
Selang beberapa puluh menit kemudian. Mobil yang ditumpangi Arya dan Fatma akhirnya tiba di sebuah Rumah Sakit, dimana Suci masih di Rumah Sakit tersebut.
Arya membawa Fatma menemui dokter yang menangani jasad Suci. Dan dengan mudahnya Arya menemukannya.
Seorang dokter yang di dampingi dua orang polisi yang masih mencari bukti tentang kematian Suci. Lalu kemudian Arya ikut berbincang dengan mereka.
Fatma yang langsung ke ruang jenazah di antar sala seorang suster. Setibanya di sana, Fatma melihat wajahnya untuk memastikan apa benar itu Suci yang ia kenal?
Ternyata benar. Suci yang kini di hadapannya itu adalah Suci istri Aldian, alias madunya. Tanpa terasa air mata Fatma menetes tubuhnya mendadak lemas, lututnya bergetar dan tubuh Fatma pun lirih ke lantai.
"Tragis benar nasib mu, Suci. Ya Allah ... ampuni dosa dan kesilapan dia selama hidupnya." Gumam Fatma.
Terbayang jelas di ruang mata. Waktu terakhir bertemu dengan wanita itu. Dia datang dengan ingin meminjam uang untuk membayar pajak.
Dan masih lekat dalam ingatan kalau dia pun memberikan pinjaman walau tidak seperti yang Suci pinta. Toh dia sendiri bisa mendapatkan uang, jadi tidak sepantasnya dirinya harus terlalu dalam mencampuri kehidupannya.
Kini wanita tersebut telah tiada, tinggal namanya saja entah akan di kenang sebagai orang baik atau sebaliknya? Wallahu alam bishawab.
Suster yang berada di sana, membantu Fatma berdiri. "Bangun Nyonya. Apa Nyonya kerabatnya?"
"Sa-saya, madunya suster. Dia istri mantan suami saya." jawab Fatma dengan nada sendu.
"Ooh, tapi suaminya belum ada menjenguk." Kata suster tersebut.
Manik Fatma menatap wanita yang mengenakan baju putih itu. "Suaminya ... di kurung dalam sel. Jadi mungkin belum datang saja sus!"
"Kau ada di sini?" suara Aldian dari belakang Fatma.
"Kau?" Fatma bergumam.
Aldian yang di kawal seorang polisi mendekati ke arah jenazah Suci. Dan Fatma mundur memberi ruang pada Aldian, di susul oleh pengacaranya.
Aldian membuka penutup wajah Suci ditatapnya lekat dan lama. Hatinya mencelos, sudah dia sendiri berada di penjara! mana istri kini meninggalkan dunia ini. Helaan napasnya yang pajang, tampak ada raut kesedihan di wajahnya yang mendalam.
Namun ada sekelumit rasa kecewa di dalam hatinya setelah tahu berita kalau Suci meninggal karena tidak wajar dan di latar belakangi dengan hubungan terselubung.
"Dasar wanita tak tahu diri. Wanita laknat, wanita tidak tahu di untung. Masih saja mencari pejantan lain, cuma alasan ekonomi. Omong kosong!" umpatan Aldian yang di tujukan pada Suci, sampai ke telinga Fatma.
Fatma menoleh ke arah Aldian yang terus mengumpat dan mencaci-maki sang istri yang tinggal jasadnya saja. "Jangan begitu! dia sudah tiada di dunia ini. Selayaknya kamu doakan yang terbaik untuknya."
"Apa yang harus di doakan ha? wanita macam dia di doakan kaya gimana? biar masuk neraka iya, sekalian." Ucap Aldian pada Fatma dengan suara tinggi seolah membentak.
"Astagfirullah ... jangan gitu juga kali pamali, kamu itu suaminya. Sudah sepantasnya kamu menyembunyikan aib istrimu. Jangan seperti ini." Fatma menggeleng pelan.
"Jangan ikut campur! karena kamu tidak tahu kebenarannya gimana?" sergah Aldian menatap tajam pada Fatma.
"Ya, aku tidak tahu yang detailnya namun setidaknya kau berkaca dengan dirimu sendiri! bukankah pasangan mu adalah cerminan dari dirimu sendiri?" Fatma tidak mau kalah dari Aldian yang ia rasa tidak ada bedanya.
