Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Tak sadarkan diri


__ADS_3

"Itu, Yah ... Aldian bikin ulah lagi." Jawab bu Wati lesu.


"Apa? ulah gimana lagi dia? mantu tak tau diri. Tak tau diuntung," tanya pak Wijaya marah.


"Fatma--" perkataan Bu Wati terhenti.


"Assalamu'alaikum ..." suara Arya menghentikan ucapan bu Wati. Arya masuk dan langsung meraih tangan pak Wijaya.


"Wa'alaikum salam, Nak Arya ada di sini?" pak Wijaya heran dan menoleh sang istri.


"Kenapa! Ayah bisa seperti ini?" Arya duduk di tepi tempat tidur menatap pak Wijaya.


Sebelum menjawab pak Wijaya menoleh ke arah sang istri yang merespon dengan anggukan. Pak Wijaya pun menceritakan semua tentang kejadian pagi itu, tak sedikitpun yang ia sembunyikan.


Arya menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir kalau Aldian ternyata psikopat yang begitu arogan tak memandang itu siapa? Arya mengusap punggung tangan pak Wijaya yang tampak kecewa.


"Sabar ya? Ayah doakan saja semoga masalah ini segera berakhir. Oke. Aku pamit dulu. Lain kali datang lagi, itupun kalau kalian semua tak keberatan aku datang ke sini!" Arya mengulas senyumnya.


"Tentu! tentu kami tak keberatan dengan kedatangan Nak Arya. Iya kan Yah?" Bu Wati menoleh sang suami.


"Iya, tentunya kami senang kau datang ke sini. Makasih Nak Arya?" ucapan pak Wijaya membenarkan pernyataan bu Wati. Istrinya.


Arya berdiri dan kembali meraih tangan keduanya. "Assalamu--"


Terdengar jeritan anak kecil dari kamar Fatma sehingga langkah Arya tertarik tuk melihatnya. Arya setengah berlari memburu sumber suara tersebut. Langkahnya begitu cepat sehingga tidak butuh waktu lama tuk sampai di tempat yang dituju.


Setelah berada depan pintu alangkah terkesiap nya Arya. melihat Fatma di lantai. "Kak Fatma?"


Rania menangis histeris melihat sang bunda tergelatak di lantai dengan mata tertutup serta darah segar keluar dari kepalanya.


"Astagfirullah ... ini kenapa? Rania sayang. Mama kenapa?" Arya loncat melewati Mia yang memeluk Rania yang berontak ingin menghampiri sang bunda.


Namun pertanyaan Arya tak mendapat jawaban sedikitpun. Mia bungkam dengan wajah yang tampan shock dan mata berembun menunduk tak kuasa melihat sang majikan seperti itu.


Arya segera meraih tubuh Fatma menggendongnya dengan cepat dibawanya keluar kamar.


Bu Wati datang langsung menjerit, melihat Fatma yang sudah dalam gendongan Arya dan dengan jelas kepala Fatma mengeluarkan darah segar hingga berceceran ke lantai. Tak kuasa melihatnya, bu Wati tumbang dan pingsan. Bikin semua asisten panik.

__ADS_1


Arya fokus dengan Fatma yang lebih membutuhkan pertolongan saat ini. "Siapkan mobil?" teriak Arya sambil berlari membawa tubuh Fatma menuju mobil yang dengan sigap dibukakan oleh supir.


Arya langsung masuk mendudukkan dirinya dengan keadaan masih memangku tubuh Fatma. "Kak, bertahan Kak." Gumamnya Arya.


Mobil melaju kencang mengalah jalanan menerobos kendaraan yang lain dengan tujuan secepatnya sampai di Rumah Sakit.


"Cepat Pak supir, tolong lebih cepat?" pinta Arya yang panik setengah mati. Fatma tetap menutup matanya, tak sadarkan diri.


Supir hanya mengangguk dengan hati yang dihinggapi rasa was-was gelisah tak karuan.


Selang beberapa waktu, mobil itu sampai juga di tempat yang di tuju. Arya bergegas turun dan meminta brankar Rumah Sakit pada perawat yang kebetulan berlalu lalang di depan.


Kini Fatma berbaring di brankar dan di dorong ke ruang UGD dan langsung di tangani oleh dokter di sana yang kebetulan mengenal Fatma. Arya menunggu di luar dengan kekhawatiran begitu tinggi dan rasa cemas yang mendalam. Setelah sebelumnya melakukan admistrasi terlebih dahulu.


"Awas, kalau tau siapa yang melakukannya akan buat perhitungan, astagfirullah. Ya Allah ... kenapa ini terjadi menimpanya?" Arya bermonolog sendiri.


