Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Belanja


__ADS_3

"Opa, bohong sayang. Cuma bercanda. Mana mau Opa culik adek nya Rania? Maafin Opa ya?" ucap pak Wijaya.


"Iya, nih Oma juga minta maaf. Opa nih yang nakal jadi Oma ikutan deh, maafin ya?" timpal Bu Wati yang ditujukan pada Rania.


Rania menoleh pada sang bunda dan papanya. Lantas keduanya menganggukkan kepala supaya Rania memaafkan opa dan Omanya.


"Rania maafkan kok," anak itu mencium tangan Oma, opanya.


"Sekarang, Rania habiskan makannya ya? sebentar lagi Mama mau ngantor." Titah Fatma sambil mendekatkan lagi piring Rania.


"Oke Mama!" Rania kembali menyantap sarapannya.


Arya mengupas kan buah apel untuk Fatma. "Sayang harus banyak makan buah-buahan, biar lebih segar."


"Makasih?" ucap Fatma sambil mengambil potongan apel tersebut.


"Rania mau, Pah. Mau dikupas kan?" rengek Rania pada Arya.


"Boleh, tapi habiskan dulu makannya ya? nanti Papa kupas kan!" kata Arya.


"Baik, Papa." Rania kembali menyuapkan sendok ke mulutnya.


Setelah selesai makan. Semua berjalan, kembali ke kamar hotel. Rania menggenggam tangan sang bunda.


"Mama, Rania ikut ya anterin Mama ngantor?" Rania mendongak sambil berjalan.


"Tapi Mama pakai taksi. Dan mau sendiri saja, Rania belum mandi lho. Lagian Papa juga gak nganterin Mama kok." Balas Fatma lirih.


"Ooh, gitu. Ya sudah! Rania di hotel saja sama papa, Oma dan opa." Rania mengangguk.


Arya berjalan sambil sibuk dengan ponselnya. Kemudian menoleh. "Sayang. Jadi aku gak usah mengantar nih?"


"Nggak, Aa. Istirahat saja dulu. Nanti aku telepon." Fatma melirik.


Setibanya di kamar, Fatma berganti pakaian dengan yang formal yang berwarna hitam dan putih.


Sementara Arya, bu Wati dan pak Wijaya juga Rania bersantai di ruang tengah. Rania duduk di pangkuan Arya dengan bermain boneka.


"Fatma, Ibu juga nanti siang akan terbang lagi. Jaga kesehatan dan kehamilan nya juga." Pesan Bu Wati pada Fatma yang baru muncul dari kamar mandi.


"Apa gak sebaiknya tinggal di sini barang sehari lagi?" tanya Fatma menatap sang bunda.


"Tiketnya sudah siap dan penerbangan nanti siang." Tambah Bu Wati kembali.


"Ooh, ya sudah! hati-hati ya semoga kita cepat bertemu kembali." Harap Fatma.


"Iya, Aamiin. Semoga saja!" Bu Wati tersenyum. "Ingatnya jaga kesehatan ya? jangan terlalu capek dan banyak minum vitamin juga." Bu Wati mendekati Fatma yang duduk di depan meja rias.


"Ibu, gak usah khawatir. Aku bisa menjaganya, Bu. Aku aku akan menjaganya." Tangan Fatma memegang tangan Bu Wati yang memegang kedua bahunya.


"Ibu percaya itu. Dulu juga ketika kamu hamil Rania ... kamu sendiri juga dan mampu menjaganya. Apalagi sekarang ada, Aa. Yang akan menjaga dan perhatian!" lanjut Bu Wati.


"Ya sudah. Aku berangkat dulu ya? Bu istirahat aja di sini." Fatma mencium tangan Bu Wati.


"Yah, aku pergi ngantor dulu?" pamit Fatma sambil membawa tas nya.

__ADS_1


"Oh, hati-hati, semoga selalu lancar urusannya. Jangan lupa juga kesehatannya di jaga. Apalagi sekarang sedang berbadan dua, harus lebih eksta lagi." Pesan pak Wijaya sambil mengusap punggung Fatma.


Kemudian memeluk Rania erat. "Mama ngantor dulu ya? bermain di sini."


"Iya, Mam." Anak itu mengangguk lalu mencium tangan Fatma.


Lalu Arya pun mengantar Fatma dan berjalan, menggandeng pinggang Fatma.


"Assalamu'alaikum ...."


"Papa? kok Papa mengantar Mama sih?" Rania turun dari sofa menyusul Arya dan Fatma.


Fatma dan Arya berbalik. Menoleh ke arah Rania yang menyusul mereka,


"Papa cuma mau mengantar ke lobby sayang, bukan ke kantor." Elak Arya sambil mengusap pucuk kepala Rania lembut.


"Mau ikut?" rengek Rania sambil menghentakkan kakinya ke lantai.


"Boleh, mau ikut boleh kok." Kata Arya sambil mengulurkan tangannya ke Rania yang tertawa bahagia.


"Sekalian aja, Aa membeli makanan buat ngemil Rania. Dan kebetulan aku juga sudah kehabisan susu bumil. Kemarin beli yang kecil jadi cepat habis." Kata Fatma.


"Oh, boleh. Ya udah kita sekalian belanja sayang, Apa lagi yang mau di beli?" Arya menoleh ke arah Fatma dan Rania bergantian.


"Hore ... mau belanja, mau belanja, makanan, makanan." Rania kegirangan.