"Kau, apa maksudnya dengan bicara seperti itu ha?"
"Maaf Nyonya dan Tuan, jangan ribut di sini! kurang baik. Silakan kalian keluar," pinta suster dan mantri.
"Coba kau lihat dirimu sendiri, Seperti apa dan bagaimana? kamu pun suka berganti-ganti perempuan bukan? padahal kamu punya dia dan aku waktu itu," Fatma menatap sangat tajam ke arah Aldian.
Netra Aldian membulat, melotot dengan sangat sempurna pada Fatma dan rahangnya mengeras, tangan pun mengepal. Emosinya tersulut. Rasanya ingin sekali menampar mulut Fatma saat ini.
Namun Fatma melengos ke dekat pintu. Meninggalkan Aldian yang masih berdiri di tempat.
"Ada apa ini? sayang!" suara Arya ketika Fatma sudah berdiri di pintu.
"Aa, ini. Kita pulang yu?" ajak Fatma sambil melangkahkan kakinya ke luar.
Arya celingukan melihat ke dalam, manik matanya tertuju pada Aldian dan seorang polisi berada di sana.
"Sudah, melayatnya?" tanya Arya sembari menatap sang istri.
"Sudah, tadinya aku akan mengurus semuanya. Tapi toh suaminya datang! biarlah. Kita pulang saja." Fatma menggandeng tangan Arya.
Sesaat Arya terdiam, kemudian. "Oke," pada akhirnya Arya mengangguk.
Kemudian Arya dan Fatma berjalan berdua, kembali ke ruangan dokter tadi untuk berpamitan.
Setelah itu, Arya dan Fatma langsung memasuki mobilnya. Arya membukakan pintu buat sang istri.
Fatma tak lantas masuk, melainkan menunjukan sebuah senyuman kepada Arya seraya berkata. "Terima kasih?"
"Sama-sama sayang." Arya membalas serta senyuman.
__ADS_1
Fatma langsung duduk dan memasang sapety belt, Arya pun mengitari mobil tersebut lantas duduk di belakang kemudi.
Sambil menyalakan mesin, Arya menoleh ke arah Fatma. "Kita ke apartemen dulu ya?"
Fatma melihat dan menatap lembut. "Terserah kamu saja," ucapnya sembari menggigit bibir bawahnya.
Lalu Arya melajukan mobilnya menuju apartemen, yang beberapa hari ini tidak ia kunjungi. Paling suruhan Fatma aja yang di suruh bersih-bersih.
Namun di tengah jalan, Arya menepikan mobilnya di depan masjid. Waktu sudah menunjukan pukul 16.00 wib. Fatma tidak bertanya apapun sebab dia tau kalau Arya pasti masuk masjid.
"Yu? kita ke masjid dulu?" ajak Arya sembari membukakan pintu mobil.
Buuugh!
Suara pintu mobil yang Arya tutup. Lantas Fatma pun mengikuti langkah pria tampan tersebut, yaitu Arya yang menuntun tangannya dengan langkah yakin memasuki area masjid yang tampak terlihat segelintir orang di dalamnya.
"Aa?" panggil Fatma.
"Hem, kenapa?" Arya bergumam sembari tidak menghentikan langkahnya.
"Besok aku ada urusan ke luar kota, mau ngantar gak? atau mau menjaga Rania aja? tapi kalau, Aa ikut. Rania juga pasti minta ikut." Lanjut Fatma.
Arya hentikan langkahnya lalu menoleh. "Emang kenapa kalau ikut? satu hari kan? tapi kalau Rania ikut bolos sekolah dong?"
"Iya ... terserah sih. Kalau mau, minta ijin saja sama Aa.'' Fatma sedikit berpikir. "Em ... kalau Aa mau ikut, Rania juga mau ikut! minta ijin saja."
"Oke," kemudian mereka melanjutkan langkahnya, langsung mengambil air wudu.
Keduanya menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Dengan khusu, di momen ini mereka gunakan untuk berdoa lebih detail agar Allah memberikan kebahagiaan, ketentraman dan keberkahan dalam berumah tangga.
"Aamiin ..." di akhirinya dengan kata Aamiin yang keluar dari mulut keduanya.
Setalah selesai itu, keduanya beranjak dan merapikan alat salat yang Fatma pakai di sana.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, untuk perjalanan pulang.
