Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Berpisah itu apa


__ADS_3

Fatmala menangis dan air matanya bercampur dengan air shower yang terus mengalir dan menyiram tubuhnya, Ia menyesali dengan semua yang sudah terjadi. Menyesali kenapa dulu bisa menikah dengan pria macam itu sih.


Setelah merasa cukup, ia mengenakan bathrobe sebelum ia mengambil pakaian cadangan dari lemari.


Kini Fatmala sudah rapi dan bersiap berkutat lagi dengan pekerjaannya. Setelah waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Fatmala merapikan mejanya lantas menyambar tas nya keluar dari ruangan kerja.


Langsung menuju mobilnya yang terparkir manis dan menunggu kedatangannya. Supir membukakan pintu untuk majikannya.


Wajahnya Fatmala begitu sendu. Duduk di belakang bersandar, pejamkan mata melepas penat.


"Nyonya, bukankah tadi tuan masuk menemui Nyonya?" suara supir membuka pembicaraan.


"Oh, iya. Biar saja nanti juga pulang sendiri," jawabnya dingin tampak tidak perduli dengan suaminya.


Supir terdiam, dia tak lagi bersuara hanya tatapan yang fokus ke depan. Cuma selang beberapa waktu mobil yang di tumpangi Fatmala pun tiba di halaman Mension, Fatmala bergegas turun berjalan begitu gontai tampak lelah. Ya, lelah badan lelah hati.


"Asik, Mama dah pulang. Mama main sama Rania yu?" anak itu berhambur memeluk sang bunda.


"Iya, sayang ... tapi nanti ya? Mama capek banget. Ingin istirahat dulu sebentar." Fatmala berlutut memeluk Rania si gadis kecilnya.


Wajah Rania berubah kecewa. "Ya udah deh," ucapnya lesu.


Fatmala tak tega melihat gadis kecilnya bersedih. "Oke, sayang mau main apa dan di mana? Mama temenin."


"Bener Mam?" tanya Rania yang dibalas dengan anggukan. "Hore!" Rania berjingkrak sambil memegang mainan.


Lelah Fatmala seketika memudar dengan melihat senyuman Rania yang mekar, tampak bahagia mendengar sang ibunda bersedia menemaninya bermain.


Tangan kecil itu menarik lengan Fatmala ke taman. Di sana Bermain lari-larian sambil menikmati senja merah yang indah dan tidak lama lagi akan bergantian dengan suasana malam yang gelap.


"Mama-Mama. Rania seneng deh kalau bisa bermain setiap hari sama Mama, mau kan Ma?" netra mata yang bening itu menatap ke arah sang bunda.


"Em, tentu sayang, Mama mau. Tapi kalau Mama gak sibuk ya? Pokoknya kalau Mama pulang ke rumah berarti waktunya Mama milik Rania seorang. Oke?"


"Oke Mama. Rania senang ... sekali." Anak itu memeluk tubuh Fatmala.


"Mama-Mama, Rania tadi di sekolah bermain sama teman-teman mereka baik deh. Eh ada teman aku yang nangis-nangis--" menjeda omongannya.


"Nangis kenapa dia?" Fatmala menuntun putrinya ke dekat kursi panjang yang ada di sana. Gadis kecil itu Fatmala dudukan si sebelahnya.


"Dia cerita," anak itu menarik napas terlebih dahulu. "Katanya mama dan papa nya bercerai. Apa sih bercerai itu Ma?" kedua netra matanya menatap lekat pada sang bunda.


Fatmala membalas tatapan lekat putrinya tersebut. "Em ... bercerai itu ... berpisah. Papa dan mamanya pisah rumah."

__ADS_1


"Ooh. Kenapa begitu ya Ma?" selidik Rania terlihat penasaran.


"Kenapa ya? Mama juga kurang faham sayang." Fatmala bingung tuk menjelaskannya pada Rania yang usianya masih kecil.


"Kata teman aku, katanya mamanya itu selingkuh, apa sih selingkuh itu Ma?" gadis kecil ini terus saja bertanya sesuatu yang bukan kapasitasnya.


"Tapi Ma, kasian deh dia nangis terus. Katanya nggak tahu mau ikut siapa!" Rania mengakhiri pembicaraannya dengan turun dan berlarian dengan kucing kesayangannya.


"Huuh ..." hati Fatmala mencelos mengingat rumah tangga yang tidak dipungkiri kemungkinan besar akan berakhir juga.


Jemarinya memijat kedua ujung kening yang terasa pusing. Dari jauh terdengar sayup-sayup lantunan adzan nan indah. pertanda sore berganti malam.


