
"Em, i-iya. Ini juga baru pulang meeting." Jawab Fatma sembari tersenyum manis.
Arya terdiam. Sibuk dengan pikirannya yang berlayar ke mana-mana.
Sultan yang memperhatikan ekspresi wajah Arya, tersenyum dalam hati. Lalu mengalihkan pandangan pada Fatma yang meneguk air minumnya. Lek, lek-lek terdengar begitu nikmat melintasi tenggorokannya.
Membuat yang melihat ikut menelan saliva nya. Begitupun dengan Arya yang melihatnya, namun dia segera menunduk.
"Kak, Fatma. Anda begitu sangat cantik membuat semua pria sudah pasti tergila-gila padamu," kata Sultan memulai gombalannya.
Fatma tersenyum simpul, tersipu malu mendengarnya. Arya spontan mendongak mendengar gombalan Sultan yang bikin hatinya semakin memanas.
"Si Tatan ngomong apaan sih? gak ngerti jadinya." gumam Arya dalam hati.
"Bisa aja, kenyataannya gak seperti itu. Buktinya! rumah tangga ku gagal, dan satu lagi. Buat apa coba tergila-gila? kalau tidak mencinta, percuma mengagumi. Kalau cuma menyakiti," ucap Fatma dibarengi bibir yang terus mengulas senyuman.
"Cakep, bener banget juga. Tapi kalo cinta sebaiknya di ungkapkan, bukan di pendam kan?" ucap Sultan melirik ke arah Arya yang terdiam.
"Iya sih. Tapi ... adakalanya seseorang macam itu bukan tidak ingin mengungkapkan. Melainkan mencari waktu yang benar-benar tepat, sebab. Dia perlu pertimbangan dan tidak ingin gegabah atau masih meyakinkan dirinya. Bisa aja." Jawab Fatma.
"Bener itu. orang Sunda bilang, Tong gurung gusuh alias jangan terburu-buru." Arya membenarkan jawaban dari Fatma.
__ADS_1
Sultan tersenyum penuh arti menatap ke arah Arya, kemudian beralih pada Fatma lagi. "Oke, begini. Kalau seandainya saya ingin menjadi suami Kak Fatma, gimana? saya janji akan menjadi suami yang baik dan akan menyayangi Rania seperti putri saya sendiri. Gimana?" tanya Sultan pada Fatma. Sambil melirik Arya dengan ekor matanya. "Iya sih, saya bukanlah level kak Fatma. Anda memang terlalu tinggi untuk saya jangkau."
Arya terkaget-kaget mendengar ungkapan dari Sultan yang tampak sangat serius. Arya menundukkan kepalanya seraya memejamkan kedua matanya. Makin terbakar saja hati Arya saat ini.
Begitupun dengan Fatma, dia terkesiap, terhentak bukan main. Sebab ini benar-benar di luar konsep! Fatma bengong, terdiam sejenak, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Hening!
Fatma menatap heran pada Sultan, pemuda itu menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Seolah menanti jawaban dari dirinya, dalam hati bertanya-tanya apa sih ini maksudnya? kok keluar jalur! jadi bingung. "Saya, gak gimana-gimana. Tapi--"
"Sumpah, ini gak lucu! buat apa saya di sini? kalau cuma untuk mendengar obrolan yang gak penting buat saya." Arya berdiri hendak pergi namun dengan cepat Sultan pun berdiri seraya menangkap tangan Arya.
"Bro, ini obrolan yang seharusnya kalian berdua saja, tidak perlu ada aku di sini!" ucap Arya dengan jelas.
"Kenapa? bukankah kalau cuma berdua yang ketiganya adalah setan? jadi apa salahnya jika aku menghadirkan kamu bro?" timpal Sultan.
Netra mata Arya menatap kurang suka pada Sultan. Sungguh kurang mengerti dengan jalan pikiran Sultan saat ini. Sudah tahu kalau dirinya memiliki perasaan tak biasa pada Fatma, kok teganya dia menusuk dari belakang. Keduanya saling bersitatap.
Hati Fatma tak terelakan lagi. merasa aneh atau heran dengan sikap Arya yang sepertinya jales, tidak suka melihat dirinya dan Sultan berdua apalagi membicarakan soalan perasaan.
Happy Birthday to You, Happy Birthday to You. Happy Birthday-Happy Birthday. Happy Birthday Arya ....
__ADS_1
Beberapa orang muncul dari sebuah ruangan. Yang di antaranya, kapten Wisnu dan kapten Didi, beberapa pramugara dan pramugari. Pokoknya orang-orang yang memang dekat dengan Arya termasuk Sofi ada di sana juga. Membawa kue tart yang lengkap dengan lilinnya.
"Apa-apaan ini?" tanya Arya terheran-heran.
"Selamat ulang tahun Arya ..." suara semuanya dengan wajah yang sumringah dan pandangan yang berbinar, menghampiri ke arah mereka bertiga.
Arya melihat ke arah Fatma dan Sultan bergantian. Mereka berdua tersenyum padanya, Fatma mengambil sesuatu dari bawah meja. Sebuah paper bag yang berisi kue tart juga.
"Selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan sehat selalu." Fatma berucap dengan tatapan intens pada Arya.
Wajah Arya berubah drastis yang tadinya bermuram durja. terbakar api cemburu kini menjadi sumringah, terpancar rona kebahagiaan dari wajahnya. Terharu dengan kejutan yang mereka buat untuknya. "Beneran ini kejutan buat aku?" setengah tidak percaya.
"Iya, kejutan buat kamu," tutur Fatma seraya tersenyum yang amat mempesona.
Kepala Arya menoleh ke arah Sultan yang tertawa lebar. Diiringi ekspresi wajah yang seolah menunjukan bahwa semua ini untuk Arya.
"Ayo tiup lilinnya!" titah Wisnu menunjuk kue tart yang di tangan Sofi.
"Tiup, tiup. Tiup, lilinnya tiup." Suara semuanya meminta Arya untuk tiup lilin ....
****
__ADS_1