Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Nyanyian Rania


__ADS_3

"Iya, Nggak pa-pa, nanti Papa yang meminta ijin ke ibu guru. Oke?" Sambung Arya.


"Emang boleh?" Rania menatap lekat sang ayah.


"Insya Allah. Bisa, akan Papa usahakan." lirihnya Arya.


"Sayang. Rania ingat gak sama Mama Suci?" tanya Fatma dan menatap ke arah Rania.


"Ingat, kenapa emang. Mam?" Rania menatap penasaran.


"Beliau ... meninggal dunia," sambung Fatma.


Anak itu melongo. Memutar memorinya, mengingat sosok suci yang jujur tidak ia sukai.


"Oke, sekarang Rania mandi! minta aunty Dewi dandani ya? sekarang Mama mau bersiap-siap dulu." Fatma beranjak dari duduknya, berjalan mendekati lemari besar yang berada di sana.


"Oke," kemudian Rania turun dari sofa, dan berlalu keluar dari kamar tersebut.


Arya menghampiri pintu untuk menutupnya. Lalu mendekati sang istri, di peluknya dari belakang. Menempelkan dagunya di pundak sang istri.


Fatma yang baru selesai berdandan. Melirik ke samping. "Kenapa?"


"Pengen!" gumamnya Arya.


Fatma tersenyum simpul. "Apaan sih?"


"Kenapa?" tanya Arya sembari mendekati pipi sang istri, di kecup nya dengan mesra.


"Kenapa? gak tau apa situasi dan kondisi nya gimana?" Fatma menggeleng.


"Ha ha ha ... ya sudah, aku pengen sarapan, tapi istri aku yang bikinkan! perasaan di Mension ini gak pernah dimasakin." Arya melepas pelukannya.


Fatma terdiam dan mengubah posisinya menjadi berhadapan. "Mau dimasakin apa?"


"Em ... nasi goreng aja." Arya mengambil jam tangan dari laci.


"Oke." Fatma meraih tas nya sekalian, lalu membawa langkahnya menuju dapur.


Setelah sarapan, Fatma berangkat dengan mobilnya ke kantornya.


Sementara Arya dan Rania pergi dulu ke sekolah untuk meminta ijin kalau hari ini Rania mau libur.


Kemudian mereka langsung menyusul ke kantor, setelah mengantongi ijin dari guru Rania.


...---...


"Saya akan pergi, bersama suami dan anak. Kita akan bertemu di sana!" ucap Fatma sembari menggeser kursinya.


"Baiklah. Aku akan pergi sendiri." Zayn pun mengangguk setuju.


Lalu keduanya keluar dari gedung pencakar langit itu. Menuju luar kota dalam urusan kerjaan, namun Fatma sekalian berniat jalan-jalan bersama suami dan anaknya, Rania.


Kini Rania dan Arya sudah berada di dalam mobil bersama Fatma yang sibuk dengan laptopnya.


"Di sini senang, di sana senang. Dimana-mana hatiku senang.


Di sini senang, di sana senang. Dimana-mana hatiku senang. La ... la ...la ... la ... la ..." nyanyian Rania yang tampak riang.


Membuat Arya tersenyum bahagia mendengarnya. Belum lagi minta jajanan yang ada di jalan, membuat mobil jadi sering berhenti.


Kendati Fatma termasuk bukan orang biasa dalam hal uang, namun dia tidak memilih-milih Rania untuk jajan makanan apa, terserah yang dia suka aja. Lagian apa salahnya bila membeli dari pedagang kecil seraya membantu.


"Mam, mau jajan ketoprak. Em bukan, pengen membeli ketupat." Rania menunjuk kepada pedagang yang berada di pinggir jalan.


"Boleh, beli aja. Aa bawa uang kes gak?" Fatma menoleh ke arah sang suami yang mengedarkan pandangan ke luar jendela.


"Ha? ada. Biar Papa yang beli." Arya pun menoleh anak dan istrinya bergantian.


Lalu Arya meminta pak supir untuk menepikan mobilnya sebentar. Arya turun dengan tangan merogoh sakunya mengambil dompet.


Mengayunkan kakinya ke arah pedagang yang Rania mau beli jajanannya.