"Sayang, masuk yu, Maghrib nih pamali lho. Ayo masuk?" Suara Fatmala sedikit memekik.


Gadis kecil itu menoleh dan berlari menghampiri sang bunda yang sudah berdiri bersiap masuk ke Mension. Tangan Fatmala menangkap dan menuntun Rania masuk kedalam Mension yang sudah terlihat lampu menyala di mana-mana.


"Ma?"


"Hem, apa sayang?" sahut Fatmala melirik Rania yang berjalan berbarengan dengannya.


"Papa kenapa sih suka mabuk Ma? Rania takut deh lihatnya. Suka bentak Mama juga, ngeri aku Mam," celoteh anak itu.


"Mama gak tau sayang, Lagian siapa yang bilang papa mabuk sih sayang? Papa baik-baik saja kok."


"Aunty, ajak Rania ke kamarnya dan ajak belajar. Saya mau bersih-bersih dulu." Fatmala melepas tangan Rania ia serahkan pada pengasuhnya.


"Sayang. Sama aunty ya belajar yang pinter dan nanti kalau sudah belajar, boleh menemui Mama! oke? atau nanti kan kita makan malam bareng ya!" Mengusap pipi Rania yang mendongak.


"Baik Mama." Rania mengangguk dan berjalan bersama pengasuhnya ke kamar


Fatmala membawa langkahnya ke kamar dan langsung memasuki kamar mandi tuk mencuci muka membersihkan sisa make up nya.


Berapa menit kemudian muncul dan menutup pintunya. Langkahnya mendekati cermin rias mengeringkan mukanya yang basah.


Lalu mengambil laptop dan membukanya. Kedua netra matanya fokus pada layar dan jemari lentiknya menari-nari di papan keyboardnya.


Sementara waktu dalam keheningan dan dipergunakan untuk sibuk bersama laptop mempersiapkan pekerjaan buat besok.


"Mama?" panggil Rania yang masuk dan berhambur ke pelukan sang bunda seperti biasa.


"Hai, anak Mama. Sudah belajar sayang?" Fatmala menoleh dan menutup laptopnya.


"Sudah dong Mama. Rania kan anak pinter!" menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

__ADS_1


Senyum Fatmala merekah dan mengusap pipi Rania dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Ma, Rania lapar, makan yu? papa kok belum pulang ya?" Rania menatap sang bunda.


Fatmala terdiam, ia sendiri tidak tahu suaminya berada di mana saat ini. Terakhir ketemu di kantor dan ia tinggalkan dengan keadaan tidur setelah memaksanya untuk melayani. Fatmala Menghela napas panjang. "Mama gak tahu sayang, yu kita makan. Mama juga lapar nih, perut Mama sudah berbunyi nih." Sambil tersenyum.


"Yu," Tangan kecil itu menarik tangan sang bunda. Berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga.


"Hati-hati sayang. Turunnya." Pinta Fatmala sambil dipegangi yang kuat.


Setibanya di meja makan Rania minta di suapin sama mamanya. Fatmala pun menuruti dengan sabar menyuapi putri semata wayangnya.


"Mama, Rania sudah kenyang." Anak itu menggeleng padahal baru habis setengahnya.


"Lho ... habiskan ya? sayang lho makanan nya mubazir. Sementara orang-orang banyak yang yang kelaparan di luar sana." Fatmala menatap lekat gadis kecil itu.


"Tapi Rania sudah kenyang Mama, Rania kangen papa." Anak itu tampak sedih.


Fatmala terdiam sejenak. "Sayang. Nanti juga papa pulang."


"Rania mau gak nonton sama aunty? biar mamanya makan dulu." Ajak pengasuhnya.


"Nggak mau, Rania maha sama Mama. Mau ke papa!" kekeh dan menggeleng.


"Biar saja Rania di sini bersama saya, Kamu makan saja." Pandangan Fatmala beralih ke pengasuh Rania.


"Tapi, Nyonya," ucapnya lagi.


"Tak apa," lanjut Fatmala sambil mengambil piring untuknya makan." Sepanjang Fatmala makan malam, Rania terus saja merengek minta ketemu papa.


Di bujuk sama asisten yang lain pun gak mau, Rania tetap nempel sama ibunya dan merengek-rengek terus.


Fatmala mulai pusing. "Iya sayang, kalau papa belum pulang juga telepon saja papanya ya oke?"


Setelah makan selesai, Fatmala mengajak Rania naik tuk mengambil ponsel di kamar namun.


Blak!


Pintu terbuka, Fatmala menoleh dengan mulut menganga terkesiap dengan yang dia lihat saat ini ....


****


Selamat membaca reader ku semua, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya🙏

__ADS_1


__ADS_2