
"Terima kasih Nak?" ibu itu mengambil gas yang Sultan sodorkan lalu meneguknya sebagai penenang hati yang gusar.
"Sama-sama, BU. Saya tinggal dulu! Mas-mas? Ibunya harap diperhatikan." Sultan berlalu untuk melayani penumpang yang lainnya.
"Itu anak atau tetangga? cuek amat sama ibunya. Heran gue." gerutu sultan dalam hati.
Sultan kembali melayani penumpang lainnya dengan ramah tamah yang ia miliki.
Saat ini, pesawat sudah landing dan para awak. Khususnya pramugari dan pramugara tengah beres-beres sebelum istirahat sejenak.
Sementara kapten pilot pun masih berada di tempat tugasnya berperan sebagai teknisi yang mengecek dan merawat peralatan mesin si burung besi.
...--...
Suatu malam, di kediaman Doni dan Renata yang tampak adem ayem tersimpan kegersangan yang lumayan terkadang membakar penghuninya.
Doni yang berusaha merubah diri dan memperbaiki diri dari sebelumnya sebagai pria suka minum. Ngobat dan pengedar, sudah berangsur dia tinggalkan hanya untuk seorang wanita yang sangat ia cintai.
Namun Renata pun justru berubah! yang tadinya nyaman bersama Doni. Terlena dengan setiap sentuhan dan perhatian dari Doni malah kebalikannya, ia sering merasa marah dan benci terhadap suaminya itu bila teringat Arya, pria yang dia duakan tersebut.
Seperti saat ini, sedang terjadi percekcokan kecil gara-gara Renata menolak berhubungan dengan Doni. Dengan alasan cuma hal sepele! Doni menyimpan handuk bekas pake di atas kasur.
"Saya heran sama kamu, ada saja alasan buat ku kecewa--"
"Itu handuk kenapa tidak tersimpan di tempatnya? kan basah ke seprai, beres-beres itu capek tau gak? kamu enak cuma capek di luar, di rumah istirahat, sedangkan aku dari pagi sampai pagi lagi." Renata memotong kalimat Doni.
"Kan ada pembantu? ngapain kamu capek-capek hah. Saya sengaja menyewa asisten supaya kamu gak kecapean." sergah Doni sembari mengenakan celananya.
"Emang bener, ada asisten. tapi kamu sendiri tidak mau di layani pembantu, kan. Apa-apa harus aku yang kerjakan? saya capek bekerja di luar, pulang ke rumah, kamu minta ini minta itu dan harus aku yang kerjakan juga. Belum lagi di ranjang yang selalu dan selalu kamu memintanya. Aku capek!" ucap Renata dengan nada tak kalah tinggi.
__ADS_1
"Seharusnya kamu bersyukur, kalau kamu itu dibutuhkan oleh suami. Apa jadinya bila kamu tidak saya butuhkan lagi ha? apa artinya? saya tidak menyuruh mu bekerja di luar, saya bisa memenuhi kebutuhan mu, kamu cukup di rumah dan layani saya dengan baik. itu saja! dengan nada Doni yang masih tinggi.
"Aku gak betah bila harus di rumah terus--"
"Makanya jangan di jadikan alasan untuk marah-marah atau merasa capek untuk melayani ku!" Doni memotong perkataan Renata. Mereka saling menatap tidak suka.
"Kalau capek ya capek, tetap saja capek, malas untuk melayani mu yang tidak ada bosannya." Balas Renata sambil mengibaskan selimut kembali duduk di tepi tempat tidur.
"Itu normal, emangnya kamu mau saya meminta itu dari orang lain ha? minta di layani wanita lain? atau wanita malam untuk memuaskan nafsu ku gitu? kau in--"
"Sana pergi cari wanita lain. wanita malam, siang, terserah gue gak perduli. Sana puaskan nafsu lu," teriak Renata sembari menunjuk pintu.
"Apa kau bilang? lu, gue. Sejak kapan ada sebutan seperti itu di antara kita ha?" Doni makin kesal.
Bibir Renata bergetar, menahan kesal dan ingin rasanya menangis. Hatinya selalu sensitif dan merasa sedih, entah apa sebabnya? diapun tidak fahami itu.
