
Fatma melengos membalikan badannya. Pura-pura marah dan meninggalkan Arya.
Arya terkejut dan langsung menyusul Fatma yang pergi. "Eeh ... aku cuma bercanda."
Geph!
Pergelangan tangan Fatma Arya tangkap. Serr ... bagai ada aliran listrik yang menyengat sekujur tubuh Arya. Kedua netra mata Fatma spontan melihat tangannya yang Arya tangkap.
Segera Arya lepaskan genggamannya. "Ma-maaf." Mengalihkan pandangan pada lain arah. Merasa gugup dan malu.
Farma pada akhirnya tersenyum. "Mau nganterin gak?"
"I-iya, mari?" langkah Arya mendekati motornya dan mengenakan helm nya.
Kini keduanya sudah berada di atas motor besar Arya. Arya langsung tancap gas melarikan sepeda motornya dengan cepat.
Tanpa disadari mereka berdua, degup jantungnya begitu meningkat lebih dari normal. Bibir Arya terus saja melukiskan senyuman yang menggambarkan betapa hatinya berbunga-bunga saat ini.
Fatma yang duduk manis di belakang merasa aneh dengan perasaannya itu. Berdekatan dengan pemuda ini hatinya bergetar, padahal dari dulu juga biasa aja tak ada yang aneh.
Angin malam yang sepoy-sepoy dan suasana yang gelap, hanya berhiaskan lampu-lampu penerangan yang bersinar di pinggiran jalan. Menambah syahdunya perasaan Arya saat ini.
Fatma tidak terlalu jauh dari punggung Arya dengan leluasa menghirup wangi tubuhnya pemuda itu. Dengan bebas pula menatap Arya dari belakang sambil bermonolog sendiri dalam. "Nyaman banget bersamanya, tenang berada di sisinya."
"Aku ingin selalu berada di dekat dia Tuhan ..." batin Arya.
"Maaf, boleh gak turun dulu?" ucap Arya.
"Apa? kurang terdengar." Tanya Fatma sebab suara atau timbul tenggelam dikarenakan siuran angin dan suara mesin dari moto dan mobil yang berlalu lalang.
"Bagai mana kalau kita turun dulu, saya mau salat isya sebentar di depan." Timpal Arya kembali.
"Apa? ada apa di depan?" telinga Fatma tetap tak bisa mendengar perkataan Arya.
Akhirnya motor Arya berhenti tepat depan masjid. "Bagaimana kalau kita turun dulu, saya mau salat isya sebentar," ulang Arya.
"Ooh ... sorry, suara mu tadi timbul tenggelam. Boleh-boleh, silakan. Biar aku tunggu di sini," ungkap Fatmala sambil turun dari motor.
"Kak Fatma gak solat?" melirik singkat lalu melihat ke arah lain.
"Em ... aku harus bersih-bersih dulu, nanti saja di rumah." Jawabnya Fatma.
Arya terdiam sesaat sambil melepas helmnya, kemudian kembali berkata. "Baiklah. Aku masuk dulu?"
"Iya, santai aja! aku di sini menunggu." Fatma mengangguk.
__ADS_1
Langkah Arya. Tertuju ke dalam masjid berbaur dengan yang lainnya. Kedua netra mata Fatma menatap punggung Arya sampai orangnya menghilang di balik pintu.
Fatma menghela napas panjang. Kemudian ia hembuskan kasar, berdiri tidak jauh dari motor Arya sambil melipat kedua tangannya di dada. "Maaf, aku memang jarang bersimpuh atau bersujud. Aku orang yang terlalu malas untuk itu."
Sekitar 8 menit kemudian Arya keluar dan mengenakan sepatunya terlebih dahulu. Sampai akhirnya berdiri dekat motornya lalu mengenakan helem kembali. "Maaf ya lama menunggu!"
Kedua manik mata Fatmala tertuju pada Arya. "Kamu rajin ya?"
"Ha? apanya yang rajin?" melirik sekilas.
"Rajin salat!" sambung Fatmala.
Arya menarik bibirnya sehingga melukiskan sebuah senyuman. "Bukan rajin Kak, tapi sebuah kewajiban. Seperti Kak Fatma tahu sebagai seorang muslim senantiasa kita wajib melaksanakannya dimana pun dan kapanpun itu."
Wajah Fatma menunduk diam. Ia tahu, tapi jarang melaksanakan nya. Apalagi ketika sibuk, seakan tidak ada waktu untuk melakukannya. "Huuh ... ya sudah lanjut."
"Oke," sahut Arya menggerak kan kepalanya sambil kembali menaiki motor tersebut. Lalu sepeda motor Arya meluncur menuju kediaman Fatmala.
Setelah beberapa puluh menit akhirnya tiba di halaman rumah mewah Fatma. Gerbang terbuka dan motor masuk ke dalam gerbang, Fatma turun menyoren tas kecilnya.
