
Hari berganti hari, Minggu berlalu. Dan bulan pun berganti-ganti, perut Fatma ketara dan membesar dan sekarang genap lima bulan.
Fatma begitu menikmati perannya sebagai bumil yang sangat di manjakan oleh sang suami. Bahkan umi pun sering datang dan menemani dan memperhatikan mantu kesayangannya.
Saat ini Fatma sedang berada dalam acara pernikahan Dewi dan Sultan yang diadakan di sebuah gedung dan tentunya berada di Bandung.
Padahal Fatma sudah menyuruh acaranya di Mension aja bir gak jauh. Namun Abah ingin di adakan nya di Bandung saja sebab banyak kerabat di sana yang akan merasa jauh bila pernikahan Dewi di Jakarta.
Acara pernikahan Sultan dan Dewi sangat hikmat, berjalan dengan sangat lancar. Dilanjut resepsi yang begitu meriah. Dengan dihiasi musik gambus dan artisnya dari jakarta, semua ikut bahagia dengan kebahagian kedua mempelai tersebut.
Arya pun sangat bahagia dengan pernikahan mereka, akhirnya ia merasa tenang kalau adik perempuannya sudah menikah juga.
"Mau kemana?" tanya Arya pada sang istri yang berlalu dari sisinya.
"Mau ambil minum, haus!" Fatma menoleh dan hentikan langkahnya.
"Biar, Aa saja yang ambilkan. Sayang duduk saja di sini." Arya beranjak dan menyuruh Fatma untuk duduk kembali.
"Mama? papa mana?" tanya Rania yang baru datang langsung menanyakan Arya.
"Oh, itu ... papa?" jawab Fatma sambil menunjuk ke arah Arya yang mengambilkan minuman untuk nya.
"Mau apa sayang?" tanya Fatma sambil mengelus perutnya yang mulai terasa bergerak.
"Nggak sih, nanya doang." Anak itu sambil celingukan ka pelaminan. Lalu berlari menghampiri teman sebayanya.
"Hem ..." Fatma menggeleng melihat tingkah Rania yang gajebo.
"Sayang minumnya. Oya, kalau mau sesuatu bilang saja jangan sungkan! sayang gak boleh capek." Arya memberikan segelas air buah.
Fatma tersenyum. "Makasih sayang!"
"Sama-sama bidadari ku!" Arya duduk kembali di dekat Fatma lalu berbincang dengan kawan-kawan sejawatnya.
Karena merasa panas dan pengen istirahat. Fatma minta pulang saja ke rumah Abah lagian sudah sore dan sebentar lagi berganti malam.
"Aku capek, pengen istirahat?" bisik Fatma pada sang suami yang asyik mengobrol dengan teman-teman nya.
"Hem, mau pulang? ke rumah abah?" tanya balik Arya sambil mendekatkan kupingnya ke arah sang istri.
"Iya, pengen istirahat yang ..." akunya Fatma lagi masih dengan suara pelan.
"Apakah calon Beby ku yang manja? Sehingga pengen pulang? baiklah. Kita pulang sekarang." Arya meraih tangan Fatma diajaknya berdiri.
"Kita cari Rania dulu." Fatma berucap pelan, lalu keduanya berpamitan pada para tamu undangan yang sedang menikmati makan-makan dan hiburannya juga.
__ADS_1
Arya dan Fatma pun berpamitan pada Abah dan umi. Juga kedua mempelai yang menanyakan kenapa buru-buru pulang?
Dan Arya mengatakan kalau bumil kecapean dan ingin beristirahat di rumah Abah.
"Rania mau pulang sekarang? Mama mau sekarang, capek." Fatma mengusap pucuk kepala Rania dengan lembut.
"Ke Jakarta bukan Mam? ke Jakarta? jangan deh ... jangan uang sekarang. Acaranya aja belum selesai?" protes anak itu.
"Bukan, ke rumah umi." Tambah Fatma kembali.
"Rania nanti saja pulang nya sama, Umi, ya?" kata umi pada cucu sambungnya itu.
Anak itu terdiam sejenak seakan sedang berpikir. "Em ... Rania ... Rania ... mau ikut papa dan mama saja, Umi. Kasihan calon baby gak ada temannya."
Abah, umi dan orang-orang yang ada di sana. Saling melempar senyuman mendengar perkataan Rania barusan. Kaya baby-nya sudah lahir aja nggak ada temennya. Lah ... masih di perut.
