
"Kita makan dulu yu?" ajak Arya sambil menatap makan malamnya.
Tatapan Rania yang intens pada sang bunda, akhirnya bertanya. "Mam, Mama kenapa sakit ya?"
"Ha?" Fatma mendongak putrinya yang sedang ia dandani itu.
"Em ... Mama cuman ... cuman lelah saja kok sayang." Elak Fatma, sebenarnya dia memang gelisah. Merasa tidak nyaman dengan merasakan sesuatu yang basah dan siap untuk main gol-gol'an namun harus terjeda oleh situasi dan kondisi.
"Oh, jangan capek-capek dong, Mam. Kata Oma juga harus pandai jaga kesehatan! apalagi Mama sedang mengandung adek bayi," ucap Rania dengan pintarnya.
"Oh, iya sayangnya Mama ... Mama pasti akan jaga kesehatan buat kalian semua!" ucap Fatma sambil mengusap pipi Rania yang baru saja di bubuhi bedak tabur.
"Harus dong, Mam ... biar semuanya sehat." Tambah Rania kembali.
"Ayo, siapa yang mau makan? Papa sudah lapar," ucap Arya sambil menoleh istri dan anaknya.
Arya tidak merasa nyaman dengan posisi duduknya ini. Sesuatu yang terasa tegang membuat ia gak enak duduk.
Fatma dan Rania menghampiri. Lantas duduk di dekatnya Arya.
"Mam mau? tapi mau disuapin Pap?" sahut Fatma sambil membuka mulutnya di arahkan pada Arya dan langsung Arya menyuapi nya.
"Ya ... Mama manja nih sayang," ucap Arya pada Rania yang tertawa melihat mamanya yang minta di suapin.
"Iih. Mama manja, nanti gak punya tangan lho." Kata Rania sambil mengaduk makannya.
"He'em, Rania juga sering di suapin. Berati Rania gak punya tangan dong." Elak Fatma sembari membuka mulutnya lagi.
"Rania kan masih kecil, Mama ... wajar di suapi juga. Tetapi kalau Mama kan sudah gede dan punya anak, Rania." Akunya Rania sambil makan, yang sebelumnya membaca doa.
"Rania pintar sekali. Tapi biarlah, mungkin ini perbawa adek bayi yang ingin di manja sama Papa juga." Timpal Arya sambil menyuapi Fatma.
Gadis kecil itu melongo. "Jadi adek kecil iri ya sama Rania yang sering dimanjain Papa dan Mama?"
"Bisa jadi." Arya mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
Begitupun dengan Fatma yang sedang mengunyah. Mengangguk seraya membuka mulutnya. "Aaaaa lagi."
Arya terus menyuapi sang istri, Fatma makan dari tangannya. Sesekali menyuapi dirinya sendiri. Dalam waktu singkat makan-makan pun selesai.
"Alhamdulillah ... makannya habis." Rania mengusap wajahnya, kemudian memungut sampah dimasukan ke tempatnya.
Lanjut berjemaah isya. Di akhiri dengan bermacam doa-doa yang dipanjatkan oleh Arya di akhiri dengan doa Rania yang tetap tidak berubah, yaitu meminta baby laki-laki yang imut, tampan dan menggemaskan.
Selepas itu mereka menonton televisi bersama di sofa. Rania tiduran di pangkuan sang mama. Sambil ngemil.
__ADS_1
Arya menyeduh kan susu bumil. Biar lebih kuat, sehat dan mengurangi rasa mual.
"Ini sayang, susunya? diminum mumpung masih hangat." Arya menyimpan di atas meja depan Fatma.
"Terima kasih, Aa ..." Fatma menunjukan barisan giginya yang putih bersih itu.
"Sama-sama." Arya mendudukkan dirinya di sofa sebelah Fatma. Tangannya menyelinap ke belakang punggung Fatma merangkul pinggangnya.
Rania bangun dan turun. "Rania haus." Berjalan menuju lemari pendingin.
Arya mengecup pipi Fatma sesaat ketika Rania berdiri dekan lemari pendingin.
Sesungguhnya mereka berdua sudah gelisah ingin anak itu segera tidur. Sudah tidak kuat untuk menahan lebih lama lagi.
"Kenapa?" tanya Fatma melirik ke arah sang suami yang menggenggam erat tangannya itu.
Arya menggeleng. "Nggak kuat sayang!" suara Arya begitu dekat di telinga Fatma.
Tatapan sendu Fatma pada Arya yang tampak payah. Bukan tega! namun gimana sikon nya yang belum memungkinkan. Cuph! kecupan hangat mendarat di pipi Arya.
"Mam, ah ... Rania kekenyangan nih. Kebanyakan makan nih, Mama tolong usap punggung Rania?" anak itu berbaring kembali di pangkuan Fatma.
Tangan Fatma mengusap punggung Rania, seperti yang dia pinta.
"Sudah minumnya? Rania sayang!" tanya Arya sambil mengusap kepala Rania.
Kelopak matanya Rania kembali terpejam. Membuat bibir Arya tersenyum dan mendekati pipi sang istri menciumnya mesra, rasanya sudah tidak sabar lagi buat menengok calon baby nya yang sudah beberapa hari ini belum di kasih vitamin lagi.
Agar tumbuhnya lebih kuat dan sehat. Kecupan kecil terus Arya lepaskan di bagian leher dan bahu Fatma.