Renata mendongak ke arah Doni yang berdiri di hadapannya dan sedikit mencondongkan tubuh pada Renata. "Mulai sekarang, kenapa? keberatan ha?" pada akhirnya Renata menjawab dengan suara bergetar dan tinggi.
Mata Doni yang yang berkabut antara marah dan nafsu birahi menjadi satu. Menatap intens tubuh istrinya yang memakai lingerie merah. Bikin hasratnya Doni semakin memuncak.
Renata yang sudah merasakan kalau Doni mulai memberi tanda-tanda bak pemburu yang siap menerkam mangsanya.
"Ma-mau apa kamu?" tanya Renata seraya menggeser posisinya ke tengah. "Bu-bukannya kamu mau mencari pemuas napsu di luar? pergi sana! aku gak perduli."
Doni tidak peduli dengan kata-kata yang Renata lontarkan, dia terus berusaha meluluhkan Renata yang berontak tak ingin di sentuh.
Doni naik, merangkak sembari mendorong tubuh Renata supaya berbaring. Mengunci tubuhnya yang berusaha bangun dan ingin kabur.
"Aku gak mau, aku gak sudi. Gue dah muak sama kamu. Jangan lakuin ini lagi sama gue," racau Renata dan berusaha mendorong dada Doni yang bidang itu.
__ADS_1
Doni tidak mengindahkan permintaan Renata, dia fokus aja membuka pembungkus tubuh Renata yang dengan satu tarikan saja. Tubuh Renata berubah polos.
Kemudian tangan Doni yang kekar mengunci kedua tangan Renata di atas kepala, yang menjadikan bagian atas tubuhnya terekspos dengan sangat sempurna dan ini yang paling Doni suka.
Renata terus berusaha berontak dan teriak-teriak. "Lapas, se-ta-n, gue tau mau, gue gak mood."
Namun Doni terus mencumbunya serta membungkam mulut Renata dengan bibirnya. Walaupun begitu kesal dengan tingkah Renata yang terus berontak. Tubuhnya meliuk-liuk sebagai perlawanan, namun Doni tetap menyentuhnya dengan lembut.
Doni terus saja me****** bibir Renata yang merah merona tersebut. Mengeksplor dalamnya dengan penuh nafsu. Darahnya yang mengalir deras menggolak panas naik ke ubun-ubun.
Tubuh dan hati Renata menjadi gak sincron. Antara menolak dan menikmati, hatinya menolak dengan bermacam alasan dan kesal, namun tubuhnya mulai mengatakan iya dan lanjutkan.
Membuat bibir Doni menyungging puas, melihat dan merasakan respon dari Renata yang merem melek menikmati sentuhan yang dia berikan.
"Kenapa sayang ha? kau akan tetap menolak ku? sementara tubuhmu begitu sangat menerima ku, buktinya kamu sudah banjir duluan, ha ha ha," ucap Doni dengan sedikit mengejek, suaranya bergetar. Isi kepalanya sudah dipenuhi rasa ingin menyalurkan hasratnya.
Renata tidak menjawab, dibalik berontak nya ada rasa malu dan ingin berkata ayo dong lanjutkan, Sementara Doni malah sengaja membiarkan Renata tersiksa dalam penantian, gawangnya sudah siap untuk dimasukan bola yang malah di tahan dan dipermainkan di luar.
Raut wajah Doni begitu menikmati reaksi Renata yang tersiksa itu. Bibir Doni tak lepas dari senyuman puas, pada wanita yang tadi berontak. Menolak, kini malah kebalikannya tampak bernafsu tinggi. Tubuh nya bergetar hebat dan menunggu bola yang terus dipermainkan Doni di luar.
Namun pada akhirnya, seiring hasratnya yang memuncak. Doni melempar bolanya ke gawang Renata dengan tendangan sekuat tenaga.
Hek!
Membuat pemiliknya merasa pengap sejenak. Seiring terlepasnya kedua tangan Renata dari penguncian lengan kekar Doni. Langsung tangan itu memeluk punggung Doni, mencengkeramnya. Tubuhnya sontak menegang, kepala mendongak. Bibirnya melenguh panjang ....
****
Jangan lupa like komen dan vote nya ya?
__ADS_1