Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Ta'aruf


__ADS_3

Semuanya makan dengan sangat lahap di mejanya masing-masing. Abah dan istri, pak Wijaya dan juga istri makan di meja yang sama. Makan sambil mengobrol di barengi dengan denda gurau.


Susi bersama Zayn di meja yang sama dengan Arya beserta istri. Dan juga Sultan yang tanpa pasangan


Sementara yang lain dari pihak WO di meja yang terpisah di meja yang panjang. Begitu tampak ramai.


Begitupun para asisten yang turut menikmati acara makan-makan barbekyu yang sang majikan sediakan.


Fatma mengedarkan pandangannya ke sekitar. Bibirnya tersenyum melihat semua pada menikmati hidangan.


"Mas-Mas yang masak. Makan dulu aja yang yang penting semua sudah kebagian dan sekarang Mas-Masnya makan saja dulu." Fatma menyuruh orang-orang yang masak untuk makan dulu.


"Iya, Bu." Juru masak mengangguk.


"Mama, Rania gimana? gak bisa motong!" rengek Rania pada Fatma.


Fatma berpindah duduk, ke meja Rania dan Dewi. "Sini, Mama potongin."


Sultan pun beranjak berpindah duduk ke mejanya Dewi.


"Boleh gabung ya?" Sultan menarik kursi dekat Dewi yang belum sempat menjawab sebab sedang mengunyah.


"Eeh, ngapain ke sana?" tanya Arya ketika melihat Sultan berpindah duduk.


"Mau makan, emang kenapa? cuma pindah tempat doang." Sultan berucap sembari menoleh.


"Iya, ngapain pindah? orang sudah di sini juga," sambung Arya.


"Ah, syirik aja." Gumam Sultan sembari memandangi ke arah Dewi.


Sekilas Dewi pun melihat ke arah Sultan, dan pandangan pun bertemu. Serr ... ada getaran yang menyapa hati. Ada rasa yang tersirat.


"Ehem," dehem Sultan, kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya.


Kemudian, Sultan menatap ke arah Dewi dan Fatma yang sedang menyuapi Rania yang terlihat riang. Pandangan nya Sultan bergantian.


"Em ... Dewi. Mau gak jadi calon istri ku?" tanya Sultan menatap lekat ke arah wajah Dewi yang mendadak memerah, menunduk malu.


"Em, aku! anu," sahut Dewi gelagapan.


Fatma dan yang lain, menatap ke arah Sultan. Menatap anak Antara heran dan gak percaya.


Kemudian Dewi menoleh ke arah sang kakak yaitu Arya. Bibirnya bergetar seakan ingin berkata namun lidahnya terasa kelu. Lalu kembali menunduk malu di lihat banyak orang dan hatinya masih terbesit rasa sedih atas meninggalnya sang tunangan dan di saat mau menuju hari H.


Arya terdiam sejenak meninggalkan makannya, yang masih tersisa itu. Menghela napas dengan panjang lalu ia hembuskan begitu saja. pandangannya tertuju pada Sultan dan Dewi.


"Kalau memang serius dan tidak ada niat untuk mempermainkan, silakan kalian ta'aruf. Untuk saling mengenal lebih jauh, tapi pacaran tidak." Tegas Arya.


Abah yang berada di meja lain pun menganggu setuju. "Abah setuju."


Sultan menoleh ke arah dia pria itu. Dengan dada yang dag-dig-dug ia berkata. "Saya serius dan tidak main-main."

__ADS_1


"Baguslah. Aku setuju, setelah kalian merasa cocok baru kamu hitbah Dewi." Tambah Arya lagi.


Raut wajah Sultan sumringah. Bahagia dengan lampu merah yang Arya berikan. "Terima kasih bro juga Abah yang sudah memberi kesempatan pada ku?"


Dewi dengan tetap menunduk menyembunyikan senyumnya. Kini ia punya harapan kalau dia akan mendapat kebahagian dengan Sultan. Ia percaya kalau Sultan sosok yang baik dan bertanggung jawab.


Arya sebagai kakaknya gak mungkin memberi restu begitu saja kalau Sultan tidak cocok dengannya. Makanya sang kakak merestui begitupun Abah.