Sesudah dapat. Arya langsung kembali ke dalam mobil. "Ini, sayang. Dimakan ya?"


"Iya," Rania langsung menyambut dan melahapnya dengan nikmat.

__ADS_1


Pak supir pun langsung melajukan mobil dengan segera. Berpacu dengan kuda-kuda besi lainnya, yang begitu seliweran dengan tujuannya masing-masing.


Fatma fokus ke layar laptopnya, tangan pun sibuk dengan papan keyboard yang ada dihadapannya itu.


Sementara Rania bersandar di perut Arya dan lama-lama kedua matanya terpejam, menikmati angin yang berhembus mesra.


Setibanya di lokasi. Fatma langsung meluncur dan sibuk dengan kesibukannya bersama Zayn. Arya nunggu di hotel bersama Rania yang makin terlelap.


Kini Arya tengah duduk bersantai di balkon, menikmati semilirnya angin dan minuman kaleng yang berada di tangan. Sorot mata memandangi ke bawah. Sekitar kolam renang tengah berkumpul di meja panjang orang-orang dengan penampilan yang begitu formal.


Termasuk seorang wanita yang menjadi teman hidupnya. Tengah berada di sana berbincang dengan sangat serius bersama rekan-rekan kerja.


Arya memilih sendiri di sana sambil menjaga Rania. Kemudian melirih ke sebuah laptop milik nya yang berada di sampingnya.


Lalu berkutat dengan layar laptop tersebut dengan raut wajah yang tampak serius. Kemudian ia tersenyum sendiri dengan email yang ia dapatkan.


"Gool ... Alhamdulillah. Inilah kerjaan sampingan ku yang menghasilkan uang yang lumayan. Tanpa aku harus berkutat di kantor seperti yang Fatma bilang itu, semoga ini menjadi berkah." Arya mengusap wajah dengan kedua tangannya sembari mendongak ke langit.


"Papa? Mama mana?" suara Rania dari arah belakang.


Dengan sontak Arya menoleh ke arah Rania yang berdiri dekat pintu balkon dan dengan mata memicing tanda masih ngantuk dan mungkin kesadaran nya pun belum terkumpul.


"Iya, sayang. Mama kan meeting, Rania sama Papa di sini." Arya menatap lekat.


"Oh, Rania mau bobo lagi ya? ngantuk." Anak itu memutar tubuhnya kembali ke dalam.


"Oke," kepala Arya mengangguk lalu pandangannya kembali layar laptop.


Sesekali melirik ke bawah. Ke arah sang istri yang masih dalam pertemuan. Dan bila bertemu mata, mereka saling melempar senyuman.


"Papa? tas Rania di mana?" suara Rania kembali terdengar, namun kali ini berada jauh dari Arya.


"Tas? Ooh, di atas sopa, Nona. Mau apa?" balas Arya.


"Mau mandi, ambil baju. Ada-ada, ada kok." Suara anak itu lagi.


Arya biarkan, tanpa mengeluarkan suaranya kembali. Ia memilih sibuk dengan layar laptop. Namun hatinya ingat kalau Rania siapa yang urus?"


Tangan Arya menutup laptop, di bawanya ke dalam. Lalu mengedarkan penglihatannya, namun Rania tidak ada dan terdengar suara air keran yang mengalir.


Beberapa saat kemudian. Fatma yang selesai meeting, gegas ke kamar hotel menemui anak dan suaminya. Di sambut dengan sangat hangat oleh si kecil dan suaminya.


Keduanya mau jalan-jalan ke tempat rekreasi yang ada di daerah tersebut. Kebetulan Arya dan Rania belum makan siang.


"Mama, mau mandi dulu ya? lengket nih! Bau." Fatma mendengus mencium dirinya yang bahu dan lengket.


"Jangan lama-lama ya Mam?" pinta Rania sambil memainkan boneka barunya.


"Oke, paling satu jam--"


"Iih, Mama ... gak boleh lama-lama di dalam kamar mandi. Pamali lho." Rania memotong kalimat yang Fatma beri.


"Coba, Papa pengen tahu. Apa sebabnya kita tidak boleh lama-lama di dalam t


kamar mandi?" tanya Arya sembari tatapan mengarah ke anak kecil yang menggemaskan tersebut.


