
Arya menangkupkan kedua tangannya pada wajah Fatma serta di tatapnya lekat. "Aa gak akan menuntut sayang. Terserah gimana istri Aa saja, yang penting istri Aa yang satu ini merasa bahagia dan itu sudah cukup."
Arya memeluk Fatma erat. Bagi dia kebahagiaan Fatma lebih penting dari apapun sebab itu yang jadi tujuannya membuat sang istri bahagia.
"Terima kasih, Aa. Terima kasih banyak atas pengertiannya." Gumamnya Fatma sembari menenggelamkan kembali wajahnya di dada Arya.
"Sudah. Kita lanjutkan mesraan nya di mobil saja. Di sini banyak orang dan nanti bisa-bisa ada wartawan. Mengintrogasi kita, maklumlah istri Aa ini pengusaha sukses." Arya melepas pelukannya.
Lalu keduanya lanjutkan langkahnya menuju parkiran. Disambut oleh pak Harlan yang membukakan pintu buat Arya dan Fatma.
Lalu menyimpan koper Arya ke bagasi. Setelah itu baru mengitari mobil memasuki mobil lantas duduk di belakang kemudi.
Fatma menyandarkan kepalanya di bahu Arya yang bersandar ke belakang.
"Kenapa? istri aku manja sekali nih." Arya mengelus pipi Fatma.
"Nggak boleh gitu?" Fatma mengangkat kepalanya lalu menjauh dari bahu Arya, duduk tegak.
"Hem ... istriku merajuk nih." tangan Arya menarik kepala Fatma lalu mencium keningnya mesra.
"Pak, jangan iri ya? melihat kami berdua, maklum jarang bertemu. He he ha." Arya melihat ke arah pak Harlan yang senyum-senyum sendiri.
"Tidak apa, Tuan. Bapak maklumi kok." Seraya menganggukkan kepalanya.
Kemudian suasana hening tidak ada yang bersuara kecuali suara mesin mobil yang halus.
Arya menyandarkan kepalanya ke bahu jok memejamkan matanya. Sementara Fatma nyender kan kepalanya di bahu Arya, tangan memeluk pinggang Arya.
Tidak selang lama, mobil pun berhenti menunggu pintu gerbang terbuka.
Arya dan Fatma masuk ke dalam rumah yang mewah itu. Suasana begitu sepi sebab yang lain sudah pada tidur dan lampu pun sudah temaram.
Keduanya langsung masuk kamar, Fatma langsung masuk kamar mandi. Mencuci muka dan berganti pakaian buat tidur.
Setelah Fatma keluar, Arya langsung masuk bergantian dengan Fatma bersiap membersihkan dirinya yang terasa lengket. Namun dengan isengnya tangan Arya menarik ujung handuk Fatma.
__ADS_1
"Apaan sih? iseng banget!" Tangan Fatma langsung menjepit handuknya dan menyelipkan kembali.
Arya hanya tertawa sembari membawa langkahnya memasuki kamar mandi sambil membuka pakaian formalnya.
Setelah memakai membubuhkan pewangi ke tubuhnya. Fatma mengenakan lingerie kesukaan untuk tidur malam ini.
Setelah memakai kimononya lalu ia berniat untuk melihat Rania di kamarnya. Ia berjalan sembari mengikat tali di pinggangnya.
Langkah Fatma terhenti di depan pintu kamar Rania. Perlahan tangan Fatma memutar handle pintu tersebut.
Tampak Rania meringkuk dibalik selimutnya sangat nyenyak sekali tidurnya.
Fatma mendekat. Lalu mengusap kepala Rania yang berkeringat dingin, lantas di ciumnya. "Sayang, semoga banyak orang-orang yang sangat menyayangi mu. Termasuk keluarga papa Arya. Agar Mama gak was-was bila nanti punya baby lagi."
Kedua netra mata Fatma menatap wajah yang terlelap itu penuh kasih dan sayang. "Mama tidak ingin kamu merasa sendiri atau tidak di sayang. Kamu harus banyak yang menyayangi dan mencintaimu, Nak. Jadilah anak baik yang sholehah." Cuph! kecupan kembali mendarat di kening Rania.
Kemudian Fatma beranjak kembali meninggalkan Rania yang tidak bergeming. Berjalan menuju kamarnya.
Kini Arya sudah berbaring dengan telanjang dada, menatap langit-langit memeluk guling. Menunggu Fatma yang entah kemana.
