Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Berendam


__ADS_3

Arya masih tertegun di tempat, mengalihkan pandangan ke sekitar hotel, terlihat kota Berlin. sejauh mata memandang.


kedua tangannya memegangi pagar balkon. Menumpukan tubuh kepada dua sikunya itu, sementara Fatma yang meninggalkan Arya entah sudah sampai mana.


"Papa? mama?" suara Rania memanggil, dari tempat tidurnya.


Sejenak Arya menoleh. Lalu mengedarkan kembali pandanganya tempat semula, menghela napas panjang, lantas ia hembuskan dengan kasar. Menunduk dalam sembari memejamkan matanya.


Entah apa yang saat ini dia rasakan? yang jelas kepala pusing. Dan rasa ngilu yang teramat.


Lalu perlahan kakinya mengayun ke dalam kamar. Mendapati Rania sudah bangun dan menguap.


"Sudah bangun, Nona manis?" sapa Arya sambil mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur tersebut.


"Sudah, Pah. Mama mana?" tanya Rania sambil mengedarkan pandangan ke sekitar arah balkon.


"Mama sudah pergi ngantor. Rania mandi dulu sana? kita kan mau sarapan. Lapar gak?" Arya menarik selimut yang masih menutupi tubuh Rania.


"Lapar, Pah. Lapar, ya sudah. Rania mau mandi dulu ya?" Rania turun dan berlari ke kamar mandi.


Sementara Rania di kamar mandi, bersih-bersih. Arya merapikan tempat tidur, melipat selimut. Mengambil jam tangan dan topinya.


Arya duduk di sofa menyalakan televisi sambil menunggu putri kecilnya selesai mandi.


Dreeeettt ....


Dreeeettt ....


Ponselnya Arya bergetar. Saat dia lihat di layar terbaca nama Sultan memanggil.


^^^Arya: "Halo?^^^


^^^Sultan: "Apa kabar bro? betah aja di sana? tenggelam ya?"^^^


^^^Arya: "Ha ha ha ... tenggelam? sembarangan! saja bicara mu. sehat wal'afiat nih."^^^


^^^Sultan: "Emang salah, gitu? kan benar! di sana tenggelam di danau cinta! ha ha ha ...."^^^


Arya kembali tergelak, mendengar perkataan Sultan yang nyeleneh tetapi benar adanya.


^^^Arya: "Ha ha ha ... kau ini bis aja. Kabar kamu gimana bro?"^^^


^^^Sultan: "Baik. Aku baru pulang penerbangan nih, mau menemui Dewi capek."^^^


^^^Arya: "Iya nanti saja bila kau sudah gak capek ke sana nya. Aku juga besok terbang ke indo. Lusa mau tugas."^^^


^^^Sutan: "Sudah puas berendam nya? ha ha ha ...."^^^


^^^Arya: "Sial, belum. Itu gak ada puas-puasnya bro, ha ha ha ...."^^^


^^^Sultan: "Ha ha ha jadi pengen nih nyicip!"^^^


Arya: "Sembarangan. Awas ya macam-macam kau? gue pecat kau dari calon adek ipar."


Sultan kembali tergelak. Di ujung telepon dia terus tertawa sambil mengolok-olok sahabatnya yang tenggelam di danau cinta.


"Papa kenapa sih? ketawa terus?" tanya Rania heran, melihat papanya tertawa.


"Ha? Papa lagi ngobrol sama om Tatan." Jawab Arya sambil menunjuk ke ponsel yang dia pegang.


"Ooh, sama om Tatan ... ha? Om tatan? Rania mau ngomong, mau ngomong sama om Tatan." Rengek Rania sambil mendekat.


"Iya bentar, bentar." Arya menempelkan kembali ponselnya ke pipi.

__ADS_1


^^^Arya: "Tan, Rania mau ngomong nih?"^^^


^^^Rania: "Om Tatan. Rania kangen nih."^^^


^^^Sultan: "Hi ... anak manis apa kabar nih? Om Tatan juga kangen sama Rania."^^^


^^^Rania: "Om Tatan sedang apa di sana?"^^^


^^^Sultan: "Om Tatan sedang bersantai. Baru pulang kerja cantik ...."^^^


^^^Rania: "Barusan ketawain apa sih sama papa? Rania Rania jadi penasaran deh."^^^


^^^Sultan: "Ooh, itu. Papa di sana katauan berendam gak?"^^^


^^^Rania: "Berendam? papa gak berendam kok."^^^


Rania mengerutkan keningnya. Tidak mengerti, dan papanya tidak ia lihat berendam kok.


^^^Arya: "Tan, Tan. Hati-hati kalau ngomong! jangan asal ngucap saja."^^^


Kebetulan sambunhan telepon di lodsfeker jadi dapat Arya dengar.


^^^Sultan: "Ha ha ha ... udah dulu ya? Om mau siap-siap ke rumah Rania, mau temui aunty."^^^


Sultan berpamitan, sebelum bibirnya berkata-kata yang tidak-tidak lagi.


^^^Arya: "Ya, Sampaikan salam ku pada Dewi."^^^


^^^Sultan: "Oke bro, dadah Rania manis?"^^^


^^^Rania: "Dah ... Om Tatan!"^^^


Setalah sambungan telepon terputus. Arya beranjak bersiap mau ke restoran untuk mencari sarapan.


"Emang, Papa bisa ikat rambut Rania?" tanya anak itu ragu.


"Bisa dong sayang. Sini?" ulang Arya.


Rania pun menghampiri Arya dengan sisir di tangan dan ikat rambutnya. Arya mengikat rambut Rania dengan sangat rapi.