"Kata ibu guru. Kalau lama-lama berada di dalam kamar mandi. akan di sukai jin dan setan, jadi kalau ke toilet atau kamar mandi sewajarnya saja." Anak itu berbicara dengan tangan di gerak-gerakkan.


"Oya? Papa baru tahu deh." Arya sembari melirik ke arah Fatma yang tersenyum simpul ke arah suaminya itu.


Kemudian Fatma melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


"Pa? kita mau jalan ke mana sih? boleh membeli oleh-oleh gak?" menatap lekat.


"Boleh, tentu." Arya mengangguk pelan.


...---...


Sudah beberapa hari dengan santainya, Indah menginap di rumah bunda Tita. Tentunya bersama Renata, Doni pun tetap pulang ke sana walau mendapat sikap yang dingin dari Renata.


Doni tidak perduli. Dari pada tinggal di rumah sendiri tanpa istri. Walau ia merasa jengah dengan kehadiran Indah di sana, yang semakin mendekati kalau ada kesempatan.


Membuat Doni lebih berhati-hati dengan Indah. Memberi jarak agar tidak dapat terganggu dengan kehadirannya.


Indah sering mencuri kesempatan, mendekati Doni bila kondisi dan suasana sepi. Apalagi Indah tahu kalau Doni tidak dilayani dengan baik oleh Renata lagi, bahkan di sebalik itu Indah memberi dukungan Renata untuk menceraikan Doni segera.

__ADS_1


Namun Doni tetap kekeh dengan pendiriannya, untuk tidak menceraikan Renata. Kendati Renata bersikap jutek atau dingin kepadanya, jarang sekali mau melayani Doni kalau tidak ada dorongan dari ibunya.


Saat ini Doni tengah membuat secangkir kopi di dapur. Renata di atas entah sedang apa? lagian memang dia sering ogah-ogahan bila disuruh sama Doni.


Suasana sepi, membuat Indah merasa ada kesempatan untuk mendekati Doni.


"Sayang, aku tahu. Kamu itu tidak lagi dilayani oleh Renata, dan aku siap sebagai penggantinya." Suara lirih Indah sambil memeluk Doni dari belakang.


Dengan refleks, Doni melepaskan diri dari Indah. "Jangan macam-macam, saya sudah beristri. Dan kamu tidak ada hak untuk menggoda saya."


Indah tersenyum. Semakin berani menunjukan bagian-bagian tubuhnya yang menonjol. Apalagi ditunjang dengan pakaian malam yang seksinya melekat di tubuhnya.


"Aku tidak macam-macam, aku cuma mau satu macam saja. Aku ingin menggantikan istrimu yang tidak mau lagi melayani mu, aku tau itu. Sebagian laki-laki normal! kamu pasti membutuhkan itu, kan? merindukan belaian dan sentuhan seorang wanita," ujar Indah sembari menggerakkan jemarinya di dada Doni yang sedikit terbuka dan berbulu halus tersebut.


Doni, menjauh dari Indah sambil membawa secangkir kopi, namun kaki Indah menghadang Doni membuat hati Doni dongkol takut dia khilaf dengan melihat Indah yang terus menggodanya itu.


Manik mata Doni celingukan takut Renata dan bunda melihat, nanti bisa-bisa mereka curiga.


"Jangan begini! nanti membuat orang curiga lagi, saya punya istri dan itu sahabat mu sendiri. Pikir pake otak." Doni menunjuk kening Indah yang berwajah tanpa bersalah sedikitpun.


"Aku, gak perduli sayang, aku cuma ingin bersenang-senang denganmu malam ini. Aku menginginkan mu," lagi-lagi memeluk doni dari belakang Doni.


Lagi-lagi Doni lepaskan. "Jangan coba-coba mendekati ku lagi, dasar wanita murahan!" pekik Doni yang tertahan dan menunjuk ke arah hidung Indah.


"Hem, aku gak akan menyerah sebelum mendapatkan mu seutuhnya," tambah Indah tanpa ragu dan sangat percaya diri.


Dengan hati kesal, Doni mengambil cangkir kopinya lalu meninggalkan Indah. Ketika langkahnya baru beberapa saja, Doni bertemu dengan Bibi sepertinya dia mendengarkan dan melihat dirinya dan Indah.