"Wah ... Om Tatan serius nih sama aunty?" tanya Fatma sembari menyuapi Rania.


Sultan sejenak menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian berkata. "Insya Allah Kak, dua rius malah."


"Ingat ya? tidak ada pacaran. Yang ada cuma buat saling mengenal satu sama lain--"


"Kalau khilaf, gak pa-pa, kan?" Sultan menyela omongan Arya.


"Khilaf-khilaf, no no ... gak ada--"


"Itu bukan khilaf tetapi sengaja, mana ada khilaf? kecuali sengaja!" ucap Zayn pada akhirnya bersuara menanggapi Sultan.


"Yu, bukannya mendukung gue?" Sultan mengarahkan tatapannya pada Zayn.


"Lah, ngapain dukung lu, maksiat itu jangan di dukung? di berantas, ha ha ha ... sok suci lah gue." Zayn tergelak sendiri.


"Oo! berarti dirinya penjahat cinta ya?" Sultan menatap Zayn yang terkekeh.


"Bukan penjahat cinta lagi, mungkin penjahat kelamin dia," ucap Susi sembari melirik sang suami.


"Sembarangan kau bicara. Suka bener ya kalau ngomong, Gitu kali ya?" Zayn nyengir.


"Ih, amit-amit deh." Susi malah bergidik ke arah suaminya itu.


Kemudian mereka melanjutkan makannya. Dan setelah selesai makan, semuanya pun bubar, untuk istirahat cepat mempersiapkan buat hari esok. Dimana acara resepsi akan diselenggarakan.


"Semoga lancar ya besok?" harap Fatma setelah berada di kamarnya. Berjalan mendekati tempat tidur setelah memakai wewangian di tangan dan lehernya.


"Aamiin." Arya membuka bajunya ia simpan di atas bahu kursi. Ia sendi bertelanjang dada berbaring terlentang menghadap langit-langit.


Fatma yang sudah berganti pakaian buat tidur dengan warna kesukaan Arya. Lingerie biru tua yang kini membalut tubuhnya. Rambut dikesampingkan, mengekspos sebelah leher mulus dan jenjangnya.


Merangkak naik, berbaring di samping Arya yang mengambil remote lampu dan menggantikan sinarnya menjadi temaram. Terasa syahdu dan hening.


Keduanya sama-sama memilih diam. Tidak ada kata-kata ataupun pergerakan yang signifikan.


"Aa, Aa yakin kan kalau Sultan serius sama Dewi?" gumamnya Fatma seraya menoleh ke arah sang suami yang anteng menatap langit-langit.


"Yakin, dan Aa cukup mengenal dia. Kalau jodoh, insya Allah. Tetapi kalau bukan jodohnya, hanya Allah jua yang tau. Kita cuma bisa berencana."


"Iya," lirih Fatma sembari merubah posisinya berbaring miring memunggungi Arya.


Arya pun mengikuti dan memeluknya dari belakang. Mencium kepalanya serta mengeratkan pelukan di pinggang Fatma. Ditariknya sehingga begitu rapat dengan tubuh Arya sendiri. "Met bobo sayang, semoga mimpi indah."

__ADS_1


"Iya, met bobo juga." Balas Fatma. Tangan Fatma memeluk tangan Arya.


"Tumben, gak merengek meminta jatah? padahal tadi siang aja merengek." Monolog Fatma seraya memutar kepalnya ke belakang sebentar.


Setelah beberapa saat, tak ada pergerakan dari Arya membuat Fatma bergumam sendiri. "Diam saja, sudah bobo apa?"


Tapi tetap Arya tak bergerak, dengan mata terpejam. Bikin Fatma kesal sebenarnya dia menginginkan keintiman saat ini namun hanya bisa menggigit bibir bawahnya.


"Apa dia gak tertarik padaku malam ini? sudah dibikin cantik, seksi. Tapi dia malah dingin, ah ... sial sekali malam ini." batin Fatma yang terus bermonolog, sementara kedua netra nya sudah terpejam.