Jiuuus ....
Mobil melaju dengan sangat cepat. Menuju apartemen, sesekali Arya melirik sang istri yang tampak melamun.
"Nggak, gak mikirin apa pun. Aku cuma capek saja!" Fatma bersandar ke belakang.
"Ya udah istirahat saja, nanti kalau sudah sampai di apartemen, Aa akan bangunkan sayang," sambung Arya.
Fatma cuma mengangguk pelan. Dengan bibir tersenyum.
Arya melanjutkan perjalanannya itu. Dengan fokus ke depan dan memutar setir. Senja merah nan indah di sore ini, matahari akan mulai tenggelam. Dan akan berganti dengan sang rembulan malam.
"Sayang?" Arya menoleh ke arah sebelah. Yaitu sang istri yang kini memejamkan mata.
Bibir Arya senyum-senyum sendiri. Lalu kembali melihat ke depan, dan tidak lama kemudian mobil memasuki area apartemen.
Bugh! ....
Arya keluar dari mobil, lalu mengitari mobil lantas membuka pintu buat Fatma. Namun Fatma tertidur nyenyak, Arya tidak tega untuk membangunkan nya.
Lantas Arya menggendong sang istri ala bridal style, dibawanya ke unit apartemen miliknya.
Walau susah payah, tidak membuat Arya hentikan langkahnya yang menggendong Fatma.
Setelah berada di apartemen, Arya membaringkan tubuh sang istri di atas tempat tidur king size yang beberapa hari ini tidak ia pakai.
Arya turun dan mendekati jendela, untuk menutupnya gorden-gorden di sana. Sebab hari ini sudah mulai gelap.
Kemudian Arya melangkah ke ruangan lainnya. Mengecek kebersihannya, dan lumayan bersih dan rapi. Arya mengalihkan pandangan ke arah dapur, lalu Arya membawa langkahnya ke sana.
Membuka lemari pendingin yang kosong melompong kecuali beberapa mie dan makanan ringan. Arya kembali menutup pintu lemari pendingin tersebut.
Langkahnya mengayun kembali ke kamar. Dimana Fatma masih berbaring dan terlelap, Arya tatap dengan lekat dan mesra. Kemudian merangkak naik lalu mencondongkan wajahnya ke wajah Fatma.
Cuph!
Kecupan kecil mendarat di kening dan pipi Fatma dan berakhir di bibir wanita cantik itu. Jarinya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi kening dan pipi sang istri.
Mengarahkan punggung jarinya di pipi Fatma dengan sangat lembut, pipi yang bersih itu ia kembali mengecupnya dengan mesra. Orang yang sedang tidur di ajaknya tersenyum.
Kemudian ada pergerakan dari tubuh Fatma dan sedikit memicingkan matanya ke arah Arya yang berada tidak jauh dari dirinya.
__ADS_1
"Huam ..." mulut Fatma menguap dengan suara yang serak.
"Sudah bangun sayang?" gumam Arya dengan membelai rambut Fatma.
"Hem ... kenapa gak bangunkan ku dari tadi? kok sudah berada di sini?" suara Fatma yang serak tersebut.
"Nggak tega. Sayang begitu nyenyak, tidak tega untuk membangunkan!" suara lembut Arya yang begitu dekat dengan Fatma.
"Hem ... tidak berat kah menggendong ku sampai sini?" tanya Fatma dengan suara parau.
"Nggak. Pesawat aja kau bisa bawa, masa istri ku yang cuma beberapa kilo saja gak mampu bawa. Cemen banget kalau kaya gitu." Akunya Arya dengan sangat percaya diri.
"Hem ... gayanya selangit." Kedua tangan Fatma dengan sengaja melingkar ke pundak Arya.
Keduanya saling tatap, bertukar pandangan. Tak ada kata yang terucap melainkan mata yang berbicara.
Wajah Arya mendekat sehingga hembusan napas pun menyapu kulit wajah Fatma.
Jantung Fatma mulai berdebar tak menentu. Dag-dig-dug tidak karuan. Serasa baru pertama kali mau bermalam pertama dengan sang suami.
Tatapan Fatma yang sendu, bibir yang bergetar. Tangan yang bergerak halus di pundak dan punggung.