"Em ... apa lagi ya? itu saja, seperti roti, susu murni selai kacang. minuman kaleng dan biskuit." Sambung Fatma lagi.


"Baiklah. Kalau cuma itu saja," kemudian Arya menoleh ke arah Bu Wati. "Mau di belikan apa?"


"Iya mau ikut, mau dibelanjakan apa, Bu?" tanya Arya mengulang pertanyaannya.


"Apa aja lah buat ngemil di sini," jawab Bu Wati bingung mau membeli apa.


"Oh, baiklah. Ya sudah kami pergi dulu ya!" pamit Arya kembali.


Berjalan beriringan dengan Fatma dan Rania. Meninggalkan kamar tersebut.


"Rania pergi dulu ya Oma, dah ... Oma?" Rania melambaikan tangan sebelum hilang dari balik pintu.


"Ya sudah, dadahhh juga ... cepat kembali ya?" kemudian Bu Wati menutup pintunya, berjalan menghampiri sang suami yang sedang asik menonton televisi.


"Rania ikut?" tanya pak Wijaya ketika Bu Wati duduk di sampingnya sambil celingukan.


"Iya. Ikut anak itu," lirih Bu Wati sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Kayanya enak nih kalau kita bermain sebentar," pak Wijaya nyeleneh. Dan dengan nada nakal.


"Iih, apaan sih?" Bu Wati senyum simpul sambil memukul perut pak Wijaya.


"Yu, sebentar saja. Mumpung lagi sepi nih, di sini saja! Nggak pa-pa." Seringai nakal dari pak Wijaya.


"Akh, malas. Nanti mereka keburu pulang," tolak Bu Wati sambil menggeser duduknya.


Tapi pak Wijaya meraih tangan Bu Wati supaya tetap dalam posisinya. "Mau kemana? bentar saja, gak lama kok." Bisik nya.

__ADS_1


"Ayah apaan sih? nanti saja di rumah, jangan di sini! tanggung kalau keburu pulang mereka." Bu Wati terus menolak.


Namun tak di indahkan pak Wijaya, pria paruh baya itu terus merayu sehingga sang istri pun mau melayaninya saat itu.


Di ruangan yang sepi itu mereka beradu kasih, saling memanjakan satu sama lainya. Keduanya melakukan itu di atas sofa pendek, dan meja pun tak ayal menjadi tempat mereka melakukan pergulatan panas.


Sekitar 30 menit kemudian. Tempat yang sempat berantakan, dalam waktu singkat sudah rapi kembali.


Orang nya pun langsung membersihkan dirinya masing-masing, dengan raut wajah yang tampak segar.


Arya dan Rania yang memasuki swalayan. Setelah Fatma pergi dengan taksinya.


Tangan Arya mendorong troli belanjaan. Dan Rania ambil ini dan itu. Memasukan semuanya ke dalam troli, semua yang Fatma sebutkan tadi. Rania hapal dan tidak perlu bertanya lagi sama Arya.


Membuat Arya tersenyum, anak ini benar-benar pinter dan memorinya sangat bagus. Tidak harus memberi tahu berulang-ulang. Satu kali saja sudah, ah ... sulit untuk menggambarkan betapa pintarnya anak ini.


"Sudah belum sayang, belanjaan yang mama sebutkan tadi?" tanya Arya menatap si gadis kecil tersebut.


"Sudah, semuanya juga sudah," sahut Rania sambil mendongak ke arah barang-barang.


"Terus mau belanja apa lagi?" tanya Arya sambil berdiri memegangi pegangan troli.


"Mau beli vitamin, Papa kebanyakan nama makanannya Rania gak ngerti." Keluh Rania sembari terus berjalan.


"Rania kan pintar. Jadi pasti tau mana makanan indo dan mana yang bukan?" Arya mengikuti langkah Rania.


Rania tetap memilih-milih makanan yang ia pikir makanan indo, minuman indo dll.


"Sudah belum, Nyonya. Belanjannya? troli dah penuh nih ..." tanya Arya sambil mendorong troli tersebut yang hampir penuh.


"Mana penuh? belum Papa! belum penuh." Rania menoleh.


"Sayang tahu gak? belanjaan segini itu ... harganya beberapa kali lipat dari di Indonesia." Kata Arya.


Rania terdiam menatap ke arah Arya. Lalu bertanya. "Emangnya. Harga di luar Negeri gini mahal ya, Pah?"


"Oya, beberapa kali lipat malah." Tambah Arya kembali.


"Berati ini kebanyakan ya? ya udah. Kembalikan aja lagi sebagian." Rania mengambil sebagian untuk dikembalikan.


Namun Arya cegah. "Sudah gak usah. Biar saja, Papa bayar kok. Yu kita bayar? sudah belum belanjanya?"


"Sudah." Rania menyimpan barang yang di peluk untuk dikembalikan tadi.


"Ya sudah, kita bawa ke kasir ya? untuk membayar." Arya membelokan trolinya. Tidak lupa dengan Rania nya.


Bagaimana pun Arya khawatir kalau anak itu ketinggalan di sana. Seperti banyak di berita-berita yang kehilangan anak di swalayan atau di pusat pembelanjaan lainnya.


Selepas membayar, semua masuk kantong dan Arya yang membawanya. Sementara Rania berjalan di tuntun tangan yang satunya Arya yang sangat khawatir kalau anak itu berlari ke jalan raya ....


.


.


Apa kabar reader ku, semoga kabar kalian semua baik ya?

__ADS_1


__ADS_2