
๐น๐น๐น๐นBuat reader ku yang baik hati yang masih menemani ku sampai detik ini.