"Bukan Papa kalau gak bisa mengikat rambut dengan rapi," ucap Arya sambil mengikat rambut Rania menjadi empat bagian. Dan semuanya di gabungkan ke samping.


Anak itu bercermin setelah Arya bilang selesai. "Waah ... Papa hebat. Bisa! aku suka deh."


Arya tersenyum manis mendengar gumaman Rania yang menyukai tatanan rambutnya.


"Yu, jalan? Papa sudah lapar nih!" Arya mengulurkan tangannya untuk meraih tangan mungil Rania.


"Ayo." Rania menyambut tangan Arya Lalu Rania menyambar bonekanya.


Arya menuntun Rania berjalan dengan niat ke restoran yang tuk makan siang.


Setiap yang melihat Rania langsung menyukainya. Gadis kecil yang imut dan menggemaskan. Pipinya yang chabi membuat tambah geregetan pengen mencubit.


"Mau pesan apa dan sama apa sayang?" tanya Arya sambil membuka kertas daftar menu.


"Em ... nasi goreng saja. dan minumnya ... jeruk saja," biar sama dengan Papa beserta makanan dan minumnya.


Arya memesan nasi goreng dan minumnya, dia porsi saya.


Hanya menunggu beberapa waktu. pesanan pun datang dengan pelayannya yang ramah. Kemudian keduanya menyantap sarapan dengan lahap.


Selesai makan, Rania merengek ingin ke danau lagi seperti semalam. Sebenarnya Arya pengen istirahat di hotel dengan kepala yang terasa pusing.

__ADS_1


Namun Arya tidak bisa menolak dengan permintaan Rania, dan akhirnya Arya mengajak anak itu ke danau yang semalam mereka datangi.


Sepanjang perjalanan. Rania ngoceh terus, apa aja dia ceritakan. Membuat malas untuk menyahut, apalagi kepala ini terasa pusing.


"Pah, itu kan danau yang semalam bagus ya? tenang dan nyaman. Apalagi siang kaya gini ya indah sekali!" Rania antusias setelah melihat danau tersebut walau masih dari kejauhan.


"Iya, sayang. Rania suka ya?" tanya Arya pada gadis kecil tersebut.


Rania buru-buru turun setelah mobil berhenti. Rania berlari ke dekat danau, dan duduk di tempat semalam, lalu berlarian. Pria bertopi dan berkaca mata hitam itu menyusul gadis kecil tersebut dari belakang.


"Jangan lari-lari dong sayang. Nanti jatuh." Pinta Arya pada Rania yang berjalan cepat alias berlari kecil di area danau.


"Iya, Papa. Rania gak lari kok. Papa tunggu saja di sana." Pekik Rania sambil lari-lari.


Arya menggeleng. Lalu mendugukan tubuhnya di kursi panjang. Dengan mata terus mengamati Rania yang tampak asyik bermain di sana.


Arya menikmati nyamannya tempat tersebut. Diiringi angin yang sepoi-sepoi menyelusup ke dalam sela-sela kulit.


Kendati kepala masih terasa pusing. Arya mengajak Rania pulang, kebetulan sudah lumayan lama juga bermain di sana.


"Papa, Rania masih betah bermain juga!" Rania cemberut.


"Sayang, kepala Papa sakit nih. Pulang ya?" Arya berucap lirih melihat ke arah Rania yang masih betah bermain.


Rania kaget. "Papa sakit? sakit apa? Rania belikan obat ya?" Rania tampak khawatir.


"Iya, pulang dulu ya? nanti Papa pengen istirahat di kamar. Pusing sayang." Timpal Arya.


"Oo! ya sudah kita pulang sekarang." Rania menyetujui kalau mereka akan pulang secepatnya.


Selang beberapa waktu di jalan. Akhirnya Arya dan Rania sudah sampai di kamar hotel. Rania begitu cemas mendengar papanya sakit.


"Papa? Rania pijit ya? kening Papa?" Rania duduk di dekat Arya berbaring.


"Iya, sayang. Makasih ya?" Arya menunjukan senyumnya kepada Rania.


Tangan kecil Rania memijit kening Arya yang memejamkan matanya. "Pa, telepon Mama ya? biar cepat pulang?"


"Nggak usah, sayang. Mama sedang sibuk. Biar saja! Papa cuma sakit kepala biasa kok." Cegah Arya.


"Tapi Papa sakit! Rania takut Papa kenapa-napa." Rania cemas.


Arya duduk tegak di hadapan Rania sembari menunjukan senyumnya. "Papa ini cuma pusing sayang. Bukan kenapa-napa, tenang saja ya? di bawa tidur juga pasti sembuh."


"Baiklah." Anak itu mengangguk.


Lalu Arya kembali berbaring. Memejamkan kedua matanya.


"Pah, Rania mau nonton televisi ya?" Rania dengan sangat pelan.


Arya membuka matanya menoleh pada gadis tersebut. "Boleh sayang, asal jangan kemana-mana ya?"


"Oke Papa?" Rania bergegas menuruni tempat tidur lantas mendekati sofa.


Tidak lama menonton televisi. Rania malah tertidur di sofa tersebut.


Fatma yang baru datang dari kantor. Melihat Arya berbaring sungguh khawatir. "Yang, kenapa?"


Arya membuka matanya. Melihat ke arah sumber suara. "Hem, sudah pulang sayang? aku cuma pusing doang."


"Iya, aku mendadak pengen pulang saja. Rania mana?" celingukan.


"Tuh di sofa." Arya menunjukan ke arah sofa yang langsung Fatma hampiri ....

__ADS_1


__ADS_2