Sementara Arya menurunkan koper dan langsung diambil scurity dibawanya masuk.
"Mama ... Om ganteng ... kalian berdua saling kenal ya?" Rania berhambur ke dalam pelukan Fatma, mamanya.
Cuph! kecupan kecil mendarat di pipi dan kening Rania. Gadis kecil itu begitu antusias memeluk mamanya. Mencurahkan rasa rindu yang hampir seminggu tidak bertemu.
"Fatma, lho kok. Kamu pulang dengan motor Nak Arya! mobil mana?" sapa sang bunda
"Em," mata Fatma bergerak-gerak. "Iya, Bu. Mobil katanya ... macet mungkin balik lagi atau entahlah." Menaikan bahunya.
Arya meraih tangan Bu Wati dicium punggung nya. "Apa kabar Bu?"
"Baik, Nak Arya, yu masuk." lirihnya Bu Wati mengajak tamunya masuk.
Dan pemandangan itu di dapati netra mata Fatma, sehingga Fatma tertegun dan merasa heran juga penasaran berbaur menjadi satu. "Kalian sudah saling kenal?"
"Mama, ini dia om ganteng teman Rania. Dia baik ... banget sama Rania."
Fatma menatap sang putri. "Oya, ini yang Rania maksud om ganteng?" Fatma tersenyum ke arah Arya yang membalas senyumnya.
"Iya, Mama ... om ganteng ngasih Rania hadiah boneka panda yang lucu itu lho ... Rania sayang deh sama om baik." Celoteh anak itu bikin gemas yang mendengar.
"Ooh ... gitu ya? kalau gitu Rania sekarang nggak sayang lagi sama Mama ya? Mama sedih. Hik hik hik." Wajah Fatma pura-pura sedih.
"Tidak, Mam. Rania sayang Mama. Om ganteng, Oma dan opa, aunty Mia dan banyak lagi." ralat Rania sambil menggerakkan tangannya dengan gerakan kode banyak.
__ADS_1
"Aduh ... kok malah berdiri di luar sih, masuk?" Bu Wati mendahului masuk dan Fatma dan Arya mengekor dari belakang.
"Rania, mamanya pasti capek, yu sama Om? digendongnya. Kasian Mama." Arya segera mengambil alih Rania dari gendongan Fatma.
"Oh, tidak apa-apa!" Fatma menahan namun Rania juga yang mau digendong oleh Arya.
Akhirnya Arya yang membawa Rania masuk dalam gendongannya dan Fatma berjalan melenggang. Kalau diperhatikan seperti pasangan suami istri yang harmonis yang terdiri ayah bersama anak dan bundanya.
Di dalam, disambut oleh pak Wijaya dengan hangat. Beliau pun mengenal Arya dengan baik, terdengar dari obrolannya.
"Gimana kalau kita makan malam sekarang saja ya? makanan dah siap tuh. Tapi suami mu belum pulang Fatma." Lirih Bu Wati.
Sebelum berbicara, Fatma membuang napas dari hidungnya. "Biar saja, Bu."
"Nak Arya, jangan pulang dulu sebelum makan malam ya?" pinta Bu Wati dan langsung dapat dukungan dari pak Wijaya.
Arya tak kuasa menolak, apalagi Rania terus merajuk ingin Arya lebih lama duduk di rumah itu. akhirnya Arya menyetujui tawaran yang punya rumah.
Saat ini semuanya sudah duduk di meja makan, menghadapi banyaknya hidangan di meja.
"Nak Arya, mau makan sama apa? Ibu ambilkan." Tawar bu Wati.
"Nggak, gak usah. Ibu cukup duduk saja, biar aku ambil sendiri apa yang saya mau," tolak Arya. Ia tidak enak hati dilayani seperti itu.
Fatma cuma memandangi ke arah Arya lalu ke Rania bergantian dengan senyuman yang tak pernah pudar.
Kemudian mereka makan malam bersama yang sebelumnya membaca doa sebelum makan, yang dipimpin oleh Rania si gadis kecil yang rupanya sudah lantang dalam hal membaca doa.
Arya segera mengakhiri makannya dengan segelas air, kemudian berpamitan. Sebab pagi-pagi ia ada tugas jadi ia harus segera istirahat.
"Lho ... kok buru-buru? masih sore padahal," ucap pak Wijaya.
"Besok ada tugas, Pak." Balas Arya.
"Oh." Pak Wijaya mengangguk.
"Om ganteng, kenapa cepat pulang?" Rania wajahnya tampak sedih.
"Lain kali Om main lagi ke sini? sekarang dah malam." Arya mengelus lembut pucuk kepala Rania.
Brak!
Suara sesuatu yang pecah dari dapur ....
****
__ADS_1
Semoga kalian suka dengan karya ku ini, jangan lupa like, komen serta vote nya juga agar aku lebih semangat.