Sementara sang supir yang ikut serta hanya menatap ke arah Arya. Hatinya pun gusar dan terus memandangi pintu ruang UGD.


Arya melihat putaran jam di tangannya sudah memasuki waktu ashar. "Pak, tolong jangan ke mana-mana dulu. Saya mau ke mushola sebentar!"


"I-iya Den." Balas supir yang usianya mungkin mencapai 50 tahun itu segera mengangguk pelan. Matanya menatap punggung Arya yang berjalan tergesa-gesa.


Ketika Arya sedang bengong ada penjaga mushola mendekat.


"Tuan mau solat? ada pakaian bersih di sebelah sana, pake lah." Suara itu mengagetkan Arya.


"I-iya, Pak. Makasih!" Arya mengangguk. Kemudian mengambil air wudu terlebih dahulu.


Arya bersujud dan bersimpuh sekalian mendoakan Fatma agar Allah selamatkan. Dan membantu segala masalah berakhir segera.


Seusai salat ashar. Wajahnya tampak lebih segar dan hatinya lebih tenang. Arya segera kembali mengayunkan langkah lebarnya ke ruang tunggu, sesampainya di sana. "Gimana Pak? apa dokter sudah keluar atau--"


Belum juga supir itu menjawab perawat dan dokter keluar, Arya langsung menghampiri dan bertanya. "Gimana dok?" menatap dengan harap-harap cemas.


"Alhamdulillah. Lukanya Bu Fatma sudah bisa kami atasi dengan beberapa jahitan. Sekarang tinggal menunggu siuman." Jawab dokter dengan mengulas senyumnya.


"Alhamdulillah ..." gumam Arya sambil mengusap wajahnya. "Makasih ya Allah ... makasih juga dok," ungkap Arya dengan wajah yang sumringah.

__ADS_1


"Oya, anda ini siapa? dan Bu Fatma kenapa bisa terluka begitu?" dokter penasaran.


"Eh, saya ... kerabatnya dok, soal itu saya kurang tahu. Sebab waktu saya datang sudah tergeletak di lantai. Keluarganya ... khususnya sang bunda pingsan ketika melihat kondisi kak Fatma tak sadarkan diri," sambung Arya kembali. "Oya dok, saya bisa menengoknya sekarang?"


"Oh, tentu, boleh. Silakan-silakan." Tangan dokter menunjuk pintu. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang inap."


Arya mengangguk. "Makasih dok?" ia segera masuk dan menemukan tubuh Fatma terbaring lemah. Kelopak matanya masih betah tertutup.


Supir masuk mendekati Arya yang berdiri dekat Fatma dan menatapnya lekat. "Gimana kabar Nyonya muda Tuan?"


Arya menggeleng. "Masih belum siuman Pak, oya. Gimana kabar bu Wati? apa ada kabar dari rumah?" suara Arya pelan.


"Nyonya besar sudah sadar katanya sih, menurut info yang saya dapat dari Mia." Jawabnya.


"Syukurlah. Kalau begitu," manik mata Arya kembali menatap wajah Fatma yang terlihat pucat.


Kemudian Fatma dipindahkan ke ruang inap VIP dengan masih belum sadar. Arya masih setia menemani bersama supir Fatma yang bernama Harlan.


"Kak Fatma bangun dong, jangan bikin saya cemas dan khawatir." Batin Arya menatap ke arah wajah pucat Fatma, kepalanya di perban akibat luka di bagian belakang pelipisnya.


Arya menoleh pada supir yang beranjak dari tempat duduknya. "Mau kemana Pak?''


"Saya mau beli makanan Den, Aden juga pasti belum makan, kan? saya mau Carikan dulu." Jawabannya.


"Cari di mana Pak? jangan sampai cari di tong sampah ya Pak?" canda Arya sambil tertawa kecil.


Pak Harlan melanjutkan langkahnya keluar dari tempat tersebut. Dan tinggallah Arya di kamar tersebut bersama Fatma yang masih belum siuman juga.


"Tega benar orang yang telah menyakiti mu, tak punya hati dan tak punya akal." Batin Arya sambil memandangi dari jauh.


Kring ...


Kring ....


Kring ....


Suara ponsel Arya yang terselip di dalam saku. Dengan segera Arya merogoh nya dan melihat siapa yang telepon ....

__ADS_1


****


Tiada kata seindah kata salam yang dengan tulus terucapkan. Assalamu'alaikum. Semoga kabar baik menyertai reader ku semua. Aamiin🤲


__ADS_2