Malam semakin larut namun Fatma masih pula terjaga. Ditambah lagi hatinya yang gusar menghadapi hari esok yang akan menghadapi para tamu dari kalangan bisnisman. Kerabat, teman dan banyak yang lainya juga.


Walau hanya resepsi namun berasa menghadapi pernikahan yang sesungguhnya. Padahal pria yang yang akan menjadi pasangannya yang kini sedang memeluk tubuhnya.


Fatma kembali bergerak merubah posisinya menghadap ke arah Arya yang tampak tertidur nyenyak.


Di bawah sinar yang temaram, Fatma masih bisa memandangi wajah tampan sang suami. Di sentuhnya pelan dengan punggung jemari terus bergerak mengelusnya. Lalu mencium singkat pipi itu, terus bergerak ke bibir di kecup nya dengan sangat lembut.


Perlahan Arya bergerak dan memicingkan matanya. Fatma buru-buru menjauh dan pura-pura tidur. Membuat bibir Arya tertarik ke samping menunjukan senyuman, ia tahu kalau Fatma belum tidur.


Menoleh ke arah jam dinding. Dalam remang terlihat jarumnya menunjukan pukul 23.30 wib.


"Kenapa belum tidur sayang?" tanya Arya dengan suara parau nya khas bangun tidur.


Fatma tidak menjawab dan terus berpura-pura tidur, diam tak bergeming. Melihat seperti itu. Arya merasa lucu dengan tingkah Fatma yang pura-pura tertidur.


Dan kini giliran Arya yang mendekati wajah Fatma sehingga napasnya mulai memburu menyapu ke kulit wajah Fatma.


Bibir Arya mengecup dan ******* benda tipis Fatma dengan sangat lembut. Lama Arya bermain di sana menjelajahi bagian-bagian wajah sang istri. Membuat napas keduanya kian. memburu, gairah pun semakin menggebu.


Tangan Arya tak ayal traveling ke mana-mana selama tidak ada yang melarang dan menghentikannya. Arya terus berjalan-jalan ke setiap tempat wisata yang ada di depan mata.


Hingga akhirnya membuka kabut yang menutupi hutan belantara yang dalam amat terawat. Apalagi di dalamnya terdapat sebuah gua yang benar-benar dirawat dengan sangat baik sehingga bikin betah bagi yang berkunjung ke sana.


Arya perlahan mengikis jarak di antara keduanya merapatkan tubuhnya dengan sang istri yang begitu menikmati kintumannya. Membawa juniornya bermain ke dalam gua yang indah dan bikin betah.


Rintihan kecil yang lolos dari bibir Fatma terdengar sangat merdu di kuping Arya membuat semakin bersemangat untuk berenang di pulau kecil namun sangat bermakna. Dan membawa akan kenikmatan duniawi, mampu membawanya ke alam nirwana yang indah.


Traveling Arya tak tanggung-tanggung berlangsung sampai beberapa jam kemudian, sehingga tubuhnya merasa lelah dan Bermandikan keringat. Arya menyudahi kegiatannya dan menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri.


"Ohh, capek. Lelah tapi pengen lagi." Setengah berbisik lalu mengecup keningnya Fatma sebagai rasa terima kasih, yang memberinya kepuasan.


Dan berharap penebaran benih barusan ada satu yang tumbuh menjadi Arya junior yang tampan atau cantik seperti mamanya.


Fatma hanya menyandarkan kepalnya di dada sang suami yang merangkul bahunya mesra. Lalu tidak lama rasa kantuk pun menyerang keduanya sehingga dengan cepat keduanya terpejam dengan bibir komat-kamit membaca doa mau tidur.


Malam perlahan berlalu menyongsong pagi yang ceria meninggalkan gelapnya malam dan segala yang berkaitan dengan dengannya. Bulan kembali mengundur diri bergantian dengan sang matahari yang sudah siap menggantikan sang bulan.


Arya dan Fatma sudah segar dan kini sedang di dandani alias di make up ala-ala pengantin timur tengah. Fatma baru setengahnya aja di make up sudah terlihat dan terpancar kecantikannya ....


****

__ADS_1


Mohon dukungannya🙏 agar aku lebih semangat lagi.


__ADS_2