Arya pun mesem mendengarnya. Lalu kembali pamit pada Abah dan umi. Lalu mendekati sang istri dan putrinya itu.
"Yu, kita pulang?" ajak Arya pada istri dan putrinya itu.
"Oke," sambut Rania. "Abah. Umi, Rania pulang dulu ya?"
"Ya, sudah. Kalau gak mau nanti sama umi," balas umi lembut.
"Yang. Ibu sama ayah sedang meluncur ke sini?" ucap Fatma sembari menoleh pada Arya.
"Nggak tau, sudah ke mension kali." Kata Fatma sambil menggeleng.
"Terus gimana mau di sini apa mau pulang?" tanya Arya kembali.
"Em ... pulang saja." Fatma kekeh ingin pulang ke rumah Abah.
"Baiklah." Ketiganya berjalan mendekati parkiran. Lalu memasuki mobil yang di supir kan pak Harlan.
"Jalan, Pak? ke rumah Abah,"
Pak supir mengangguk. Langsung tancap gas melajukan mobilnya.
"Oma dan opa mau ke sini juga ya Mam?" tanya Rania pada mamanya.
"Iya sayang," Fatma mengangguk seraya mengusap perutnya.
Rania pun ikut mengusap perut sang bunda. "Adek, kakak selalu temani adek kok. Tenang aja kakak akan selalu ada buat adek baby." Celoteh Rania sambil menciumi perutnya Fatma.
Fatma dan Arya saling melempar senyuman melihat anak itu yang tampak sayang sama calon adek nya padahal masih di perut.
__ADS_1
"Kakak Rania sayang benget ya sama adek nya hem?" tanya Arya sambil mengusap pucuk kepala Rania.
"Sayang, Papa. Sayang banget," sahut anak itu.
"Alhamdulillah ..." Arya mencium kening anak itu penuh kasih sayang.
"Nggak pa-pa, kan? kalau adek nya perempuan?" kini giliran Fatma yang bertanya dan menatap lekat pada putri kecilnya itu.
Rania terdiam sejenak sambil menggerakkan manik matanya yang bening. Dan terus mencium perut Fatma juga di usapnya.
"Nggak ... pa-pa. Anak perempuan juga, biar ada temannya main boneka." Jawabnya pasrah, padahal waktu itu pengen adek laki-laki.
"Masya Allah ... laki-laki maupun perempuan itu sama aja ya? yang penting sehat dan harus di sayang juga ya?" ucap Arya dengan lirih.
"Iya, Pah!" Rania mengangguk.
Tidak selang lama, mereka sudah sampai di rumah Abah dan Fatma langsung beristirahat di kamar.
Ditemani oleh Rania dan Arya, sebelumnya mereka melaksanakan solat berjamaah terlebih dahulu.
"Mama mau di ambilkan apa nih sama Papa? Oya Papa ambilkan buah ya?" tawar Arya sambil Mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.
"Em ... boleh. Sama minumnya ya?" Fatma tersenyum manis pada suaminya itu. Bersyukur sangat di perhatikan oleh sang suami.
"Rania aja yang ambilkan?" Rania berniat turun dari tempat tidur.
"Nggak-nggak. Papa saja yang ambilkan ya? Rania di sini sama mama. Oke?" cegah Arya sambil beranjak pergi dari kamar tersebut.
"Oke, Papa." Rania kembali bermain boneka.
Tidak lama Arya sudah kembali membawa buah dan minumnya. Buat bertiga.
Fatma menyandarkan kepalanya di bahu Arya. Menikmati kebersamaan ini bersama suami yang kadang-kadang jarang bertemu. Akibat kesibukan.
...---...
Dalam beberapa bulan ini Aldian bertemu seorang wanita yang satu prekwensi dengan nya. Suka minum, nongkrong di klab malam dan bersenang-senang dengan tanda kutip.
Namun siapa sangka. Kalau wanita itu lebih liar dan lebih garang dari Aldian sendiri, membuat Aldian sering kewalahan menghadapinya dalam segala hal termasuk di ranjang.
Aldian sering keteteran dan kalah dalam pertandingan sehingga membuat wanita itu marah besar. Dan berani menendang, memukul Aldian ....
.
.
__ADS_1
Dua hari ini aku kurang sangat nih, mungkin karena tubuh ku kurang fit. Mohon dukungannya🙏