Terdengar derap langkah yang mendekati pintu kamar. Dan tidak lama kemudian pintu terbuka, Fatma berjalan melenggak-lenggok mendekati tempat tidur. Dimana Arya sudah berbaring dan matanya memicing ke arah Fatma.
"Dari kamar Rania." Jawab Fatma sembari menunjuk ke arah luar.
"Ooh, pasti sudah bobo, sebab kalau belum bobo pasti mendatangi kita di sini." Sambung Arya.
Fatma membuka kimono nya setelah berada di tepi tempat tidur, tampak dalamnya yang mengenakan kimono warna ping. Sangat tampak seksi menggoda, sebuah pemandangan yang menggugah iman.
Lantas Fatma merangkak naik mengambil guling yang ada dalam pelukan Arya. "Guling dipeluk? aku nggak."
"Suruh siapa gak ada?" lantas Arya merangkul bahu sang istri yang terbuka. Lalu kecupan kecil menghujani pipi Fatma dengan sangat mesra.
"Giman kerjaannya lancar?" tanya Fatma tentang kerjaan Arya.
"Alhamdulillah tidak ada kendala. Lancar-lancar saja," sahut Arya sembari memejamkan matanya. Rasa kantung pun dah mulai menyerang.
__ADS_1
"Aa?" panggil Fatma lirih sembari mengusap dada Arya yang bidang dan ditumbuhi bulu-bulu halus itu.
"Hem? apa?" tangan mengeratkan pelukannya ke tubuh sang istri.
"Jika nanti kina mempunyai anak. Mau cewek atau cowok sama aja ya? yang penting sehat dan normal," sambung Fatma dengan suara pelan.
"Iya, kalau menurut, Aa sih terserah Allah ngasih saja. Bila kita maunya cowok terus Allah memberikan anak cewek gimana? atau justru kebalikannya, pada akhirnya kita juga yang kecewa."
"Hem, kita sedikasihnya saja ya?" timpal Fatma.
"Hem, iya. Ikhlas aja dengan yang Allah berikan." Lanjut Arya.
"Sayang, terus Aa akan beri nama siapa kira-kira?" tanya Fatma dengan posisi yang sama, berada dalam pelukan Arya dengan kepala di dada sebelah kiri Arya.
"Em ... kalau perempuan. Aa akan berikan nama Fatya Aryani. Dan bila laki-laki namanya, Yusuf Saputra."
"Em ... aku suka, dengan nama itu, bagus juga. tapi aku punya pandangan untuk anak-anak kita nanti, dia gak harus pintar atau sekolah tinggi. Tergantung *********** saja, tapi harus pandai dalam hal agama. Bener gak?" tanya Fatma namun tak ada sahutan dari Arya.
Jangankan menjawab. Pergerakan pun tidak ada, yang terdengar hanyalah suara napas yang teratur dari hidungnya.
"Sayang?" panggil Fatma kembali seraya mendongak.
Ternyata Arya sudah tidur. Tampak nyenyak sekali. "Iih ... ya ampun ... aku bicara sendiri, rupanya suami ku sudah bobo!"
Pandangan Fatma tertuju pada wajah Arya yang sudah lelap itu. Lalu bergerak tertuju ke arah bibirnya yang merah jambu segar. Fatma mendekatkan wajahnya itu setelah mengibaskan rambut ke samping.
Dengan lembut dan mesra. Fatma mengecup bibir sang suami yang sudah tidur tersebut. Mulanya biasa aja tapi lama-lama timbul desiran rasa yang menuntut lebih. Tapi apa daya si lawan mainnya tampak capek jangan untuk melakukan lebih. Merespon sentuhannya pun tidak.
Akhirnya, Fatma hanya menatap kecewa pada sang suami. Tatapannya begitu intens ke arah Arya dari kepala sampai ujung kakinya. Beberapa kali menelan saliva nya, tangannya mengusap perut Arya yang sixpeks. Lalu turun mendekati belut yang biasanya hidup bila berdekatan ya.
Namun kini seolah tenang atau mati, sembunyi ketakutan pada Fatma. Tidak mau masuk ke sarang yang sebenarnya siap untuk dikunjungi.
"Sayang ... kok bobo sih? istrinya di cuekin." Suara Fatma bergetar dan ada sekelumit rasa kesal. Pada akhirnya Fatma berbaring memeluk sang suami yang malah semakin terlelap ....
.
__ADS_1
.
.