Wajah tampan Arya kian mendekat lalu mereguk manisnya bibir sang istri yang merah merona. Dengan lembut ia sapu dan menikmatinya sampai-sampai mata pun sama-sama terpejam.
Cumbuan demi cumbuan yang yang Arya berikan kepada sang istri kian memanas, pergolakan darah yang menghiasi kedua tubuh tersebut, menjadikannya darah yang terus naik berdesir hebat memberikan dorongan supaya melanjutkan atau melakukan yang lebih dari sekedar itu.
Namun ketika sedang asik menaikan hasratnya. Terdengar sayup-sayup suara adzan Maghrib yang mengalun indah membuat cumbuan Arya terhenti.
"Tahan sayang, tahan. Kita mendapat undangan yang lebih penting dulu sebentar! nanti kita lanjutkan ini lagi dengan leluasa." Arya beranjak melepas kungkungan dari tubuh sang istri.
Raut wajah Fatma terlukis kekecewaan, padahal sudah siap nih. Namun harus terjeda dengan sang waktu yang harus dia mengalah dan berdamai dengan waktu tersebut.
Arya menarik tangan Fatma, membangunkan nya untuk bangun dan segera ke kamar mandi. "Bersihkan dulu dirimu. Tahan dulu sebentar?" Setengah berbisik.
Walau kesal dan kecewa. Fatma mengangguk lalu merapikan pakaiannya yang kusut. Kemudian turun menapakkan kakinya ke lantai, tangannya dituntun Arya ke kamar mandi bersamanya.
Sekitar 15 menit kemudian. Mereka selesai, lantas membaca doa. Lalu membereskan bekasnya ke atas laci. Keduanya sudah sama-sama berdiri.
Keduanya saling tatap. Tangan berpegangan erat. Hasrat yang tadi tertahan kini menyeruak kembali, meminta di pertemukan dan melepas rindu.
Kini hasrat tersebut meminta lebih dari sebelumnya. Darah yang mengalir deras naik ke ubun-ubun, panasnya bergolak membuat tubuh nya bergetar. Suara napas yang berhembus pun tak karuan.
Tubuh Arya perlahan menyeret tubuh Fatma menjadikan langkahnya mundur ke belakang.
Dugh! ....
Kaki Fatma membentur tepi tempat tidur. Otomatis tubuhnya terduduk Lalau.
Blaaaak! ....
Tubuh Fatma terjerembab ke belakang, ke atas tempat tidur yang empuk tersebut. Sorot mata keduanya yang sayu berselimut hasrat yang menggebu.
Arya mendekat dengan perlahan mengunci tubuh sang istri yang tampak pasrah tersebut.
Dengan tidak membuang waktu. Arya kembali mencumbu sang istri yang berharap sama.
"Aku milikmu. Lakukanlah," bisik Fatma yang menambah Arya semakin bersemangat, untuk melancarkan aksinya.
"Aku, juga milik mu sayang. Biarkan aku menyentuhmu seutuhnya." Dengan tatapan yang bikin hati Fatma makin meleleh.
Fatma tentu mengangguk pelan memberi tanda setuju dengan permintaan Arya.
Semakin lama, Arya semakin melancarkan aksinya yang semakin memanas dan sampai ke puncaknya.
Puncak mahligai yang mereka inginkan. Arya menyatukan bibirnya dengan bibir Fatma yang menyambut dengan hangat.
Tangannya saling merangkul mesra. Menyatukan tubuhnya yang penuh gelora, kini mereka melapaskan hasratnya di balik selimut. Bermain ke puncak nirwana dan danau yang penuh bermadu.
Pergulatan yang hebat untuk membuahkan sebuah benih, berlangsung lama. Sehingga kini waktu sudah menunjukan pukul 20.wib, mereka belum juga menyelesaikan aksinya itu.
Keduanya ingat pada Rania yang di Mension, mereka pun merasa cemas. Pasti anak itu menanyakan keberadaan mereka berdua yang tengah menikmati hanymoon tanpa seorang pun yang mengganggu keintiman mereka berdua.
Rania pun tidak tau keberadaan papa dan mamanya yang kini tengah asyik berenang di lautan asmara ....
****
Sekarang ada audiobook nya lho. Terus dukung aku ya.
__ADS_1