Keduanya saling menatap curiga. Jantung Doni menjadi tidak menentu, dag-dig-dug tak karuan. Sementara dia bingung harus berkata apa kalau ini sampai ke telinga Renata dan ibundanya, bisa-bisa tambah runyam dan bisa terjadi perang kedua.


Sementara keduanya mematung. Doni tak berkata apapun dan pada akhirnya Bibi pergi meninggalkan begitu saja.


Melihat begitu, Indah merasa leluasa, menarik tangan Doni yang langsung mendapat tepisan.


"Jangan sentuh aku!" kata Doni dengan tegas lalau melanjutkan langkahnya meninggalkan Indah.


Doni dengan cepat menaiki anak tangga ingin segera sampai di kamarnya.


Indah mendongak melihat punggung Doni sampai menghilang dari pandangan dengan bibir yang menyungging.


Kini Doni sudah berada di kamarnya, tidak lupa mengunci pintu sebelum melangkah mendekati tempat tidur, yang tangah ditempati oleh Renata yang sudah tampak tidur dengan nyenyak.


Di sofa panjang sudah ada bantal dan selimut seperti biasanya, namun kali ini langkah Doni malah ke tempat tidur sang istri yang tampak lelap tersebut.


Tubuhnya sang istri Doni tatap dengan intens dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Hasratnya yang sudah mulai memuncak sedari lantai bawah ketik melihat sekilas ke arah tubuh Renata yang seksi.


Doni merangkak naik ke tempat tidur renata dengan pelan. Ia menarik selimut bagian atas sampai turun ke bawah pinggang, tampak Renata mengenakan tenk-top membuat Doni tambah bernafsu.


Jarinya menyentuh pipi yang ada anak rambut nya. Ia singkirkan lalu cuph! kecupan kecil nan mesra dari Doni mendarat ke pipi sang istri kanan dan kiri.


Dan pergerakan itu Renata dapat rasakan, sehingga dia terbangun lantas duduk saking terkesiap nya. Melihat Doni yang begitu dekat.


"Ka-kau mau apa? jangan dekat-dekat." Suara Renata yang parau dan tangan menunjuk ke arah pintu kamar.


Namun Doni malah menyeringai kepada Renata. Tubuh Doni semakin mendekat dan mendaratkan kecupan di beberapa bagian yang menjadi favoritnya.


Renata berontak. Kedua tanhannya menepis dan mendorong dada Doni yang makin mengungkungnya.


"Lepas ... aku minta pisah, jangan lakukan ini?" Pekik Renata yang langsung Doni bungkam dengan mulutnya.


"Jangan menolak. Kamu masih menjadi istriku dan akan selalu menjadi istri ku, kamu tidak mau kan? kalau aku melakukan nya di luar, dengan wanita yang bukan istriku," suara Doni yang sudah berat dihiasi dengan hasrat yang sudah menggebu.


Renata akhirnya terdiam tidak menjawab mendengar ucapan dari Doni, Sesungguhnya Renata mengetahui sesuatu. Antara Doni dan sahabatnya, Indah.


Renata tahu, kalau indah berusaha mendekati suaminya ini, pantas saja kalau Indah justru mendukung buat Renata berpisah dari Doni. Rupanya ada udang di balik batu.


Tangan Doni mengunci tangan Renata agak tenang. Lalu Doni kian melancarkan aksinya untuk mencumbu sang istri.


"Lepaskan aku, aku tidak mau. Kamu boleh melakukannya dengan yang lain, lepaskan aku," suara Renata namun kali ini dengan nada pelan.


Dan Doni seakan tidak mengindahkan perkataan sang istri. Dia tidak peduli, terus saja mencumbu Renata yang mulanya melawan namun pada akhirnya. Renata terdiam dan mau tidak mau menikmati permainan yang Doni berikan.


Yang tadinya bersikap dingin, namun lama-lama setelah mendapat sentuhan yang lembut dari Doni. Membuat Renata tersulut juga napsu nya sehingga tingkahnya yang begitu agresif menandingi Doni ....


****

__ADS_1


Mohon dukungannya ya🙏


__ADS_2