
Setelah makan, Rania langsung tertidur di tempat tidur Fatma yang ukuran king size itu.
Waktu tidak begitupun Bu Wati di samping Rania. Pak Wijaya di sofa panjang rebahan.
Arya beranjak dari posisinya setelah beres makan, lalu pergi ke balkon mencari angin dan sepertinya malam ini begitu indah yang berhias bintang dan rembulan.
Fatma membereskan sampah ke tempatnya. Lalu Fatma mengikuti suaminya ke balkon.
Tidak lupa menutup pintunya dan gorden pun tertutup dengan rapi. Arya sedang berdiri memeluk dadanya, menatap bintang dan rembulan yang bersinar indah.
Fatma melangkah mendekati dan memeluk dari belakang. "Aku kangen."
Kepala Arya menoleh dan pada Fatma lalu memegang tangannya yang memeluk erat. "Aa juga sangat kangen." mencium punggung tangan Fatma sangat mesra.
Kemudian berbalik menjadikan keduanya saling berhadapan. Dan saling bersitatap.
"Aa, beberapa hari kan di sini?" tanya Fatma dengan tatapan yang terkunci pada satu sisi.
Arya mengangguk pelan. "Iya, beberapa hari. Kenapa?" lirih.
"Nggak, nanya saja." Gumamnya Fatma, tangan masih merangkul pinggang Arya, dengan tubuh bagian depan begitu rapat satu sama lain.
"Apa Rania mau sudah bobo?" tanya Arya pelan setengah berbisik.
"Sudah, dia sangat kecapean. Makanya sudah bobo." Fatma mengangguk.
Cuph! Cuph! bibir Arya mencium pipi Fatma bergantian kanan dan kiri. Bibir Fatma tersenyum dan membalas kecupan mesra suaminya itu.
"Gimana baik-baik aja kan di sini? calon baby kita gak bikin repot kan?" tanya Arya sambil kembali memeluk bahu sang istri, menempelkan dagunya di pucuk kepala Fatma.
"Baik-baik saja kok, gak ada yang aneh-aneh paling mual dikit dan itu masih bisa di toleransi." Fatma menyembunyikan wajahnya di dada Arya. Tempat ternyaman sebagian istri.
"Syukurlah, kalau tidak merepotkan mamanya." Cuph! lagi-lagi kecupan mesra mendarat di pucuk kepala Fatma.
"Nggak kok, aku happy aja biar pun sibuk tapi sering kangen sama papa nih. Pengennya sih di peluk terus." Fatma mesem dan mendongak.
"Hem ... oya? kalau sedang kangen, pejamkan saja matanya. Dan sebut nama Aa, lalu rasakan kehadiran As memeluk seperti sekarang ini."
Fatma menyimak dengan memejamkan kedua matanya. Menikmati hangatnya pelukan sang suami yang beberapa hari ini berjauhan.
Sampai terasa benda lembab menempel di keningnya. setelah itu barulah Fatma membuka kedua matanya memandangi wajah sang suami yang menatap lekat ke arahnya. Lalu keduanya tersenyum manis.
"Malam ini begitu indah. Lihatlah bulan bersinar dan bintang yang bercahaya?" Arya menunjuk langit yang berhias dengan rembulan dan bintang-bintang.
Fatma menoleh ke arah yang Arya tunjukan. Ia tatapi dengan senyuman di bibirnya yang merekah. "Iya, indah sekali."
__ADS_1
"Begitulah kondisi hati ku saat ini. Bersamamu berasa bahagia walau dalam gelap malam sekalipun," ungkap Arya sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Fatma.
"Gombal. Sejak kapan kau suka gombal? lebay ah!" Fatma senyum simpul.
"Sejak ... sejak kapan ya? sejak bersama mu. Belajar merangkai kata. Mengumpulkan kata-kata pujangga untuk merayu sang Juwita." Arya penuh kata rayuan.
membuat Fatma semakin tersenyum simpul. Meneguk dada Arya. ''Sudah ah, jangan merayu gitu. Jadi malu!"
"Ngapain mesti malu sayang? lagian, Aa. Merayu istri, Aa. kok bukan istri orang ha ha ha ..." Arya tertawa.
"Ups! jangan keras-keras?" telapak tangan Fatma menutup mulutnya Arya.
"Maaf sayang, ya sudah ... sudah malam! bobo sana? besok ngantor kan?" suara Arya pelan sambil celingukan.
"Tapi Aa. Bobonya di mana?" tanya Fatma pelan juga.
"Em ... bisa di sofa sayang. Jangan khawatir. Aa bisa di mana saja apalagi di hatimu." Arya tersenyum menggoda.
"Em ... kangen!" lagi-lagi Fatma memeluk tubuh sang suami sangat erat, tubuh pun kian rapat. Nempel bagai perangko.
Arya pun membalas pelukan sang istri dengan penuh kasih dan sayang. "Aa. Juga kangen, kangen banget."
Beberapa saat mereka hanyut dalam perasaan. Sesekali Arya mengecup kening Fatma lama, penuh kehangatan.
Sementara Arya mendekati sofa yang satunya dan berbaring di sana. Sebelum berbaring, Arya menoleh ke arah Fatma yang juga menoleh ke arahnya.