Kepala Fatma menoleh seraya berkata sangat pelan. "Nanti dulu, Rania belum nyenyak."
"Iya sayang." Gumamnya Arya namun tetap saja bibirnya yang nakal menulusuri bagian tubuhnya nya Fatma dengan lembut.
"Sayang, pindah yu? bobo nya di tempat tidur." Suara Fatma seolah ngecek. Tingkat nyenyak nya tidur Rania yang cuma bergumam Hem saja.
Cuph! Fatma mengecup kening Rania yang dengan cepat tidur nyenyak hingga tak bergeming itu.
Setelah yakin, anak itu sudah nyenyak. Arya beranjak dan memindahkan nya ke tempat tidur. Fatma pun mengikuti untuk menyelimutinya.
Arya mengganti lampu dengan yang temaram, membuka kaos dan celana panjangnya. Kembali ke sofa panjang, tidak lupa mengambil selimut ke sana. Hatinya sudah berbunga-bunga, akhirnya Rania tidur juga.
Sehingga memberi mama, papanya kesempatan untuk berduaan. Dan melepas rindu yang sedari kemarin menggunung.
Sementara Fatma pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil dan mengganti pakaian dengan lingerie.
__ADS_1
Lalu kembali ke kamar, dengan mengenakan pakaian yang sangat menggoda lawan jenisnya, bagi Arya sih jangankan melihat sang istri yang berpakaian menggoda, membuat dirinya sangat bergairah. Pakai pakaian yang sopan pun sangat menggoda untuknya.
Netra nya Arya tertuju pada tubuh sang istri yang mengenakan lingerie hitam, berjalan menghampiri dirinya. Dengan cepat mematikan lampu.
Tangan Arya meraih tangan Fatma diajaknya ke sofa. Tubuh Fatma di dudukan di pangkuannya. Tangan Arya yang satunya mengunci pinggang Fatma supaya tidak terjatuh. Dan satunya bergerilya ke tempat-tempat yang menjadi favoritnya.
Begitupun kedua tangan Fatma merangkul pundak Arya dengan kuat takut terjatuh dari paha Arya, Wajah mereka menyatu saling mengecup dan menikmati benda kenyal yang selalu bikin candu.
Di dalam kegelapan, dan tempat yang sunyi, sepi. Mereka berdua saling memadu kasih, Arya tidak mau membuang kesempatan yang ada lagi.
Dengan hasrat yang menggebu. Dia langsung mencumbu sang istri dengan lembut nan mesra, sentuhan demi sentuhan yang Arya lepaskan membuat Fatma merasa melayang tinggi.
Jantung nya Fatma berdetak sangat kencang. Napas berat. Darah yang mengalir begitu deras ke sekujur tubuhnya masing-masing
Napas yang memburu terdengar kasar, dada terus berdebar. Naik turun.
Tubuhnya Arya terus menyeret tubuh Fatma, sehingga terjembab ke belakang. Dan tubuh Arya pun mengikuti. tubuh Fatma yang mundur kebelakang tersebut, meraih sesuatu yang yang menggunung tinggi. Dengan semangatnya, Arya m*****s sehingga memancing suara-suara aneh dari mulut Fatma.
Rintihan kecil dari Fatma terdengar begitu merdu di telinga Arya, menambah ia semakin bergairah untuk melepaskan hasratnya yang sedari tadi tertahan.
Fatma menggigit bibir bawahnya, agar tidak mengeluarkan suara yang membuat ia merasa malu sendiri.
Mendengar tidak ada lagi suara dari sang istri membuat Arya bergumam. "Lepaskan sayang? lepaskan saja, aku suka itu."
Namun Fatma tetap menahan supaya tidak mengeluarkan suara, apalagi keras. Takut mengganggu tidurnya Rania dan akhirnya mengganggu kesenangan mereka, kan berabe!
Arya terus melancarkan aksinya itu, memasukan bola ke gawang yang sudah siap menerima lemparan bola dari Arya.
Dalam beberapa waktu. Arya sudah beberapa kali memasukan gol nya, sehingga menimbulkan kepuasan tersendiri bagi pemainnya.
Tangan Fatma memeluk erat pundak Arya, terkadang sedikit mencengkram punggungnya, ketika Arya melompat kegirangan, sesekali menyesap air minum yang ada di depannya itu penuh nikmat.
Air asli dari sumber yang sangat terpercaya, dan kegunaannya sudah tidak bisa diragukan lagi bagi penikmatnya.
Keringat keduanya bercucuran sangat deras. Akibat di bikin istirahat beberapa waktu dan kekeringan bak kemarau, ketika diberi hujan, sangatlah kebanjiran.
Fatma merasakan beberapa kali pelepasan yang membuat ia merasa sangat bahagia. Akhirnya Arya menengok keberadaan sang calon baby. Dan memberikan vitamin.
Suasana yang hening dan sunyi itu, membuat mereka leluasa untuk melakukan semua gaya bercinta sesuai imajinasi keduanya. Namun tetap dalam norma yang ada.
Sekitar dua jam, Arya dan Fatma melapaskan hasratnya, dan beberapa kali merasakan puncaknya. Hingga membawanya sampai ke alam nirwana yang indahnya sangat sulit untuk di ungkapkan dengan apapun.
Akhirnya mereka merasa lelah, lantas menyudahi permainannya tersebut, di akhiri dengan kecupan mesra di kening sang istri ....
.
__ADS_1
.
Ayo siapa yang belum ngasih dukungan nih?