Sekilas memberikan senyuman yang manis. Setelah itu barulah sama-sama membaringkan diri di tempatnya masing-masing.
Jarum jam terus berputar, detik demi detik berganti, membawa malam berganti pagi. Hiruk pikuk keramaian kota sudah nampak dari atas gedung tersebut
Arya dan keluarga sudah berada di restoran yang masih di gedung yang sama. Sedang menikmati sarapan nya masing-masing.
"Rania mau ikut Oma gak?" Oma nanti siang mau tebang lagi ke Belanda." Tanya Bu Wati menatap sang cucu.
Anak itu sejenak terdiam. Dan pasang mata itu melihat ke arah Rania. pengen tau jawaban dari anak tersebut.
"Kalau papa pulang ke indo, Rania gimana?" malah balik bertanya.
"Kalau papa pulang ke indo. Berati Rania sama kami di Belanda." Tambah pak Wijaya.
"Oh ... gak ketemu mama dong. Sekolah gimana? Opa sama Oma pulang lagi ke depan indo kapan?" tanya Rania kembali.
"Sekitar satu bulan lagi kembali ke indo, kalau Rania ikut." Kata Bu Wati lirih.
"Lama, nggak mau ah. Rania mau sama mama dan papa saja di sini. Biar nanti kalau papa pulang Rania juga pulang, sekolah kan sayang. Nanti Rania ketinggalan pelajaran, kan Pah, ya Mam?" gadis kecil itu menoleh ke arah papa dan mamanya.
__ADS_1
"Iya, bener itu, nanti Rania ketinggalan banyak pelajaran kan sayang." Arya mengiyakan perkataan Rania.
Begitupun Fatma mengangguk sambil mengunyah sarapan nya.
"Yakin? gak mau ikut Oma dan Opa?" tanya Bu Wati.
"Yakin Oma. Nggak mau ikut," Rania menggeleng.
"Ya sudah. Kalau gak mau ikut, berarti kita berdua saja, Bu ... nanti saja kalau cucu kita sudah bertambah. Kita culik baby nya, mau laki-laki atau perempuan sama aja. Kita bawa ke Belanda," ungkap pak Wijaya.
"Iya, Opa. Oma setuju." Timpal Bu Wati.
"Jangan Opa, adik Rania jangan di culik gak boleh, gak boleh diculik. Mama, Papa. Opa mau culik adik Rania! gak boleh?" teriak anak itu membuat semua yang sedang sarapan menoleh.
Fatma mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Suuut ... jangan berisik sayang malu." Ia menempelkan telunjuknya di bibir.
"Sayang ... Opa bohong. Jangan di dengar ya?" Arya mencoba menenangkan.
"Ha ha ha ..." pak Wijaya tertawa pelan.
"Benarkan, Papa." Rania menggeleng. "Jangan! jangan di ambil Oma, Opa!"
"I-iya, bohong. Opa bohong sayang, gak benar," tutur Bu Wati.
Wajah Rania memerah. Tampak marah mendengar gurauan sang kakek, makannya pun Rania tinggalkan. Tangan bersilang. Mulut cemberut beberapa sentimeter, mata mendelik tidak suka pada opa dan Oma nya dan baru kali ini Rania marah seperti ini.
Membuat Bu Wati dan pak Wijaya tertawa haru. Merasa bersalah pada cucunya itu yang tampak tidak seperti biasanya.
Fatma tersenyum lalu mendekati gadis kecilnya. "Sayang ... opa dan Oma cuma bercanda kok, mana mungkin opa dan oma mengambil adiknya Rania, kan belum lahir. Lagian mereka tinggal kita sama-sama. Mana ada menculik adiknya Rania, kan?"
Fatma mengusap dada Rania yang tampak marah tersebut. Lalu mengusap pipinya juga dengan sangat lembut.
"Yang dikatakan mama benar, mana ada opa sama Oma mengambil baby kita? bohong. Rania sayang gak sama adek baby nanti hem?" Arya yang selesai makannya juga mendekati Rania.
"Sayang gak? papa tanya! sayang kan?" ulang Arya kembali sambil mengusap punggung anak itu.
Rania mengangguk, dengan mata masih sesekali mendelik ke arah pak Wijaya dan Bu Wati.
"Kalau Rania sayang, gak boleh cepat marah. Harus sabar, lembut baik hati. Nanti kalau kakak suka marah-marah! Adik baby ketakutan lho. Mana mau bermain sama kakak, nangis deh yang ada. Oe ... oe ... pasti nangis dia. Takut melihat kakaknya garang, Papa juga takut melihat kakak Rania marah. Garang macam harimau," bujuk Arya menatapi anak itu.
"Rania nanti dipanggil kakak ya, Pah? kalau adik baby dah lahir?" tanya gadis kecil itu melihat lekat pada Arya.
"Iya dong ... kakak Rania, iya kan Mam?" Arya melirik sang istri yang langsung merespon dengan anggukan.
"Asyik ... kakak Rania akan sayang sama adek baby. Papa, makanya gak boleh opa culik!" kata Rania yang sekarang rautnya berubah agak riang ....
__ADS_1